SATU SURO NIGHT TRADITION ON IKATAN KELUARGA JAWA RIAU (IKJR) AT SUKA MULYA SP II OF KAMPAR REGENCY
SATU SURO NIGHT TRADITION ON IKATAN KELUARGA JAWA RIAU (IKJR) AT
SUKA MULYA SP II OF KAMPAR REGENCY
By: Tri Julianti
Email:
Supervisor: Drs. Syafrizal, M.Si
Sociology Faculty
faculty of Social Science and Political Science
Riau University
Campus Bina Widya, Jalan H.R Subrantas Km12,5 Simpang Baru Panam,
Pekanbaru
ABSTRACT
Satu suro night tradition is a tradition which is held on the turnover eve of Islamic new year 1
Muharram which is better known as Suroan for Javanese community. Each region has difference
way to perform this tradition. It has been done since long ago by an association of Javanese family
located in Kampar regency with the name is Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR). The purpose of
this research was to analyze the process or the implementation of Satu suro night tradition by
IKJR, and to analyze the meaning, value contained, and the impact of it. In this research, the
researcher used qualitative research type or often called as naturalistic research methods because
the research was done on natural conditions. The subjects of this research were determined by
Purposive Sampling way that consists of Chairman, Secretary, Treasurer, and Vice Chairman of
DPD-IKJR Kampar regency, and also the Head of Suka Mulya SP II Village. The researcher used
observation, in-depth interviews, and documentation to collect the data. In this research, the
researcher had analyzed how this Satu suro night tradition was done by IKJR region Kampar.
Based on the interviews and observations that had been done, the researcher found that IKJR
conducted the tradition by holding various social activities before the evening peak of Satu suro
night tradition held, and on the evening peak was also held various activities ranging from dance
offerings, Kampar bersholawat, to all-night shadow puppet performances. The meaning that could
be taken from this tradition was to thrill the Javanese culture (menguri-uri budoyo Jowo). The
most important was as an expression of gratitude for the favors that had been given by Allah
Subhana Wa Ta'ala and gratitude for a better life after doing transmigration from Java to Riau.
This tradition also had a very positive impact for the people who attended it and also for the
merchants who peddled their wares.
Keywords: Tradition, Satu Suro, Javanese
JOM FISIP Vol. 5: Edisi I Januari – Juni 2018
Page 1
TRADISI MALAM SATU SURO PADA IKATAN KELUARGA JAWA RIAU (IKJR) DI
DESA SUKA MULYA SP II KABUPATEN KAMPAR
Oleh: Tri Julianti
Email:
Dosen Pembimbing: Drs. Syafrizal, M.Si
Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau
Kampus Bina Widya, Jalan H.R Subrantas Km12,5 Simpang Baru Panam,
Pekanbaru
ABSTRAK
Tradisi malam satu suro adalah tradisi yang dilaksanakan tepat pada malam pergantian tahun baru
Islam 1 Muharram yang lebih dikenal masyarakat Jawa pada umumnya dengan sebutan suroan.
Dalam pelaksanaan tradisi ini, masing-masing daerah yang melaksanakannya memiliki tata cara
yang berbeda-beda. Tradisi malam satu suro ini telah lama dilakukan oleh sebuah ikatan keluarga
Jawa yang bertempat di Kabupaten Kampar dengan nama Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR).
Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah untuk menganalisa proses atau pelaksanaan
tradisi malam satu suro oleh IKJR, serta menganalisa makna, nilai yang terkandung, dan dampak
yang ditimbulkan dari adanya tradisi malam satu suro ini. Dalam penelitian ini, penulis
menggunakan jenis penelitian kualitatif atau sering disebut dengan metode penelitian naturalistic
karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Subjek penelitian disini ditentukan
dengan cara Purposive Sampling yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, serta Wakil Ketua
DPD-IKJR Kabupaten Kampar, dan Kepala Desa Suka Mulya SP II. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah dengan cara observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Dalam
penelitian ini, penulis telah menganlisa bagaimana tradisi malam satu suro ini dilakukan oleh IKJR
rayon Kampar. Berdasarkan dari wawancara serta observasi yang telah dilakukan, penulis
menemukan bahwa IKJR mengadakan tradisi ini dengan cara mengadakan berbagai macam
kegiatan sosial kemasyarakatan sebelum malam puncak tradisi malam satu suro diadakan, dan
pada malam puncak pun diadakan juga berbagai macam kegiatan mulai dari adanya tari
persembahan, Kampar bersholawat, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Makna yang
dapat diambil dari tradisi ini yaitu untuk menguri-uri budoyo Jowo. Yang terpentingnya sebagai
ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala dan rasa
syukur atas kehidupan yang lebih baik setelah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Riau. Tradisi
malam satu suro ini juga telah menimbulkan dampak yang sangat positif bagi masyarakat yang
ikut menghadirinya dan juga bagi pedagang yang menjajakan dagangannya.
Kata kunci : Tradisi, Satu Suro, Jawa
JOM FISIP Vol. 5: Edisi I Januari – Juni 2018
Page 2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masyarakat Jawa atau lebih tepatnya
suku bangsa Jawa, secara antropologi budaya
adalah
orang
yang
dalam
hidup
kesehariannya menggunakan bahasa Jawa
dengan berbagai ragam dialeknya secara
turun temurun. Masyarakat Jawa merupakan
suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh
norma-norma hidup karena sejarah, tradisi
maupun agama.1 Masyarakat Jawa sangat
kental atau istilahnya masih kejawen dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari di dalam
masyarakat. Misalnya pada acara pernikahan,
masyarakat Jawa yang masih kejawen
menggunakan tradisi dan budaya Jawa
seperti pada mulanya tradisi di Jawa. Padahal
di zaman sekarang ini, tradisi dan budaya
Jawa telah banyak berlandaskan ajaran Islam,
sehingga apabila ada tradisi atau budaya yang
tidak lagi sesuai dengan ajaran Islam bisa
diperbaharui atau difilter lagi menurut ajaran
Islam, bagian manakah yang diperbolehkan
dan bagian mana yang tidak diperbolehkan.
Salah satu tradisi dan budaya Jawa
yang sering dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari yaitu Tradisi Malam Satu Suro.
Dimana maksud dari satu suro ini adalah
tradisi yang dilaksanakan tepat pada malam
pergantian tahun baru Islam 1 Muharram
yang lebih dikenal masyarakat Jawa pada
umumnya dengan sebutan malam satu suro.
Tradisi ini juga merupakan salah satu tradisi
malam sakral yang dilakukan masyarakat
Jawa setiap tahunnya pada awal tahun baru
Islam, dan biasanya tradisi ini dilakukan oleh
seluruh elemen masyarakat Jawa yang berada
di Pulau Jawa.
Awal mulanya tradisi ini mulai dikenal
pada zaman Sultan Agung sekitar tahun 1613
1
Abdul Djamil, dkk., Islam dan Kebudayaan Jawa
(Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 3-4.
Riky, “Perayaan Satu Suro, Tradisi Malam Sakral
Masyarakat
Jawa”
diakses
dari
2
JOM FISIP Vol. 5: Edisi I Januari – Juni 2018
-1645. Pada masa itu, banyak masyarakat
yang mengikuti sistem penanggalan tahun
Saka yang diwarisi oleh tradisi Hindu.
Tentunya ini bertentangan dengan masa
Sultan Agung yang menggunakan sistem
kalender Hijriah yang diajarkan dalam Islam.
Kemudian, Sultan (...truncated)