Kajian Strategi Desain Terminal Bus Berkelanjutan Studi Kasus Terminal Induk di Kota Bekasi
ARSITEKTURA
Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
ISSN 2580-2976 E-ISSN 1693-3680
https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/issue/archive
Volume 22 Issue 1 April 2024, pages: 25-36
DOI https://doi.org/10.20961/arst.v22i1.81401
Kajian Strategi Desain Terminal Bus Berkelanjutan
Studi Kasus Terminal Induk di Kota Bekasi
Study on the Sustainable Bus Terminal Design Strategies
A Case Study of the Main Bus Terminal in Bekasi City
Affan Maulana Yasin1*, Sri Yuliani2
Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia 1
Research Group of Sustainable Architecture, Engineering Faculty, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia 2
*Corresponding author:
Article history
Received: 08 Dec 2023
Accepted: 14 Dec 2023
Published: 30 April 2024
Abstract
Urban transportation is experiencing rapid growth in line with the increasing
population, particularly in cities like Bekasi. Despite advancements in transportation
modes in Bekasi, the Bekasi City Bus Terminal, classified as a Type A passenger
terminal, still struggles to meet the mobility needs of its residents. The terminal faces
various challenges, including traffic congestion, insufficient security and comfort in
circulation, limited supporting facilities, poor services, and high environmental
pollution levels. Therefore, this research aims to propose a redesign for the Bekasi City
Bus Terminal, incorporating sustainable architectural principles. The research
methodology involves a theoretical review using content analysis. The study results
emphasize the necessity for design criteria that facilitate efficient circulation, transition
spaces, and economic functionality in the bus terminal. Consideration of environmental
conservation principles and building energy efficiency is crucial in this redesign
process.
Keywords: bus station; design strategy; sustainable architecture; theoretical review
Abstrak
Pertumbuhan transportasi di perkotaan sangat pesat sejalan dengan populasi yang
meningkat, termasuk di Kota Bekasi. Namun, dari banyaknya kemajuan dan inovasi
pada moda transportasi di Kota Bekasi, Terminal Bus Induk Kota Bekasi masih belum
dapat mengakomodasi kebutuhan mobilitas penduduknya. Terminal penumpang tipe A
tersebut saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemacetan, kurangnya
keamanan dan kenyamanan sirkulasi, keterbatasan fasilitas penunjang, pelayanan
rendah, dan tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk menghasilkan sebuah rancangan ulang terminal bus induk di Kota
Bekasi dengan penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan. Metode penelitian yang
digunakan adalah kajian teori dengan metode analisis konten. Hasil penelitian
menunjukkan perlunya kriteria desain bangunan terminal bus yang memfasilitasi ruang
sirkulasi, transisi, dan ekonomi, dengan mempertimbangkan prinsip konservasi
lingkungan dan efisiensi energi bangunan.
Kata kunci: terminal bus; strategi desain; arsitektur berkelanjutan; kajian teori
__________
Cite this as: Yasin. A. M., Yuliani. S. (2024). Kajian Strategi Desain Terminal Bus Berkelanjutan di Kota Bekasi. Article. Arsitektura : Jurnal
Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, 22(1), 25-36. doi: https://doi.org/10.20961/arst.v22i1.81401
25
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 22 (1) April 2024: 25-36
1. PENDAHULUAN
Kota Bekasi, sebagai kota satelit Jakarta,
mengalami pertumbuhan penduduk sekitar 4%
setiap tahunnya karena aliran penduduk dari
Jakarta. Konsekuensi dari peningkatan jumlah
penduduk tersebut cukup beragam, di antaranya
peningkatan aktivitas dalam sektor industri,
perdagangan, jasa, dan permukiman (Syauqi
dan Ardyanto 2019). Pertumbuhan penduduk
yang pesat di Kota Bekasi dan sekitarnya
berpotensi meningkatkan mobilitas penduduk
(Putri 2021).
