Paradigma Twin Towers sebagai Model Integrasi Keilmuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas

IQRO: Journal of Islamic Education, Dec 2025

Derasnya arus globalisasi dan tantangan modernitas yang seringkali memunculkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains, dunia pendidikan Islam dituntut untuk menghadirkan paradigma baru yang mampu menyatukan keduanya dalam kerangka epistemologis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis paradigma Integrasi Keilmuan Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai model konseptual yang menggabungkan ilmu agama (naqliyah) dan ilmu sains (aqliyah) dalam satu kesatuan epistemologis dalam perspektif al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian literatur serta wawancara dengan pengelola program studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol dua menara kembar yang dihubungkan dengan jembatan epistemologis tidak hanya bersifat arsitektural, melainkan menjadi kerangka konseptual pendidikan Islam yang menegaskan keterpaduan antara sains dan agama. Paradigma ini selaras dengan pemikiran klasik Imam al-Ghazali yang menekankan keseimbangan intelektual, moral, dan spiritual, serta pemikiran kontemporer Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai pentingnya adab dalam ilmu pengetahuan. Implementasi paradigma ini terlihat pada kurikulum, pengajaran, riset interdisipliner, hingga pengabdian masyarakat. Kesimpulannya, model Twin Towers merupakan inovasi strategis dalam menjawab dikotomi ilmu sekaligus tantangan global modernitas, serta berkontribusi pada lahirnya lulusan yang beradab, religius, dan progresif.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/download/8447/5361

Paradigma Twin Towers sebagai Model Integrasi Keilmuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas

