Kajian Etnobotani Loloh dan Teh Herbal Lokal sebagai Penunjang Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Tradisional Penglipuran Kabupaten Bangli-Bali
Bioma, Desember 2021
Vol. 23, No. 2, Hal. 91-99
p ISSN: 1410-8801
e ISSN: 2598-2370
Kajian Etnobotani Loloh dan Teh Herbal Lokal sebagai Penunjang Ekonomi
Kreatif Masyarakat Desa Tradisional Penglipuran Kabupaten Bangli-Bali
Study of Loloh Ethnobotany and Local Herbal Tea as Supporting Creative
Economy of Penglipuran Traditional Village Communities Bangli-Bali Regency
Ni Putu Nadia Pebiana, Yeni Dina Puspasari, Resty Mutiara Dewi
dan Ida Bagus Putu Arnyana
Departemen Biologi dan Perikanan Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja
Corresponding Author ;
Abstract
Penglipuran Village is a village in Bali that implements ethnobotany which is used as a medicinal plant which has
been inherited in the form of a variety of traditional drinks that make use of typical plants in the village and has been
widely marketed. The traditional drinks they produce are loloh cem-cem, loloh telang, turmeric loloh, plum fruit loloh
and kelor and bawang berlian tea. The purpose of this article is to study the properties needed in plants used as loloh and
herbal teas as well as the benefits of ethnobotany loloh and herbal teas as economic support as seen from the level of
income of the people involved in their production. The writing of this article was done by taking a sample of snowballs in
Penglipuran Village. Data collection techniques used in this study are: observation techniques, interview techniques,
literature study techniques and data analysis using descriptive qualitative techniques. Data obtained in the field in
accordance with the debates reviewed are described and interpreted qualitatively. The results obtained from this study are
some plants that have been produced by economic products that are designed for local drinks, namely loloh and herbal
teas. Using plants as traditional medicine by the people of Penglipuran Village, has now developed into an effort that
provides economic benefits for the community. Based on the results of the study found three types of local traditional
drinks (loloh) that support the welfare and economy of the Penglipuran Traditional Village community namely loloh
cemcem, loloh telang flowers, and kelba tea (kelor bawang berlian) seen from the results of production in each
transaction and marketing has been quite extensive.
Key Words : ethnobotany; Penglipuran Village; traditional drink; loloh; herbal tea
Abstrak
Desa Penglipuran merupakan salah satu desa di Bali yang mengimplementasikan etnobotani yang dijadikan
sebagai tanaman obat yang telah diwariskan dalam bentuk aneka minuman tradisional yang memanfaatkan tumbuhan
khas desa tersebut dan telah banyak dipasarkan. Minuman tradisional yang mereka hasilkan adalah loloh cem-cem, loloh
telang, kunyit loloh, loloh buah plum dan kelor serta bawang teh ketupat. Artikel ini bertujuan untuk mempelajari khasiat
yang dibutuhkan pada tanaman yang digunakan sebagai loloh dan teh herbal serta manfaat etnobotani loloh dan teh
herbal sebagai penunjang ekonomi dilihat dari tingkat pendapatan masyarakat yang terlibat dalam produksinya.
Penulisan artikel ini dilakukan dengan mengambil sampel bola salju yang ada di Desa Penglipuran. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: teknik observasi, teknik wawancara, teknik studi pustaka dan analisis
data dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh di lapangan sesuai dengan debat yang dikaji
dideskripsikan dan diinterpretasikan secara kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah beberapa tanaman
yang telah dihasilkan produk ekonomi yang didesain untuk minuman lokal yaitu loloh dan teh herbal. Pemanfaatan
tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Desa Penglipuran, kini telah berkembang menjadi upaya yang
memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tiga jenis minuman tradisional
daerah (loloh) yang menunjang kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Desa Adat Penglipuran yaitu loloh
cemcem, bunga loloh telang, dan teh kelba (kelor bawang ketupat) dilihat dari hasil produksi dalam setiap transaksi dan
pemasaran sudah cukup luas.
Kata Kunci : Etnobotani, Desa Penglipuran, minuman tradisional, loloh, the herbal
PENDAHULUAN
Etnobotani adalah pemanfaatan tumbuhan
jenis tertentu oleh suatu etnis atau suku tertentu di
suatu daerah. Kajian etnobotani merupakan kajian
yang khas dan juga unik untuk dipelajari maupun
dipraktekkan, karena dapat dimanfaatkan untuk
Kajian Etnobotani Loloh dan Teh Herbal Lokal sebagai Penunjang Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Tradisional Penglipuran
keberlangsungan hidup manusia dan juga
lingkungan, misalnya bagaimana pemanfaatan
tumbuhan obat di suatu daerah oleh etnis atau suku
tertentu sehingga tumbuhan tersebut menjadi
dilestarikan dan tidak punah (Iskandar, 2016).
Dengan memanfaatkan tumbuhan obat yang ada di
sekitar masyarakat, secara langsung atau tidak
langsung mempunyai kaitan dengan upaya
pelestarian pemanfaatan sumber daya alam hayati,
khususnya tumbuhan obat (Hamid dan Nuryani,
1992).
Pengobatan modern telah berkembang
hingga ke daerah terpencil, namun penggunaan
tumbuhan sebagai obat masih tetap diminati
masyarakat karena tumbuhan obat pada umumnya
mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Pada
daerah yang terisolir, pemanfaatan lingkungan
terutama tumbuhan untuk pemenuhan kebutuhan
kesehatan seperti untuk obat-obatan tradisional
masih sangat tinggi. Contoh pemanfaatan
tumbuhan khas oleh Suku Mentawai di Pulau
Siberut Kepulauan Mentawai.
Mereka memiliki kebiasaan menggunakan
ranting dari pohon upas (Antiaris toxicaria) dan
cabai hutan (Piper retrofractum) dengan cara
ditumbuk sebagai racun pada ujung mata panah.
Kebiasaan lainnya yaitu pembuatan cawat (celana
dalam) menggunakan serat pada bagian dalam
batang pohon dewasa (Artocarpus sp). Dalam
memenuhi kebutuhan pangan, Suku Mentawai
memiliki kebiasaan yaitu memanen sagu
(Metroxylon sagu) yang dilakukan secara
tradisional oleh pria dewasa untuk diubah menjadi
tepung sagu siap olah.
Di daerah Bali, etnobotani banyak
dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat yang sudah
diwariskan secara turun temurun. Di Bali banyak
terdapat lontar-lontar usada (dokumen yang ditulis
dalam daun lontar terkait pengobatan) yang
membahas berbagai macam tumbuhan yang dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan misalnya lontar
taru premana. Salah satu desa tradisional di Bali
yang erat kaitannya dengan etnobotani adalah
Desa Wisata Penglipuran yang terletak di
Kabupaten Bangli. Desa Penglipuran memiliki
daya tarik pada pola tata ruang desa, arsitektur
tradisional rumah penduduk, hutan bambu dengan
beragam jenis pohon bambu di dalamnya, adat
istiadat masyarakat lokal, makanan dan minuman
tradisional, serta hasil kerajinan bambu khas desa
tersebut. Karena keunikan desa tersebut,
Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli menetapkan
Desa Penglipuran sebagai obyek wisata sejak
tahun 1993 dan diresmikan sebagai Desa Wisata
Penglipuran pada tanggal 15 Desember 2012.
Etnis Bali (...truncated)