Islam vs Liberalisme: Konstruk Pemikiran Binder dan Kurzman
Al-Mabhats
: Jurnal Penelitian Sosial Agama
Januari - Juni 2022 | p.51-66
DOI: 10.47766/almabhats.v7i1.1017
e-ISSN: 2615-5591| p-ISSN: 2548-3838
Islam vs Liberalisme: Konstruk Pemikiran Binder dan Kurzman
Muhammad Rizkal Fajri,1 Radiansyah,2 Anjas Baik Putra3
1Universitas
Utara
Muhammadiyah Bandar Lampung,
ARTICLE HISTORY
Received: 31-03-2022
Accepted: 30-06-2022
Keywords:
Charles Kurzman,
Islamic View,
Leonard Binder,
Liberalism.
Kata Kunci:
Charles Kurzman,
Islam Liberal,
Leonard Binder.
2,3,
Universitas Islam Negeri Sumatera
Abstract: This research examines, compares, and identifies the conceptual
distinctions between Binder and Kurzman's perspectives on Islamic Liberalism. The
study employs a qualitative methodology and library approaches. Data were
retrieved from fifty sources and then analyzed. The study's findings indicate
significant distinctions between Binder's and Kurzman's modes of thought. Through
talks with some western-educated Islamic philosophers, liberalism is shown to be
more binding than the ideology itself. Western liberalism and the interaction
between these teachings and Islamic aspects, in the context of a dialogue process
between Islamic liberalism and Western liberalism, so that the two might share
resources. Meanwhile, Kurzman's study of the Islamic setting will be conflict- and
blessing-free.
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk menganalisis, mengkomparasi dan
menemukan konstruk perbedaan pemikiran Binder dan Kurzman terkait Islam
Liberal. Penelitian menggunakan paradigma kualitatif dengan teknik
kepustakaan. Data diambil dari 50 rujukan, selanjutnya dianalisis secara
komparatif. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan esensial antara paradigma
pemikiran Binder berbeda dengan Kurzman. Binder lebih menekankan pada
konsep liberalisme melalui metode diskusi dengan beberapa pemikir Islam
berasal dari barat. Liberalisme barat dan hubungan ajaran tersebut dengan
elemen-elemen Islam dengan pemikiran inti adanya proses dialog antara
liberalisme Islam dengan liberalisme Barat sehingga terjadi adanya take and give
di antara keduanya. Sedangkan kajian Kruzman mengedepankan konteks
keislamannya agar terbebas dari pertikaian dan pertentangan.
© 2022 Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama
Under The License CC-BY SA 4.0
Corresponding Author: *
https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.1017
51
Muhammad Rizkal Fajri, Radiansyah, Anjas Baik Putra
PENDAHULUAN
Liberalisme merupakan salah satu ideologi Barat yang muncul seiring
dengan gelombang modernisme dan postmodernisme, dan telah mempengaruhi
sistem pemikiran politik, ekonomi, sosial, dan bahkan agama (Mohiuddin, 2018;
Zarkasyi, 2012). Seiring perkembangan sejarah, istilah Islam liberal tidak terlalu
dikenal dan diperhatikan orang di Indonesia. Apalagi jumlah pendukungnya
hanya minoritas yang amat kecil. Majelis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok
Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) menyatakan bahwa apa yang ditawarkan
Jaringan Islam Liberal hanyalah sebongkah kesesatan. Perbedaan dengan mereka
mengalami pedangkalan yang berakhir dengan kesesatan (Fogg, 2015).
Bahkan hal itu berlanjut dengan dikeluarkannya fatwa MUI pada tahun
2005 yang menyatakan bahwa faham liberalisme adalah sesat dan menganut
faham itu adalah haram hukumnya (Permana, 2017). Fatwa ini menunjukkan
banyak umat Islam dan para pemikirnya yang konservatif tidak menerima
paham liberalisme, perkembangan ini perlu diantisipasi, karena akan membuat
pukulan balik kepada cita-cita besar bangsa ini dalam mewujudkan masyarakat
Indonesia yang adil, terbuka dan demokratis. Lebih-lebih kecendrungan ini
tampaknya menguat belakangan ini bersamaan dengan perkembangan
fundamentalisme Islam, radikalisme, dan gerakan-gerakan jihad (Rachman,
2010).
