Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur
Terakreditasi Sinta 3 | Volume 4 | Nomor 4 | Tahun 2021 | Halaman 425—440
P-ISSN 2615-725X | E-ISSN 2615-8655
http://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/280
Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur
Phonology in Minangkabau Language of Sikucur Isolect
Nastiti Kharisma1,*, Nadra2, dan Reniwati3
1,2,3
Program Magister Linguistik, Universitas Andalas Padang
1,*
Email:
2
Email:
3
Email:
Received: 25 July 2021 Accepted: 2 October 2021 Published: 2 November 2021
Abstract: Minangkabau language is one of the regional languages in Indonesia. The purpose of this study was to determine
the sounds, phonemes and their distributions in Minangkabau language of Sikucur isolect. The observation and interview
methods were used to obtain data. During the interview, the results of the interview were recorded and phonetic transcription
was made based on IPA chart. Furthermore, the method used to analyze the data was a phonetic articulator matching method.
The data that had been collected was classified according to sound pairs that were phonetically similar. The results showed that
there were 30 phonemes found. There were five vowels: /i/, /e/. /a/, /u/, and /o/. Each vowel had an allophone, namely
[i~ɪ], [e~ɛ], [a~ʌ], [u~ʊ], dan [o~ɔ]. There were seven diphthongs: /aw/, /ay/, /uy/, /ua/ with allophones [ua~ue], /ia/
with allophones [ia~ie], /oy/, and /ea/. Finally, there were eighteen consonants: /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /l/, /ʀ/,
/s/, /c/, /j/ , /ɲ/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/, /w/, and /y/. The sound [ʔ] was the realization of /k/ when it was at the end of
the closing syllable. Furthermore, [ʀ] and [r] were free variations and did not differentiate in meaning.
Keywords: sounds, phonemes, Minangkabau language, Sikucur isolect
Abstrak: Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia. Penuturnya terutama tersebar di
beberapa daerah di Sumatera Barat. Setiap daerah mempunyai ciri khas, salah satunya dari segi fonologisnya.
Salah satu perbedaan tersebut terdapat pada bahasa yang dituturkan di Nagari Sikucur. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bunyi, fonem beserta distribusinya yang terdapat dalam bahasa Minangkabau isolek Sikucur.
Metode untuk memperoleh data ialah metode cakap dan simak. Selama wawancara berlangsung, hasilnya
direkam, dicatat, dan dibuat transkripsi fonetisnya berdasarkan IPA chart. Selanjutnya, metode analisis data
adalah metode padan fonetis artikularoris. Data yang telah dikumpulkan dikelompokkan sesuai dengan pasangan
bunyi yang memiliki kemiripan secara fonetis. Hasil penelitian menunjukkan ada 30 fonem. Terdapat lima fonem
vokal: /i/, /e/. /a/, /u/, dan /o/ dengan alofonnya, yaitu [i~ɪ], [e~ɛ], [a~ʌ], [u~ʊ], dan [o~ɔ]. Ada tujuh fonem
diftong: /aw/, /ay/, /uy/, /ua/ dengan alofon [ua~ue], /ia/ dengan alofon [ia~ie], /oy/, dan /ea/. Terakhir,
ada delapan belas fonem konsonan: /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /l/, /ʀ/, /s/, /c/, /j/, /ɲ/, /k/, /g/, /ŋ/,
/h/, /w/, dan /y/. Bunyi [ʔ] merupakan realisasi dari /k/ apabila berada di silabel akhir tertutup. Selanjutnya,
[ʀ] dan [r] merupakan variasi bebas dan tidak membedakan makna.
Kata kunci: bunyi, fonem, bahasa Minangkabau, isolek Sikucur
To cite this article:
Kharisma, N., Nadra, N., & Reniwati, R. (2021). Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur. Diglosia: Jurnal
Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(4), 425—440. https://doi.org/10.30872/diglosia.v4i4.280
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya is licensed under a Creative Commons
Attribution-Share Alike 4.0 International License.
