ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI
ARSITEKNO | VOL 12 NO 2 SEPTEMBER 2025
ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI
KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM) “MITRA
MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN
ARSITEKTUR EKOLOGI
Nuril Ikhsaniyah1, Annisa2, Muhammad Alfreno Rizani3
1
Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email:
2
Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email:
3
Program Studi Arsitektur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, email:
ABSTRAK
Peternakan sapi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tanah Laut, memiliki potensi besar
dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, pengelolaan peternakan sapi yang tidak
ramah lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem, termasuk
pencemaran udara, air, dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan
pengembangan peternakan sapi di Kabupaten Tanah Laut dengan pendekatan arsitektur
ekologi yang berfokus pada prinsip desain berkelanjutan dan efisiensi sumber daya alam.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan studi kasus yang mengkaji aspekaspek seperti pemilihan lokasi, desain fasilitas, pengelolaan limbah, serta aspek sosial dan
ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi di Kabupaten Tanah Laut memiliki
potensi yang baik untuk pengembangan peternakan sapi yang ramah lingkungan, dengan
kondisi lahan yang mendukung dan aksesibilitas yang memadai. Penerapan prinsip arsitektur
ekologi, seperti pengelolaan limbah yang terintegrasi, penggunaan material lokal, dan desain
bangunan yang efisien energi, dapat meningkatkan keberlanjutan operasional peternakan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan peternakan sapi dapat memberikan dampak
positif pada ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
Dengan demikian, pengembangan peternakan sapi berbasis arsitektur ekologi di Kabupaten
Tanah Laut sangat layak untuk dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan,
sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan.
Kata kunci: arsitektur ekologi; desain berkelanjutan; energi terbarukan; pengelolaan
limbah; peternakan sapi
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Info Artikel:
Dikirim: 19 April 2025; Revisi: 21 Juni 2025; Diterima: 6 Oktober 2025; Diterbitkan: 7 Oktober 2025
©2025 The Author(s). Published by Arsitekno, Architecture Program, Universitas Malikussaleh, Aceh,
Indonesia under the Creative Commons Attribution 4.0 International License
(https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. PENDAHULUAN
Peternakan sapi merupakan salah satu sektor penting dalam mendukung ketahanan pangan
dan perekonomian nasional. Kegiatan ini tidak hanya sebatas pada pemeliharaan dan perawatan
hewan ternak, tetapi juga mencakup pengelolaan lingkungan, sumber daya, dan hasil ternak
secara terpadu. Namun, pola peternakan sapi di Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh
skala kecil yang dikelola secara tradisional. Sebagian besar peternakan rakyat berada dekat
dengan permukiman dan dijalankan secara turun-temurun, dengan fungsi utama sebagai bentuk
tabungan hidup [1]. Hal ini diperkuat oleh data yang menyatakan bahwa “98% peternakan di
Indonesia masih bersifat tradisional dan hanya 2% yang dikelola secara profesional oleh
perusahaan” [2].
Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Tanah Laut, yang dikenal sebagai salah satu sentra
peternakan sapi potong di wilayah Kalimantan Selatan. Berdasarkan data jumlah sapi potong di
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
|131|
ANALISIS KELAYAKAN PETERNAKAN SAPI DI KELOMPOK PETERNAKAN MANDIRI (KPM)
“MITRA MAKMUR” BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI
Tanah Laut mencapai 82.000 ekor atau sekitar 48,72% dari total populasi sapi di provinsi ini
[3]. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Tanah Laut memiliki potensi besar untuk
dikembangkan sebagai lumbung sapi. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa banyak peternakan di wilayah ini belum memenuhi standar teknis maupun ekologis yang
ideal. Permasalahan umum meliputi lokasi kandang yang terlalu dekat dengan permukiman,
sanitasi yang buruk, serta pengelolaan limbah yang belum optimal. Limbah kotoran sapi yang
mengandung amonia tinggi dapat mencemari tanah, air, dan udara jika tidak diolah dengan baik,
serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis.
Dalam buku ajar “Merancang Bangun Kandang Ternak Sapi Potong” dijelaskan pula
standar ideal pembangunan kandang yang meliputi pemilihan lokasi, sistem drainase, sirkulasi
udara, desain atap, dan penanganan limbah [4]. Bangunan ideal seharusnya mampu merespons
kondisi ekologis dan bahkan menjadi bagian dari sistem kehidupan di sekitarnya, bukan sekadar
objek buatan manusia yang terpisah dari alam. Dalam konteks ini, penerapan prinsip arsitektur
ekologis menjadi sangat relevan. Arsitektur ekologis merupakan pendekatan desain bangunan
yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi untuk menciptakan ruang binaan yang
berkelanjutan dan harmonis dengan lingkungan alam [5]. Arsitektur ekologi tidak hanya
mempertimbangkan aspek estetika dan fungsi bangunan, tetapi juga memperhatikan
keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi energi, dan
pengelolaan limbah yang baik [6]. Konsep ini berangkat dari kesadaran bahwa kegiatan
pembangunan tidak dapat sepenuhnya lepas dari intervensi terhadap lingkungan, namun masih
memungkinkan untuk diminimalkan melalui pendekatan yang tepat. Desain ekologis merupakan
bentuk integrasi antara manusia dengan sistem alam di sekitarnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini akan meninjau sistem peternakan sapi di
Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA MAKMUR” di Tanah Laut sebagai objek
studi. Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA MAKMUR” merupakan program
pemberdayaan yang dibina oleh BSI Maslahat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan
peternak melalui pengelolaan peternakan yang terstruktur dan berkelanjutan [7]. Permasalahan
utama yang diangkat adalah belum optimalnya standar peternakan serta kurangnya penerapan
prinsip ekologis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kelayakan peternakan sapi di Kelompok Peternakan Mandiri (KPM) “MITRA
MAKMUR” dengan pendekatan arsitektur ekologi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
memberikan rekomendasi pengembangan peternakan yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan,
serta menjadi rujukan dalam perencanaan sistem peternakan berkelanjutan di masa depan.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu suatu metode yang
bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data dalam
bentuk naratif dan observasi alami terhadap kondisi objek yang diteliti [8]. Tujuannya adalah
untuk menggambarkan dan menganalisis kondisi nyata di lapangan berdasarkan teori yang
relevan. Dengan metode ini, penelit (...truncated)