NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR: DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS
AL-BANJARI, hlm. 246-273
Vol. 18, No.2, Juli-Desember 2019
ISSN (Print) 1412-9507
ISSN (Online) 2527-6778
NALAR KEBERAGAMAAN MASYARAKAT BANJAR:
DARI MISTIS-REALIS HINGGA TRADISIONALIS-KRITIS
Wardatun Nadhiroh
UIN Antasari Banjarmasin
Diterima 20 Juni 2019│Direview 25 Desember 2019 │Diterbitkan 28 Desember 2019
Abstract
The Banjar community, which consists of the Banjar ethnic group, is referred to as
a tribe that overlaps between ethnic and religious identities. When mentioned with
the word "Banjar", it will be imagined the word "Islam" accompanies it. The
inherent stamp of "Banjar Islam" shows a certain religious dimension in it which
is certainly different from other Muslims. This article is presented to illustrate the
typology of religious reasoning of Banjar people who are associated with the label of
Banjar Islam in front of them. It should be noted that far from the arrival of
Islam, Banjar people also developed the belief in animism-dynamism followed by
Hinduism and Buddhism. It was thanks to the role of the Banjar Sultanate that
the Banjar community became the Banjar Islam. In the end, a shift in reason also
occurred in the religious constructs of the Banjar community in line with social
changes. This paper is a literature study that relies on descriptive methods in its
presentation and psycho-socio-historical approach as the knife of analysis. This
article explains that there are at least 4 types of reasoning that developed in
Banjar since the era of animism and dynamism until after the entry of religious
movements in the 20th century, namely mystical-realist, mystical-idealist, literalistnormative, and traditionalist-critical. The development of the religious reasoning of
the Banjar community did not occur linearly, but rather overlapping.
Keywords: Religious reasoning, Banjar people, overlapping.
Abstrak
Masyarakat Banjar yang terdiri dari etnis Banjar disebut sebagai suku yang
bertumpang-tindih antara identitas kesukuan dan identitas keagamaannya.
Ketika disebutkan dengan kata Banjar, maka akan terbayang kata Islam
menyertainya. Cap “Islam Banjar” yang melekat menunjukkan adanya suatu
dimensi keberagamaan tertentu di dalamnya yang tentunya berbeda dengan
Islam-Islam lainya. Artikel ini dihadirkan untuk menggambarkan tipologi
nalar beragama masyarakat Banjar dikaitkan dengan adanya label Islam
DOI: 10.18592/al-banjari.v18i2.3003
Wardatun Nadhiroh
Nalar Keberagamaan Masyarakat Banjar 247
Banjar di depannya. Perlu diketahui bahwa jauh kedatangan Islam, di Banjar
pun juga berkembang kepercayaan animisme-dinamisme yang disusul agama
Hindu dan Buddha. Berkat peran kesultanan Banjarlah masyarakat Banjar
menjadi Islam Banjar. Pada akhirnya, pergeseran nalar pun juga terjadi dalam
konstruk keberagamaan masyarakat Banjar seiring perubahan sosial
kemasyarakatan. Tulisan ini adalah kajian kepustakaan yang mengandalkan
metode deskriptif dalam pemaparannya dan pendekatan psiko-sosio-historis
sebagai pisau analisisnya. Artikel ini menjelaskan bahwa setidaknya ada 4
tipologi nalar yang berkembang sejak animisme dan dinamisme hingga pasca
masuknya gerakan keagamaan di abad 20, yaitu mistis-realis, mistis idealis,
literalis normatif, dan tradisionalis-kritis. Perkembangan nalar
kekeberagamaan masyarakat Banjar tidak terjadi evolusi linier, namun lebih
bersifat overlapping.
Kata kunci: Nalar beragama, masyarakat Banjar, overlapping.