N. Kharisma, Nadra, & Reniwati
A.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam bahasa daerah. Oleh
karena itu, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bilingual atau
multilingual karena menggunakan dua atau lebih bahasa dalam kehidupan seharihari. Lia et al. (2018) menyatakan bahwa kemungkinan dalam kehidupan sehari-hari
penggunaan bahasa Indonesia hanya untuk komunikasi tertentu saja seperi pada
komunikasi yang bersifat formal. Sementara, untuk percakapan dalam kehidupan
sehari-hari yang digunakan adalah bahasa daerah masing-masing. Hal ini juga
berlaku untuk masyarakat yang menetap di daerah Sumatera Barat yang dalam
kehidupan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Minangkabau.
Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Penuturnya terutama tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat. Meskipun
penuturnya sama-sama menggunakan bahasa Minangkabau, namun di setiap daerah
terdapat ciri khas tersendiri, salah satunya adalah dari segi fonologisnya. Salah satu
perbedaan tersebut terdapat pada bahasa Minangkabau yang dituturkan di Nagari
Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman. Bahasa
Minangkabau isolek Sikucur (yang selanjutnya disingkat menjadi BMIS) ini juga
memiliki kaidah yang bersistem. Sistem inilah yang diikuti oleh masyarakat di sana
sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan lancar. Salah satu ciri khas dalam BMIS
adalah adanya penggunaan diftong yang berbeda dengan diftong yang digunakan
pada bahasa Minangkabau umum. Seperti penggunaan diftong [ie] dalam kata
[li.hie] bermakna ‘leher’ dan [ue] dalam kata [ku.hue] yang berarti ‘batuk’. Kedua
diftong ini tidak ditemukan dalam bahasa Minangkabau pada umumnya. Secara
umum, menurut Ayub et al. (1993), bahasa Minangkabau mempunyai 7 diftong.
Diftong-diftong tersebut ialah /ia/, /ua/, /ea/, /uy/, /oy/, /aw/, dan /ay/. Dalam
BMIS, diftong /oy/ juga tidak ditemukan.
Selanjutnya, dalam BMIS juga ditemukan adanya penggunaan bunyi [ʌ],
misalnya dalam kata [u.lʌ] yang bermakna ‘ular’. Selain perbedaan yang diutarakan
di atas, dalam BMIS juga ditemukan bunyi kontoid yang menarik perhatian, yakni
adanya penggunaan bunyi glotal [ʔ] yang berada pada silabel akhir, contohnya dalam
kata [ka.ʀuyʔ] yang artinya ‘rambut ikal’. Selain itu, Nagari Sikucur termasuk salah
satu daerah di Sumatera Barat yang menggunakan [ʀ] uvular. Hal ini dapat dilihat
dalam kata [sa.ʀiaŋ] yang artinya adalah ‘gigi taring’.
Selain ciri khas yang diutarakan di atas, alasan lain penelitian fonologi BMIS
ini perlu dilakukan adalah karena sejauh pengetahuan peneliti, belum ada penelitian
mengenai BMIS, terutama dalam bidang fonologi. Hal ini diharapkan mampu
menambah perbendaharaan penelitian bahasa daerah yang ada di Sumatera Barat,
khususnya pada bidang fonologi. Dengan demikian, BMIS ini nantinya dapat diteliti
dan dikembangkan dari berbagai bidang linguistik lainnya.
Penelitian-penelitian mengenai fonologi bahasa daerah telah banyak dilakukan
oleh beberapa peneliti sebelumnya. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh
Rahman et al. (2019) yang melalukan penelitian mengenai bahasa Kerinci dengan
judul “Variasi Bunyi Bahasa Kerinci Isolek Rawang”. Tujuan dari penelitiannya adalah
untuk mengetahui bunyi-bunyi, fonem-fonem, dan variasi bahasa yang terdapat
dalam bahasa Kerinci isolek Rawang. Hasil penelitiannya adalah ditemukan enam
fonem vokal, delapan belas fonem konsonan, dan sepul (...truncated)