NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR: DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS

Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, Dec 2019

The Banjar community, which consists of the Banjar ethnic group, is referred to as a tribe that overlaps between ethnic and religious identities. When mentioned with the word "Banjar", it will be imagined the word "Islam" accompanies it. The inherent stamp of "Banjar Islam" shows a certain religious dimension in it which is certainly different from other Muslims. This article is presented to illustrate the typology of religious reasoning of Banjar people who are associated with the label of Banjar Islam in front of them. It should be noted that far from the arrival of Islam, Banjar people also developed the belief in animism-dynamism followed by Hinduism and Buddhism. It was thanks to the role of the Banjar Sultanate that the Banjar community became the Banjar Islam. In the end, a shift in reason also occurred in the religious constructs of the Banjar community in line with social changes. This paper is a literature study that relies on descriptive methods in its presentation and psycho-socio-historical approach as the knife of analysis. This article explains that there are at least 4 types of reasoning that developed in Banjar since the era of animism and dynamism until after the entry of religious movements in the 20th century, namely mystical-realist, mystical-idealist, literalist-normative, and traditionalist-critical. The development of the religious reasoning of the Banjar community did not occur linearly, but rather overlapping. Masyarakat Banjar yang terdiri dari etnis Banjar disebut sebagai suku yang bertumpang-tindih antara identitas kesukuan dan identitas keagamaannya. Ketika disebutkan dengan kata Banjar, maka akan terbayang kata Islam menyertainya. Cap “Islam Banjar” yang melekat menunjukkan adanya suatu dimensi keberagamaan tertentu di dalamnya yang tentunya berbeda dengan Islam-Islam lainya. Artikel ini dihadirkan untuk menggambarkan tipologi nalar beragama masyarakat Banjar dikaitkan dengan adanya label Islam Banjar di depannya. Perlu diketahui bahwa jauh kedatangan Islam, di Banjar pun juga berkembang kepercayaan animisme-dinamisme yang disusul agama Hindu dan Buddha. Berkat peran kesultanan Banjarlah masyarakat Banjar menjadi Islam Banjar. Pada akhirnya, pergeseran nalar pun juga terjadi dalam konstruk keberagamaan masyarakat Banjar seiring perubahan sosial kemasyarakatan. Tulisan ini adalah kajian kepustakaan yang mengandalkan metode deskriptif dalam pemaparannya dan pendekatan psiko-sosio-historis sebagai pisau analisisnya. Artikel ini menjelaskan bahwa setidaknya ada 4 tipologi nalar yang berkembang sejak animisme dan dinamisme hingga pasca masuknya gerakan keagamaan di abad 20, yaitu mistis-realis, mistis idealis, literalis normatif, dan tradisionalis-kritis. Perkembangan nalar kekeberagamaan masyarakat Banjar tidak terjadi evolusi linier, namun lebih bersifat overlapping.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/al-banjari/article/download/3003/2017

NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR: DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS

AL-BANJARI, hlm. 246-273 Vol. 18, No.2, Juli-Desember 2019 ISSN (Print) 1412-9507 ISSN (Online) 2527-6778 NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR: DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS Wardatun Nadhiroh UIN Antasari Banjarmasin Diterima 20 Juni 2019│Direview 25 Desember 2019 │Diterbitkan 28 Desember 2019 Abstract The Banjar community, which consists of the Banjar ethnic group, is referred to as a tribe that overlaps between ethnic and religious identities. When mentioned with the word "Banjar", it will be imagined the word "Islam" accompanies it. The inherent stamp of "Banjar Islam" shows a certain religious dimension in it which is certainly different from other Muslims. This article is presented to illustrate the typology of religious reasoning of Banjar people who are associated with the label of Banjar Islam in front of them. It should be noted that far from the arrival of Islam, Banjar people also developed the belief in animism-dynamism followed by Hinduism and Buddhism. It was thanks to the role of the Banjar Sultanate that the Banjar community became the Banjar Islam. In the end, a shift in reason also occurred in the religious constructs of the Banjar community in line with social changes. This paper is a literature study that relies on descriptive methods in its presentation and psycho-socio-historical approach as the knife of analysis. This article explains that there are at least 4 types of reasoning that developed in Banjar since the era of animism and dynamism until after the entry of religious movements in the 20th century, namely mystical-realist, mystical-idealist, literalistnormative, and traditionalist-critical. The development of the religious reasoning of the Banjar community did not occur linearly, but rather overlapping. Keywords: Religious reasoning, Banjar people, overlapping. Abstrak Masyarakat Banjar yang terdiri dari etnis Banjar disebut sebagai suku yang bertumpang-tindih antara identitas kesukuan dan identitas keagamaannya. Ketika disebutkan dengan kata Banjar, maka akan terbayang kata Islam menyertainya. Cap “Islam Banjar” yang melekat menunjukkan adanya suatu dimensi keberagamaan tertentu di dalamnya yang tentunya berbeda dengan Islam-Islam lainya. Artikel ini dihadirkan untuk menggambarkan tipologi nalar beragama masyarakat Banjar dikaitkan dengan adanya label Islam DOI: 10.18592/al-banjari.v18i2.3003 Wardatun Nadhiroh Nalar Keberagamaan Masyarakat Banjar 247 Banjar di depannya. Perlu diketahui bahwa jauh kedatangan Islam, di Banjar pun juga berkembang kepercayaan animisme-dinamisme yang disusul agama Hindu dan Buddha. Berkat peran kesultanan Banjarlah masyarakat Banjar menjadi Islam Banjar. Pada akhirnya, pergeseran nalar pun juga terjadi dalam konstruk keberagamaan masyarakat Banjar seiring perubahan sosial kemasyarakatan. Tulisan ini adalah kajian kepustakaan yang mengandalkan metode deskriptif dalam pemaparannya dan pendekatan psiko-sosio-historis sebagai pisau analisisnya. Artikel ini menjelaskan bahwa setidaknya ada 4 tipologi nalar yang berkembang sejak animisme dan dinamisme hingga pasca masuknya gerakan keagamaan di abad 20, yaitu mistis-realis, mistis idealis, literalis normatif, dan tradisionalis-kritis. Perkembangan nalar kekeberagamaan masyarakat Banjar tidak terjadi evolusi linier, namun lebih bersifat overlapping. Kata kunci: Nalar beragama, masyarakat Banjar, overlapping. Pendahuluan Selama ini orang banyak yang salah memahami antara arti dari agama dan keberagamaan. Seseorang dituduh teroris, namun yang disalahkan adalah agamanya, padahal sebenarnya nalar keberagamaannya lah yang salah. Agama adalah pedoman atau ajaran dari Tuhan untuk pemeluknya.1 Sementara keberagamaan adalah hasil manifestasi pemahaman pemeluk agama terhadap agama tersebut yang terwujud dalam perilaku beragama. Seorang Muslim melakukan kejahatan bukan agama Islamnya yang mengajarkan demikian tapi cara dia bernalar dalam memahami agama itu yang harus dipertanyakan kembali kebenarannya. Agama hadir dalam beragam bentuk keberagamaan tergantung pada pengikut dan latar belakangnya sebagai manusia yang menyejarah. Masyarakat Banjar yang identitas keagamaannya tumpang tindih dengan identitas kesukuannya2 sehingga sering disebut dengan Islam Banjar tentunya memiliki ciri khas keislaman dan keberagamaannya sendiri. Ciri khas perilaku 1 Kiki Muhamad Hakiki, “Politik Identitas Agama Lokal Analisis: Jurnal Studi Keislaman https://doi.org/10.24042/ajsk.v11i1.617. 11, (Studi Kasus Aliran Kebatinan),” no. 1 (2011): 160–61, Ahmad Gaus A. F, Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi, ed. Hairus Salim (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009), xi–xxii; Supriansyah Supriansyah, “Agresi Kultur Digital dan Konsumerisme ada Identitas Urang Banjar di Era Pascamodern,” Al-Banjari : Jurnal Ilmiah IlmuIlmu Keislaman 18, no. 1 (2019): 106, https://doi.org/10.18592/al-banjari.v18i1.2544. 2 248 AL-BANJARI Vol. 18, No. 2, Juli-Desember 2019 keagamaan pra-Islam yang masih melekat kuat dalam budayanya 3 hingga sosok ulama atau tuan guru yang menjadi sentral beragama masyarakat Banjar 4 membuat wajah Islam Banjar masih terkesan kaku. Langkah-langkah kritis untuk mendobrak kekakuan tersebut tidak begitu memiliki implikasi signifikan dalam memodifikasi wajah Islam Banjar. Penyebab utamanya adalah tidak meratanya kehadiran tokoh yang mampu ‘berdiri’ dan mewacanakan kekritisan tersebut terhadap masyarakat Banjar. Tulisan ini bermaksud mengeksplor tipologi keberagamaan masyarakat Banjar untuk menemukan nalar yang berkembang dan mendasari perilaku beragama di Banjar. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan dengan mengandalkan metode deskripsi untuk pemaparannya dan pendekatan sosiohistoris sebagai alat analisisnya. Diharapkan tulisan ini mampu memperkaya wawasan Islam yang berkembang di Nusantara, khususnya memperkenalkan nalar keberagamaan Islam yang berkembang di Kalimantan Selatan. Agama dan Keberagamaan; Suatu Distingsi Agama dan keberagamaan adalah dua kata yang mengandung arti yang berbeda. Secara morfologis, masing-masing ungkapan tentu punya artinya sendiri. Dalam kaidah kebahasaan, perubahan bentuk kata dasar agama menjadi keberagamaan menyatakan bahwa keduanya harus dipakai dan diberi makna yang berbeda. Agama merupakan kata benda dan keberagamaan adalah kata sifat atau keadaan.5 Munawir Haris, mengutip pernyataan Mukti Ali tentang definisi agama bahwa tidak ada kata yang paling sulit didefinisikan kecuali kata agama dikarenakan tiga alasan. Pertama, pengalaman agama bersifat subjektif dan sangat individualis. Kedua, pembahasan agama selalu melibatkan emosi yang kuat. Ketiga, konsepsi seseorang tentang agama selalu dipengaruhi oleh tujuan 3 Muhammad Iqbal Noor, “Nalar Keislaman Urang Banjar,” Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman 10, no. 2 (2011), https://doi.org/10.18592/al-banjari.v10i2.935. 4 Ahdi Makmur, “Peranan Ulama Dalam Membina Masyarakat Banjar Di Kalimantan Selatan,” MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 36, no. 1 (2012), https://doi (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/al-banjari/article/download/3003/2017
Article home page: https://doaj.org/article/503cbd7383e541699e1b2763f3ce9ed4

Wardatun Nadhiroh. NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR: DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS, Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 2019, pp. 246-273, Volume 2, DOI: 10.18592/al-banjari.v18i2.3003