Prediksi Perubahan Garis Pantai Di Pantai Tanjung Lesung, Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten (Studi Kasus: 2022-2047)
Buletin Oseanografi Marina Juni 2023 Vol 12 No 2:270-277
PISSN : 2089-3507 EISSN : 2550-001
Prediksi Perubahan Garis Pantai Di Pantai Tanjung Lesung, Kec. Panimbang,
Kabupaten Pandeglang, Banten (Studi Kasus: 2022-2047)
Maria Kurniawati Lena Liwun1*, Aris Ismanto2, Elis Indrayanti2, Bayu Munandar2, Hendry Siagian3
1
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
2
Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275 Indonesia
3
PT. Freeport Indonesia
Jl. Mile 68 Tembagapura, Papua Indonesia
Email:
Abstrak
Pantai Tanjung Lesung merupakan proyek strategis nasional yang menjadi potensi wisata pantai untuk
perkembangan perekonomian Provinsi Banten. Kerusakan daerah pesisir telah terjadi dari tahun ke tahun di
wilayah ini. Kondisi ini perlu dilakukan mitigasi untuk mengurangi resiko rusaknya infrastruktur dan sangat
mengganggu permukiman, pariwisata, dan aktivitas masyarakat yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk
memprediksi perubahan garis pantai di Pantai Tanjung Lesung yang terjadi dalam 25 (2002 – 2047) tahun
yang akan datang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan
pengembangan wisata pantai dengan mencegah terjadinya abrasi dan akresi di titik-titik krusial. Pemodelan
perubahan garis pantai pada penelitian ini, menggunakan modul LITLINE, salah satu modul utama dari
LITPACK dari MIKE 21. Pengumpulan data dilakukan dengan survey lapangan dan pengambilan data dari
instansi terkait. Analisis hasil model perubahan garis pantai di Pantai Tanjung Lesung, Kab. Pandeglang
menunjukkan potensi terjadinya proses abrasi dan akresi untuk 25 tahun ke depan. Selama 25 tahun dari tahun
2022 – 2047 garis pantai Tanjung Lesung mengalami abrasi sebesar 48.69 m dan akresi sebesar 51,7 m. Nilai
rata – rata perubahan garis pantai adalah 11,5 dan 11,75 pada kejadian abrasi dan akresi secara berurut.
Akumulasi akresi dengan kala periode 5 tahun hingga 2047 di daerah teluk adalah sebesar 61,65 m, sedangkan
akumulasi abrasi dengan kala periode 5 tahun hingga 2047 adalah sebesar 72,49 m.
Kata kunci: Abrasi, Akresi, LITPACK, Tanjung Lesung
Abstract
Prediction Of Coastline Changes In Tanjung Lesung Beach, Panimbang Regancy, Pandeglang District,
Banten (Case Study: 2022-2047)
Tanjung Lesung Beach is a national strategic project that becomes a potential for coastal tourism for the
economic development of Banten Province. Damage to coastal areas has occurred from year to year in this
region. This condition needs to be mitigated to reduce the risk of infrastructure damage and greatly disrupt
settlements, tourism, and other community activities This study aims to predict shoreline changes at Tanjung
Lesung Beach that will occur in the next 25 (2002–2047) years.. The results of this study are expected to be
considered in planning the development of coastal tourism by preventing abrasion and accretion at crucial
points. The modeling of shoreline changes in this study uses the LITLINE module, one of the main modules of
LITPACK from MIKE 21. Data collection is carried out by field surveys and data collection from relevant
agencies. Analysis of the results of the model of shoreline change at Tanjung Lesung Beach, Pandeglang
district shows the potential for abrasion and accretion processes for the next 25 years. For 25 years, from
2022 to 2047, the Tanjung Lesung coastline experienced 48.69 m of abrasion and 51.7 m of accretion. The
average value of shoreline change is 11.5 and 11.75 for accretion and sedimentation events, respectively. The
accumulation of accretion with a period of 5 years to 2047 in the bay area is 61.65 m, while the accumulation
of abrasion with a period of 5 years to 2047 is 72.49m.
