Kajian Bentuk dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek pada Masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang
JKIP : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan
Volume 6 No 1 Halaman 131 - 143
Study Of The Form And Meaning Of The Matak Ayek Kupek Tradition In The Lintang
Tribe Community Tanjung Agung Village Ulu Musi District Empat Lawang Regency
Kajian Bentuk Dan Makna Tradisi Matak Ayek Kupek Pada Masyarakat Suku Lintang
Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang
1,2,3
Maya Kirani1, Vebbi Anda2, Khermarinah3
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia
Email : , ,
*Corresponding Author
Received : 15 January 2025, Revised : 22 April 2025, Accepted : 24 April 2025
ABSTRACT
The aim of this research is to determine the form and meaning of the Matak Ayek Kupek tradition in the
Lintang Tribe community, Tanjung Agung Village, Empat Lawang Regency. Humans are basically
creatures who need each other. Human life is what ultimately forms into a society. Society is a group of
people living together who need each other and can produce culture. Thus, there is no society that does
not produce culture and conversely there is no culture without society, because society is its place and
supporter. The aim of this research was to determine the form and meaning of the Matak Ayek Kupek
tradition in the Latitude tribe community, Tanjung Agung Village, Ulu Musi District, Empat Lawang
Regency. This type of research is descriptive qualitative. Data collection by conducting observations,
interviews and documentation. The subjects of this research were religious leaders, traditional heads and
the people of Tanjung Agung Village. Based on the results of research conducted by the author, the
matak ayek kupek tradition is a tradition left by the ancestors of the people of Tanjung Agung Village.
The tedak siten tradition procession is carried out in the morning, the symbols in the matak ayek kupek
tradition are bathing in water containing seven colors of flowers, eating sweet gemok porridge, watering
black sticky rice tapai, inserting quail egg shells, bungo rayo roots and tali jambar roots, and bathed. The
matak ayek kupek tradition has the meaning of forming children's character and positive values for the
good of children from parents in achieving goals, having a social spirit and teaching children about
gratitude to Allah SWT.
Keywords: Form, Meaning, Matak Ayek Kupek Tradition
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan pemaknaan tradisi Matak Ayek Kupek pada
masyarakat Suku Lintang Desa Tanjung Agung Kabupaten Empat Lawang. Manusia pada dasarnya adalah
makhluk yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Kehidupan manusia inilah yang
pada akhirnya terbentuk menjadi suatu masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang
hidup bersama yang saling membutuhkan satu sama lain dan bisa menghasilkan kebudayaan. Dengan
demikian, tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan dan sebaliknya tidak ada
kebudayaan tanpa adanya masyarakat, karena masyarakat sebagai tempat dan pendukungnya. Adapun
tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahuin bentuk, dan makna, tradisi Matak Ayek
Kupek pada masyarakat suku lintang Desa Tanjung Agung Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat
Lawang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan melakukan observasi,
wawancara, dan dokumentasi. subjek penelitian ini adalah ketua agama, kepala adat, dan masyarakat
Desa Tanjung Agung. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis tradisi matak ayek kupek
merupakan tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Desa Tanjung Agung. Prosesi tradisi tedak
siten dilakukan dipagi hari, adapun simbol-simbol dalam tradisi matak ayek kupek yaitu mandi air yang
ada tujug warna bunga, makan bubur gemok manis, menyiram tapai ketan hitam, memasukan kulit telur
puyuh, akar bungo rayo dan akar tali jambar, dan di mandikan. Tradisi matak ayek kupek memiliki
http://journal.al-matani.com/index.php/jkip/index
JKIP : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan, 6(1) 2025: 131 - 143
makna pembentukan karakter anak dan nilai positif untuk kebaikan anak dari orang tua dalam meraih
cita-cita, memiliki jiwa sosial dan mengajarkan anak tentang rasa syukur kepada Allah SWT.
Kata kunci: Bentuk, Makna, Tradisi Matak Ayek Kupek
1. Pendahuluan
Manusia dalam bahasa inggris disebut man. Arti dasar dari kata ini tidak jelas tetapi
pada dasarnya dapat dikaitkan dengan mens (latin) yang berarti “ada yang berfikir”. Demikian
halnya arti kata anthropos (Yunani) tidak begitu jelas. Semula anthropos berarti “seseorang
yang melihat ke atas”. Sekarang kata ini di pakai untuk mengartikan “wajah manusia”. Dan
akhirnya homo bahasa latin yang artinya “orang yang dilahirkan di atas bumi” (Mahdayeni dkk,
2019: 155).
Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk individu yang bersifat unik atau khas.
Di samping sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial, manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang
lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan sosial pada manusia,
maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan
interaksi. Dengan demikian, akan terjadilah interaksi antar manusia satu dengan yang lain.
Setiap manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain atau juga disebut
dengan naluri gregoriousness yaitu naluri untuk hidup bersama atau berkelompok dengan
manusia lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia perlu melakukan interaksi
satu sama lainnya. Selain itu untuk mempertahankan dan melangsungkan hidup manusia
butuh adanya sebuah keluarga yang dapat memberikan suatu ikatan lahir batin antara dua
jenis manusia yang berlainan yaitu pria dan wanita sehingga tercapai tujuan untuk
menciptakan rumah tangga yang rukun, bahagia sejahtera melalui ikatan yang disebut
perkawinan (Umi Habibahi dkk., 2012: 2).
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan yang tersebar mulai dari Sabang
sampai Merauke, dengan beragam suku dan ras sehingga menghasilkan kebudayaan yang
beraneka ragam. Kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia tersebut bukan hanya
berupa kekayaan sumber alam saja, tetapi masyarakat Indonesia juga memiliki kekayaan lain
seperti kekayaan akan kebudayaan suku bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan
Indonesia. Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan
dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan
kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari
kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Selain itu manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan
suatu kebiasaan-kebiasaan tertentu yang pada akhirnya menjadi budaya yang biasa mereka
lakukan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk
kebudayaan. Kebudayaan adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat-bangsa di
dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentu (...truncated)