Kajian Bentuk dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek pada Masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang

Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP), Apr 2025

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan pemaknaan tradisi Matak Ayek Kupek pada masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kabupaten Empat Lawang. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Kehidupan manusia inilah yang pada akhirnya terbentuk menjadi suatu masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama yang saling membutuhkan satu sama lain dan bisa menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan dan sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat, karena masyarakat sebagai tempat dan pendukungnya. Adapun tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahuin bentuk, dan makna, tradisi Matak Ayek Kupek pada masyarakat suku lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. subjek penelitian ini adalah ketua agama, kepala adat, dan masyarakat Desa Tanjung Agung. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis tradisi matak ayek kupek merupakan tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Desa Tanjung Agung. Prosesi tradisi tedak siten dilakukan dipagi hari, adapun simbol-simbol dalam tradisi matak ayek kupek yaitu mandi air yang ada tujug warna bunga, makan bubur gemok manis, menyiram tapai ketan hitam, memasukan kulit telur puyuh, akar bungo rayo dan akar tali jambar, dan di mandikan. Tradisi matak ayek kupek memiliki makna pembentukan karakter anak dan nilai positif untuk kebaikan anak dari orang tua dalam meraih cita-cita, memiliki jiwa sosial dan mengajarkan anak tentang rasa syukur kepada Allah SWT.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.al-matani.com/index.php/jkip/article/download/1260/854

Kajian Bentuk dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek pada Masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang

JKIP : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Volume 6 No 1 Halaman 131 - 143 Study Of The Form And Meaning Of The Matak Ayek Kupek Tradition In The Lintang Tribe Community Tanjung Agung Village Ulu Musi District Empat Lawang Regency Kajian Bentuk Dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek Pada Masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang 1,2,3 Maya Kirani1, Vebbi Anda2, Khermarinah3 Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia Email : , , *Corresponding Author Received : 15 January 2025, Revised : 22 April 2025, Accepted : 24 April 2025 ABSTRACT The aim of this research is to determine the form and meaning of the Matak Ayek Kupek tradition in the Lintang Tribe community, Tanjung Agung Village, Empat Lawang Regency. Humans are basically creatures who need each other. Human life is what ultimately forms into a society. Society is a group of people living together who need each other and can produce culture. Thus, there is no society that does not produce culture and conversely there is no culture without society, because society is its place and supporter. The aim of this research was to determine the form and meaning of the Matak Ayek Kupek tradition in the Latitude tribe community, Tanjung Agung Village, Ulu Musi District, Empat Lawang Regency. This type of research is descriptive qualitative. Data collection by conducting observations, interviews and documentation. The subjects of this research were religious leaders, traditional heads and the people of Tanjung Agung Village. Based on the results of research conducted by the author, the matak ayek kupek tradition is a tradition left by the ancestors of the people of Tanjung Agung Village. The tedak siten tradition procession is carried out in the morning, the symbols in the matak ayek kupek tradition are bathing in water containing seven colors of flowers, eating sweet gemok porridge, watering black sticky rice tapai, inserting quail egg shells, bungo rayo roots and tali jambar roots, and bathed. The matak ayek kupek tradition has the meaning of forming children's character and positive values for the good of children from parents in achieving goals, having a social spirit and teaching children about gratitude to Allah SWT. Keywords: Form, Meaning, Matak Ayek Kupek Tradition ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan pemaknaan tradisi Matak Ayek Kupek pada masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kabupaten Empat Lawang. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Kehidupan manusia inilah yang pada akhirnya terbentuk menjadi suatu masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama yang saling membutuhkan satu sama lain dan bisa menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan dan sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat, karena masyarakat sebagai tempat dan pendukungnya. Adapun tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahuin bentuk, dan makna, tradisi Matak Ayek Kupek pada masyarakat suku lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. subjek penelitian ini adalah ketua agama, kepala adat, dan masyarakat Desa Tanjung Agung. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis tradisi matak ayek kupek merupakan tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Desa Tanjung Agung. Prosesi tradisi tedak siten dilakukan dipagi hari, adapun simbol-simbol dalam tradisi matak ayek kupek yaitu mandi air yang ada tujug warna bunga, makan bubur gemok manis, menyiram tapai ketan hitam, memasukan kulit telur puyuh, akar bungo rayo dan akar tali jambar, dan di mandikan. Tradisi matak ayek kupek memiliki http://journal.al-matani.com/index.php/jkip/index JKIP : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan, 6(1) 2025: 131 - 143 makna pembentukan karakter anak dan nilai positif untuk kebaikan anak dari orang tua dalam meraih cita-cita, memiliki jiwa sosial dan mengajarkan anak tentang rasa syukur kepada Allah SWT. Kata kunci: Bentuk, Makna, Tradisi Matak Ayek Kupek 1. Pendahuluan Manusia dalam bahasa inggris disebut man. Arti dasar dari kata ini tidak jelas tetapi pada dasarnya dapat dikaitkan dengan mens (latin) yang berarti “ada yang berfikir”. Demikian halnya arti kata anthropos (Yunani) tidak begitu jelas. Semula anthropos berarti “seseorang yang melihat ke atas”. Sekarang kata ini di pakai untuk mengartikan “wajah manusia”. Dan akhirnya homo bahasa latin yang artinya “orang yang dilahirkan di atas bumi” (Mahdayeni dkk, 2019: 155). Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk individu yang bersifat unik atau khas. Di samping sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian, akan terjadilah interaksi antar manusia satu dengan yang lain. Setiap manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain atau juga disebut dengan naluri gregoriousness yaitu naluri untuk hidup bersama atau berkelompok dengan manusia lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia perlu melakukan interaksi satu sama lainnya. Selain itu untuk mempertahankan dan melangsungkan hidup manusia butuh adanya sebuah keluarga yang dapat memberikan suatu ikatan lahir batin antara dua jenis manusia yang berlainan yaitu pria dan wanita sehingga tercapai tujuan untuk menciptakan rumah tangga yang rukun, bahagia sejahtera melalui ikatan yang disebut perkawinan (Umi Habibahi dkk., 2012: 2). Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan yang tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke, dengan beragam suku dan ras sehingga menghasilkan kebudayaan yang beraneka ragam. Kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia tersebut bukan hanya berupa kekayaan sumber alam saja, tetapi masyarakat Indonesia juga memiliki kekayaan lain seperti kekayaan akan kebudayaan suku bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan tertentu yang pada akhirnya menjadi budaya yang biasa mereka lakukan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Kebudayaan adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat-bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentu (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.al-matani.com/index.php/jkip/article/download/1260/854
Article home page: https://journal.al-matani.com/index.php/jkip/article/view/1260/854

Maya Kirani, Anda Vebbi, Khermarinah Khermarinah. Kajian Bentuk dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek pada Masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang, Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP), 2025, pp. 131-143,