Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur

Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Nov 2021

Minangkabau language is one of the regional languages ​​in Indonesia. The purpose of this study was to determine the sounds, phonemes and their distributions in Minangkabau language of Sikucur isolect. The observation and interview methods were used to obtain data. During the interview, the results of the interview were recorded and phonetic transcription was made based on IPA chart. Furthermore, the method used to analyze the data was a phonetic articulator matching method. The data that had been collected was classified according to sound pairs that were phonetically similar. The results showed that there were 30 phonemes found. There were five vowels: /i/, /e/. /a/, /u/, and /o/. Each vowel had an allophone, namely [i~ɪ], [e~ɛ], [a~ʌ], [u~ʊ], dan [o~ɔ]. There were seven diphthongs: /aw/, /ay/, /uy/, /ua/ with allophones [ua~ue], /ia/ with allophones [ia~ie], /oy/, and /ea/. Finally, there were eighteen consonants: /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /l/, /ʀ/, /s/, /c/, /j/ , /ɲ/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/, /w/, and /y/. The sound [ʔ] was the realization of /k/ when it was at the end of the closing syllable. Furthermore, [ʀ] and [r] were free variations and did not differentiate in meaning.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/download/280/151

Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur

Terakreditasi Sinta 3 | Volume 4 | Nomor 4 | Tahun 2021 | Halaman 425—440 P-ISSN 2615-725X | E-ISSN 2615-8655 http://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/280 Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur Phonology in Minangkabau Language of Sikucur Isolect Nastiti Kharisma1,*, Nadra2, dan Reniwati3 1,2,3 Program Magister Linguistik, Universitas Andalas Padang 1,* Email: 2 Email: 3 Email: Received: 25 July 2021 Accepted: 2 October 2021 Published: 2 November 2021 Abstract: Minangkabau language is one of the regional languages in Indonesia. The purpose of this study was to determine the sounds, phonemes and their distributions in Minangkabau language of Sikucur isolect. The observation and interview methods were used to obtain data. During the interview, the results of the interview were recorded and phonetic transcription was made based on IPA chart. Furthermore, the method used to analyze the data was a phonetic articulator matching method. The data that had been collected was classified according to sound pairs that were phonetically similar. The results showed that there were 30 phonemes found. There were five vowels: /i/, /e/. /a/, /u/, and /o/. Each vowel had an allophone, namely [i~ɪ], [e~ɛ], [a~ʌ], [u~ʊ], dan [o~ɔ]. There were seven diphthongs: /aw/, /ay/, /uy/, /ua/ with allophones [ua~ue], /ia/ with allophones [ia~ie], /oy/, and /ea/. Finally, there were eighteen consonants: /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /l/, /ʀ/, /s/, /c/, /j/ , /ɲ/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/, /w/, and /y/. The sound [ʔ] was the realization of /k/ when it was at the end of the closing syllable. Furthermore, [ʀ] and [r] were free variations and did not differentiate in meaning. Keywords: sounds, phonemes, Minangkabau language, Sikucur isolect Abstrak: Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia. Penuturnya terutama tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat. Setiap daerah mempunyai ciri khas, salah satunya dari segi fonologisnya. Salah satu perbedaan tersebut terdapat pada bahasa yang dituturkan di Nagari Sikucur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bunyi, fonem beserta distribusinya yang terdapat dalam bahasa Minangkabau isolek Sikucur. Metode untuk memperoleh data ialah metode cakap dan simak. Selama wawancara berlangsung, hasilnya direkam, dicatat, dan dibuat transkripsi fonetisnya berdasarkan IPA chart. Selanjutnya, metode analisis data adalah metode padan fonetis artikularoris. Data yang telah dikumpulkan dikelompokkan sesuai dengan pasangan bunyi yang memiliki kemiripan secara fonetis. Hasil penelitian menunjukkan ada 30 fonem. Terdapat lima fonem vokal: /i/, /e/. /a/, /u/, dan /o/ dengan alofonnya, yaitu [i~ɪ], [e~ɛ], [a~ʌ], [u~ʊ], dan [o~ɔ]. Ada tujuh fonem diftong: /aw/, /ay/, /uy/, /ua/ dengan alofon [ua~ue], /ia/ dengan alofon [ia~ie], /oy/, dan /ea/. Terakhir, ada delapan belas fonem konsonan: /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /l/, /ʀ/, /s/, /c/, /j/, /ɲ/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/, /w/, dan /y/. Bunyi [ʔ] merupakan realisasi dari /k/ apabila berada di silabel akhir tertutup. Selanjutnya, [ʀ] dan [r] merupakan variasi bebas dan tidak membedakan makna. Kata kunci: bunyi, fonem, bahasa Minangkabau, isolek Sikucur To cite this article: Kharisma, N., Nadra, N., & Reniwati, R. (2021). Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(4), 425—440. https://doi.org/10.30872/diglosia.v4i4.280 Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International License. N. Kharisma, Nadra, & Reniwati A. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam bahasa daerah. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bilingual atau multilingual karena menggunakan dua atau lebih bahasa dalam kehidupan seharihari. Lia et al. (2018) menyatakan bahwa kemungkinan dalam kehidupan sehari-hari penggunaan bahasa Indonesia hanya untuk komunikasi tertentu saja seperi pada komunikasi yang bersifat formal. Sementara, untuk percakapan dalam kehidupan sehari-hari yang digunakan adalah bahasa daerah masing-masing. Hal ini juga berlaku untuk masyarakat yang menetap di daerah Sumatera Barat yang dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Penuturnya terutama tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat. Meskipun penuturnya sama-sama menggunakan bahasa Minangkabau, namun di setiap daerah terdapat ciri khas tersendiri, salah satunya adalah dari segi fonologisnya. Salah satu perbedaan tersebut terdapat pada bahasa Minangkabau yang dituturkan di Nagari Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman. Bahasa Minangkabau isolek Sikucur (yang selanjutnya disingkat menjadi BMIS) ini juga memiliki kaidah yang bersistem. Sistem inilah yang diikuti oleh masyarakat di sana sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan lancar. Salah satu ciri khas dalam BMIS adalah adanya penggunaan diftong yang berbeda dengan diftong yang digunakan pada bahasa Minangkabau umum. Seperti penggunaan diftong [ie] dalam kata [li.hie] bermakna ‘leher’ dan [ue] dalam kata [ku.hue] yang berarti ‘batuk’. Kedua diftong ini tidak ditemukan dalam bahasa Minangkabau pada umumnya. Secara umum, menurut Ayub et al. (1993), bahasa Minangkabau mempunyai 7 diftong. Diftong-diftong tersebut ialah /ia/, /ua/, /ea/, /uy/, /oy/, /aw/, dan /ay/. Dalam BMIS, diftong /oy/ juga tidak ditemukan. Selanjutnya, dalam BMIS juga ditemukan adanya penggunaan bunyi [ʌ], misalnya dalam kata [u.lʌ] yang bermakna ‘ular’. Selain perbedaan yang diutarakan di atas, dalam BMIS juga ditemukan bunyi kontoid yang menarik perhatian, yakni adanya penggunaan bunyi glotal [ʔ] yang berada pada silabel akhir, contohnya dalam kata [ka.ʀuyʔ] yang artinya ‘rambut ikal’. Selain itu, Nagari Sikucur termasuk salah satu daerah di Sumatera Barat yang menggunakan [ʀ] uvular. Hal ini dapat dilihat dalam kata [sa.ʀiaŋ] yang artinya adalah ‘gigi taring’. Selain ciri khas yang diutarakan di atas, alasan lain penelitian fonologi BMIS ini perlu dilakukan adalah karena sejauh pengetahuan peneliti, belum ada penelitian mengenai BMIS, terutama dalam bidang fonologi. Hal ini diharapkan mampu menambah perbendaharaan penelitian bahasa daerah yang ada di Sumatera Barat, khususnya pada bidang fonologi. Dengan demikian, BMIS ini nantinya dapat diteliti dan dikembangkan dari berbagai bidang linguistik lainnya. Penelitian-penelitian mengenai fonologi bahasa daerah telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Rahman et al. (2019) yang melalukan penelitian mengenai bahasa Kerinci dengan judul “Variasi Bunyi Bahasa Kerinci Isolek Rawang”. Tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui bunyi-bunyi, fonem-fonem, dan variasi bahasa yang terdapat dalam bahasa Kerinci isolek Rawang. Hasil penelitiannya adalah ditemukan enam fonem vokal, delapan belas fonem konsonan, dan sepul (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/download/280/151
Article home page: https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/280/151

Nastiti Kharisma, Nadra Nadra, Reniwati Reniwati. Fonologi Bahasa Minangkabau Isolek Sikucur, Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2021, pp. 425-440,