IQRO: Journal of Islamic Education 2025, Vol.8, No.3, hal.1173-1183 ISSN(E): 2622-3201 2025 PAI IAIN Palopo. https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro Paradigma Twin Towers sebagai Model Integrasi Keilmuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas 1Adelia Yuli Pranita, 2Irma Nur Setyani, 3Nuriyatul Khanifah, 4Tabriz Nur Imami, 5Davina Keisya Shera Putri, 6Lailatul Maghfiroh, 7Abd. Muqit Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: Abstract Amid the rapid tide of globalization and the challenges of modernity that often reproduce a dichotomy between religious knowledge and scientific knowledge, Islamic education is urged to develop a new paradigm capable of integrating both within a unified epistemological framework. This study aims to analyze the Twin Towers Scientific Integration paradigm at UIN Sunan Ampel Surabaya as a conceptual model that synthesizes religious knowledge (naqliyah) and scientific knowledge (aqliyah) through the perspectives of al-Ghazali and Syed Naquib al-Attas. Employing a qualitative approach through literature review and interviews with academic program managers, this research highlights a significant gap in previous studies, which tended to focus on structural and institutional aspects while insufficiently addressing the deeper philosophical and epistemological foundations of the Twin Towers paradigm. The findings show that the symbol of two interconnected towers functions not merely as architectural representation but as a conceptual framework for Islamic education that affirms the inseparability of science and religion. This paradigm aligns with al-Ghazali’s classical thought on the balance of intellectual, moral, and spiritual development, as well as Syed Muhammad Naquib al-Attas’s concept of the centrality of adab in the cultivation of knowledge. Its implementation is reflected in curriculum development, teaching strategies, interdisciplinary research, and community engagement. The study concludes that the Twin Towers model constitutes a strategic innovation that strengthens the philosophical foundations of knowledge integration in Islamic higher education while addressing the persistent knowledge dichotomy and the demands of global modernity. Keywords: Knowledge Integration; Twin Towers; Islamic Education Abstrak Derasnya arus globalisasi dan tantangan modernitas yang seringkali memunculkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains, dunia pendidikan Islam dituntut untuk menghadirkan paradigma baru yang mampu menyatukan keduanya dalam kerangka epistemologis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis paradigma Integrasi Keilmuan Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai model konseptual yang menyatukan ilmu agama (naqliyah) dan ilmu sains (aqliyah) dalam perspektif al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan wawancara dengan pengelola program studi, penelitian ini menegaskan adanya celah pada studi terdahulu yang cenderung berfokus pada aspek struktural dan kelembagaan, namun kurang mengulas fondasi filosofis dan epistemologis secara mendalam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa simbol dua menara kembar yang dihubungkan oleh jembatan epistemologis tidak hanya merepresentasikan arsitektur kampus, tetapi berfungsi sebagai model konseptual pendidikan Islam yang menegaskan keterpaduan 1174 | Adelia Yuli Pranita et al. antara sains dan agama. Paradigma ini selaras dengan pemikiran al-Ghazali tentang keseimbangan intelektual–moral–spiritual serta gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai sentralitas adab dalam ilmu. Implementasi paradigma ini tampak pada kurikulum, strategi pembelajaran, riset interdisipliner, dan pengabdian masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model Twin Towers merupakan inovasi strategis yang memperkuat fondasi filosofis integrasi ilmu dalam pendidikan Islam serta menjawab dikotomi keilmuan dan tantangan global modernitas. Kata kunci: Integrasi Keilmuan; Twin Towers; Pendidikan Islam. ©IQRO: Journal of Islamic Education. This is an open access article under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International license (CC BY-SA 4.0) Pendahuluan Konsep integrasi ilmu dalam pendidikan Islam menjadi isu yang semakin relevan di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan sains modern. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya merespons tantangan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dengan menghadirkan paradigma Twin Tower sebagai simbol dan model epistemologis yang memadukan dua rumpun keilmuan: naqliyah (wahyu) dan aqliyah (rasional). Dua menara yang dihubungkan oleh jembatan epistemologis tersebut merepresentasikan keterpaduan metodologis dan aksiologis antara ilmu agama dan sains (Zainiyati, 2016). Dalam konteks ini, pemikiran Al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan fondasi filosofis yang kuat bagi upaya penyatuan ilmu. Keduanya menolak sekularisasi pengetahuan dan menekankan keseimbangan antara dimensi intelektual, spiritual, dan moral (Mahmudah, 2023). Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji integrasi ilmu di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Misalnya, menurut Imam Suprayogo dalam Siti Roisadul Nisok, model integrasi ini menekankan bahwa al-Qur'an dan hadits seharusnya sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang jika diadopsi, dapat menghilangkan pemisahan tradisional antara ilmu agama dan ilmu umum (Sufratman, 2019) ; Sufratman mengkaji model “jaring laba-laba keilmuan” di UIN Sunan Kalijaga; Zainiyati meneliti makna filosofis konsep bangunan paradigmatik-filosofis bernama "Integrated Twin Towers" (menara kembar tersambung) (Zainiyati, 2016). Temuantemuan tersebut menunjukkan bahwa upaya penyatuan antara ilmu agama dan sains telah menjadi fokus penting dalam pengembangan keilmuan di PTKIN. Namun, sebagian besar penelitian tersebut berhenti pada tataran deskriptif, yakni menggambarkan model integrasi tanpa menganalisis landasan filosofisnya secara mendalam. Selain itu, pendekatan yang digunakan cenderung normatif dan kurang IQRO: Journal of Islamic Education Paradigma Twin Towers sebagai Model Integrasi Keilmuan… |1175 mengeksplorasi hubungan antara paradigma integrasi dengan kerangka epistemologis Islam klasik maupun kontemporer. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan epistemologis dalam penelitianpenelitian terdahulu. Kebanyakan studi belum mengaitkan secara langsung model integrasi ilmu di PTKIN dengan teori dan filsafat pendidikan Islam dari tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Naquib al-Attas. Padahal, kedua tokoh ini memiliki pandangan yang komplementer: Al-Ghazali menekankan kesatuan ilmu yang berorientasi pada kebahagiaan dunia-akhirat (Muhaya, 2015), sementara Naquib alAttas menegaskan pentingnya adab sebagai fondasi keilmuan dan solusi atas confusion of knowledge dalam dunia modern. Kajian yang menggabungkan konsep Twin Tower dengan dua perspektif filosofis ini akan membuka pemahaman baru tentang bagaim (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/download/8447/5361
Article home page: https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/view/8447/5361

Pranita Adelia Yuli, Irma Nur Setyani, Nuriyatul Khanifah, Tabriz Nur Imami, Davina Keisya Shera Putri, Lailatul Maghfiroh, Abd. Muqit. Paradigma Twin Towers sebagai Model Integrasi Keilmuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas, IQRO: Journal of Islamic Education, 2025, pp. 1173-1183,