Islam liberal di Indonesia dipopulerkan oleh pihak penentangnya. Banyak
sekali kritikan dan klaim-klaim negatif yang ditujukan pada Islam liberal.
Pertentangan dan klaim-klaim di atas, timbul karena perbedaan dasar pemikiran
dan pemahaman terhadap wahyu Tuhan yaitu teks al-Quran dan Hadits. Agama
yang sering dita’rifkan sebagai sistem simbol, sistem nilai, sistem keyakinan dan
sistem perilaku yang terlembagakan -yang semuanya berpusat pada persoalan
yang dihayati dan paling maknawi (Ultimate meaning)- dalam aplikasinya
tergantung cara memahami dan menginterpretasikannya (Suprayogo, 2012).
Sementara itu, dikalangan umat Islam, banyak sekali salah pemahaman
terkait dengan hukum Islam (yang tercermin dalam al-Quran dan Hadits) dan
pemikiran hukum Islam (yang terkenal dengan Fiqih), banyak sekali kaum
Muslim yang berpegangan hitam-putih pada pemikiran hukum Islam bukan pada
hukum Islamnya, sehingga hal ini menyebabkan fanatik golongan (fanatik
Madzhab) (Bashori, 2020; Kasdi, 2017).
Cara pemahaman tersebut melahirkan corak dan karakteristik Islam dalam
tataran aksi dan aktualnya, pada akhirnya, tidak jarang perbedaan pemahaman
itu menimbulkan polaritas serta friksi-friksi dalam komunitas muslim, bahkan
memicu munculnya konfrontasi. Sudah barang tentu hal ini mengancam
integritas umat (Moosa, 2005). Hal inilah yang terjadi pada Islam Liberal yang
52
AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama – Vol. 7 No. 1
Islam vs Liberalisme: Konstruk Pemikiran Binder dan Kurzman
muncul di antara Islam adat dan islam revivalis (sebagaimana yang telah
dirumuskan oleh Kurzman).
Islam liberal dalam sejarahnya, sangat berperan dalam perkembangan
Islam, ketika Islam dan ajarannya dianggap negatif oleh non Islam, menurut
mereka “Islam” yang terkenal sangat primitif, konservatif, radikal, fanatik, dan
ekstrem – hal ini sangat jauh dari inti ajarannya sebagai rahmatan lil ‘alaminkesan ini oleh Islam liberal sangat ditentang, islam liberal mau menghadirkan
potret asli Islam itu dengan semangat kemodernan, namun tujuan Islam liberal
ini dihadapkan pada pemahaman yang sudah mengakar di kalangan kaum
Muslim pada waktu itu, sehingga langkah-langkah tersebut mengalami
pertentangan dan perlawanan. Bahkan sampai pada vonis kemurtadan (Mahdani,
2014).
Penelitian bertujuan menganalisis, mengkomparasi dan menemukan
konstruk berpikir Binder dan Kurzman tentang Islam Liberal. Acuan utama
dalam telaah pemikiran tokoh pemikir liberal tersebut, Binder mengacu kepada
dalam bukunya yang berjudul; Islamic Liberalisme: A Critique of Development
Ideologies, (Binder, 1988); sedangkan Charles Kurzman dalam pengantar buku,
Liberal Islam, A Sourcebook (Kurzman, 1998).
Pengertian Islamic Liberalism-nya Leonard Binder dan Liberal Islam-nya
Charles Kurzman sebenarnya mempunyai pengertian dan sudut pandang
berbeda. Sebagaimana diakui sendiri oleh Kurzman, Binder menggunakan sudut
pandang "Islam bagian dari liberalisme" (a subset of liberalism), sedangkan
Kurzman menggunakan pendekatan bahwa "liberalisme sebagai bagian dari
Islam" (a subset of Islam).
Konsekuensi lebih jauh dari perbedaan cara pandang ini, jika Binder
berupaya melihat secara terbuka dialog Islam dengan Barat dan membiarkannya
berdialektika dalam serangkaian proses take and give, termasuk denga (...truncated)