ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI

Arsitekno, Oct 2025

Peternakan sapi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tanah Laut, memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, pengelolaan peternakan sapi yang tidak ramah lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem, termasuk pencemaran udara, air, dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan pengembangan peternakan sapi di Kabupaten Tanah Laut dengan pendekatan arsitektur ekologi yang berfokus pada prinsip desain berkelanjutan dan efisiensi sumber daya alam. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan studi kasus yang mengkaji aspek-aspek seperti pemilihan lokasi, desain fasilitas, pengelolaan limbah, serta aspek sosial dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi di Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi yang baik untuk pengembangan peternakan sapi yang ramah lingkungan, dengan kondisi lahan yang mendukung dan aksesibilitas yang memadai. Penerapan prinsip arsitektur ekologi, seperti pengelolaan limbah yang terintegrasi, penggunaan material lokal, dan desain bangunan yang efisien energi, dapat meningkatkan keberlanjutan operasional peternakan. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif pada ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pengembangan peternakan sapi berbasis arsitektur ekologi di Kabupaten Tanah Laut sangat layak untuk dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.unimal.ac.id/arsitekno/article/download/21446/10162

ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI

ARSITEKNO | VOL 12 NO 2 SEPTEMBER 2025 ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI Nuril Ikhsaniyah1, Annisa2, Muhammad Alfreno Rizani3 1 Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email: 2 Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email: 3 Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email: ABSTRAK Peternakan sapi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tanah Laut, memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, pengelolaan peternakan sapi yang tidak ramah lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem, termasuk pencemaran udara, air, dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan pengembangan peternakan sapi di Kabupaten Tanah Laut dengan pendekatan arsitektur ekologi yang berfokus pada prinsip desain berkelanjutan dan efisiensi sumber daya alam. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan studi kasus yang mengkaji aspekaspek seperti pemilihan lokasi, desain fasilitas, pengelolaan limbah, serta aspek sosial dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi di Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi yang baik untuk pengembangan peternakan sapi yang ramah lingkungan, dengan kondisi lahan yang mendukung dan aksesibilitas yang memadai. Penerapan prinsip arsitektur ekologi, seperti pengelolaan limbah yang terintegrasi, penggunaan material lokal, dan desain bangunan yang efisien energi, dapat meningkatkan keberlanjutan operasional peternakan. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif pada ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pengembangan peternakan sapi berbasis arsitektur ekologi di Kabupaten Tanah Laut sangat layak untuk dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan. Kata kunci: arsitektur ekologi; desain berkelanjutan; energi terbarukan; pengelolaan limbah; peternakan sapi -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Info Artikel: Dikirim: 19 April 2025; Revisi: 21 Juni 2025; Diterima: 6 Oktober 2025; Diterbitkan: 7 Oktober 2025 ©2025 The Author(s). Published by Arsitekno, Architecture Program, Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia under the Creative Commons Attribution 4.0 International License (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/). -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. PENDAHULUAN Peternakan sapi merupakan salah satu sektor penting dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Kegiatan ini tidak hanya sebatas pada pemeliharaan dan perawatan hewan ternak, tetapi juga mencakup pengelolaan lingkungan, sumber daya, dan hasil ternak secara terpadu. Namun, pola peternakan sapi di Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh skala kecil yang dikelola secara tradisional. Sebagian besar peternakan rakyat berada dekat dengan permukiman dan dijalankan secara turun-temurun, dengan fungsi utama sebagai bentuk tabungan hidup [1]. Hal ini diperkuat oleh data yang menyatakan bahwa “98% peternakan di Indonesia masih bersifat tradisional dan hanya 2% yang dikelola secara profesional oleh perusahaan” [2]. Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Tanah Laut, yang dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi potong di wilayah Kalimantan Selatan. Berdasarkan data jumlah sapi potong di PROGRAM STUDI ARSITEKTUR UNIVERSITAS MALIKUSSALEH |131| ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI Tanah Laut mencapai 82.000 ekor atau sekitar 48,72% dari total populasi sapi di provinsi ini [3]. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Tanah Laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai lumbung sapi. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak peternakan di wilayah ini belum memenuhi standar teknis maupun ekologis yang ideal. Permasalahan umum meliputi lokasi kandang yang terlalu dekat dengan permukiman, sanitasi yang buruk, serta pengelolaan limbah yang belum optimal. Limbah kotoran sapi yang mengandung amonia tinggi dapat mencemari tanah, air, dan udara jika tidak diolah dengan baik, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis. Dalam buku ajar “Merancang Bangun Kandang Ternak Sapi Potong” dijelaskan pula standar ideal pembangunan kandang yang meliputi pemilihan lokasi, sistem drainase, sirkulasi udara, desain atap, dan penanganan limbah [4]. Bangunan ideal seharusnya mampu merespons kondisi ekologis dan bahkan menjadi bagian dari sistem kehidupan di sekitarnya, bukan sekadar objek buatan manusia yang terpisah dari alam. Dalam konteks ini, penerapan prinsip arsitektur ekologis menjadi sangat relevan. Arsitektur ekologis merupakan pendekatan desain bangunan yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi untuk menciptakan ruang binaan yang berkelanjutan dan harmonis dengan lingkungan alam [5]. Arsitektur ekologi tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika dan fungsi bangunan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah yang baik [6]. Konsep ini berangkat dari kesadaran bahwa kegiatan pembangunan tidak dapat sepenuhnya lepas dari intervensi terhadap lingkungan, namun masih memungkinkan untuk diminimalkan melalui pendekatan yang tepat. Desain ekologis merupakan bentuk integrasi antara manusia dengan sistem alam di sekitarnya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini akan meninjau sistem peternakan sapi di Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA MAKMUR” di Tanah Laut sebagai objek studi. Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA MAKMUR” merupakan program pemberdayaan yang dibina oleh BSI Maslahat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan peternak melalui pengelolaan peternakan yang terstruktur dan berkelanjutan [7]. Permasalahan utama yang diangkat adalah belum optimalnya standar peternakan serta kurangnya penerapan prinsip ekologis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan peternakan sapi di Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA MAKMUR” dengan pendekatan arsitektur ekologi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi pengembangan peternakan yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan, serta menjadi rujukan dalam perencanaan sistem peternakan berkelanjutan di masa depan. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu suatu metode yang bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data dalam bentuk naratif dan observasi alami terhadap kondisi objek yang diteliti [8]. Tujuannya adalah untuk menggambarkan dan menganalisis kondisi nyata di lapangan berdasarkan teori yang relevan. Dengan metode ini, penelit (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.unimal.ac.id/arsitekno/article/download/21446/10162
Article home page: https://ojs.unimal.ac.id/arsitekno/article/view/21446/10162

Nuril Ikhsaniyah, Annisa, Muhammad Alfreno Rizani. ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI, Arsitekno, 2025, pp. 131-140,