Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis

Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama, Jun 2022

Abstract: Ma'baca baca is a traditional practice of the Bugis community that existed long before the arrival of Islam in the Indonesian archipelago. This research explores the acculturation of Islam to the tradition of ma'baca baca in the Bugis community. The research is a descriptive qualitative field study that uses a sociological, normative theological, and philosophical approach. Data sources include interviews, discussions, and documentation. The findings of this research indicate that the ma'baca baca tradition in the Bugis community does not conflict with Islamic values. Instead, the tradition has been modified to incorporate Islamic values, and mystical practices have been changed to align with Islamic teachings. This research implies that the ma'baca baca tradition has changed after Islam's introduction. However, it is still preserved as it does not conflict with Islamic values. Abstrak: Ma’baca baca adalah tradisi masyarakat Bugis yang telah ada sejak lama sebelum kedatangan Islam ke Nusantara. Penelitian bertujuan mengkaji akulturasi Islam terhadap tradisi ma’baca baca pada masyarakat Bugis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis, teologis normatif dan filosofis. Sumber data bersumber dari wawancara, interview dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi ma’baca baca dalam tradisi masyarakat bugis tidak saling bertentangan justru tradisi tersebut dipoles sedemikian rupa sehingga praktik peninggalan orang terdahulu yang mengaitkan dengan hal mistis diubah agar mengandung nilai-nilai Islam. Implikasi penelitian ini bahwa tradisi ma’baca baca mengalami perubahan setelah Islam masuk dan tetap dilestarikan karena dianggap tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/AlMabhats/article/download/1006/547

Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis

Al-Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama Januari – Juni 2022 | p.1-17 DOI: 10.47766/almabhats.v7i1.1006 e-ISSN: 2615-5591| p-ISSN: 2548-3838 Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis Noercholis Rafid Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene, Sulawesi Barat ARTICLE HISTORY Received: 31-03-2022 Accepted: 30-06-2022 Keywords: Acculturation, Islamic Tradition, Local Wisdom, Ma’baca baca. Kata Kunci: Akulturasi, Kearifan Lokal, Ma’baca Baca Tradisi Islam. Abstract: Ma'baca baca is a traditional practice of the Bugis community that existed long before the arrival of Islam in the Indonesian archipelago. This research explores the acculturation of Islam to the tradition of ma'baca baca in the Bugis community. The research is a descriptive qualitative field study that uses a sociological, normative theological, and philosophical approach. Data sources include interviews, discussions, and documentation. The findings of this research indicate that the ma'baca baca tradition in the Bugis community does not conflict with Islamic values. Instead, the tradition has been modified to incorporate Islamic values, and mystical practices have been changed to align with Islamic teachings. This research implies that the ma'baca baca tradition has changed after Islam's introduction. However, it is still preserved as it is not in conflict with Islamic values. Abstrak: Ma’baca baca adalah tradisi masyarakat Bugis yang telah ada sejak lama sebelum kedatangan Islam ke Nusantara. Penelitian bertujuan mengkaji akulturasi Islam terhadap tradisi ma’baca baca pada masyarakat Bugis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis, teologis normatif dan filosofis. Sumber data bersumber dari wawancara, interview dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi ma’baca baca dalam tradisi masyarakat bugis tidak saling bertentangan justru tradisi tersebut dipoles sedemikian rupa sehingga praktik peninggalan orang terdahulu yang mengaitkan dengan hal mistis diubah agar mengandung nilai-nilai Islam. Implikasi penelitian ini bahwa tradisi ma’baca baca mengalami perubahan setelah Islam masuk dan tetap dilestarikan karena dianggap tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. © 2022 Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama Under The License CC-BY SA 4.0 Corresponding Author: * https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.1006 1 Noercholis Rafid PENDAHULUAN Indonesia adalah Negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, tradisi dan agama (Noor & Sugito, 2019). Keberagaman budaya dan tradisi masih eksis hingga kini. Budaya merupakan produk pemikiran dan ide manusia yang diwariskan dari nenek moyang dan masih dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia (Jiwa Utama, 2020; Sensenig, 2012). Budaya dianggap penting oleh masyarakat untuk dipertahankan, walaupun terdapat sebagian dari masyarakat menganggapnya tidak sejalan dengan norma agama (Triandis, 2013; Watzlawik, 2012). Agama berasal dari Allah sedangkan budaya adalah produk manusia, walaupun demikian bukan berarti tidak terdapat keterkaitan satu sama lain justru keduanya memiliki korelasi yang kuat (Mansour, 2014; Zarkasyi, 2008). Beragam tradisi yang ada di setiap daerah di Indonesia yang masih bertahan dan sering dilaksanakan oleh masyarakat daerah tersebut (Danial, 2023; Schmidt, 2021). Contohnya masyarakat Sulawesi selatan hingga kini masih memelihara tradisi mereka. Salah satu di Sulawesi selatan yaitu kabupaten wajo di kecamatan tempe, kelurahan Pattirosompe yang dikenal masih mempertahankan tradsi ma’baca baca di beberapa acara seperti acara aqiqah, hari raya idul adha, hari raya idul fitri, syukuran dan lain-lain sebagainya (Hamzah, 2021; Ismail Suardi Wekke, 2013). Tradisi ma’baca baca doa merupakan tradisi membaca doa saat acara dengan menyiapkan beberapa jenis makanan, khususnya makanan khas bugis seperti sokko bolong dan sokko pute, nasu lekku, otti lereng (pisang ambon), tello manasu, dan makanan lainnya (Salim, 2016). Selain itu juga disiapkan dupa dan kemenyan sebagai pelengkap tradisi dalam ma’baca baca. Dalam tradisi ma’baca baca seluruh anggota keluarga dan tetangga hadir dan meramaikan tradisi tersebut, sehingga wujud solidaritas terbentuk saat ritual tersebut dilaksanakan (Fajrin et al., 2022; Rahmansah & Rauf, 2014). Tradisi ma’baca baca tidak hanya mengumpulkan keluarga dan tetangga tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan, keakraban, dan keharmonisan keluarga dan tetangga (Ismail Suwardi Wekke et al., 2018). Sehingga persatuan dapat terjalin setelah ritual dilakukan. Selain itu ritual ma’baca baca doa juga sebagai bentuk doa dan sedekah bagi keluarga yang meninggal sehingga pahalanya bisa diniatkan untuk mereka. Akan tetapi, terjadi spekulasi di kalangan masyarakat berkaitan dengan tradisi ini (Pabbajah, 2012). Hal ini ini dikarenakan masyarakat belum memahami tradisi ma’baca baca ini apakah bagian dari agama atau hanya peninggalan budaya orang terdahulu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu beberapa masyarakat masih menghubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Sehingga penulis tertarik 2 AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama – Vol. 7 No. 1 Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis untuk mengkaji lebih dalam tradisi ma’baca-baca suku bugis dengan perspektif Islam. Bagaimana praktik tradisi ma’baca baca perspektif Islam dan bagaimana akulturasi islam terhadap tradisi ma’baca baca . Tradisi ma’baca baca dalam perspektif kepercayaan Islam mengacu pada kegiatan membaca dan mengaji Al-Quran secara berjamaah dan berkesinambungan, terutama selama bulan Ramadhan. Dalam Islam, membaca Al-Quran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muzammil ayat 4, "Dan bacalah Al-Quran dengan tartil (dengan bacaan yang teratur dan pelan-pelan)." Selain itu, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk membaca Al-Quran secara rutin. Beliau bersabda, "Bacalah Al-Quran karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim). Tradisi ma’baca baca, yang biasanya dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan, memiliki nilai-nilai keagamaan yang penting dalam Islam. Selain meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam dan menguatkan hubungan dengan Allah SWT, tradisi ini juga dapat meningkatkan kebersamaan dan kekompakan umat Islam (Kamalia, 2021). Dalam perspektif Islam, tradisi ma’baca baca juga dapat dijadikan sebagai bentuk ibadah yang berkelanjutan dan amal jariyah, yaitu kebaikan yang terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia (Syahrul, 2018). Hal ini karena setiap huruf yang dibaca dalam Al-Quran akan mendapatkan pahala dan keberkahan yang besar. Namun demikian, dalam melaksanakan tradisi ma’baca baca, umat Islam perlu menghindari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan ajaran Islam (Hamzah, 2021), seperti meminta bantuan pada makhluk selain Allah SWT atau mempraktikkan bid’ah (praktek-pr (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/AlMabhats/article/download/1006/547
Article home page: https://journal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/AlMabhats/article/view/1006/547

Rafid Noercholis. Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis, Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama, 2022, pp. 01-17,