The Relationship Between The Provision Of Restraint Measures And Physical Responses In Agitated Patients In The Igd Rsj West Java Province
ORIGINAL ARTICLE AACENDIKIA: Journal of Nursing
AACENDIKIA: Journal of Nursing, Volume 2 (1), Juli 2023, p.25-33
https://doi.org/10.1234/aacendikiajon.v2i.21
Hubungan Pemberian Tindakan Restrain Terhadap Respon Fisik Pada Pasien Gaduh
Gelisah Di Igd Rsj Provinsi Jawa Barat
The Relationship Between The Provision Of Restraint Measures And Physical Responses In
Agitated Patients In The Igd Rsj West Java Province
Neneng Andini Fujiyanti1, Cucu Rokayah1, Sumbara1*
1Universitas Bhakti Kencana, Indonesia
*Correspondence: Sumbara. Address: Jl. Soekarno Hatta No.754, Cipadung Kidul, Kec. Panyileukan, Kota Bandung, Jawa
Barat 40614. Email:
Responsible Editor: Safruddin, S.Kep., Ns., M.Kep
Received: 19 Juni 2023 ○ Revised: 28 Juli 2023 ○ Accepted: 30 Juli 2023
ABSTRACT
Introduction: Psychiatric emergency is a condition characterized by a disturbance in a person's thoughts, feelings and
behavior that requires immediate therapeutic intervention such as in cases of restlessness. One of the treatments that can be
done is to provide restraint. Restraint is a restrictive intervention to limit a person's movement that aims to control dangerous
situations immediately that have a real possibility of hurting themselves or others. The purpose of this study was to determine
the relationship between the provision of restraint measures on physical responses in restless patients in the emergency room of
West Java Province Mental Hospital.
Methods: This study used a quantitative research method using a correlational descriptive research design with a cross
sectional approach. The population is all rowdy restless patients who are given restraint measures. Samples taken by
consecutive sampling obtained as many as 21 people. The instruments used in this study were SOPs for installing
restraints and physical response questionnaires. Data were analyzed univariately using frequency distribution and
bivariately using chi square.
Results: The results showed that most of the restraint actions were not appropriate (61.1%), most of the physical
responses were negative (52.4%). The results of the fisher exact test obtained a value of p = 0.008 (p <0.05)
Conclusions: Relationship between the provision of restraint measures and physical responses in restless patients in the
emergency room of the West Java Provincial Mental Hospital.
ABSTRAK
Pendahuluan: Kegawatdaruratan psikiatri merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada
pikiran, perasaan dan perilaku seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera sepert i pada kasus gaduh
gelisah. Salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan yaitu dengan pemberian tindakan restrain. Restrain
merupakan intervensi restriktif untuk membatasi gerakan seseorang yang bertujuan untuk mengendalikan situasi
berbahaya dengan segera yang mempunyai kemungkinan nyata untuk menyakiti dirinya atau orang lain. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemberian tindakan restrain terhadap respon fisik pada pasien gaduh
gelisah di IGD RSJ Provinsi Jawa Barat
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif
korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh pasien gaduh gelisah yang dilakukan pemberian
tindakan restrain. Sampel diambil secara consecutive sampling didapatkan sebanyak 21 orang. Instumen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah SOP pemasangan restrain dan kuesioner respon fisik. Data dianalisis secara univariat
menggunakan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan chi square.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pemberian tindakan restrain tidak sesuai (61.1%), sebagian besar
respon fisik negatif (52.4%). Hasil uji fisher exact didapatkan nilai p = 0.008 (p<0.05)
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pemberian tindakan restrain terhadap respon fisik pada pasien gaduh gelisah di
IGD RSJ provinsi Jawa Barat.
Keywords: restlessness; physical response; restraint
25 | E-ISSN: 2963-6434
© 2023 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative
Commons Attribution 4.0 International License (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/).
Neneng Andini Fujiyanti, Cucu Rokayah, Sumbara (2023)
Pendahuluan
Kesehatan Mental atau Kesehatan jiwa
merupakan aspek penting dalam mewujudkan
Kesehatan secara menyeluruh yang harus
diperhatikan selayaknya kesehatan fisik. Tidak
ada
kesehatan
tanpa
kesehatan
mental
(Ayuningtyas et al., 2018) sebagaimana definisi
kesehatan menurut World Health Organization
(WHO) adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan
sosial yang utuh, dan bukan hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan (WHO, 2020). Individu
yang tidak memenuhi kriteria kesehatan jiwa
diatas dapat diklasifikasikan memiliki gangguan
jiwa.
Menurut
Undang-Undang
Republik
Indonesia Nomor 18 Pasal 1 tahun 2014, Orang
Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang
yang mengalami gangguan dalam pikiran,
perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam
bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan
perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan
penderitaan dan hambatan dalam menjalankan
fungsi sebagai manusia (Keliat & Pasaribu,
2016).
Di Indonesia, sekitar 85% ODGJ tidak
mendapatkan pengobatan sehingga jumlah kasus
gangguan jiwa kemungkinan akan terus
bertambah (Kartikasari et al., 2019). Gangguan
mental memiliki dampak negatif pada seluruh
aspek kehidupan seperti menjadi korban tindakan
kriminal, ditolak dalam dunia pekerjaan dan
lingkungan rumah, kesempatan kerja yang lebih
sedikit, penurunan peluang untuk mendapatkan
pemukiman, penurunan kualitas dalam perawatan
kesehatan, penurunan harga diri (Laila et al.,
2018)
turunnya
produktivitas
sehingga
membebani
keluarga,
masyarakat,
serta
pemerintah (Ayuningtyas et al., 2018). Selain itu,
apabila dukungan keluarga dan masyarakat
kurang,
akan
memicu
kecemasan
dan
meningkatkan ketegangan yang mengarah pada
respons maladaptif dan dapat mengarah pada
situasi krisis (Rokayah & Indarna, 2023).
Menurut
Kemenkes
RI,
2010
kegawatdaruratan
psikiatri
(psychiatric
emergency) merupakan cabang dari psikiatri yang
mempelajari tindakan segera dalam rangka upaya
penyelamatan nyawa maupun upaya pertolongan
segera untuk menyelamatkan nyawa, seperti pada
kasus gaduh gelisah. Perilaku gaduh gelisah
ditandai dengan gerakan tangan dan kaki yang
cepat, mimik muka yang terkadang terlihat
kebingungan, marah dengan nada bicara yang
26 | E-ISSN: 2963-6434
AACENDIKIA: Journal of Nursing
keras dan kasar yang dapat menimbulkan perilaku
merugikan diri sendiri, orang lain atau lingkungan
serta 60% dalam bentuk kata-kata kasar, 29%
melakukan kekerasan terhadap objek, dan 19%
melakukan kekerasan terhadap diri sendiri
(Sujarwo & Livana, 2017). Penatalaksanaan yang
bisa dilakukan pada klien dengan perilaku
kekerasan atau gaduh gelisah salah satunya
dengan pemberian tindakan restrain (Y. Dewi et
al., 2019). Sebelum pemberian tindakan restrain
pada pasien gaduh gelisah, akan diawali dengan
pemberian interv (...truncated)