AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN
AL-BANJARI, hlm. 103-126
Vol. 18, No.1, Januari-Juni 2019
ISSN (Print) 1412-9507
ISSN (Online) 2527-6778
AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME
PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA
PASCAMODERN
Supriansyah
Kindai Institute Banjarmasin
Diterima 26 Februari 2019 │Direview 08 April 2019 │Diterbitkan 13 Juni 2019
Abstract
This article examines the identity of the Banjar people who have been trapped in
issues of ethnicity, religion and culture. The social construction of the identity of
contemporary or urban Banjar people is still not touched by many researchers.
Known as a religious and obedient society, the urban Banjar people cannot avoid
contact with the clash of differences, where the presence of the internet makes it easy
to clash or friction with various things. Living in the postmodern era, the Banjar
community met with digital culture and consumerism. Both are very susceptible to
coloring Islam, which is also happened in forming the identity of the Banjar people
itself. Two important questions in this article, namely what do the Banjar people
face in the postmodern era? And what is the effect on the construction of the
identity of the Banjar people? In fact, the spirituality of the Banjar community
which is touched by digital culture and consumerism is transformed by infecting the
secular side and the melting of traditionalism in Banjar's public life. The culture
of Ahlussunnah wal jamaah of the Banjar community is no longer rigid but
mingles with several different ideologies or ideologies. The Islamic identity of the
Banjar people is no longer dominated by the ideology of Aswaja. At the same
time, political conditions play an active role, so there is silence on the worship side
because it is intertwined with consumerism, digital culture and the strengthening of
the flow of Islamic populism in society.
Keywords: The Banjarese Identity, digital culture, consumerism.
Abstrak
Artikel ini mengulik identitas masyarakat Banjar yang selama ini masih
terjebak dalam persoalan etnisitas, keberagamaan dan kebudayaan. Konstruksi
sosial atas identitas urang Banjar kontemporer atau urban masih belum banyak
disentuh oleh banyak peneliti. Dikenal sebagai masyarakat yang religious dan
taat beribadah, urang Banjar urban tidak bisa mengelak bersentuhan dengan
DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2544
104 AL-BANJARI
Vol. 18, No. 1, Januari-Juni 2019
benturan berbagai perbedaan, di mana dengan kehadiran internet memudahkan
terjadi benturan atau gesekan dengan berbagai hal. Hidup di era pascamodern,
masyarakat Banjar berjumpa dengan kultur digital dan budaya konsumerisme.
Dua kultur yang sangat rentan mewarnai keberislaman, yang mana juga sebagai
identitas urang Banjar itu sendiri. Dua pertanyaan penting dalam artikel ini,
yaitu apa saja yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat Banjar di era
pascamodern? Dan apa pengaruhnya terhadap konstruksi identitas urang
Banjar? Spritualitas masyarakat Banjar yang dijamah kultur digital dan
konsumerisme bertransformasi dengan menjangkiti sisi sekuler dan mencairnya
tradisionalisme di kehidupan publik Banjar. Kultur Ahlussunnah wal Jamaah
masyarakat Banjar tidak lagi rigid dan berbaur cair dengan beberapa paham
atau ideologi yang berbeda. Identitas Keberislaman urang Banjar tidak lagi
didominasi dibatasi ideologi Aswaja. Di saat yang sama kondisi politik turut
memainkan peran aktif, sehingga terjadi pendangkalan pada sisi peribadatan
karena berkelindan dengan konsumerisme, kultur digital dan menguatnya arus
populisme Islam di masyarakat.
Kata kunci: Identitas Banjar, kultur digital, konsumerisme.
Pendahuluan
Meletusnya aksi 212 di wilayah Jakarta Pusat cukup mengejutkan
banyak pengamat, keraguan bahwa politik identitas keagamaan bisa melakukan
aksi sebesar di aksi 212. Keraguan tersebut terbungkam dengan sendirinya
sehingga fenomena ini memicu rumusan baru akan keberislaman Indonesia
yang baru, sebab banyak hal baru yang berkelindan dalam membentuk Islam di
Indonesia.
Kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Basuki T. Purnama
(baca: Ahok), yang juga beragama Kristen dan beretnis Tionghoa yang
notabene menyandang status minoritas, menjadi pemicu kebangkitan politik
identitas yang berkelindan dengan masa pilkada DKI Jakarta yang saat itu
sudah masuk masa kampanye. Politik identitas juga dijadikan komoditas di
kampanye nasional sejak pemilihan presiden tahun 2014, salah satu buktinya
adalah saat Joko Widodo dinarasikan sebagai calon yang dekat dengan partai
terlarang yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang diframing selama
ini oleh Orde Baru sebagai partai yang anti Islam dan ingin menghancurkan
Islam.
Saat aksi 212 di Jakarta terjadi, di Banjarmasin juga terjadi aksi yang
serupa di hari yang sama. Aksi yang diinisiasi oleh Gerakan Islam Bersatu
(GaIB) ini melakukan aksi juga mengangkat persoalan yang sama yaitu
Supriansyah
Agresi Kultur Digital dan Konsumerisme
105
membela Alquran yang dianggap telah dihina oleh Ahok. Oleh sebab itu, umat
Islam di tanah Banjar menganggap perlu melakukan aksi solidaritas yang sama
dengan aksi di Monas, sebagai tanda kecintaan umat Islam di Banjar atas
Alquran. Sejak itu perbincangan di media sosial hingga media massa pun selalu
ramai mengangkat isu penistaan Alquran ini yang dianggap akibat dari
ketertindasan umat.
Diskursus tentang ketertindasan Islam kemudian kemudian dijadikan
komoditas politik oleh beberapa pihak yang berlaga di beberapa pilkada di
Indonesia, terlebih di daerah yang mayoritas Islam. Beberapa kasus hukum di
daerahpun dikaitkan dengan keterancaman umat Islam di Indonesia, seperti
kasus hukum dugaan peninstaan di Banjarmasin dan larangan bendera HTI di
beberapa wilayah di Indonesia.1 Kasus-kasus ini kemudian dimaknai sebagai
ancaman akan eksistensi umat Islam di Indonesia.
Kalimantan Selatan sebagai tempat tinggal mayoritas Urang Banjar, yang
menjadikan Islam sebagai identitas mereka. Bahkan menurut Hairus Salim
dalam Kata Pengantar di buku Kosmopolitanisme Urang Banjar, menggambarkan
masyarakat Banjar sebagai etno-religius yang mana agama dan suku bagai dua
sisi mata uang yang tak terpisahkan.2 Islam itu melekat dan sangat mengakar
dalam segala sendi kehidupan masyarakat Banjar. Hampir seluruh bagian dari
budaya Banjar selalu bernuansa dan beraroma Islam yang sangat kental. Oleh
sebab itu, Islam sudah menjadi identitas masyarakat Banjar.
Dengan kehadiran internet di tengah kehidupan manusia, banyak
kemudahan yang didapatkan oleh manusia. Namun, tidak sedikit pula timbul
masalah atas kemunculan internet ini. Beberapa kemudahan yang dirasakan
oleh manusia dalam budaya internet adalah kecepatan dan kemudahan
didapatkannya sebuah informasi. Inilah yang menyebabkan persoalan-persoalan
di sebuah negara nan jauh seperti di Mekah bisa diketahui dalam hitungan
menit, bahkan detik, di Indonesia yang jauhnya ribuan kilometer. Ketika kasus
penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok meletus di Jakarta, kemarahan
umat Islam di Jakarta juga menjalar ke masyarakat Banjar yang cukup jauh dari
s (...truncated)