Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif

Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi, Dec 2020

Pembelajar asing bahasa Jepang sering mengalami kesulitan dalam memperlajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya variasi satuan hitung yang banyak. Selain penyebab itu ternyata dalam satuan hitung bahasa Jepang terjadi perubahan bunyi pada angka maupun pemarkah satuannya dalam suatu kondisi tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan membuat suatu kaidah tentang asimilasi konsonan dengan konsonan yang ada dalam satuan hitung bahasa Jepang. Kaidah yang dibuat dalam penelitian ini dapat membantu dan mempermudah para pembelajar asing bahasa Jepang untuk memahami perubahan bunyi yang terjadi dalam satuan hitung bahasa Jepang. Data yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berupa transkripsi fonetis dari satuan hitung bahasa Jepang yang ada didalam bahan ajar buku Minna no Nihongo I. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori fonologi generatif dengan melihat fitur distingtif dari setiap segmen. Metode yang digunakan adalah metode padan teknik dasar pilah unsur penentu. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penambahan [+voiced] pada pemarkah satuan hitungnya yang menyebabkan [ҫ] / [h] --> [b] dan [s] --> [z] jika pemarkahnya tidak berawalan bunyi konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], atau [h]/[ҫ] yang didahului vokal [o]. Selain itu tidak ditemukan perubahan dari [+voiced] menjadi [-voiced].

