Monomorphemic Forms of the Fisheries Ecolexicon in Malay in Kuala Tanjung Village, Sei Suka District, Batu Bara Regency, North Sumatra
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.295
Bentuk Monomorfemis Ekoleksikon Perikanan Dalam Bahasa
Melayu Di Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka Kabupaten
Batu Bara Sumatera Utara
Nurmila Syaliha Simbolon(1), Emilda(2), Safriandi(3)
1
Universitas Malikussaleh, Indonesia
3
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Malikussaleh, Indonesia
Email: ; ;
Diterima:21-01-2024; Disetujui:16-02-2024; Dipublikasi:17-02-2024
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji tentang ekoleksikon perikanan dalam bahasa Melayu di Desa
Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan bentuk satuan ekoleksikon perikanan dalam bahasa Melayu
berdasarkan monomorfemis di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara,
Sumatera Utara. Adapun jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif.
Sumber data penelitian ini adalah para nelayan dan buku-buku yang berhubungan dengan
ekoleksikon perikanan. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak dan
cakap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekoleksikon perikanan dalam bahasa Melayu di Desa
Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara menghasilkan
monomorfemis yang terdiri dari 50 leksikon.
Kata kunci: ekoleksikon perikanan, monomorfemis, bahasa Melayu
PENDAHULUAN
Ekolinguistik berhubungan dengan ekologi yaitu ilmu yang mengkaji
interaksi organisme dengan lingkungannya. Ekolinguistik adalah ilmu yang
mengkaji tentang pemahaman hubungan antara yang hidup dan tidak (Weunjan,
dalam Nurdiyanto et al., 2022: 2). Pengertian tersebut juga selaras dengan yang
dikemukakan oleh Mbete (dalam Fauzi & Hermansyah, 2021: 4) yang
menyebutkan bahwa ekolinguistik adalah suatu ilmu yang mengkaji bahasa dan
lingkungan. Ekolinguistik mengkaji banyak hal terkait bahasa dan lingkungan
salah satunya adalah ekoleksikon. Ekoleksikon adalah keterkaitan antara bahasa
dan ekologi yang terdiri dari dua bagian yaitu lingkungan psikologikal dan
sosiologikal (Sudipa dan Setyawati, dalam Lende et al., 2023: 8). Ekoleksikon
adalah keberagaman khazanah kata dan keberagaman bahasa di suatu lingkungan,
dan juga berkaitan dengan kondisi di lingkungan hidup bahasa itu sendiri (Mbete,
dalam Lende et al., 2023: 8). Jadi, dapat disimpulkan bahwa ekoleksikon adalah
suatu ilmu yang mengkaji bahasa dan lingkungan, serta keberagaman bahasa di
suatu lingkungan.
52
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License. Copyright Ⓒ Author.
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.295
Salah satu ekoleksikon yang terkait dengan lingkungan adalah ekoleksikon
di bidang perikanan. Ekoleksikon bidang perikanan digunakan oleh masyarakat di
pesisir pantai. Salah satu masyarakat yang dimaksud ialah masyarakat Desa Kuala
Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Di antara
contoh ekoleksikon yang dipakai masyarakat Desa Kuala Tanjung adalah ikan
kureng „ikan kembung‟, ikan terisi „ikan kakap‟, koang „kerang‟, kopa „kerang
kepah‟, cumit-cumit „cumi-cumi‟, dll.
Berdasarkan uraian di atas peneliti melihat hal yang menarik diteliti
tentang ekoleksikon perikanan pada masyarakat tersebut. Hal menarik yang
dimaksud adalah bentuk satuan ekoleksikon perikanan yang digunakan oleh
masyarakat Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara,
Sumatera Utara. Pertama, berdasarkan analisis awal yang peneliti lakukan dalam
bahasa Melayu pada masyarakat Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka,
Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara ditemukan berbagai macam bentuk satuan
ekoleksikon seperti monomorfemis dan polimorfemis. Kedua, karena adanya
permasalahan kebertahanan bahasa pada ekoleksikon perikanan di Desa Kuala
Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Ketiga,
karena sebagian masyarakat Desa Kuala Tanjung tidak menguasai ekoleksikon
perikanan dalam bahasa Melayu.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik mengetahui lebih
dalam mengenai ekoleksikon perikanan dalam bahasa Melayu di Desa Kuala
Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Adapun
rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk satuan ekoleksikon
perikanan dalam bahasa Melayu ragam Melayu Batu Bara berdasarkan
monomorfemis di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu
Bara?
Monomorfemis adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara
relative stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil
(Kridalaksana, dalam Andini, 2017: 24). Menurut Muslich, (dalam Rahmadani,
2021: 15) monomorfemis adalah kata yang terdiri atas satu morfem. Sedangkan
menurut Kentjono, (dalam Andini, 2017: 24) salah satu atau lebih morfemakan
menyusun sebuah kata. Kata yang terdiri dari satu morfem dengan ciri-ciri dapat
berdiri sendiri sebagai kata, mempunyai makna, dan berkategori jelas disebut
dengan kata monomorfemis. Pada dasarnya semua kata dasar merupakan morfem
bebas atau monomorfemis dengan pengertian bahwa morfem tersebut dapat
berdiri sendiri, bermakna tanpa dilekati imbuhan karena tidak mengalami proses
morfologis.
Bahasa Melayu merupakan sebuah bahasa Austronesia dari cabang SundaSulawesi yang digunakan sebagai lingua franca atau bahasa perhubungan di
Nusantara sejak abad awal penanggalan modern (Collins, dalam Nugraheni &
Syuhda, 2019: 12). Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa alamiah (bahasa
linguistik) di antara 5.000-an bahasa ilmiah yang terdapat di dunia ini (Malik et
53
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.295
al., 2015: 1). Jadi dapat disimpulkan bahasa Melayu meliputi sejumlah bahasa
yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara.
Bahasa Melayu Batu Bara merupakan suatu bahasa daerah yang terdapat
di wilayah Pesisir Pantai paling Timur Pulau Sumatera, yang dibatasi Selat
Malaka. Keturunan masyarakat Melayu Batu Bara berasal dari pencampuran suku
bangsa lain, antara lain Batak Toba, Batak Simalungun, dan Angkola-Mandailing.
Sebagian beranggapan, mereka berasal dari negeri Pagarayung, Sumatera Barat.
Bahasa Melayu Batu Bara ini berbeda dalam pengucapan, seperti bunyi akhiran
“a” dalam bahasa Indonesia diucapkan menjadi “o”. misalnya “apa” menjadi
“apo”, “ada” menajdi “ado”, “kita” menjadi “kito”. Bahasa Melayu Batu Bara
banyak mendapat pengaruh bahasa Minangkabau. Dibandingkan dengan bahasa
Melayu di daerah lainnya, misalnya di daerah Deli dan Langkat, bahasa Melayu
Batu Bara masih tetap bertahan keberadaannya, dan maih sering dipergunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
Perikanan adalah kegiatan eksploit (...truncated)