Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar

Community Services Journal (CSJ), Nov 2022

Menggali potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, mengenal potensi secara mendalam menjadi agenda penting bagi suatu kawasan. Selain memiliki objek wisata sawah yang berundak-undak, Tegallalang sejatinya memiliki keberagaman warisan budaya baik warisan budaya dalam wujud benda maupun warisan budaya tak benda. Tegallalang telah memiliki beberapa aspek-aspek yang dapat menguatkan lingkungan binaan pada suatu kawasan yang menjadi tujuan wisata heritage, diantaranya memiliki situs bersejarah yang terdapat pada Pura yang berlokasi di kawasan Desa Tegallalang, selanjutnya Desa Tegallalang memiliki tradisi ritual Ngerebeg, kemudian memiliki barang-barang warisan seperti lontar yang termasuk unsur kesusastraan, dalam hal potensi wisata alam ialah dalam hal persawahan, dan terakhir ciri khas kesenian masyarakat Desa Tegallalang menekuni seni rupa, seni musik dan tari tradisional. Perencanaan penataan seluruh wantilan yang ada di Desa Tegallalang akan menjadi penunjang kebutuhan ruang publik sebagai bagian dari fasilitas infrastruktur wisata pusaka. Penambahan ruang-ruang yang lebih spesifik untuk fungsi tertentu akan memberikan kenyamanan lebih bagi penggunanya, seperti fasilitas toilet, dan fasilitas ramah anak. Bangunan yang tergolong arsitektur tradisional Bali kali ini akan menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Desa Tegallalang sebagai destinasi wisata pusaka. Untuk mengetahui potensi yang ada maka diperlukan pengamatan dengan studi literatur, survey lapangan, serta wawancara dengan narasumber yang terkait, dan metode pengumpulan data lainnya yang dapat mendukung. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi kemudian mengembangkannya, serta mendapatkan keuntungan dari potensi yang ada bagi masyarakat luas.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/csj/article/download/5993/4054

Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar

Community Services Journal (CSJ), 5 (1) (2022), 41-49 Community Services Journal (CSJ) Jurnal Homepage: https://ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/csj/index Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar I Made Pasek Satya Bhuana*, I Wayan Runa, Agus Kurniawan dan I Wayan Parwata Universitas Warmadewa, Denpasar-Bali, Indonesia *Corespondence e-mail: How To Cite: Bhuana, I. M. P. S., Runa, I. W., Kurniawan, A., & Parwata, I. W. (2022). Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar. Community Service Journal (CSJ), 5 (1), 41-49. https://doi.org/10.22225/csj.5.1.2022.41-49 Abstract Menggali potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, mengenal potensi secara mendalam menjadi agenda penting bagi suatu kawasan. Selain memiliki objek wisata sawah yang berundakundak, Tegallalang sejatinya memiliki keberagaman warisan budaya baik warisan budaya dalam wujud benda maupun warisan budaya tak benda. Tegallalang telah memiliki beberapa aspek-aspek yang dapat menguatkan lingkungan binaan pada suatu kawasan yang menjadi tujuan wisata heritage, diantaranya memiliki situs bersejarah yang terdapat pada Pura yang berlokasi di kawasan Desa Tegallalang, selanjutnya Desa Tegallalang memiliki tradisi ritual Ngerebeg, kemudian memiliki barang-barang warisan seperti lontar yang termasuk unsur kesusastraan, dalam hal potensi wisata alam ialah dalam hal persawahan, dan terakhir ciri khas kesenian masyarakat Desa Tegallalang menekuni seni rupa, seni musik dan tari tradisional. Perencanaan penataan seluruh wantilan yang ada di Desa Tegallalang akan menjadi penunjang kebutuhan ruang publik sebagai bagian dari fasilitas infrastruktur wisata pusaka. Penambahan ruang-ruang yang lebih spesifik untuk fungsi tertentu akan memberikan kenyamanan lebih bagi penggunanya, seperti fasilitas toilet, dan fasilitas ramah anak. Bangunan yang tergolong arsitektur tradisional Bali kali ini akan menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Desa Tegallalang sebagai destinasi wisata pusaka. Untuk mengetahui potensi yang ada maka diperlukan pengamatan dengan studi literatur, survey lapangan, serta wawancara dengan narasumber yang terkait, dan metode pengumpulan data lainnya yang dapat mendukung. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi kemudian mengembangkannya, serta mendapatkan keuntungan dari potensi yang ada bagi masyarakat luas. Kata Kunci: Infr astr uktur ; per encanaan; pusaka CC-BY-SA 4.0 License, Community Services Journal (CSJ), ISSN 2654-9360, E-ISSN 2654-9379 Community Services Journal (CSJ), 5 (1) (2022), 42 Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar 1. PENDAHULUAN Gianyar merupakan kabupaten yang memiliki banyak potensi destinasi wisata mulai dari wisata alam, budaya, sepiritual dan wisata cabang lainnya. Hal tersebut menjadikan Kabupaten Gianyar terus berbenah dalam bidang penataan infrastruktur kotanya. Gianyar sangat strategis dalam hal lokasi, karena dilewati oleh masyarakat yang melintang dari Kabupaten Bangli, Klungkung, Denpasar serta Kabupaten Badung. Tidak sedikit desa yang berusaha memanfaatkan potensi wilayahnya dalam hal mengembangkan destinasi wisata. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Gianyar pertahun 2018 terdapat 62 destinasi wisata yang tersebar setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Gianyar. Desa Tegallalang merupakan salah satu bagian dari kecamatan Tegallalang yang memiliki destinasi wisata yang menarik. Tegallalang merupakan destinasi wisata alam yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Gianyar tertuang dalam Perda Kabupaten Gianyar no.16 Tahun 2012. Objek wisata terasering yang merupakan destinasi wisata alam tersebut bernama Ceking Ricee Terrace. Hamparan wisata alam persawahan dapat dinikmati para wisatawan yang melintas dari Ubud menuju Kintamai atau sebaliknya dengan wisata yang berkonsep ekowisata. Ekowisata adalah pariwisata ramah lingkungan yang menjadi trend ke depan. Hal itu harus diikuti dengan pemahaman konsep, penetapan standar, dan sertifikasi yang semuanya itu menjadi kompetisi di era global. Sertifikasi membantu karena konsumen mudah memilih, mendorong perbaikan berlanjut, menjaga lingkungan, kontribusi terhadap masyarakat lokal dan konservasi, serta meningkatkan profit (Runa, 2012) Dengan adanya objek wisata yang ditetapkan oleh pemerintah, maka terjadi pertumbuhan destinasi wisata baru yang dikelola oleh perseorangan atau perusahaan yang memanfaatkan momentum perkembangan objek wisata di Tegallalang. Sebelum dikelola sebagai destinasi wisata alam, Tegallalang terkenal oleh industri kerajinan tangan disepanjang pinggir jalan raya Tegallalang. Hal tersebut mengakibatkan Tegallalang disebut-sebut memiliki pasar kerajinan terpanjang di dunia yang ditemani oleh Pasar Ubud dan Pasar Sukawati. Praktik industri kerajinan tangan tersebut juga mengubah citra arsitektur dilingkungan permukiman di sepanjang jalan Desa Tegallalang. Heritage memiliki makna sebagai warisan budaya masa lalu yang perlu diwariskan (konvesi UNESCO, 1972). Sedangkan UNESCO juga menyatakan bahwa cultural heritage terdiri dari tangible cultural heritage (materiil cultural heritage) dan Intangible cultural heritage (Immateriil cultural heritage). Tangible cultural heritage dapat terdiri dari: 1) warisan budaya yang dapat dipindahkan contohnya, lukisan, patung, koin, naskah kuno; 2) warisan budaya yang tidak dapat dipindahkan seperti monumen, situs arkeologis; 3) warisan budaya di bawah air contohnya kapal karam, situs dan reruntuhan di bawah air. Sedangkan Intangible cultural heritage atau warisan budaya tak benda terdiri atas tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual. Heritage merupakan segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam (Howard, 2003). Pada tahun 2020 Desa Tegallalang mengajukan satu tradisi dalam warisan budaya tak benda yaitu tradisi Ngerebeg. Tradisi Ngerebeg merupakan pusaka budaya (cultural heritage) milik Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya (Karma, 2017). Selain kebudayaan tersebut, beberapa peninggalan purbakala juga dapat dijelejahi dibeberapa pura di Desa Tegallalang seperti, Pura Desa, dan Pura Bolo. Maka selain terkenal dengan industri pariwisata Desa Tegallalang juga memiliki kekayaan pusaka budaya yang perlu diperhatikan sebagai catatan sejarah masyarakat Bali pada umumnya. Menurut Undang-Undang No.9 tahun 2009 tentang pariwisata, pengertian pariwisata adalah berbagai macam kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan CC-BY-SA 4.0 License, Community Services Journal (CSJ), ISSN 2654-9360, E-ISSN 2654-9379 Community Services Journal (CSJ), 5 (1) (2022), 43 Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha d (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/csj/article/download/5993/4054
Article home page: https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/csj/article/view/5993/4054

Bhuana I Made Pasek Satya, Runa I Wayan, Agus Kurniawan, Parwata I Wayan. Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar, Community Services Journal (CSJ), 2022, pp. 41-49,