Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis
Al-Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama
Januari – Juni 2022 | p.1-17
DOI: 10.47766/almabhats.v7i1.1006
e-ISSN: 2615-5591| p-ISSN: 2548-3838
Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis
Noercholis Rafid
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene, Sulawesi Barat
ARTICLE HISTORY
Received: 31-03-2022
Accepted: 30-06-2022
Keywords:
Acculturation,
Islamic Tradition,
Local Wisdom,
Ma’baca baca.
Kata Kunci:
Akulturasi,
Kearifan Lokal,
Ma’baca Baca
Tradisi Islam.
Abstract: Ma'baca baca is a traditional practice of the Bugis
community that existed long before the arrival of Islam in the
Indonesian archipelago. This research explores the acculturation of
Islam to the tradition of ma'baca baca in the Bugis community. The
research is a descriptive qualitative field study that uses a
sociological, normative theological, and philosophical approach.
Data sources include interviews, discussions, and documentation.
The findings of this research indicate that the ma'baca baca
tradition in the Bugis community does not conflict with Islamic
values. Instead, the tradition has been modified to incorporate
Islamic values, and mystical practices have been changed to align
with Islamic teachings. This research implies that the ma'baca baca
tradition has changed after Islam's introduction. However, it is still
preserved as it is not in conflict with Islamic values.
Abstrak: Ma’baca baca adalah tradisi masyarakat Bugis yang telah ada
sejak lama sebelum kedatangan Islam ke Nusantara. Penelitian
bertujuan mengkaji akulturasi Islam terhadap tradisi ma’baca baca
pada masyarakat Bugis. Penelitian ini merupakan penelitian
lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif dengan
menggunakan pendekatan sosiologis, teologis normatif dan
filosofis. Sumber data bersumber dari wawancara, interview dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi ma’baca baca
dalam tradisi masyarakat bugis tidak saling bertentangan justru tradisi
tersebut dipoles sedemikian rupa sehingga praktik peninggalan orang
terdahulu yang mengaitkan dengan hal mistis diubah agar mengandung
nilai-nilai Islam. Implikasi penelitian ini bahwa tradisi ma’baca baca
mengalami perubahan setelah Islam masuk dan tetap dilestarikan
karena dianggap tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
© 2022 Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama
Under The License CC-BY SA 4.0
Corresponding Author: *
https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.1006
1
Noercholis Rafid
PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, tradisi
dan agama (Noor & Sugito, 2019). Keberagaman budaya dan tradisi masih eksis
hingga kini. Budaya merupakan produk pemikiran dan ide manusia yang
diwariskan dari nenek moyang dan masih dilestarikan oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia (Jiwa Utama, 2020; Sensenig, 2012). Budaya dianggap
penting oleh masyarakat untuk dipertahankan, walaupun terdapat sebagian dari
masyarakat menganggapnya tidak sejalan dengan norma agama (Triandis, 2013;
Watzlawik, 2012). Agama berasal dari Allah sedangkan budaya adalah produk
manusia, walaupun demikian bukan berarti tidak terdapat keterkaitan satu sama
lain justru keduanya memiliki korelasi yang kuat (Mansour, 2014; Zarkasyi,
2008).
Beragam tradisi yang ada di setiap daerah di Indonesia yang masih
bertahan dan sering dilaksanakan oleh masyarakat daerah tersebut (Danial,
2023; Schmidt, 2021). Contohnya masyarakat Sulawesi selatan hingga kini masih
memelihara tradisi mereka. Salah satu di Sulawesi selatan yaitu kabupaten wajo
di kecamatan tempe, kelurahan Pattirosompe yang dikenal masih
mempertahankan tradsi ma’baca baca di beberapa acara seperti acara aqiqah,
hari raya idul adha, hari raya idul fitri, syukuran dan lain-lain sebagainya
(Hamzah, 2021; Ismail Suardi Wekke, 2013).
Tradisi ma’baca baca doa merupakan tradisi membaca doa saat acara
dengan menyiapkan beberapa jenis makanan, khususnya makanan khas bugis
seperti sokko bolong dan sokko pute, nasu lekku, otti lereng (pisang ambon),
tello manasu, dan makanan lainnya (Salim, 2016). Selain itu juga disiapkan dupa
dan kemenyan sebagai pelengkap tradisi dalam ma’baca baca. Dalam tradisi
ma’baca baca seluruh anggota keluarga dan tetangga hadir dan meramaikan
tradisi tersebut, sehingga wujud solidaritas terbentuk saat ritual tersebut
dilaksanakan (Fajrin et al., 2022; Rahmansah & Rauf, 2014).
Tradisi ma’baca baca tidak hanya mengumpulkan keluarga dan tetangga
tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan, keakraban, dan keharmonisan
keluarga dan tetangga (Ismail Suwardi Wekke et al., 2018). Sehingga persatuan
dapat terjalin setelah ritual dilakukan. Selain itu ritual ma’baca baca doa juga
sebagai bentuk doa dan sedekah bagi keluarga yang meninggal sehingga
pahalanya bisa diniatkan untuk mereka. Akan tetapi, terjadi spekulasi di
kalangan masyarakat berkaitan dengan tradisi ini (Pabbajah, 2012).
Hal ini ini dikarenakan masyarakat belum memahami tradisi ma’baca baca
ini apakah bagian dari agama atau hanya peninggalan budaya orang terdahulu
yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu beberapa masyarakat masih
menghubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Sehingga penulis tertarik
2
AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama – Vol. 7 No. 1
Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis
untuk mengkaji lebih dalam tradisi ma’baca-baca suku bugis dengan perspektif
Islam. Bagaimana praktik tradisi ma’baca baca perspektif Islam dan bagaimana
akulturasi islam terhadap tradisi ma’baca baca .
Tradisi ma’baca baca dalam perspektif kepercayaan Islam mengacu pada
kegiatan membaca dan mengaji Al-Quran secara berjamaah dan
berkesinambungan, terutama selama bulan Ramadhan. Dalam Islam, membaca
Al-Quran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT
berfirman dalam Surah Al-Muzammil ayat 4, "Dan bacalah Al-Quran dengan tartil
(dengan bacaan yang teratur dan pelan-pelan)."
Selain itu, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk membaca
Al-Quran secara rutin. Beliau bersabda, "Bacalah Al-Quran karena dia akan
datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR.
Muslim). Tradisi ma’baca baca, yang biasanya dilakukan pada malam-malam
bulan Ramadhan, memiliki nilai-nilai keagamaan yang penting dalam Islam.
Selain meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam dan menguatkan
hubungan dengan Allah SWT, tradisi ini juga dapat meningkatkan kebersamaan
dan kekompakan umat Islam (Kamalia, 2021).
Dalam perspektif Islam, tradisi ma’baca baca juga dapat dijadikan sebagai
bentuk ibadah yang berkelanjutan dan amal jariyah, yaitu kebaikan yang terus
mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia (Syahrul, 2018). Hal ini
karena setiap huruf yang dibaca dalam Al-Quran akan mendapatkan pahala dan
keberkahan yang besar.
Namun demikian, dalam melaksanakan tradisi ma’baca baca, umat Islam
perlu menghindari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan ajaran Islam
(Hamzah, 2021), seperti meminta bantuan pada makhluk selain Allah SWT atau
mempraktikkan bid’ah (praktek-pr (...truncated)