Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif
ANUVA Volume 4 (4): 531-542, 2020
Copyright ©2020, ISSN: 2598-3040 online
Available Online at: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/anuva
Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian
Transformasi Generatif
Satyanto1*), Deli Nirmala1
1
Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia
*)
Korespondensi:
Abstract
[Title: The Phonological Process of Arithmetic Units in Japanese: Study of Generative Transformational] Japanese
foreign learners often experience difficulties in learning Japanese counting units due to the many variations in
counting units. Apart from these causes, there is a sound change in the numbers and unit markers under certain
conditions. The purpose of this study is to describe and make rules regarding the assimilation of consonants with
consonants contained in Japanese counting units. The rules made in this study can help and make it easier for foreign
Japanese learners to understand the sound changes that occur.The data taken and used in this research are data in
the form of phonetic transcriptions from Japanese counting units contained in Minna no Nihongo I teaching materials.
The theory used in this research is generative phonological theory by looking at the distinctive features of each
segment. The method used is the equivalent method of the basic technique of sorting the determinants. The result of
this research is the addition of [+ voiced] to the counting unit marker which causes [ҫ] / [h] [b] and [s] [z] if
the marker does not start with a consonant sound [d], [k], [m], [s] followed by a vowel sound [a], or [h] / [ҫ] which
is followed by a vowel [o]. In addition, there are no changes found from [+ voiced] to [-voiced].
Keywords: phonological process; distinctive features; arithmetic units; japanesen
Abstrak
Pembelajar asing bahasa Jepang sering mengalami kesulitan dalam memperlajari satuan hitung bahasa Jepang adalah
adanya variasi satuan hitung yang banyak. Selain penyebab itu ternyata dalam satuan hitung bahasa Jepang terjadi
perubahan bunyi pada angka maupun pemarkah satuannya dalam suatu kondisi tertentu. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan dan membuat suatu kaidah tentang asimilasi konsonan dengan konsonan yang ada
dalam satuan hitung bahasa Jepang. Kaidah yang dibuat dalam penelitian ini dapat membantu dan mempermudah para
pembelajar asing bahasa Jepang untuk memahami perubahan bunyi yang terjadi dalam satuan hitung bahasa Jepang.
Data yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berupa transkripsi fonetis dari satuan hitung
bahasa Jepang yang ada didalam bahan ajar buku Minna no Nihongo I. Teori yang digunakan pada penelitian ini
adalah teori fonologi generatif dengan melihat fitur distingtif dari setiap segmen. Metode yang digunakan adalah
metode padan teknik dasar pilah unsur penentu. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penambahan [+voiced] pada
pemarkah satuan hitungnya yang menyebabkan [ҫ] / [h] [b] dan [s] [z] jika pemarkahnya tidak berawalan bunyi
konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], atau [h]/[ҫ] yang didahului vokal [o]. Selain itu tidak ditemukan
perubahan dari [+voiced] menjadi [-voiced].
Kata Kunci: proses fonologis; distingtif fitur; satuan hitung; bahasa jepang
531
532
1. Pendahuluan
Satuan hitung dalam bahasa Jepang jumlahnya cukup banyak dan sebagian dipelajari pada level
dasar. Materi ini dapat dipelajari pada buku-buku level dasar, seperti pada buku Minna no Nihongo 1 bab
11. Meskipun hanya sebagian satuan hitung bahasa Jepang dipelajari pada level dasar, tetapi materi ini
dinilai sebagai salah satu materi yang sulit dipelajari oleh pembelajar asing. Selain macamnya yang banyak,
penyebab kesulitan mempelajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya perubahan bunyi. Sebagai
contoh perubahan bunyi tersebut adalah angka 3 [saŋ] yang mengalami perubahan pada kondisi tertentu
menjadi [san] seperti dalam “3 orang” [sanniŋ] ataupun [sam] seperti dalam “3 batang” [samboŋ]. Selain
itu, adanya perubahan bunyi yang terjadi pada pemarkah satuannya, sebagai contoh satuan untuk
menghitung benda yang panjang menggunakan [hoŋ] tetapi berubah menjadi [boŋ] dalam kondisi tertentu.
Kesalahan pengucapan yang disebabkan oleh adanya perubahan bunyi yang tidak tepat dapat
mengakibatkan kesulitan mitra tutur dalam memahami tuturan penutur. Kesalahan pengucapan bunyi yang
terjadi terkadang dapat merubah makna dari tuturan tersebut. Sebagai contoh [seƞ] yang berarti “seribu” ,
sedangkan [ni] yang berarti “dua” makan untuk menyatakan “dua ribu” menjadi [niseƞ], akan tetapi ketika
digabungkan dengan [saƞ] yang berarti “tiga” tidak menjadi [sanseƞ] untuk menyatakan “tiga ribu”. Kata
[sanseƞ] dalam bahasa Jepang berarti “ikut perang”, sedangkan untuk “tiga ribu” dalam bahasa Jepang
diucapkan dengan [sanzeƞ].
Perubahan bunyi yang terjadi pada satuan hitung bahasa Jepang disebabkan karena adanya proses
pembentukan kata dari dua buah morfem (angka dan pemarkah satuan hitung). Perubahan bunyi yang
disebabkan oleh proses pembentukan kata disebut morfofonemis. Morfofonemis adalah perubahan fonem
yang disebabkan adanya proses morfologi, dalam hal ini adalah pembentukan kata antara angka dan
pemarkah satuan hitung dalam bahasa Jepang.
Penelitian tentang proses fonologis dengan teori transformasi generatif sudah dilakukan oleh
beberapa peneliti sebelumnya, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Erawati (2012) mengenai
asimilasi fonemis bahasa Jawa kuno salah satu tipe morfofonemik. Hasilnya penggabungan /a/ + /i//e/,
/a/+/u//o/, proses fonemis antara /u/+/a//w/, /i/+/a//y/, proses fonemis dalam proses morfofonemik
dengan nasal berupa keselarasan fitur, pelesapan, dan satu proses fonologis berupa bunyi luncuran antar
vokal sehingga dalam bahasa Jawa kuno ditemukan asimilasi fonemis resiprokal, asimilasi fonemis
progresif, asimilasi fonemis regresif, dan satu penyisipan bunyi luncuran nasal /n/. Penelitian yang
berikutnya dilakukan oleh Sulihiningtyas (2013) tentang proses fonologi bahasa Belanda dengan hasil
berupa proses fonologis dalam kata majemuk yang penulisannya menjadi satu terjadi asimilasi progresif
(penambahan [-voiced]) dan asimilasi regretif (penambahan [+voiced]), pelesapan bunyi [t] diantara dua
obtruent, dan penyisipan bunyi labial [p] diantara bunyi [t] dan [i]. Penelitian yang selanjutnya oleh
Muslihah (2018) tentang proses penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang. Hasilnya ditemukan
beberapa proses fonologis berupa penambahan segmen /u/ dan /o/ di tengah dan akhir kata, substitusi fonem
/l/ menjadi /r/, substitusi fonem /v/ menjadi /b/, subtsitusi fonem /t/ menjadi /c/, dan penambahan segmen
/i/ diposisi akhir setelah fonem /t/ dan /d/.
Copyright ©2020, ISSN: 2598-3040 online
533
Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu pada objek dan fokus yang diteliti.
Objek dan fokus penelitian pertama dan kedua berup (...truncated)