Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam
AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Vol. 4 No. 2. 2020
TRADISI SATU SURO DI TANAH JAWA DALAM
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Risma Aryanti1 dan Ashif Az Zafi2
Abstract
Suro Word from Arabic is 'Asyura meaning tenth (10th of
Muharrom). The word Suro mentions the Javanese for the month of
Muharrom. Muharrom is the first month of the Hijri calendar. In
the Islamic perspective many of the extraordinary occurrences of
the prophets in the month of Muharram. Many areas in Indonesia
celebrate or fill the Islamic New Year in a unique way or tradition.
Because of the uniqueness of the tradition researchers are
interested in studying this problem by formulating three problems
such as: how the history of the tradition of Satu Suro or one
Muharram, how tradition diversity in the land of Java in
commemorating One Suro or one Muharram, and how the tradition
of one Suro or one Muharram in Islamic perspective. This research
is a qualitative descriptive literature study intended to describe the
celebration of Satu Suro. The author conducts research by
searching for a variety of references from books, journals, or other
sources that share themes and interviews. From this research can
be noted that the diversity in the implementation of the tradition of
one Suro does not eliminate the same purpose and meaning and the
Institut Agama Islam Negeri Kudus,
Institut Agama Islam Negeri Kudus,
342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z.
Page 342
AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Vol. 4 No. 2. 2020
problem of Javanese traditions and culture is closely related to
Islamic teachings, especially in the field of Aqidah and Sharia.
Keywords: Traditions, Suro, the perspective of Islamic law
Abstrak
Kata Suro dari bahasa arab yaitu „asyura artinya kesepuluh (tanggal
10 Muharram). Kata Suro sebutan orang jawa untuk bulan
Muharrom. Muharrom adalah bulan pertama penanggalan Hijriyah.
Dalam perspektif Islam banyak kejadian luar biasa para Nabi di
bulan muharram ini. Banyak daerah di Indonesia yang merayakan
atau mengisi tahun baru Islam dengan cara atau tradisi yang unik.
Karena keunikan tradisi tersebut peneliti tertarik untuk mempelajari
masalah ini dengan merumuskan tiga rumusan masalah seperti:
bagaimana sejarah dari tradisi Satu Suro atau Satu Muharram,
bagaimana
keanekaragaman
Tradisi
di
tanah
Jawa
dalam
Memperingati Satu Suro atau Satu Muharram, dan bagaimana
tradisi Satu Suro atau Satu Muharram dalam Perspektif Islam.
penelitian ini adalah penelitian literatur dengan deskriptif kualitatif
yang dimaksudkan untuk menggambarkan tentang perayaan Satu
Suro. Penulis melakukan penelitian dengan mencari berbagai
referensi baik dari buku, jurnal, ataupun sumber yang lain yang
mempunyai kesamaan tema dan wawancara. Dari penelitian ini
dapat diketahui bahwa keanekaragaman dalam pelaksanaan tradisi
satu Suro tidak menghilangkan tujuan dan makna yang sama dan
masalah tradisi dan budaya Jawa sangat berkaitan dengan ajaranajaran Islam, terutama dalam bidang aqidah dan syariah.
Kata Kunci: Tradisi, Suro, Perspektif hukum Islam
342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z.
Page 343
AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Vol. 4 No. 2. 2020
Pendahuluan
Sejarah islam merupakan salah satu hasil perdebatan dan interpretasi yang
konstan. Tradisi muslim dapat dipahami sebagai suatu perjuangan spiritual, sosial
dan intelektual untuk menetukan dan menerapkan maknanya.3 Islam lebih ditandai
oleh persoalan-persoalan tanpa henti mengenai bagaimana manusia seharusnya
memperlakukan diri mereka agar sesuai dengan kehendak Allah. Islam Jawa unik,
itu karena dalam formulasi suatu kultus keraton (imperial cult) tetap
mempertahankan penerapan berbagai konsep Sufi mengenai kewalian, mistik dan
kesempurnaan manusia, bukan karena mempertahankan aspek-aspek agama praIslam dan budaya. 4 Tradisi merupakan kebiasaan yang dilakukan sejak lama
secara turun-temurun yang masih dijalankan masyarakat sampai sekarang.
