Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam

Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, Sep 2020

Kata Suro dari bahasa arab yaitu 'asyura artinya kesepuluh (tanggal 10 Muharram). Kata Suro sebutan orang jawa untuk bulan Muharrom. Muharrom adalah bulan pertama penanggalan Hijriyah. Dalam perspektif Islam banyak kejadian luar biasa para Nabi di bulan muharram ini. Banyak daerah di Indonesia yang mengundang atau mengisi tahun baru Islam dengan cara atau tradisi yang unik. Karena keunikan tradisi ini peneliti tertarik untuk membahas masalah ini dengan merumuskan tiga rumusan masalah seperti: Bagaimana sejarah dari tradisi Satu Suro atau Satu Muharram, bagaimana menggabungkan Tradisi di tanah Jawa dalam Memperingati Satu Suro atau Satu Muharram, dan bagaimana tradisi Satu Suro atau Satu Muharram dalam Perspektif Islam. Penelitian ini adalah penelitian literatur dengan deskriptif kualitatif yang membahas untuk evaluasi tentang perayaan Satu Suro. Penulis melakukan penelitian dengan mencari referensi dari buku, jurnal, sumber yang lain yang memiliki tema dan wawancara. Dari penelitian ini dapat diketahui tentang kontribusi dalam pelaksanaan tradisi satu Suro tidak dapat menyelesaikan tujuan dan makna yang sama dan masalah tradisi dan budaya Jawa sangat berkaitan dengan ajaran-agama Islam, khususnya dalam bidang aqidah dan syariah.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/download/3861/2898

Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam

AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2. 2020 TRADISI SATU SURO DI TANAH JAWA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Risma Aryanti1 dan Ashif Az Zafi2 Abstract Suro Word from Arabic is 'Asyura meaning tenth (10th of Muharrom). The word Suro mentions the Javanese for the month of Muharrom. Muharrom is the first month of the Hijri calendar. In the Islamic perspective many of the extraordinary occurrences of the prophets in the month of Muharram. Many areas in Indonesia celebrate or fill the Islamic New Year in a unique way or tradition. Because of the uniqueness of the tradition researchers are interested in studying this problem by formulating three problems such as: how the history of the tradition of Satu Suro or one Muharram, how tradition diversity in the land of Java in commemorating One Suro or one Muharram, and how the tradition of one Suro or one Muharram in Islamic perspective. This research is a qualitative descriptive literature study intended to describe the celebration of Satu Suro. The author conducts research by searching for a variety of references from books, journals, or other sources that share themes and interviews. From this research can be noted that the diversity in the implementation of the tradition of one Suro does not eliminate the same purpose and meaning and the Institut Agama Islam Negeri Kudus, Institut Agama Islam Negeri Kudus, 342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z. Page 342 AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2. 2020 problem of Javanese traditions and culture is closely related to Islamic teachings, especially in the field of Aqidah and Sharia. Keywords: Traditions, Suro, the perspective of Islamic law Abstrak Kata Suro dari bahasa arab yaitu „asyura artinya kesepuluh (tanggal 10 Muharram). Kata Suro sebutan orang jawa untuk bulan Muharrom. Muharrom adalah bulan pertama penanggalan Hijriyah. Dalam perspektif Islam banyak kejadian luar biasa para Nabi di bulan muharram ini. Banyak daerah di Indonesia yang merayakan atau mengisi tahun baru Islam dengan cara atau tradisi yang unik. Karena keunikan tradisi tersebut peneliti tertarik untuk mempelajari masalah ini dengan merumuskan tiga rumusan masalah seperti: bagaimana sejarah dari tradisi Satu Suro atau Satu Muharram, bagaimana keanekaragaman Tradisi di tanah Jawa dalam Memperingati Satu Suro atau Satu Muharram, dan bagaimana tradisi Satu Suro atau Satu Muharram dalam Perspektif Islam. penelitian ini adalah penelitian literatur dengan deskriptif kualitatif yang dimaksudkan untuk menggambarkan tentang perayaan Satu Suro. Penulis melakukan penelitian dengan mencari berbagai referensi baik dari buku, jurnal, ataupun sumber yang lain yang mempunyai kesamaan tema dan wawancara. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa keanekaragaman dalam pelaksanaan tradisi satu Suro tidak menghilangkan tujuan dan makna yang sama dan masalah tradisi dan budaya Jawa sangat berkaitan dengan ajaranajaran Islam, terutama dalam bidang aqidah dan syariah. Kata Kunci: Tradisi, Suro, Perspektif hukum Islam 342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z. Page 343 AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2. 2020 Pendahuluan Sejarah islam merupakan salah satu hasil perdebatan dan interpretasi yang konstan. Tradisi muslim dapat dipahami sebagai suatu perjuangan spiritual, sosial dan intelektual untuk menetukan dan menerapkan maknanya.3 Islam lebih ditandai oleh persoalan-persoalan tanpa henti mengenai bagaimana manusia seharusnya memperlakukan diri mereka agar sesuai dengan kehendak Allah. Islam Jawa unik, itu karena dalam formulasi suatu kultus keraton (imperial cult) tetap mempertahankan penerapan berbagai konsep Sufi mengenai kewalian, mistik dan kesempurnaan manusia, bukan karena mempertahankan aspek-aspek agama praIslam dan budaya. 4 Tradisi merupakan kebiasaan yang dilakukan sejak lama secara turun-temurun yang masih dijalankan masyarakat sampai sekarang. Kita tahu bahwa negara Indonesia mempunyai berbagai suku, budaya, ras, bahasa, agama, dan kebudayaan yang beragam. Budaya di Indonesia sungguh kaya dan beranekaragam yang mempunyai ciri khas masing-masing. Budaya bukan hanya tentang nyanyian, tarian-tarian ataupun alat musik, tetapi budaya juga mencakup tentang tata cara atau sebuah upacar atau perayaan dalam memperingati atau menyambut hari besar. Salah satu budaya yang sangat terkenal yaitu perayaan malam satu Suro dimana banyak di Indonesia merayakan dengan beragam tradisi. Salah satunya ada di tanah Jawa, dimana dalam sejarah mencatat pulau Jawa adalah pulau yang memiliki banyak kerajaan. Suro adalah bentuk penanggalan jawa oleh Sultan Agung. Walaupun masih dalam satu pulau kenyataannya tradisi satu Suro di pulau Jawa berbeda-beda. Meskipun terdapat berbagai perbedaan namun tetap memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan merupakan ungkapan rasa syukur atas kenikmatan dan kehidupan yang lebih baik. Kata Suro dari bahasa arab yaitu ‘asyura artinya “sepuluh”, maksudnya yaitu tanggal 10 pada bulan Muharram. Pada 10 Muharram ini bagi masyarakat 3 Mark R Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Terj. Hairus Salim HS (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 1999), hal.351. 4 Ibid., hal. 352. 342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z. Page 344 AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2. 2020 islam memiliki arti yang penting yaitu puasa memperingati satu Muharram. 5 Bulan muharram merupakan bulan pertama menurut perhitungan tahun Hijriyah, dinamakan bulan suro oleh Sultan Agung. Dalam sistem Islam, bulan suro dipandang sebagai bulan haram atau suci. Karena larangan perang terhadap kaum Kafir Quraisy dicabut. Sedangkan untuk kaum Syiah Muharram merupakan bulan ratapan (syahr al-nihayah) atas kematian Husein bin Ali (wafat. 10 Muharram 61 H). Adapun keistimewaan dalam bulan Muharram adalah adanya peringatan Hijriyah atau tahun baru Islam. Tarikh Hijriyah dihitung sejak hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah al-Munawarah (622 M). Hijrah Nabi diartikan sebagi perpindahannya umat muslim dari Makkah al-Mukarroamah ke Madinah al-Munawarah untuk menjauhkan dari perbuatan dosa. Penetapan bulan hijriyah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab tahun ke-17 setelah Nabi hijrah atau tahun keempat beliau menjadi khalifah. Perhitungan untuk satu tahun sama dengan 345 hari, kalender ini berdasarkan perubahan posisi bulan, dimana perhitungan Hijriyah lebih pendek 11 hari dari tahun Masehi.6 Pada tanggal 10 Muharram bagi masyarakat islam memiliki arti yang sangat penting, selain puasa memperingati satu Muharram, orang islam juga merayakan atau mengisi dengan berbagai kegiatan keislaman seperti manakiban, tahlilan dan masih banyak lainnya. Banyak daerah di Indonesia yang merayakan atau mengisi tahun baru Islam dengan cara atau tradisi yang berbeda. Dalam bulan ini Tradisi suronan yang dilakukan pada bulan syuro oleh masyarakat islam khususnya di tanah Jawa memiliki keanekaragaman. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mempelajari masalah in (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/download/3861/2898
Article home page: https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/3861/2898

Risma Aryanti, Zafi Ashif Az. Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam, Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, 2020, pp. 342-361,