Keywords: Abrasion, Accretion, LITPACK, Tanjung Lesung
*Corresponding author
DOI:10.14710/buloma.v12i2.50149
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/buloma
Diterima/Received : 08-11-2022
Disetujui/Accepted : 21-02-2023
Buletin Oseanografi Marina Juni 2023 Vol 12 No 2:270–277
PENDAHULUAN
Kerusakan wilayah pesisir pantai merupakan
permasalahan sebagian besar wilayah pesisir di
Indonesia dan khusunya di Pantai Tanjung Lesung.
Mutaqin et al., (2021) menyatakan bahwa laju
perubahan garis pantai di Pantai Tanjung Lesung
sebesar -4,5 m/tahun. Widada et al. (2022) di
Pantai di Kota Pekalongan mengalami abrasi dan
erosi berkisar antara 10-15 m. Kerusakan pantai
tersebut sangat menggangu wilayah permukiman,
perekonomian
dan
aktivitas
masyarakat.
Kerusakan wilayah pantai dapat dipengaruhi oleh
gelombang, pasang surut, arus laut, kenaikan muka
air laut, aktivitas manusia, dan lain-lain (Widada et
al., 2022; Arjasakusuma et al., 2021). Prosesproses diatas mempengaruhi dinamika perubahan
garis pantai seperti abrasi dan akresi, khususnya di
Pantai Tanjung Lesung (Mutaqin et al., 2021).
Proses abrasi dan akresi menjadi ancaman
bagi kota-kota besar atau pusat wisata yang berada
di daerah pesisir laut (Marfai et al., 2008). Pantai
wisata yang sedang berkembang yaitu Pantai
Tanjung Lesung yang menjadi salah satu proyek
strategis nasional melalui Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) (KEK Indonesia, 2022).
Peningkatkan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Kabupaten Pandeglang beberapa tahun
terakhir di dorong oleh peningkatan wisata
(Mutaqin et al., 2021). Peningkatan kunjungan
wisata di Pantai Tanjung lesung membuat
pengelola harus membangun fasilitas umum (BPS
Provinsi Banten, 2022). Pembangunan fasilitas
umum menimbulkan alih fungsi penggunaan lahan
dan aktivitas lain yang dapat meningkatkan potensi
kerusakan wilayah pesisir (Hendriyono et al.,
2015; Arjasakusuma et al., 2021; Widodo et al.,
2022).
Tahapan
mitigasi
sebagai
upaya
mengeleminasi dampak tersebut, maka perlu
menyusun strategi penanggulangan kerusakan
wilayah
pantai.
Penyusunan
strategi
penanggulangan kerusakan pantai salah satunya
dapat di analisis dengan menggunakan data
perubahan garis pantai. Analisis perubahan garis
pantai dapat memberikan gambaran dimana titiktitik lokasi abrasi dan akresi. Pengetahuan
mengenai titik abrasi dan akresi dapat menjadi
pedoman dalam menentukan prioritas wilayah
yang perlu diselamatkan lebih dahulu.
Penelitian terdahulu tentang perubahan garis
pantai di daerah Kabupaten Pandeglang telah
banyak dilakukan, diantaranya Rositasari (2007),
menemukan bahwa sebaran sedimen dasar
memperlihatkan kecenderungan tingginya sebaran
fraksi kasar di lepas pantai sekitar muara sungaisungai yang terletak di sebelah Tenggara Tanjung
Lesung. Keadaan ini menunjukkan adanya proses
abrasi aktif di sepanjang pesisir timur Tanjung
Lesung hingga sekitar Ciseukeut. Selanjutnya,
Mutaqin et al. (2020) dan Wicaksono et al. (2020)
menyatakan bahwa telah terjadi kemunduran garis
pantai di wilayah pantai Tanjung Lesung dalam
rentang waktu tahun 1990-2020 (30 Tahun).
Penelitian sebelumnya menggunakan metode
pendekatan penginderaan jauh (Mutaqin et al.,
2021) dan analisis ukuran butir sedimen (...truncated)