REDESAIN TERMINAL TIRTONADI DENGAN PENDEKATAN GREEN TERMINAL DI SURAKARTA
REDESAIN TERMINAL TIRTONADI DENGAN PENDEKATAN GREEN TERMINAL
DI SURAKARTA
Nur Aini Prisamsiwi, B. Heru Santosa, Leny Pramesti
Program Studi Arsitektur
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Email :
Abstract: Transportation is activity of people and goods in moving from one place to another place.
Good transportation must be supported by good infrastructures. Transportation infrastructures consist
of road, bus stop, bus terminal, rail road, train station, and airport. Bus terminal is one infrastructure
which had by every city in Indonesia. Redesigning Tirtonadi Bus Terminal Surakarta is built upon the
existing condition of Tirtonadi Bus Terminal in 2013 and the final result of Tirtonadi Bus Terminal
development that is not appropriate with Green Terminal concept chosen by the management and the
Local Government of Surakarta. This redesign is aimed to obtain appropriate Green Terminal design
to change the dirty and polluting image of the bus terminal. The main problem of this design is how to
redesign Tirtonadi Bus Station Surakarta by applying Green Terminal Principles. The approach used
in this deisgn is Green Terminal principles, they are: ecofriendly builing, eficiency of energy, air
quality, water conservation, security, and renewable natural recources management. The result of
redesign is Tirtonadi Bus Terminal Surakarta with appropriate Green Terminal concept that the station
can be more safe and convenient for the visitors and the building can maintain harmony between
architecture and surrounding environment.
Keywords: Architecture, Transportation, Redesigning, Bus Terminal, Green Terminal
1. PENDAHULUAN
Transportasi
merupakan
proses
kegiatan memindahkan barang dan orang
dari satu tempat ke tempat yang lain.
Transportasi adalah sarana untuk mencapai
tujuan guna menanggulangi kesenjangan
jarak dan waktu (Morlok, 1988).
Di Indonesia, sistem transportasi
diatur dalam Sistem Transportasi Nasional
atau Sistranas yang terdiri dari transportasi
jalan, kereta api, sungai, danau, dan
penyeberangan yang membentuk sebuah
jaringan sehingga transportasi yang efektif
dan efisien.
Setiap kota atau kabupaten di
Indonesia pada umumnya memiliki
terminal sebagai sarana penghubung dalam
kota, antarkota, maupun antarnegara
dengan tipe terminal yang sesuai dengan
cakupan area yang dilayani.
Piala Wahana Tata Nugraha yang
didapatkan oleh Kota Surakarta pada tahun
2010 menjadi acuan Kota Surakarta untuk
menerapkan
Sustainable
Transport
System. Hal tersebut diwujudkan dengan
adanya pelebaran dan pengembangan
Terminal Tirtonadi Surakarta dengan
konsep Green Terminal yang diwujudkan
dengan alokasi ruang terbuka hijau sebesar
10% dari luas terminal.
Terminal
Tirtonadi
Surakarta
merupakan terminal Tipe A yang melayani
angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP),
angkutan antarkota dalam provinsi
(AKDP), angkutan dalam kota dan
angkutan pedesaan. Terminal Tirtonadi
Surakarta melayani penumpang selama 24
jam karena Terminal Tirtonadi merupakan
terminal yang dilintasi oleh banyak trayek
yang menghubungkan satu kota dengan
kota lain di Pulau Jawa.
Konsep Green Terminal memiliki
beberapa aspek penting, antara lain:
bangunan
yang
seirama
dengan
lingkungan, efisiensi energi, kualitas
udara, keamanan, penggunaan dan
Arsitektura, Vol. 13, No. 1, April 2015
pengelolaan sumber daya alam terbarukan
(Pedric, 2006)
Penelitian awal yang telah dilakukan
pada tiga tahap pembangunan terminal
(2010-2013) menunjukkan bahwa terdapat
beberapa aspek yang tidak sesuai dengan
konsep Green Terminal, antara lain:
lampu dinyalakan pada siang hari
karena
ruangan
yang
tidak
mendapatkan pencahayaan alami yang
cukup;
sistem pendingin udara diatur hingga
18oC;
desain
emplasemen
dan
parkir
kendaraan yang berada di dalam
ruangan mengakibatkan gas buang
kendaraan tidak dapat keluar ruangan;
desain emplasemen yang paralel dengan
ruang tunggu mengakibatkan calon
penumpang menyeberangi jalur bus
untuk menuju emplasemen.
