THEORETICAL STUDY OF RELATIONSHIP BETWEEN LOCATIONS SELECTION AND LOW INCOME COMMUNITIES IN INDONESIA

Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Apr 2019

The location preference for each individual is different because influenced by various factors. Nowadays, various dynamics of these factors have changed and resulted in the displacement of housing to meet better living. This paper tries to explore various theoretical studies regarding the tendency of location selection by low-income communities. This theoretical study was compiled from various studies consisting of results of studies, and results of previous research publications related to the topic of this study. The research method is carried out by data processing techniques derived from literature studies, the discovery of important keywords and theoretical frameworks for the final part of the writing this paper. The factors that influence the choice of location selection between general public and low income communities are almost same but different priorities. Accessibility that makes it easier for residents to access various locations to be addressed is a priority in choosing location selection for the people, while low-income communities prioritize consideration of the distance of location selection to workplaces. Another low-income people choose to live in the downtown area for the convenience of living close to job providers, while others choose to live on the outskirts of the city with consideration of affordable land.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/article/download/28732/20252

THEORETICAL STUDY OF RELATIONSHIP BETWEEN LOCATIONS SELECTION AND LOW INCOME COMMUNITIES IN INDONESIA

ARSITEKTURA Vol 17, No.1, 2019; halaman 99-108 Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan ISSN:1693-3680 (PRINT) E- ISSN:2580-2976 (ONLINE) https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura DOI: https://dx.doi.org/10.20961/arst.v17i1.28732 Received : March 18, 2019 Revised : Aoril 15, 2019 Accepted : April 16, 2019 Available online: April 30, 2019 THEORETICAL STUDY OF RELATIONSHIP BETWEEN LOCATIONS SELECTION AND LOW INCOME COMMUNITIES IN INDONESIA KAJIAN TEORITIK HUBUNGAN ANTARA PEMILIHAN LOKASI HUNI DENGAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI INDONESIA Ayuko Setyo Adiyanti 1*, Ikaputra2 Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada1 * Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada 2 Abstract The location preference for each individual is different because influenced by various factors. Nowadays, various dynamics of these factors have changed and resulted in the displacement of housing to meet better living. This paper tries to explore various theoretical studies regarding the tendency of location selection by low-income communities. This theoretical study was compiled from various studies consisting of results of studies, and results of previous research publications related to the topic of this study. The research method is carried out by data processing techniques derived from literature studies, the discovery of important keywords and theoretical frameworks for the final part of the writing this paper. The factors that influence the choice of location selection between general public and low income communities are almost same but different priorities. Accessibility that makes it easier for residents to access various locations to be addressed is a priority in choosing location selection for the people, while low-income communities prioritize consideration of the distance of location selection to workplaces. Another low-income people choose to live in the downtown area for the convenience of living close to job providers, while others choose to live on the outskirts of the city with consideration of affordable land. Keywords: theoretical studies, low income communities, locations selection. 