Review: Biflavonoid compounds of Selaginella Pal. Beauv. and its benefit
ISSN: 1412-033X
Januari 2008
DOI: 10.13057/biodiv/d090115
BIODIVERSITAS
Volume 9, Nomor 1
Halaman: 64-81
REVIEW: Senyawa Biflavonoid pada Selaginella Pal. Beauv. dan
Pemanfaatannya
Review: Biflavonoid compounds of Selaginella Pal. Beauv. and its benefit
1
AHMAD DWI SETYAWAN1,2,♥, LATIFAH KOSIM DARUSMAN3
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126.
2
Program Doktor, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor 16680.
3
Departemen Kimia, FMIPA, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor 16680.
Diterima: 2 Januari 2008. Disetujui: 31 Januari 2008.
ABSTRACT
In the present day, medicinal plants increasingly play important role in human health, while about 60-75% of world population depending on
plants and their extracts for medication. Selaginella Pal. Beauv. (Selaginellaceae Reichb.) is a potent medicinal plant source. This plant
contains biflavonoid compounds, a dimeric form of flavonoids. Flavonoids are secondary metabolite that is most used in medical purposes.
They are often occurred in daily consumed vegetables and fruits. Chemical constituents of flavonoids are very diverse, because they are
generated in many biosynthetic methods. There are many biflavonoid compounds of Selaginella, i.e. amentoflavone, 2',8''-biapigenin,
ginkgetin, heveaflavone, hinokiflavone, isocryptomerine, kayaflavone, podocarpusflavone A, robustaflavone, sumaflavone, and
taiwaniaflavone. For the plants, these biflavonoid are used to response environmental condition such as defense against pests, diseases,
herbivory, and competitions; while for the people, these compounds are used as antioxidant, anti-inflammatory, anti cancer, antimicrobial
(antivirus, antibacterial, anti fungal, antiprotozoan), neuroprotective, vasorelaxant, anti UV-irradiation, antispasmodic, anti allergic,
antihaemorrhagic, antinociceptive, etc. The antioxidant purpose of biflavonoid is the most important activities of this secondary metabolite.
It is related to the anti cancer and anti-inflammatory functions. The antioxidant of biflavonoid is more powerful than β-carotene, vitamin C
and E. In the future, Selaginella research exhaustively needs to be conducted on morphological and molecular characteristics. It deeply
needs to explore on biflavonoid and other natural products constituents, and it also needs to search on their bioactivities.
© 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words: flavonoid, biflavonoid, Selaginella.
PENDAHULUAN
Tumbuhan obat sejak jaman dahulu hingga kini menjadi
penyokong utama kesehatan umat manusia. Sekitar 6075% penduduk bumi menggantungkan kesehatannya pada
tumbuhan (Farnsworth, 1994; Joy dkk., 1998; Harvey,
2000). Tumbuhan dan mikrobia merupakan sumber utama
metabolit sekunder (Hayashi dkk., 1997; Armaka dkk.,
1999; Lin dkk., 1999; Basso dkk. 2005), dan secara
konsisten menjadi sumber utama obat-obatan terbaru
(Harvey, 2000), baik berupa senyawa fenolat, alkaloid,
terpenoid, maupun asam amino non protein (Smith, 1976).
Di bumi terdapat 250.000-500.000 spesies tumbuhan
(Borris, 1996), 1-10%-nya digunakan untuk bahan makanan
(Moerman, 1996), 80.000 spesies untuk pengobatan, dan
5000 spesies untuk mengobati penyakit tertentu. Sebagian
besar tumbuhan obat dikoleksi langsung dari alam,
sehingga memerlukan budidaya agar kelestariannya
terjamin (Joy dkk., 1998).
Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling
beragam dan tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit
sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia
dan peran biologi yang sangat beragam (Macheix dkk.,
♥ Alamat korespondensi:
Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126
Tel. & Fax.: +62-271-663375
e-mail:
1990). Senyawa ini dibentuk dari jalur shikimate dan
fenilpropanoid (Harborne, 1989), dengan beberapa
alternatif biosintesis (Robards dan Antolovich, 1997).
Flavonoid merupakan turunan fenol yang memiliki struktur
dasar fenilbenzopiron (tokoferol) (Middleton dkk., 2000),
dicirikan oleh kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri
dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin aromatis
(Gambar 1). Substitusi gugus kimia pada flavonoid umumnya berupa hidroksilasi, metoksilasi, metilasi dan glikosilasi
(Harborne, 1980). Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di
antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi
flavon, flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin,
dan kalkon (Porter, 1994; Ferreira dan Bekker, 1996, 1999;
Ferreira dkk., 1999). Lebih dari 6467 senyawa flavonoid
telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat (Harborne
dan Baxter, 1999). Kebanyakan flavonoid berbentuk
monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid),
trimer, tetramer, dan polimer (Perruchon, 2004).
Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna
kuning, kuning jeruk, dan merah (Timberlake dan Henry,
1986; Brouillard dan Cheminant, 1988); dapat ditemukan
pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba,
rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari
tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat, anggur
merah, dan obat herbal (Middleton dkk., 2000; Herrmann,
1976). Senyawa ini berperan penting dalam menentukan
warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi makanan (Macheix
dkk., 1990). Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan
SETYAWAN dan DARUSMAN – Biflavonoid pada Selaginella
senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada
tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses
evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi
tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan
diri terhadap hama, penyakit (Dixon, 2002), herbivori,
kompetisi, interaksi dengan mikrobia (Madhuri dan Reddy,
1999), dormansi biji (Debeaujon dkk., 2000; Pourcel dkk.,
2005), pelindung terhadap radiasi sinar UV (Winkel-Shirley
dkk., 2002), molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi,
serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan
(Madhuri dan Reddy, 1999).
Bagi manusia, flavonoid berguna sebagai antioksidan
(Letan 1966; Nakatani, 1990), antimikrobia (Nishino dkk,
1987; Harborne dan Williams, 2000), antibakteri (Middleton
dan Kandswami, 1993), antivirus (Harborne dan Williams,
2000), anti-inflamasi, anti allergi (Middleton dan
Kandswami, 1992, 1993), anti mutagenik (Edenharder dkk.,
1993), anti klastogenik (Heo dkk., 1992) anti kanker (Verma
dkk., 1988; Dreschner dkk., 1991; Middleton dan Kandswami,
1993), anti-platelet (Harborne dan Williams, 2000), dan lainlain. Di sisi lain dilaporkan pula bahwa flavonoid dapat
menyebabkan kerusakan DNA (Shimoi dkk., 1996; Leung
dkk., 2005), mutasi (Rueff dkk., 1992) dan apoptosis (Salti
dkk., 2000; Leung dkk., 2005). Kajian terhadap flavonoid
tidak hanya karena peran biologinya, tetapi lebih karena
potensinya sebagai obat (Ross dan Kasum, 2002).
Salah satu struktur flavonoid yang bernilai tinggi sebagai
bahan obat adalah biflavonoid. Di Asia Timur biflavonoid
banyak dihasilkan dari daun Ginkgo biloba L. dengan
kandungan utama ginkgetin (Krauze-Baranowska dan Wiart,
2002; Dubber, 2005). Di Afrika sub Sahara biflavonoid banyak
dihasilkan dari biji Garcinia cola H (...truncated)