Berdasarkan poin-poin di atas maka
permasalahannya adalah “Bagaimana
Konsep Perencanaan dan Perancangan
Redesain Terminal Tirtonadi dengan
Pendekatan Green Terminal”
2. METODE
Metode yang dilakukan untuk
mencapai tujuan dan sasaran adalah
metode pemrograman arsitektur yang
terdiri dari gagasan awal, penelusuran dan
rumusan permasalahan, pencarian data
(referensi, preseden, dan teoritik),
pengolahan data dan informasi, dan konsep
perancangan
(building
performance
concept) dan konsep perancangan
(programming and design criteria) dan
transformasi arsitektur.
2.1 Temuan dan Penelusuran Masalah
Problem Finding)
Penelusuran masalah dimulai dengan
survey awal yang dilakukan pada area
pengembangan Terminal Tirtonadi
Surakarta yang didesain sebagai green
terminal. Permasalahan yang banyak
muncul adalah bangunan yang kurang
memenuhi konsep green terutama pada
masalah pencahayaan dan penghawaan.
Di samping itu, sistem sirkulasi dari luar
maupun dalam terminal harus dapat
memberikan keamanan dan kenyamanan
bagi penggunanya.
2.2 Temuan Konsep Perencanaan dan
Perancangan
Pemahaman tentang Redesain Terminal
Tirtonadi
Surakarta
dikembangkan
dengan adanya kajian pustaka: teoritik,
preseden, dan pengetahuan empirik.
2.3 Pendekatan dan Temuan Konsep
Perencanaan
Perumusan
konsep
perancangan
dilakukan dengan metode induktif, yaitu
pendekatan berdasarkan pengetahuan
empirik mengenai Redesain Terminal
Tirtonadi Surakarta dengan Pendekatan
Green Terminal dan metode deduktif,
yaitu pendekatan berdasarkan teori yang
membantu mengarahkan pembahasan
sesuai dengan perencanaan yang
diinginkan. Cara yang digunakan adalah:
1. Analisis
Suatu sistem bangunan merupakan
terdiri dari beberapa komponen yang
diprogramkan. Uraian dan kajian dari
data dan informasi digunakan sebagai
data yang relevan. Analisis data
dilakukan dengan metode analisis
deskriptif melalui uraian data serta
informasi yang disertai gambar. Tahap
analisis terbagi menjadi:
a. Program
fungsional
untuk
mengidentifikasi
pengguna
Terminal
Tirtonadi
Surakarta
dengan pendekatan green terminal
yaitu pengguna, kegiatan pengguna,
alur kegiatan, dan lain-lain.
b. Program
performansi
untuk
menentukan skema kebutuhan
pengguna seperti kebutuhan ruang,
persyaratan ruang, program ruang,
dan lain-lain.
c. Analisis arsitektural merupakan
tahap
penggabungan
hasil
identifikasi program fungsional dan
performansi. Proses ini dilakukan
dengan analisis pengolahan tapak,
massa, citra bangunan, tampilan,
peruangan, utilitas, dan struktur
bangunan.
Nur Aini Prisamsiwi, B. Heru Santosa, Leny Pramesti, Redesain Terminal Tirtonadi dengan Pendekatan ...
2. Sintesis
Tahap ini merupakan penggabungan
referensi yang berupa teori maupun
preseden dan hasil analisis fakta di
lapangan
sehingga
didapatkan
kesimpulan untuk mendapatkan konsep
perancangan yang sesuai yang nantinya
ditransformasikan ke bentuk ungkapan
fisik yang dikehendaki sesuai dengan
program fungsional, performansi, dan
arsitektural.
3 ANALISIS
3.1 Analisis Peruangan
Analisis kebutuhan ruang bertujuan unt (...truncated)