Kekerasan Gender pada masa Pacaran
KABANTI: Jurnal Kerabat Antropologi
Volume 8, Nomor 2, Desember 2024: 186 – 194
ISSN: 2622-8750 (Cetak)
ISSN: 2503-3468 (Online)
KEKERASAN GENDER PADA MASA PACARAN
GENDER VIOLENCE DURING THE DAIRY PERIOD
Rinja1*, Sarlan Adi Jaya2, Laxmi3
Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Haluoleo,
Kampus Hijau Tridarma, Andonohu, Jl. H.E.A.Mokodompit, Kendari, 95335,
Indonesia
Email Korespodensi :*
1,2,3
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan alasan masih
terjadinya kekerasan masa pacaran. Informan dalam penelitian ini yakni berjumlah
8 orang, dengan kriteria informan yang di pilih yaitu orang yang sudah berpacaran,
sedang berpacaran dan pernah mengalami kekerasan pada masa pacaran.
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi biasa dan wawancara
mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadinya kekerasan diakibatkan
oleh relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, ketergantungan
terhadap pacar, dominasi laki-laki sebagai pacar yang berlebihan.
Kata kunci: Kekerasan; Pacaran; Perempuan
ABSTRACT
This study aims to determine and describe the reasons for dating violence. The informants in
this study amounted to 8 people, with the criteria of informants chosen, namely people who
have been dating, are dating and have experienced violence during the dating period. Data
collection in this study was casual observation and in-depth interviews. The results showed
that the occurrence of violence was caused by unequal relations between men and women,
dependence on boyfriends, excessive male dominance as boyfriends.
Keywords: Violence; Dating; Woman
Rinja, Sarlan Adi Jaya, Laxmi : Kekerasan Gender Pada Masa Pacaran
PENDAHULUAN
Kekerasan gender, dan khususnya kekerasan terhadap perempuan,
masih menjadi fenomena sosial yang semakin memprihatinkan masyarakat.
Sebagai isu dunia yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pernyataan
PBB telah mengkarakterisasi kekerasan terhadap perempuan sebagai
kekejaman orientasi yang menyebabkan penderitaan fisik, mental, dan
seksual terhadap perempuan, termasuk bahaya terhadap kesempatan
mereka baik dalam aktivitas pribadi maupun bermasyarakat
(Coomaraswamy, 2018). Menurut Ayu, dkk (2012) perempuan lebih sering
menjadi korban tindak kekerasan daripada laki-laki karena adanya
perbedaan kekuatan antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh
masyarakat luas.
Ketidakadilan dalam hal gender telah terpatri dalam kehidupan seharihari karena perempuan dianggap lemah, tunduk, pasif, dan lebih cenderung
mendahulukan kepentingan laki-laki di atas kepentingannya sendiri, maka
memperlakukan mereka secara sewenang-wenang atau tidak wajar
dianggap sebagai hal yang wajar. Kekerasan dalam pacaran yang dialami
perempuan didominasi oleh relasi gender, hal ini dikarenakan laki-laki
memiliki akses dan control yang lebih besar dibandingkan perempuan.
Kekerasan dan ketergantungan perempuan berbanding lurus, semakin besar
ketergantungan perempuan terhadap pasangannya, maka semakin besar
pula peluang perempuan untuk dapat dikontrol, dikendalikan, dan
mengalami kekerasan (Intan Permata Sari, 2018). Situasi inilah yang
kemudian menyebabkan terjadinya kekerasan gender yang dilakukan oleh
laki-laki terhadap perempuan.
Berdasarkan hasil penelitian di lingkungan Kelurahan Lalolara Kota
Kendari, khususnya yang terjadi di lingkungan rumah kost, penulis
mengetahui telah terjadi kekerasan masa pacaran, kejadiannya disalah satu
rumah kost Durian, Lorong Hijau (nama rumah kost, nama Lorong, nama
pelaku dan korban dalam penelitian ini, penulis menggunakan nama
samaran-samaran untuk menjaga privasi). Salah satu korban mendapatkan
caci maki, tendangan, pukulan, hingga kepala korban dibenturkan di
dinding oleh pelaku. Penulis mengetahui, bahwa penyebabnya karena
pelaku menemukan pesan WhatsApp pada Handphone korban, dari seorang
laki-laki yang mengajaknya bertemu. Akibat dari kiriman WhatsApp tersebut
membuat pelaku melakukan kekerasan kepada pacarnya.
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi, Vol. 8 No. 2 (Desember - 2024) ; 186 194
http://journal.fib.uho.ac.id/index.php/kabanti |187
Rinja, Sarlan Adi Jaya, Laxmi : Kekerasan Gender Pada Masa Pacaran
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di rumah-rumah kost yang ada di lingkungan
Kelurahan Lalolara Kota Kendari, alasan penulis memilih tempat ini
dikarenakan dari hasil observasi sementara, penulis melihat banyak
mahasiswa yang mengalami kekerasan masa pacaran dari pasangan mereka.
Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball
sampling atau bola salju. Snowball Sampling adalah pendekatan untuk
menemukan informan kunci yang memiliki banyak informasi. Dengan
menggunakan pendekatan ini, beberapa informan potensial dihubungi dan
ditanya apakah mereka mengetahui orang lain yang memiliki karakteristik
yang diinginkan untuk keperluan penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian langsung di lapangan atau Field Work dengan menggunakan
metode observasi, wawancara, dokumentasi (jika informan setuju), dan life
history. Hal ini penulis pinjam dari pandangan Spradley (1997) bahwa salah
satu karakteristik metode penelitian ini adalah sifatnya yang holisticintegrative, deskripsi yang mendalam atau Thick Description dan analisis
kualitatif untuk mendapatkan pemahaman tentang individu sebagai korban
yang diteliti serta menggunakan observasi terlibat. Observasi yang
dilakukan berkaitan dengan kekerasan gender pada masa pacaran. Adapun
wawancara dilakukan secara mendalam untuk mengumpulkan data dan
informasi secara lebih mendalam dengan cara melakukan tanya jawab
kepada informan guna menemukan jawaban dari permasalahan yang
terdapat dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini, untuk memperkuat dan memperdalam data-data
dari korban kekerasan masa pacaran, peneliti menggunakan pula metode
Life History yaitu data pengalaman hidup, dengan maksud untuk menggali
keterangan mengenai apa yang dialami korban sebagai individu-individu
terpilih, dari masyarakat Kelurahan Lalolara yang sedang menjadi objek
penelitian (Koentjaraningrat dalam Laxmi, 2022).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hubungan berpacaran biasanya dilakukan oleh anak muda yang baru
memasuki bangku perkuliahan. Kelurahan Lalolara sebagai lingkungan kost
mahasiswa namun juga manjadi arena terjalinnya asmara. Memang tidak
dapat dipungkiri bahwan berpacara adalah sebuah fenomena tersendiri di
kalangan remaja. Masa remaja sangat identik dengan masa pencarian jati
diri, dan perkembangan emosi pada masa remaja juga dapat dikatakan
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi, Vol. 8 No. 2 (Desember - 2024) ; 186 194
http://journal.fib.uho.ac.id/index.php/kabanti |188
Rinja, Sarlan Adi Jaya, Laxmi : Kekerasan Gender Pada Masa Pacaran
masih labil, sehigga masih mudah terpengaruh oleh lingkungan terutama
dalam mencoba hal-hal yang baru.
Secara alami, orang yang bertanggung jawab atas hubungan
berpacaran memiliki tujuan dan harapan untuk hubungan tersebut. Tujuan
dalam menjalin hubungan berpa (...truncated)