1. PENDAHULUAN Setiap individu memiliki hak asasi untuk bermukim sebagai kebutuhan dasar dengan menghuni rumah yang layak dan terjangkau sesuai dengan Undang-undang nomor 1 tahun 2011. Masyarakat memiliki pilihan masingmasing terhadap keinginan untuk tinggal di sebuah tempat. Preferensi lokasi bermukim tiap individu atau keluarga berbeda-beda karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain lingkungan sekitar huni, fasilitas sekitar yang tersedia, akses menuju tempat kerja, pendapatan, transportasi yang masing-masing individu memiliki prioritas tersendiri terhadap berbagai faktor tersebut. Dalam perkembangannya, terjadi berbagai dinamika dimana faktor-faktor tersbut berubah dan mengakibatkan terjadinya perpindahan tempat tinggal demi memenuhi kenyamanan huni yang lebih baik. Studi mengenai pemilihan lokasi huni bagi masyarakat sudah banyak di lakukan, namun alasan di balik pemilihan lokasi tersebut belum dijabarkan secara umum. Sehingga diperlukan kajian-kajian dari berbagai literature yang berhubungan dengan alasan atau faktor-faktor Arsitektura, Vol. 17, No.1, April 2019: 99-108 yang mempengaruhi di balik pemilihan lokasi huni, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Tulisan ini akan mencoba mengupas berbagai kajian teoritik mengenai kecenderungan pemilihan lokasi huni oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Teori-teori yang dikumpulkan didapatkan dari buku-buku lama hingga buku terkini serta jurnal-jurnal terbitan terbaru. 1.1. Berbagai Kajian Pengertian ‘Masyarakat Berpenghasilan Rendah’ Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah (Puslitbangkim, Inovasi Kebijakan Sistem Penyelenggaraan Perkim Menuju Masyarakat Sejahtera 2018). Manakala kita bicara tentang perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, potret yang terbayang dan muncul di benak kepala biasanya adalah perumahan yang padat, kacau balau tidak teratur, kotor, merusak atau ‘menodai’ citra kota (Budihardjo, 1987). Masalah kemiskinan erat berkaitan dengan keterbatasan asset dan akses yang dimiliki oleh lapisan masyarakat ini (Susanto, 1992: 1). Potret masyarakat berpenghasilan rendah ini tercermin dari kondisi sosial ekonomi dalam kehidupannya dan ditunjukkan dengan kondisi perumahan masyarakat diberbagai wilayah. Baik di perdesaan maupun di perkotaan masih dalam kondisi yang tidak layak. Di pedesaan banyak dijumpai rumah penduduk berdinding kayu, beratap daun dan berlantai tanah. Ketidaklayakan rumah mereka juga terlihat dari kondisi prasarana, sarana dan utilitas yang masih belum memadai bagi kelangsungan hidup mereka. Khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan miskin yang menghuni perumahan dan tempat-tempat yang tidak layak, mereka hidup dengan keterpaksaan di kampung-kampung kumuh, di kolong-kolong jembatan, pinggiran rel kereta api, bantaran sungai, pasar, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan hidupnya (Sumarwanto, 2014). Masyarakat berpenghasilan rendah merupakan masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam memiliki maupun membeli rumah (Permenpera, 2012). 100 1.2. Kategori ‘Masyarakat Berpenghasilan Rendah’ Menurut Hendrikus dalam thesisnya yang berjudul “Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Melalui Program Pemberdayaan Fakir Miskin Kelompok Usaha Bersama”, masyarakat berpenghasilan rendah diartikan masuk dalam kategori desil 1-desil 4 yaitu dengan status sangat miskin (warga tersebut tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk berdaya sendiri. Ia tidak memiliki kemampuan untuk berpenghasilan), miskin (masih memiliki kemampuan untuk berusaha namun menghadapi berbagai keterbatasan), rentan miskin, dan hampir miskin (Hendrikus, 2016). Desil adalah nilai yang menentukan batas interval dari sebaran frekuensi yang berderet dalam sepuluh bagian sebaran yang sama (KBBI, 2018). Namun yang digunakan Pulitbangkim, Kemen PUPR untuk pengelompokan Masyarakat Berpenghasilan Rendah dengan status kesejahteraan Desil 1-3 (10%-30%) (Puslitbangkim, 2018). Diungkapkan oleh Greder, The U.S. Census Bureau measures absolute poverty by using a set of money income thresholds that vary by family size and composition. If a family's income is less than the threshold for a family of its size, then every individual in that family, as well as the family itself, is identified as poor (Greder, 2000), yang artinya U.S. Census Bureau menentukan ambang batas kemiskinan berdasarkan variasi ukuran dan komposisi dalam sebuah keluarga, jika pendapatan harian yang kurang dari ambang batas itulah yang diidentifikasikan dalam kategori miskin. 1.3. Faktor-Faktor Pemilihan Lokasi Huni Seseorang Dalam ke (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/article/download/28732/20252
Article home page: https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/article/view/28732/20252

Adiyanti Ayuko Setyo, Ikaputra Ikaputra. THEORETICAL STUDY OF RELATIONSHIP BETWEEN LOCATIONS SELECTION AND LOW INCOME COMMUNITIES IN INDONESIA, Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, 2019, pp. 99-108,