PENGELOLAAN LUKISAN-LUKISAN KOLEKSI MUSEUM ISTANA KEPRESIDENAN YOGYAKARTA

ARS: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, Dec 2019

Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta merupakan salah satu lembaga yang merawat dan mengelola benda seni di bawah Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.Lukisan-lukisan koleksi di dalamnyamemiliki nilai sejarah dan seni yang sebagian besar dikoleksiolehPresiden pertama, Sukarno.Warisan tersebut memiliki potensi yang sangat besar bagi masyarakat, namun minimnya ilmu pengetahuan tentang pengelolaan koleksi museum membuat pengelolaan dan penyampaian nilai koleksi dinilai kurangoptimal.Penelitian ini bertujuan untukmengkaji dan memperoleh pemahaman yang benar serta mendalam, tentang pengelolaan lukisan-lukisan koleksi museum.Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif. Adapun pengumpulan data dilakukan denganpengamatan dan pendokumentasian langsung terhadap pengelolaan lukisan-lukisan koleksi, mempelajari dan mencatat data dari berbagai sumber. Penelitian ini menggunakan landasan teori tentang pengelolaan koleksi museum yang meliputi struktur organisasi, pengadaan koleksi, pendataan, penyajian, pengamanan dan pemeliharaan koleksi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan koleksi museum ini,mempunyai struktur organisasi museum yang tidak seperti organisasi museum yang lain, seperti memiliki kepala museum dan jajarannya, museum hanya memiliki pengelola. Perbedaan ini dinilai menyebabkan kurang optimalnya pengelolaan koleksi. Adapun untuk pengalihan risiko dengan menggunakan asuransi belum dilakukan pengelola, namun di sisi lain secara menyeluruh, pengelolaan koleksi yang meliputi; pengadaan koleksi, pendataan, penyajian, pengamanan dan pemeliharaan koleksi berada dalam taraf baik.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/download/2531/1497