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/download/9666/4983

Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif

ANUVA Volume 4 (4): 531-542, 2020 Copyright ©2020, ISSN: 2598-3040 online Available Online at: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/anuva Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif Satyanto1*), Deli Nirmala1 1 Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia *) Korespondensi: Abstract [Title: The Phonological Process of Arithmetic Units in Japanese: Study of Generative Transformational] Japanese foreign learners often experience difficulties in learning Japanese counting units due to the many variations in counting units. Apart from these causes, there is a sound change in the numbers and unit markers under certain conditions. The purpose of this study is to describe and make rules regarding the assimilation of consonants with consonants contained in Japanese counting units. The rules made in this study can help and make it easier for foreign Japanese learners to understand the sound changes that occur.The data taken and used in this research are data in the form of phonetic transcriptions from Japanese counting units contained in Minna no Nihongo I teaching materials. The theory used in this research is generative phonological theory by looking at the distinctive features of each segment. The method used is the equivalent method of the basic technique of sorting the determinants. The result of this research is the addition of [+ voiced] to the counting unit marker which causes [ҫ] / [h]  [b] and [s] [z] if the marker does not start with a consonant sound [d], [k], [m], [s] followed by a vowel sound [a], or [h] / [ҫ] which is followed by a vowel [o]. In addition, there are no changes found from [+ voiced] to [-voiced]. Keywords: phonological process; distinctive features; arithmetic units; japanesen Abstrak Pembelajar asing bahasa Jepang sering mengalami kesulitan dalam memperlajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya variasi satuan hitung yang banyak. Selain penyebab itu ternyata dalam satuan hitung bahasa Jepang terjadi perubahan bunyi pada angka maupun pemarkah satuannya dalam suatu kondisi tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan membuat suatu kaidah tentang asimilasi konsonan dengan konsonan yang ada dalam satuan hitung bahasa Jepang. Kaidah yang dibuat dalam penelitian ini dapat membantu dan mempermudah para pembelajar asing bahasa Jepang untuk memahami perubahan bunyi yang terjadi dalam satuan hitung bahasa Jepang. Data yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berupa transkripsi fonetis dari satuan hitung bahasa Jepang yang ada didalam bahan ajar buku Minna no Nihongo I. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori fonologi generatif dengan melihat fitur distingtif dari setiap segmen. Metode yang digunakan adalah metode padan teknik dasar pilah unsur penentu. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penambahan [+voiced] pada pemarkah satuan hitungnya yang menyebabkan [ҫ] / [h]  [b] dan [s]  [z] jika pemarkahnya tidak berawalan bunyi konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], atau [h]/[ҫ] yang didahului vokal [o]. Selain itu tidak ditemukan perubahan dari [+voiced] menjadi [-voiced]. Kata Kunci: proses fonologis; distingtif fitur; satuan hitung; bahasa jepang 531 532 1. Pendahuluan Satuan hitung dalam bahasa Jepang jumlahnya cukup banyak dan sebagian dipelajari pada level dasar. Materi ini dapat dipelajari pada buku-buku level dasar, seperti pada buku Minna no Nihongo 1 bab 11. Meskipun hanya sebagian satuan hitung bahasa Jepang dipelajari pada level dasar, tetapi materi ini dinilai sebagai salah satu materi yang sulit dipelajari oleh pembelajar asing. Selain macamnya yang banyak, penyebab kesulitan mempelajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya perubahan bunyi. Sebagai contoh perubahan bunyi tersebut adalah angka 3 [saŋ] yang mengalami perubahan pada kondisi tertentu menjadi [san] seperti dalam “3 orang” [sanniŋ] ataupun [sam] seperti dalam “3 batang” [samboŋ]. Selain itu, adanya perubahan bunyi yang terjadi pada pemarkah satuannya, sebagai contoh satuan untuk menghitung benda yang panjang menggunakan [hoŋ] tetapi berubah menjadi [boŋ] dalam kondisi tertentu. Kesalahan pengucapan yang disebabkan oleh adanya perubahan bunyi yang tidak tepat dapat mengakibatkan kesulitan mitra tutur dalam memahami tuturan penutur. Kesalahan pengucapan bunyi yang terjadi terkadang dapat merubah makna dari tuturan tersebut. Sebagai contoh [seƞ] yang berarti “seribu” , sedangkan [ni] yang berarti “dua” makan untuk menyatakan “dua ribu” menjadi [niseƞ], akan tetapi ketika digabungkan dengan [saƞ] yang berarti “tiga” tidak menjadi [sanseƞ] untuk menyatakan “tiga ribu”. Kata [sanseƞ] dalam bahasa Jepang berarti “ikut perang”, sedangkan untuk “tiga ribu” dalam bahasa Jepang diucapkan dengan [sanzeƞ]. Perubahan bunyi yang terjadi pada satuan hitung bahasa Jepang disebabkan karena adanya proses pembentukan kata dari dua buah morfem (angka dan pemarkah satuan hitung). Perubahan bunyi yang disebabkan oleh proses pembentukan kata disebut morfofonemis. Morfofonemis adalah perubahan fonem yang disebabkan adanya proses morfologi, dalam hal ini adalah pembentukan kata antara angka dan pemarkah satuan hitung dalam bahasa Jepang. Penelitian tentang proses fonologis dengan teori transformasi generatif sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Erawati (2012) mengenai asimilasi fonemis bahasa Jawa kuno salah satu tipe morfofonemik. Hasilnya penggabungan /a/ + /i//e/, /a/+/u//o/, proses fonemis antara /u/+/a//w/, /i/+/a//y/, proses fonemis dalam proses morfofonemik dengan nasal berupa keselarasan fitur, pelesapan, dan satu proses fonologis berupa bunyi luncuran antar vokal sehingga dalam bahasa Jawa kuno ditemukan asimilasi fonemis resiprokal, asimilasi fonemis progresif, asimilasi fonemis regresif, dan satu penyisipan bunyi luncuran nasal /n/. Penelitian yang berikutnya dilakukan oleh Sulihiningtyas (2013) tentang proses fonologi bahasa Belanda dengan hasil berupa proses fonologis dalam kata majemuk yang penulisannya menjadi satu terjadi asimilasi progresif (penambahan [-voiced]) dan asimilasi regretif (penambahan [+voiced]), pelesapan bunyi [t] diantara dua obtruent, dan penyisipan bunyi labial [p] diantara bunyi [t] dan [i]. Penelitian yang selanjutnya oleh Muslihah (2018) tentang proses penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang. Hasilnya ditemukan beberapa proses fonologis berupa penambahan segmen /u/ dan /o/ di tengah dan akhir kata, substitusi fonem /l/ menjadi /r/, substitusi fonem /v/ menjadi /b/, subtsitusi fonem /t/ menjadi /c/, dan penambahan segmen /i/ diposisi akhir setelah fonem /t/ dan /d/. Copyright ©2020, ISSN: 2598-3040 online 533 Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu pada objek dan fokus yang diteliti. Objek dan fokus penelitian pertama dan kedua berup (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/download/9666/4983
Article home page: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/view/9666/4983

Satyanto Satyanto, Deli Nirmala. Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif, Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi, 2020, pp. 531-542,