Pendahuluan
Selama ini orang banyak yang salah memahami antara arti dari agama
dan keberagamaan. Seseorang dituduh teroris, namun yang disalahkan adalah
agamanya, padahal sebenarnya nalar keberagamaannya lah yang salah. Agama
adalah pedoman atau ajaran dari Tuhan untuk pemeluknya.1 Sementara
keberagamaan adalah hasil manifestasi pemahaman pemeluk agama terhadap
agama tersebut yang terwujud dalam perilaku beragama. Seorang Muslim
melakukan kejahatan bukan agama Islamnya yang mengajarkan demikian tapi
cara dia bernalar dalam memahami agama itu yang harus dipertanyakan kembali
kebenarannya. Agama hadir dalam beragam bentuk keberagamaan tergantung
pada pengikut dan latar belakangnya sebagai manusia yang menyejarah.
Masyarakat Banjar yang identitas keagamaannya tumpang tindih dengan
identitas kesukuannya2 sehingga sering disebut dengan Islam Banjar tentunya
memiliki ciri khas keislaman dan keberagamaannya sendiri. Ciri khas perilaku
1 Kiki Muhamad Hakiki, “Politik Identitas Agama Lokal
Analisis:
Jurnal
Studi
Keislaman
https://doi.org/10.24042/ajsk.v11i1.617.
11,
(Studi Kasus Aliran Kebatinan),”
no.
1
(2011):
160–61,
Ahmad Gaus A. F, Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi, ed. Hairus Salim (Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2009), xi–xxii; Supriansyah Supriansyah, “Agresi Kultur Digital dan
Konsumerisme ada Identitas Urang Banjar di Era Pascamodern,” Al-Banjari : Jurnal Ilmiah IlmuIlmu Keislaman 18, no. 1 (2019): 106, https://doi.org/10.18592/al-banjari.v18i1.2544.
2
248 AL-BANJARI
Vol. 18, No. 2, Juli-Desember 2019
keagamaan pra-Islam yang masih melekat kuat dalam budayanya 3 hingga sosok
ulama atau tuan guru yang menjadi sentral beragama masyarakat Banjar 4
membuat wajah Islam Banjar masih terkesan kaku. Langkah-langkah kritis
untuk mendobrak kekakuan tersebut tidak begitu memiliki implikasi signifikan
dalam memodifikasi wajah Islam Banjar. Penyebab utamanya adalah tidak
meratanya kehadiran tokoh yang mampu ‘berdiri’ dan mewacanakan kekritisan
tersebut terhadap masyarakat Banjar.
Tulisan ini bermaksud mengeksplor tipologi keberagamaan masyarakat
Banjar untuk menemukan nalar yang berkembang dan mendasari perilaku
beragama di Banjar. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan dengan
mengandalkan metode deskripsi untuk pemaparannya dan pendekatan sosiohistoris sebagai alat analisisnya. Diharapkan tulisan ini mampu memperkaya
wawasan Islam yang berkembang di Nusantara, khususnya memperkenalkan
nalar keberagamaan Islam yang berkembang di Kalimantan Selatan.
Agama dan Keberagamaan; Suatu Distingsi
Agama dan keberagamaan adalah dua kata yang mengandung arti yang
berbeda. Secara morfologis, masing-masing ungkapan tentu punya artinya
sendiri. Dalam kaidah kebahasaan, perubahan bentuk kata dasar agama menjadi
keberagamaan menyatakan bahwa keduanya harus dipakai dan diberi makna yang
berbeda. Agama merupakan kata benda dan keberagamaan adalah kata sifat
atau keadaan.5
Munawir Haris, mengutip pernyataan Mukti Ali tentang definisi agama
bahwa tidak ada kata yang paling sulit didefinisikan kecuali kata agama
dikarenakan tiga alasan. Pertama, pengalaman agama bersifat subjektif dan
sangat individualis. Kedua, pembahasan agama selalu melibatkan emosi yang
kuat. Ketiga, konsepsi seseorang tentang agama selalu dipengaruhi oleh tujuan
3 Muhammad Iqbal Noor, “Nalar Keislaman Urang Banjar,” Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu
Keislaman 10, no. 2 (2011), https://doi.org/10.18592/al-banjari.v10i2.935.
4 Ahdi Makmur, “Peranan Ulama Dalam Membina Masyarakat Banjar Di Kalimantan Selatan,”
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 36, no. 1 (2012), https://doi (...truncated)