PENGELOLAAN LUKISAN-LUKISAN KOLEKSI MUSEUM ISTANA KEPRESIDENAN YOGYAKARTA

"34+VSOBM4FOJ3VQBEBO%FTBJO7PMVNF /PNPS %FTFNCFS PENGELOLAAN LUKISAN-LUKISAN KOLEKSI MUSEUM ISTANA KEPRESIDENAN YOGYAKARTA Volume 22 Nomor 3 , Desember 2019 Khoirul Anam Program Studi Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memperoleh pemahaman yang benar serta mendalam, tentang pengelolaan lukisan-lukisan koleksi museum. Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan pendokumentasian langsung terhadap pengelolaan lukisan-lukisan koleksi, mempelajari dan mencatat data dari berbagai sumber. Penelitian ini menggunakan landasan teori tentang pengelolaan koleksi museum yang meliputi struktur organisasi, pengadaan koleksi, pendataan, penyajian, pengamanan dan pemeliharaan koleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan koleksi museum ini, mempunyai struktur organisasi museum yang tidak seperti organisasi museum yang lain, seperti memiliki kepala museum dan jajarannya, museum hanya memiliki pengelola. Perbedaan ini dinilai menyebabkan kurang optimalnya pengelolaan koleksi. Adapun untuk pengalihan risiko dengan menggunakan asuransi belum dilakukan pengelola, namun di sisi lain secara menyeluruh, pengelolaan koleksi yang meliputi; pengadaan koleksi, pendataan, penyajian, pengamanan dan pemeliharaan koleksi berada dalam taraf baik. Kata Kunci : pengelolaan, lukisan, koleksi, museum, Sukarno, Yogyakarta ABSTRACT This research aims to review and gain a true understanding and depth, about the paintings management of the museum's collection. The approach method used in this research is descriptive. The data collection is done by direct observation and documentation on the management of collection paintings, studying and recording data from various sources. This research uses the theoretical basis of the museum collections management that include organizational structure, collection procurement, data collection, presentation, security and collection maintenance. The results of this research indicate that the management of the collection at the museum, has a museum organizational structure that unlike other museum organizations, such as having the head of museum and his staff, the museum only has a manager. This difference is rated to be less optimal in collection management. As for the transfer of risk by using insurance has not been done by managers, but on the other hand as a whole, collection management that includes; collection procurement, data collection, presentation, security and maintenance of the collection is in good level. Keywords: paintings, collections, Mmanagement, museum, Sukarno, Yogyakarta Pendahuluan Ketika Belanda mencoba kembali untuk menjajah bangsa Indonesia dengan menguasai Jakarta pada 1946, Sukarno mengumumkan pemindahan pemerintah ke daerah yang gangguan Belanda, yaitu daerah Pada 3 Januari 1946, Presiden 174 kedudukan bebas dari Yogyakarta. pertama Ir. Khoirul Anam, Pengelolaan Lukisan-lukisan.. Sukarno memboyong sang istri Fatmawati, anak pertama Guntur Sukarno, dan orang tua Fatmawati. Ibu Kota Republik Indonesia resmi berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta dan menjadi pusat Pemerintahan Indonesia yang belum genap berusia lima bulan pada 4 Januari 1946. (Setiyono, 2017)Ratusan ribu orang ikut mengungsi dari berbagai daerah yang diduduki Belanda ke Yogyakarta, tidak terkecuali para seniman juga ikut bermigrasi pada masa antara 1946 – 1947. (Susanto, 2014:16) Sejak para seniman bermigrasi ke Yogyakarta, seni dan budaya tumbuh secara signifikan, terutama bidang seni rupa. Pada tahun 1946, para pelukis seperti Affandi, Rusli, Hendra Gunawan, dan Harijadi S. membentuk Sanggar Masyarakat, dan disusul S. Sudjojono bersama Seniman Indonesia Muda (SIM) pada tahun 1948. Affandi dan Hendra Gunawan lalu bergabung dengan SIM, tetapi kebersamaan itu tidak lama karena ada perselisihan pendapat dengan S. Sudjojono. Setelah keluar, keduanya mendirikan Pelukis Rakyat (PR) pada tahun 1947. Keduanya—SIM dan PR—mempunyai pengaruh besar pada perkembangan seni rupa di Yogyakarta (Burhan, 2013:22) Sukarno juga sering mengundang para pelukis dan seniman untuk berdiskusi seputar masalah kesenian di pendopo belakang Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta). Setelah itu, lahirlah perguruan tinggi seni rupa Indonesia yang bernama ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) diresmikan pada 15 Desember 1949. Banyak karya-karya besar yang lahir dari seniman-seniman besar di ASRI dan kota ini. Selain itu, banyak kegiatankegiatan seni yang lahir, seperti; Festival Kesenian Yogyakarta, Biennale Jogja, Artjog, dan kegiatan pameran-pameran seni rupa yang menjamur di galeri-galeri maupun ruang alternatif. Maka dari itu, julukan Yogyakarta sebagai kota seni rasanya suatu hal yang tidak berlebihan. Sementara itu, melihat aktivitas kesenian yang tumbuh semakin intensif, aktivitas kesenian menghasilkan banyak ilmu pengetahuan, benda seni dan sejarah. Oleh sebab itu, museum sangat dibutuhkan, gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran, benda-benda yang patut mendapat perhatian umum seperti peninggalan bersejarah, seni dan ilmu pengetahuan atau barang kuno. (Susanto, 2011:268) Museum berperan penting sebagai lembaga yang merawat dan mengelola benda seni untuk menjaga sejarah kesenian dan kebudayaan. Museum menjadi bukti konkret atas kepemilikan kesenian dan kebudayaan melalui arsip dokumen dan arsip benda seni dan benda bersejarah, dimana bangsa lain tidak bisa serta-merta dengan mudah mengklaim ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan. Yogyakarta mempunyai banyak sebutan, antara lain sebagai kota pelajar, kota gudeg, kota seni budaya, kota pariwisata dan sebagainya, kota ini juga pantas disebut sebagai kota museum. Pasalnya ada 32 museum yang tercatat sebagai anggota Badan Musyawarah Musea D.I (Daerah Istimewa) Yogyakarta. (Barahmus, 2017) Selain itu, banyak juga museum yang tidak terdaftar sebagai anggota BMM DIY, seperti museum Rumah Garuda yang dikelola secara pribadi dan Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta yang dikelola oleh Kementerian Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia. Topik penelitian ini dilatari oleh dibukanya Museum Istana Kepresidenan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selain itu juga. diresmikanya Museum Balai Kirti pada 18 Oktober 2014 yang ada di Istana Kepresidenan Bogor (Kemendikbud.go.id, 2017) dan Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta yang akhirnya bisa dinikmati publik pada tahun yang sama. Selain itu, juga diadakannya pameran besar di Galeri Nasional Indonesia yang memamerkan benda-benda seni koleksi Istana Presiden RI, yang belum pernah dipamerkan untuk publik. Istana Kepresidenan mempunyai koleksi benda seni mencapai 15.911 buah. Dari koleksi tersebut, ada 1.900an bingkai lukisan, lebih dari 500 lukisan adalah karya-karya para perupa Indonesia maupun dunia yang telah diletakan di dinding-dinding Istana dan sebagian dileta (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/download/2531/1497
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/view/2531/1497

Anam Khoirul. PENGELOLAAN LUKISAN-LUKISAN KOLEKSI MUSEUM ISTANA KEPRESIDENAN YOGYAKARTA, ARS: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 2019, pp. 174-184,