AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN

Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, Jun 2019

This article examines the identity of the Banjar people who have been trapped in issues of ethnicity, religion and culture. The social construction of the identity of contemporary or urban Banjar people is still not touched by many researchers. Known as a religious and obedient society, the urban Banjar people cannot avoid contact with the clash of differences, where the presence of the internet makes it easy to clash or friction with various things. Living in the postmodern era, the Banjar community met with digital culture and consumerism. Both are very susceptible to coloring Islam, which is also happened in forming the identity of the Banjar people itself. Two important questions in this article, namely what do the Banjar people face in the postmodern era? And what is the effect on the construction of the identity of the Banjar people? In fact, the spirituality of the Banjar community which is touched by digital culture and consumerism is transformed by infecting the secular side and the melting of traditionalism in Banjar's public life. The culture of Ahlussunnah wal jamaah of the Banjar community is no longer rigid but mingles with several different ideologies or ideologies. The Islamic identity of the Banjar people is no longer dominated by the ideology of Aswaja. At the same time, political conditions play an active role, so there is silence on the worship side because it is intertwined with consumerism, digital culture and the strengthening of the flow of Islamic populism in society. Artikel ini mengulik identitas masyarakat Banjar yang selama ini masih terjebak dalam persoalan etnisitas, keberagamaan dan kebudayaan. Konstruksi sosial atas identitas urang Banjar kontemporer atau urban masih belum banyak disentuh oleh banyak peneliti. Dikenal sebagai masyarakat yang religious dan taat beribadah, urang Banjar urban tidak bisa mengelak bersentuhan dengan benturan berbagai perbedaan, di mana dengan kehadiran internet memudahkan terjadi benturan atau gesekan dengan berbagai hal. Hidup di era pascamodern, masyarakat Banjar berjumpa dengan kultur digital dan budaya konsumerisme. Dua kultur yang sangat rentan mewarnai keberislaman, yang mana juga sebagai identitas urang Banjar itu sendiri. Dua pertanyaan penting dalam artikel ini, yaitu apa saja yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat Banjar di era pascamodern? Dan apa pengaruhnya terhadap konstruksi identitas urang Banjar? Spritualitas masyarakat Banjar yang dijamah kultur digital dan konsumerisme bertransformasi dengan menjangkiti sisi sekuler dan mencairnya tradisionalisme di kehidupan publik Banjar. Kultur Ahlussunnah wal Jamaah masyarakat Banjar tidak lagi rigid dan berbaur cair dengan beberapa paham atau ideologi yang berbeda. Identitas Keberislaman urang Banjar tidak lagi didominasi dibatasi ideologi Aswaja. Di saat yang sama kondisi politik turut memainkan peran aktif, sehingga terjadi pendangkalan pada sisi peribadatan karena berkelindan dengan konsumerisme, kultur digital dan menguatnya arus populisme Islam di masyarakat.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/al-banjari/article/download/2544/1842

AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN

AL-BANJARI, hlm. 103-126 Vol. 18, No.1, Januari-Juni 2019 ISSN (Print) 1412-9507 ISSN (Online) 2527-6778 AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN Supriansyah Kindai Institute Banjarmasin Diterima 26 Februari 2019 │Direview 08 April 2019 │Diterbitkan 13 Juni 2019 Abstract This article examines the identity of the Banjar people who have been trapped in issues of ethnicity, religion and culture. The social construction of the identity of contemporary or urban Banjar people is still not touched by many researchers. Known as a religious and obedient society, the urban Banjar people cannot avoid contact with the clash of differences, where the presence of the internet makes it easy to clash or friction with various things. Living in the postmodern era, the Banjar community met with digital culture and consumerism. Both are very susceptible to coloring Islam, which is also happened in forming the identity of the Banjar people itself. Two important questions in this article, namely what do the Banjar people face in the postmodern era? And what is the effect on the construction of the identity of the Banjar people? In fact, the spirituality of the Banjar community which is touched by digital culture and consumerism is transformed by infecting the secular side and the melting of traditionalism in Banjar's public life. The culture of Ahlussunnah wal jamaah of the Banjar community is no longer rigid but mingles with several different ideologies or ideologies. The Islamic identity of the Banjar people is no longer dominated by the ideology of Aswaja. At the same time, political conditions play an active role, so there is silence on the worship side because it is intertwined with consumerism, digital culture and the strengthening of the flow of Islamic populism in society. Keywords: The Banjarese Identity, digital culture, consumerism. Abstrak Artikel ini mengulik identitas masyarakat Banjar yang selama ini masih terjebak dalam persoalan etnisitas, keberagamaan dan kebudayaan. Konstruksi sosial atas identitas urang Banjar kontemporer atau urban masih belum banyak disentuh oleh banyak peneliti. Dikenal sebagai masyarakat yang religious dan taat beribadah, urang Banjar urban tidak bisa mengelak bersentuhan dengan DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2544 104 AL-BANJARI Vol. 18, No. 1, Januari-Juni 2019 benturan berbagai perbedaan, di mana dengan kehadiran internet memudahkan terjadi benturan atau gesekan dengan berbagai hal. Hidup di era pascamodern, masyarakat Banjar berjumpa dengan kultur digital dan budaya konsumerisme. Dua kultur yang sangat rentan mewarnai keberislaman, yang mana juga sebagai identitas urang Banjar itu sendiri. Dua pertanyaan penting dalam artikel ini, yaitu apa saja yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat Banjar di era pascamodern? Dan apa pengaruhnya terhadap konstruksi identitas urang Banjar? Spritualitas masyarakat Banjar yang dijamah kultur digital dan konsumerisme bertransformasi dengan menjangkiti sisi sekuler dan mencairnya tradisionalisme di kehidupan publik Banjar. Kultur Ahlussunnah wal Jamaah masyarakat Banjar tidak lagi rigid dan berbaur cair dengan beberapa paham atau ideologi yang berbeda. Identitas Keberislaman urang Banjar tidak lagi didominasi dibatasi ideologi Aswaja. Di saat yang sama kondisi politik turut memainkan peran aktif, sehingga terjadi pendangkalan pada sisi peribadatan karena berkelindan dengan konsumerisme, kultur digital dan menguatnya arus populisme Islam di masyarakat. Kata kunci: Identitas Banjar, kultur digital, konsumerisme. Pendahuluan Meletusnya aksi 212 di wilayah Jakarta Pusat cukup mengejutkan banyak pengamat, keraguan bahwa politik identitas keagamaan bisa melakukan aksi sebesar di aksi 212. Keraguan tersebut terbungkam dengan sendirinya sehingga fenomena ini memicu rumusan baru akan keberislaman Indonesia yang baru, sebab banyak hal baru yang berkelindan dalam membentuk Islam di Indonesia. Kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Basuki T. Purnama (baca: Ahok), yang juga beragama Kristen dan beretnis Tionghoa yang notabene menyandang status minoritas, menjadi pemicu kebangkitan politik identitas yang berkelindan dengan masa pilkada DKI Jakarta yang saat itu sudah masuk masa kampanye. Politik identitas juga dijadikan komoditas di kampanye nasional sejak pemilihan presiden tahun 2014, salah satu buktinya adalah saat Joko Widodo dinarasikan sebagai calon yang dekat dengan partai terlarang yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang diframing selama ini oleh Orde Baru sebagai partai yang anti Islam dan ingin menghancurkan Islam. Saat aksi 212 di Jakarta terjadi, di Banjarmasin juga terjadi aksi yang serupa di hari yang sama. Aksi yang diinisiasi oleh Gerakan Islam Bersatu (GaIB) ini melakukan aksi juga mengangkat persoalan yang sama yaitu Supriansyah Agresi Kultur Digital dan Konsumerisme 105 membela Alquran yang dianggap telah dihina oleh Ahok. Oleh sebab itu, umat Islam di tanah Banjar menganggap perlu melakukan aksi solidaritas yang sama dengan aksi di Monas, sebagai tanda kecintaan umat Islam di Banjar atas Alquran. Sejak itu perbincangan di media sosial hingga media massa pun selalu ramai mengangkat isu penistaan Alquran ini yang dianggap akibat dari ketertindasan umat. Diskursus tentang ketertindasan Islam kemudian kemudian dijadikan komoditas politik oleh beberapa pihak yang berlaga di beberapa pilkada di Indonesia, terlebih di daerah yang mayoritas Islam. Beberapa kasus hukum di daerahpun dikaitkan dengan keterancaman umat Islam di Indonesia, seperti kasus hukum dugaan peninstaan di Banjarmasin dan larangan bendera HTI di beberapa wilayah di Indonesia.1 Kasus-kasus ini kemudian dimaknai sebagai ancaman akan eksistensi umat Islam di Indonesia. Kalimantan Selatan sebagai tempat tinggal mayoritas Urang Banjar, yang menjadikan Islam sebagai identitas mereka. Bahkan menurut Hairus Salim dalam Kata Pengantar di buku Kosmopolitanisme Urang Banjar, menggambarkan masyarakat Banjar sebagai etno-religius yang mana agama dan suku bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.2 Islam itu melekat dan sangat mengakar dalam segala sendi kehidupan masyarakat Banjar. Hampir seluruh bagian dari budaya Banjar selalu bernuansa dan beraroma Islam yang sangat kental. Oleh sebab itu, Islam sudah menjadi identitas masyarakat Banjar. Dengan kehadiran internet di tengah kehidupan manusia, banyak kemudahan yang didapatkan oleh manusia. Namun, tidak sedikit pula timbul masalah atas kemunculan internet ini. Beberapa kemudahan yang dirasakan oleh manusia dalam budaya internet adalah kecepatan dan kemudahan didapatkannya sebuah informasi. Inilah yang menyebabkan persoalan-persoalan di sebuah negara nan jauh seperti di Mekah bisa diketahui dalam hitungan menit, bahkan detik, di Indonesia yang jauhnya ribuan kilometer. Ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok meletus di Jakarta, kemarahan umat Islam di Jakarta juga menjalar ke masyarakat Banjar yang cukup jauh dari s (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/al-banjari/article/download/2544/1842
Article home page: https://doaj.org/article/2838a0b7bae147aaa19963c8afda2850

Supriansyah Supriansyah. AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN, Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 2019, pp. 103-126, Volume 1, DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2544