Kota Bekasi mengalami kenaikan penduduk
yang pesat, dengan 60% dari penduduknya
merupakan penduduk komuter dari Jakarta
(Tazkiyah dan Libania 2014). Berdasarkan
statistik Komuter Jabodetabek 2019, ada
sebanyak 373.125 jiwa penduduk Kota Bekasi
yang melakukan komuter menuju luar Kota
Bekasi (Savitri dan Santo 2023). Pertumbuhan
mobilitas penduduk harus didukung dengan
peningkatan fasilitas transportasi kota. Hal ini
yang terjadi di Kota Bekasi dengan hadirnya
moda transportasi LRT Jabodetabek, Kereta
Rel Listrik (KRL), hingga Kereta Cepat
WHOOSH.
kendaraan hanya 21,86 km/jam, lebih lambat
daripada Tangerang, yakni 22 km/jam dan
Medan, yakni 23,4 km/jam (Hartono & Arthaya
2016).
Makin meningkatnya inovasi pada moda
transportasi di Kota Bekasi dan sekitarnya tidak
membuat salah satu fasilitas transportasi umum
di Kota Bekasi, yakni terminal bus induk juga
ikut berkembang. Menurut Keputusan Menteri
Perhubungan RI dalam KM 31 tahun 1995,
terminal dibagi menjadi dua, yaitu Terminal
Penumpang dan Terminal Barang. Terminal
penumpang adalah prasarana transportasi jalan
untuk keperluan menurunkan dan menaikkan
penumpang, serta perpindahan intra dan/atau
antar moda transportasi. Sementara itu,
terminal barang adalah prasarana transportasi
jalan untuk keperluan membongkar dan
memuat barang, serta perpindahan antar moda
transportasi
Terminal bus penumpang merupakan tempat
penumpang dan barang melakukan proses naik
dan turun dari transportasi, serta sering menjadi
tempat untuk perubahan rute atau moda
transportasi (Utama, Arifin, dan Wicaksono
2014).
Meskipun infrastruktur transportasi darat di
Kota Bekasi terus berkembang, kendaraan
pribadi masih menjadi pilihan utama
masyarakat sekitar. Perkembangan kota tanpa
fasilitas transportasi umum yang memadai
dapat mengurangi minat masyarakat untuk
menggunakan moda transportasi umum (Putri
2021).
Kondisi terminal bus induk Kota Bekasi saat ini
memiliki banyak permasalahan. Di antaranya
adalah penataan area dalam terminal yang tidak
tertata dan berantakan. Permasalahan tersebut
menimbulkan
dampak
seperti
tingkat
kenyamanan dan keamanan yang berada di
bawah standar, serta tingkat kebersihan yang
rendah (Utama, Arifin, dan Wicaksono 2014).
Mayoritas kendaraan yang digunakan oleh
penduduk di Kota Bekasi adalah kendaraan
pribadi (76%), terdiri dari 64% sepeda motor,
20% mobil, dan sisanya adalah kendaraan bak.
Kendaraan umum hanya menyumbang 24%
(Prayogo 2016).
Selain itu, isu sirkulasi, aksesibilitas, dan
fasilitas juga sangat terasa di terminal ini
(Utama, Arifin, dan Wicaksono 2014). Isu
aksesibilitas sangat memengaruhi keinginan
masyarakat untuk berjalan kaki dari atau
menuju Terminal Bus Bekasi dari tempattempat pemberhentian transportasi umum
terdekat (Karlinda, Rulhendri, dan Murtejo
2022).
Dengan kecenderungan penggunaan kendaraan
pribadi yang tinggi dan sejalan dengan
pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat
dapat meningkatkan kemacetan di Kota Bekasi.
Kemacetan yang diakibatkan oleh kendaraan
pribadi disebabkan oleh daya tampung
kendaraan yang rendah dan memakai ruas jalan
yang cukup besar (Ananda, Armijaya, dan
Prasetyo 2023). Kemacetan di Kota Bekasi saat
ini mengakibatkan (...truncated)