Kita tahu bahwa negara Indonesia mempunyai berbagai suku, budaya, ras,
bahasa, agama, dan kebudayaan yang beragam. Budaya di Indonesia sungguh
kaya dan beranekaragam yang mempunyai ciri khas masing-masing. Budaya
bukan hanya tentang nyanyian, tarian-tarian ataupun alat musik, tetapi budaya
juga mencakup tentang tata cara
atau sebuah upacar atau perayaan dalam
memperingati atau menyambut hari besar. Salah satu budaya yang sangat terkenal
yaitu perayaan malam satu Suro dimana banyak di Indonesia merayakan dengan
beragam tradisi. Salah satunya ada di tanah Jawa, dimana dalam sejarah mencatat
pulau Jawa adalah pulau yang memiliki banyak kerajaan. Suro adalah bentuk
penanggalan jawa oleh Sultan Agung. Walaupun masih dalam satu pulau
kenyataannya tradisi satu Suro di pulau Jawa berbeda-beda. Meskipun terdapat
berbagai perbedaan namun tetap memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan
diri kepada Allah SWT dan merupakan ungkapan rasa syukur atas kenikmatan
dan kehidupan yang lebih baik.
Kata Suro dari bahasa arab yaitu ‘asyura artinya “sepuluh”, maksudnya
yaitu tanggal 10 pada bulan Muharram. Pada 10 Muharram ini bagi masyarakat
3
Mark R Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Terj. Hairus
Salim HS (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 1999), hal.351.
4
Ibid., hal. 352.
342 – 361: Risma A. & Ashif A. Z.
Page 344
AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Vol. 4 No. 2. 2020
islam memiliki arti yang penting yaitu puasa memperingati satu Muharram. 5
Bulan muharram merupakan bulan pertama menurut perhitungan tahun Hijriyah,
dinamakan bulan suro oleh Sultan Agung. Dalam sistem Islam, bulan suro
dipandang sebagai bulan haram atau suci. Karena larangan perang terhadap kaum
Kafir Quraisy dicabut. Sedangkan untuk kaum Syiah Muharram merupakan bulan
ratapan (syahr al-nihayah) atas kematian Husein bin Ali (wafat. 10 Muharram 61
H). Adapun keistimewaan dalam bulan Muharram adalah adanya peringatan
Hijriyah atau tahun baru Islam. Tarikh Hijriyah dihitung sejak hijrah Nabi
Muhammad SAW ke Madinah al-Munawarah (622 M). Hijrah Nabi diartikan
sebagi perpindahannya umat muslim dari Makkah al-Mukarroamah ke Madinah
al-Munawarah untuk menjauhkan dari perbuatan dosa. Penetapan bulan hijriyah
dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab tahun ke-17 setelah Nabi hijrah atau
tahun keempat beliau menjadi khalifah. Perhitungan untuk satu tahun sama
dengan 345 hari, kalender ini berdasarkan perubahan posisi bulan, dimana
perhitungan Hijriyah lebih pendek 11 hari dari tahun Masehi.6
Pada tanggal 10 Muharram bagi masyarakat islam memiliki arti yang
sangat penting, selain puasa memperingati satu Muharram, orang islam juga
merayakan atau mengisi dengan berbagai kegiatan keislaman seperti manakiban,
tahlilan dan masih banyak lainnya. Banyak daerah di Indonesia yang merayakan
atau mengisi tahun baru Islam dengan cara atau tradisi yang berbeda. Dalam bulan
ini Tradisi suronan yang dilakukan pada bulan syuro oleh masyarakat islam
khususnya di tanah Jawa memiliki keanekaragaman. Oleh karena itu peneliti
tertarik untuk mempelajari masalah in (...truncated)