EKOLEKSIKON KENELAYANAN DI PULAU MANDANGIN- MADURA

Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia, Mar 2023

As a language study, this research is structured based on the basic assumption that Mandangin is a potential area for tourism development in Madura. This research offers a simple concept as an effort to make Mandangin a literacy-friendly tourist area in Madura by conducting an ecolexicon inventory based on the ecological conditions of the Mandangin people themselves. This research was conducted using a descriptive qualitative method. This method is used to apply ecological, sociolinguistic, and lexicological theories more comprehensively. The results of this study indicate that there are interesting fisheries ecolexicon treasures to be inventoried and then an analysis of lexical and grammatical meanings is carried out, namely marine biota ecolexicon treasures. The results of the inventory and meaning are then used as a reference in determining dimensional aspects including the biological dimension which refers to the use of biotic and abiotic terms, the sociological dimension which refers to social interaction, and the ideological dimension which is indicated by loyalty to tradition. Keywords: ecolexicon, fishermen, Mandangin Island

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://bahteraindonesia.unwir.ac.id/index.php/BI/article/download/351/242

EKOLEKSIKON KENELAYANAN DI PULAU MANDANGIN- MADURA

BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. 8, No. 1, Mar. 2023 EKOLEKSIKON KENELAYANAN DI PULAU MANDANGIN-MADURA Mixghan Norman Antono Universitas Trunojoyo Madura, ABSTRACT As a language study, this research is structured based on the basic assumption that Mandangin is a potential area for tourism development in Madura. This research offers a simple concept as an effort to make Mandangin a literacy-friendly tourist area in Madura by conducting an ecolexicon inventory based on the ecological conditions of the Mandangin people themselves. This research was conducted using a descriptive qualitative method. This method is used to apply ecological, sociolinguistic, and lexicological theories more comprehensively. The results of this study indicate that there are interesting fisheries ecolexicon treasures to be inventoried and then an analysis of lexical and grammatical meanings is carried out, namely marine biota ecolexicon treasures. The results of the inventory and meaning are then used as a reference in determining dimensional aspects including the biological dimension which refers to the use of biotic and abiotic terms, the sociological dimension which refers to social interaction, and the ideological dimension which is indicated by loyalty to tradition. Keywords: ecolexicon, fishermen, Mandangin Island ABSTRAK Sebagai sebuah penelitian bahasa, penelitian ini disusun berdasarkan asumsi dasar yang menyatakan bahwa Mandangin merupakan kawasan potensial pengembangan wisata di Madura. Penelitian ini menawarkan konsep sederhana sebagai upaya menjadikan Mandangin sebagai daerah wisata yang ramah literasi di Madura dengan melakukan inventarisasi ekoleksikon berdasarkan keadaan ekologi masayarakat Mandangin itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Metode ini digunakan untuk mengaplikasikan teori-teori ekologi, sosiolinguitik, dan leksikologi secara lebih komprehensif. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat khazanah ekoleksikon kenelayanan yang menarik untuk diinventarisasi kemudian dilakukan analisis makna leksikal dan gramatikal, yakni khazanah ekoleksikon biota laut. Hasil inventarisasi dan pemaknaan kemudian dijadikan acuan dalam penentuan aspek dimensional meliputi dimensi biologi yang mengacu pada penggunaan istiliah-istilah biotik dan abiotik, dimensi sosiologi yang mengacu pada interaksi sosialnya, serta dimensi ideologis yang ditunjukan dengan kesetiaan menjaga tradisi. Kata Kunci: ekoleksikon, kenelayanan, Pulau Mandangin How to Cite: Mixghan Norman Antono, & Naelur Rahmah. EKOLEKSIKON KENELAYANAN DI PULAU MANDANGIN- MADURA. Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 8(1), 267–277. https://doi.org/10.31943/bi.v8i1.351 DOI: https://doi.org/10.31943/bi.v8i1.351 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 267 ISSN 2541-3252 Vol. 8, No. 1, Mar. 2023 BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melakukan PENDAHULUAN inventarisasi ekoleksikon berdasarkan Pulau Mandangin merupakan pulau yang cukup terkenal dikalangan nelayan Madura. Selain karena cerita dan faktor sejarahnya, pulau ini juga menjadi salah satu pusat perkembangan agama yang cukup besar pada zamannya. Mandangin menyimpan berjuta keindahan yang sangat berharga jika dilewatkan. Kawasan ini merupakan kawasan potensial wisata bahariyang jika dikembangkan dengan baik akan menjadi daya tarik wisata yang tentu dapat meningkatkan ekonomi keadaan ekologi masayarakat Mandangin itu sendiri. Ekoleksikon merupakan bentuk turunan daripengembangan linguistik ekologi. yang bidang berbasis Padastudi kegiatan kajian wawasan ekologi inventariasi bahasa, ekoleksikon merupakan penggabungan dari kaidahkaidah leksikologi dan/atau leksikografi yang berhubungan dengan leksikon alamiah atau leksikon dasar dari suatu daerah tertentu. masyarakatnya. Oleh karena itu, kegiatan Pemerolehan bahasa merupakan suatu inventarisasi ekoleksikon tidak hanya proses pengenalan bahasa pertama pada anak dapat dijadikan sebagai pengembangan yang awal mulanya belum memiliki sama bidang kebahasaan saja melainkan juga sekali bahasa pada dirinya (Indriyani Oktavia, pada pengembangan bidang lain seperti dan Setiawan Hendra, 2022). Sebagai sebuah pariwisata berbasis ekologi yang akan penelitian bahasa, masyarakat Indonesia lebih dilakukan menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa Lingkungan bahasa dalam ekolinguistik nasional ketika melakukan komunikasi, dari meliputi lingkungan ragawi dan sosial. pada Menurut Maula Minatul, Nasihin Agus Kedua bahasa daerahnya masing-masing. bahasa dalam tersebut sering digunakan kehidupan bersamaan ketika sehari-hari secara melakukan komunikasi. berdasarkan 2022). Penelitian ini disusun berdasarkan menjalani asumsi Menurut menyatakan bahwa ini. Hal kenyataan ini bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak yang penelitian dan Bahri Samsul, (2022). (Anggraeni Dewi Fitri, dan Fitri Suriyanto, dasar melalui dapat hidup sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Sapir (dalam Fill dan Mandangin merupakan kawasan potensial Muhlhausler,2001:14), lingkungan ragawi pengembangan wisata di Madura. Penelitian ini menyangkut geografi yang terdiri atas menawarkan konsep sederhana sebagai upaya fisik: topografi suatu negara (pesisir, 2 menjadikan Mandangin sebagai daerah wisata lembah, daratan, dataran tinggi, gunung), yang iklim dan intensitas curah hujan, dasar ramah literasi di Madura dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 268 ISSN 2541-3252 Vol. 8, No. 1, Mar. 2023 BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ekonomis kehidupan manusia yang terdiri dari (2000:11) fauna, flora, dan sumber-sumber mineral; Bahasa merupakan suatu alat sedangkan lingkungan sosial terdiri atas berbagai komunikasi kekuatan masyarakat yang membentuk pikiran manusia, untuk mengutarakan sesuatu dan kehidupan setiap individu diantaranya yaitu : gagasan, konsep atau agama, etika, bentuk organisasi politik, dan seni diujarkan yang kemudian dikonkretkan dalam bentuk alat ucap (Aprika Yuri, Rukiyah siti dan bahasa. Transformasi Wahidy Achmad, 2022). Bahasa sosial budaya tersebut atau interaksi bagi perasaan, yang melalui bahasa, bunyi dan itu melatarbelakangi munculnya kesadaran akan arbitrer, artinya bahasa disusun secara prinsip-prinsip manasuka sesuai dengan konversi para multikulturalisme dalam kehidupan sehari-hari (Kheriyah, Mawadah penggunanya Husnul A. dan Hardiansyah Firman, 2022). Rukiyah Siti., Fitriani Yessi, 2022). Membahas yaitu Bahasa adalah salah satu alat vital di dan lingkungan kehidupan manusia. Bahasa digunakan dari persoalan keterkaitan antara bahasa di atas (Apryanti Yesvica, merupakan kajian yang mengaitkan antara untuk ekologi dan linguistik diawali pada tahun 1970 karena manusia adalah makhluk sosia (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://bahteraindonesia.unwir.ac.id/index.php/BI/article/download/351/242
Article home page: http://bahteraindonesia.unwir.ac.id/index.php/BI/article/view/351/242

Mixghan Norman Antono, Naelur Rahmah. EKOLEKSIKON KENELAYANAN DI PULAU MANDANGIN- MADURA, Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia, 2023,