Persepsi Orang Tua Mengenai Pembelajaran Calistung di Kelompok B PAUD Kasih Ibu
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education
https://doi.org/10.29313/bcsecte.v3i2.9316
Persepsi Orang Tua Mengenai Pembelajaran Calistung di Kelompok B
PAUD Kasih Ibu
Sulastri*, Enoh, Drs.,M.Ag, Arif Hakim, M.pd
Prodi Pendidikan Guru PAUD, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Bandung, Indonesia.
*
, ,
Abstract. This research is motivated by how parents perceive calistung learning in
group B at Kasih Ibu PAUD. The questions to be answered from this research are:
How is the application of calistung learning in PAUD Kasih Ibu and how are the
results of learning calistung in group B PAUD Kasih Ibu related to parents'
perceptions. The method used is a qualitative method with a type of
phenomenological method. Researchers obtain data using observation, interviews
and documentation. The stages of analyzing data by reducing data, presenting data
and drawing conclusions. In checking the validity of data using triangulation
techniques, namely, triangulation of data sources and methods. The results of this
study are: (1) Many parents' perceptions of calistung learning in PAUD Kasih Ibu
consider that calistung learning is very appropriate for early childhood, because at an
early age children absorb everything more easily, with calistung learning parents
think children read, write and count faster to prepare children to enter elementary
school (SD). (2) The results of learning calistung in group B1 early childhood love
mothers are associated with parents' perceptions that there are several aspects of
ability in learning calistung, namely reading ability, writing ability and arithmetic
ability. of the three abilities, the results are consistent with the fact that all children
are able to read, write and count.
Keywords: Parents' Perceptions, Calistung Learning.
Abstrak. Penelitian ini dilator belakangi oleh bagaimana persepsi orang tua terhadap
pembelajaran calistung pada kelompok B di PAUD Kasih Ibu. Pertanyaan yang ingin
dijawab dari penelitian ini adalah: Bagaimana penerapan pembelajaran calistung di
PAUD Kasih Ibu dan bagaimana hasil pembelajaran calistung di kelompok B PAUD
Kasih Ibu terkait dengan persepsi orang tua. Metode yang digunakan adalah metode
kualitatif dengan jenis metode fenomenologis. Peneliti memperoleh data dengan
menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Tahapan menganalisis data
dengan mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Dalam
pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi
sumber data dan metode. Hasil penelitian ini adalah: (1) Banyak persepsi orang tua
terhadap pembelajaran calistung di PAUD Kasih Ibu menganggap bahwa
pembelajaran calistung sangat tepat untuk anak usia dini, karena pada usia dini anak
lebih mudah menyerap segala sesuatu, dengan pembelajaran calistung orang tua
menganggap anak membaca , menulis dan berhitung lebih cepat untuk
mempersiapkan anak masuk sekolah dasar (SD). (2) Hasil pembelajaran calistung
pada kelompok B1 ibu-ibu cinta usia dini dikaitkan dengan persepsi orang tua bahwa
ada beberapa aspek kemampuan dalam pembelajaran calistung yaitu kemampuan
membaca, kemampuan menulis dan kemampuan berhitung. dari ketiga kemampuan
tersebut, hasilnya sesuai dengan kenyataan bahwa semua anak mampu membaca,
menulis dan berhitung.
Kata Kunci: Persepsi Orang Tua, Pembelajaran Calistung.
Corresponding Author
Email:
148
Persepsi Orang Tua Mengenai Pembelajaran Calistung di Kelompok B PAUD Kasih Ibu | 149
A.
Pendahuluan
Di zaman modern saat ini sering kita menemukan banyak sekali orang tua yang menginginkan
anaknya mampu membaca, menulis dan berhitung tanpa memikirkan aspek lainnya seperti
moral agama, fisik motoric, Bahasa, sosial emosional dan seni. Banyak orang tua hanya
mengutamakan aspek kognitif saja sehingga aspek lainnya terabaikan. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Martuti berpendapat bahwa seharusnya pembelajaran yang dilakukan pada
anak usia dini tidak semata-mata untuk kemampuan calistung saja, akan tetapi lebih diarahkan
untuk mengembangkan berbagai potensi pada diri anak seperti fisik, kognitif, Bahasa, dan sosial
emosional (Lutfatulatifah & Yuliyanto, 2017). Orang tua saat ini banyak berasumsi bahwa anak
yang cerdas adalah anak yang mampu calistung sejak dini. Sehingga banyak orang tua yang
berlomba-lomba untuk memberikan pembelajaran terbaik untuk anak-anaknya dengan cara
memberikan tambahan belajar calistung seperti memberikan jam tambahan belajar (les) anaknya
ke bimba, kursus, dan lain-lain. Asumsi yang berkembang di masyarakat menjadikan lembaga
PAUD menerapkan model pembelajaran calistung karena dilatarbelakangi adanya ketentuan
seleksi masuk Sekolah Dasar (SD) dengan tes calistung. Persepsi merupakan anggapan
seseorang mengenai suatu obyek yang diterima oleh panca inderanya yang kemudian di
terjemahkan melalui perbuatan sehingga seseorang dapat memperoleh pengertian dari hasil
penginderaannya. Dengan adanya persepsi tersebut anak yang menjadi korban dari
kekhawatiran para orang tua sehingga anak mengalami yang namanya mental hectic. Hal itu
disebabkan karena orangtua yang terlalu memaksakan anaknya agar mampu membaca, menulis
dan berhitung.
Berdasarkan usianya yakni 5-6 tahun seharusnya anak belum waktunya untuk mendapat
pelajaran calistung karena usia tersebut merupakan usia keemasan anak (golden age) dimana
anak membutuhkan bermain sebagai salah satu kebutuhan dasar perkembangan anak usia dini.
Apabila kebutuhan tersebut belum terpenuhi maka anak akan mengalami kesulitan untuk
mencapai perkembangan yang ptimal. Menurut Jean Piaget anak sudah mulai belajar saat
mereka sudah masuk fase operasional konkret, yaitu ketika fase anak-anak sudah dianggap bisa
berpikir terstruktur, yaitu usia 7 tahun (dalam Hasan, 2012:310). Oleh sebab itu usia yang baik
dalam menerapkan program pembelajaran calistung yakni usia 7 tahun saat mereka duduk di
bangku sekolah dasar, karena pada usia tersebut sudah dapat berpikir terstruktur untuk
mendapatkan pembelajaran calistung.
Pembelajaran anak usia dini lebih menggunakan pendekatan belajar sambil bermain.
Dalam bermain anak akan menggunakan otot tubuhnya untuk mengekplorasi dunia sekitar.
Dengan bermain anak-anak akan menemukan dan mempelajari hal-hal baru atau keahlian baru.
Tanpa disadari, hal tersebut tidak akan membebani anak. Karena dunia anak adalah dunia
bermain.anak akan tertarik dengan kegiatan bermain daripada kegiatan pembelajaran.
Hal tersebut nampaknya sangat memerlukan bimbingan yang sesuai agar aspek
perkembangan anak berjalan baik. Orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anaknya. Peran
edukatif orang tua begitu penting sehingga tidak dapat digantikan orang lain. Itu sebabnya, tidak
tepat jika orang tua hanya menggantungkan pendidikan anaknya terhadap sekolah. Dalam
keluarga orang tualah yang menjadi peran utama yang bertanggung jawab membekali anakanaknya dengan pengetahuan ajaran agama, moral dan ajaran sosial bermasyarakat. Namun
banyak orang tua yang memperhatikan perkembangan anak d (...truncated)