Pemberian Pursed Lip Breathing terhadap Saturasi Oksigen dan Frekuensi Napas Pasien Post Ekstubasi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Volume 7 Nomor 2, April 2025
e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
PEMBERIAN PURSED LIP BREATHING TERHADAP SATURASI OKSIGEN DAN
FREKUENSI NAPAS PASIEN POST EKSTUBASI
Wilastu Suci Mahanani, Azizah Khoiriyati*, Rini Purwanti
Program Studi Profesi Ners, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Univeristas Muhammadiyah Yogyakarta,
Jl. Brawijaya, Geblangan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55183, Indonesia
2
RSUD Kabupaten Temanggung, Jl. Gajah Mada No.1A, Tepungsari, Temanggung I, Temanggung, Jawa Tengah
56213, Indonesia
*
1
ABSTRAK
Pasien post ekstubasi yang mengalami gagal napas memerlukan proses adaptasi fisiologis untuk
mengembalikan fungsi paru secara optimal dari ketergantungan ventilasi mekanik. Latihan pursed lip
breathing dapat dijadikan terapi non farmakologis untuk memulihkan sistem pernapasan. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui penerapan pemberian pursed lip breathing terhadap saturasi oksigen
dan frekuensi napas pada pasien post ekstubasi. Metode penelitian menggunakan metode studi kasus.
Data dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi melalui observasi dan pencatatan hasil. Analisis
data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan selisih hasil sebelum dan sesudah intervensi,
yang kemudian disajikan dalam bentuk grafik untuk menggambarkan perubahan yang terjadi. Subyek
penelitian sebanyak 1 pasien post ekstubasi yang telah dilakukan craniotomy dengan gagal napas.
Intervensi dilakukan sebanyak 2 kali sehari dengan durasi 10 menit selama 3 hari di ruang ICU Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Temanggung. Hasil penelitian menunjukkan setelah dilakukan
intervensi pursed lip breathing terjadi peningkatan saturasi oksigen sebanyak 3% dari 94% menjadi
97%, serta frekuensi napas menurun dari 26x/menit menjadi 20x/menit. Kesimpulan dari penelitian
ini adalah pemberian pursed lip breathing dapat meningkatkan saturasi oksigen dan menurunkan
frekuensi napas pada pasien post ekstubasi.
Kata kunci: frekuensi napas; post ekstubasi; pursed lip breathing; saturasi oksigen
GIVING PURSED LIP BREATHING TO OXYGEN SATURATION AND RESPIRATORY
RATE OF POST EXTUBATION PATIENTS
ABSTRACT
Post-extubation patients who experience respiratory failure require a physiological adaptation
process to restore optimal lung function from mechanical ventilation dependence. Pursed lip
breathing exercises can be used as a non-pharmacological therapy to restore the respiratory system.
The purpose of this study is to determine the application of pursed lip breathing on oxygen saturation
and respiratory rate in post-extubation patients. The research method uses a case study method. Data
were collected before and after the intervention through observation and recording of results. Data
analysis was conducted descriptively by comparing the differences in results before and after the
intervention, which were then presented in the form of graphs to illustrate the changes that occurred.
The research subject was 1 patient post-extubation who had undergone craniotomy with respiratory
failure. The intervention was performed twice daily for a duration of 10 minutes over 3 days in the
ICU of the Temanggung Regional General Hospital. The research results show that after the pursed
lip breathing intervention, there was an increase in oxygen saturation by 3% from 94% to 97%, and
the respiratory rate decreased from 26 breaths/minute to 20 breaths/minute. The conclusion of this
study is that the administration of pursed lip breathing can increase oxygen saturation and reduce
respiratory rate in post-extubation patients.
Keywords: oxygen saturation; post extubation; pursed lip breathing; respiratory rate
913
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 7 No 2, April 2025
Global Health Science Group
PENDAHULUAN
Di seluruh dunia, jumlah pasien yang membutuhkan perawatan kritis meningkat setiap
tahunnya. Data World Health Organization, sekitar 9,8-24,6% dari 100.000 orang di dunia
menderita penyakit kritis dan dirawat di ruang perawatan intensif. Penyakit ini menyumbang
1,1 hingga 7,4 juta kematian pasien di ruang perawatan intensif. Di Amerika Serikat, 20%
pasien di ICU dinyatakan meninggal, sedangkan di seluruh dunia, sekitar 25% pasien di ICU
meninggal (Maryuni et al., 2023). Salah satu penyebab utama pasien dirawat di unit
perawatan intensif adalah gagal napas. Berdasarkan data, rata-rata terdapat 42 pasien setiap
bulan yang mengalami gagal napas dan menjalani perawatan di ruang intensif, dengan angka
kematian mencapai sekitar 10 pasien per bulan (Oktari et al., 2021). Kerusakan jaringan otak
dapat memicu gangguan sistemik, salah satunya peningkatan metabolisme
(hipermetabolisme) pada jaringan otak. Cedera otak yang disertai peningkatan energi dan
metabolisme basal akan menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen melebihi kondisi
normal (Sumiarty et al., 2020). Pasien yang memerlukan support ventilasi mekanik setelah
tindakan craniotomy adalah salah satu kasus pasca operatif yang paling sering dirawat di unit
perawatan intensif (Valentino et al., 2021). Pada pasien craniotomy tidak semua memerlukan
support ventilasi, seperti penelitian yang dilakukan oleh (Chen et al., 2024) Awake
Craniotomy (AC) atau kraniotomi sadar dilakukan untuk mengangkat lesi di dekat atau di
area yang menonjol saat pasien dalam keadaan sadar tanpa instrumen jalan napas apapun.
Dari 58 tindakan craniotomy, sebanyak 66% diantaranya memerlukan penggunaan ventilasi
mekanik karena adanya potensi penurunan penurunan fungsi jalan napas, gagal napas, serta
adanya indikasi medis untuk pemasangan ventilasi mekanik (Valentino et al., 2021).
Ekstubasi atau pengeluaran pipa endotrakeal pada jalan napas, merupakan prosedur yang
memerlukan ketelitian dan memiliki tingkat kepentingan yang setara dengan perencanaan
intubasi, karena risiko komplikasi jalan napas dapat muncul pada kedua proses tersebut.
Proses manajemen ekstubasi meliputi 4 langkah yang terdiri dari perencanaan ekstubasi,
persiapan ekstubasi, pelaksanaan ekstubasi dan perawatan pasca ekstubasi. Menurut
(Meilando et al., 2023) Perawat memiliki peran sangat penting terhadap pemantauan kondisi
awal pasien setelah dilakukan ekstubasi dari ventilator yaitu meliputi pemantauan kondisi
fisiologis pasien, dan kondisi klinis pasien. Perawat ICU sebagai pengelola asuhan
keperawatan kritis harus memastikan fungsi pernapasan dan oksigenasi paru-paru optimal
melalui pengawasan hemodinamik, terutama fungsi pernapasan pasien. Fungsi pernapasan
dapat dinilai melalui pola napas, saturasi oksigen, dan kapasitas vital paru-paru, serta
kemampuan perawat untuk mengendalikan distres pernapasan pada pasien post ekstubasi
(Simanjuntak et al., 2022). Pemulihan refleks jalan napas dipengaruhi oleh berbagai faktor
dan dapat mengalami penundaan selama beberapa jam pasca ekstubasi. Dalam praktik klinis,
perubahan berupa peningkatan, penurunan, maupun gangguan fungsi refleks jalan napas
berpotensi menimbulkan kompl (...truncated)