PANCASILA DITEKAN, GEREJA TERTEKAN

Didache : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, Dec 2020

Dari waktu ke waktu Pancasila selalu menjadi topik utama dalam isu nasional di Indonesia. Semenjak dirumuskan dan dipergunakan sebagai ideologi negara yang merangkul dan mengayomi seluruh kepentingan dan golongan di Indonesia oleh bung Karno, Pancasila ternyata tidak pernah bebas dari kepentingan. Bung Karno dan Soeharto menggunakan Pancasila sebagai alat pukul bagi kelompok kanan dan kiri Indonesia. Pada akhirnya kelompok tertentu memberikan antipasti terhadap Pancasila dan ingin menggantikan ideologi yang merupakan hasil kompromi anak bangsa digantikan dengan ideologi syariah yang hanya mewakili golongan tertentu saja. Walaupun telah final kesepakatan piagam Jakarta tidak menjadi bagian dari lima dasar Pancasila, namun upaya-upaya mendongkel Pancasila sebagai ideologi negara terus bergulir sampai saat ini. Tekanan terhadap Pancasila; khususnya rongrongan terhadap sila pertama, ternyata berimbas terhadap gereja yang harus mengalami intimidasi, ancaman dan kekerasan sebagai hasil akhir dari intoleransi kebebasan beragama. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran melalui kajian sosial bagaimana tekanan terhadap Pancasila berimbas pada eksistensi dan operasional gereja di Indonesia. Diharapkan dengan mempergunakan metodologi atau kajian sosial ini diperoleh hasil atau deskripsi memadai bagaimana gereja melakukan langkah-langkah politis, etis dan konkrit dalam menyikapi keadaan ini. From time to time Pancasila has always been the main topic in national issues in Indonesia. Since it was formulated and used as a state ideology that embraces and protects all interests and groups in Indonesia by Bung Karno, Pancasila has never been free from interests. Bung Karno and Suharto used Pancasila as a tool to deomolished Indonesian extrems religious and marxism groups. In the end, those groups gave antipasti against Pancasila and wanted to replace the ideology which was the result of the compromise of the nation's children to be replaced with sharia ideology which only represented certain groups. Even though the Jakarta charter agreement has been finalized, it does not become part of the five principles of Pancasila, but efforts to overthrow Pancasila as the state ideology continue to this day. Pressure on Pancasila; especially the undermining of the first precepts, it turns out to have an impact on the church which has to experience intimidation, threats and violence as the end result of intolerance of religious freedom. The purpose of this study is to provide an overview through social studies how the pressure on Pancasila affects the existence and operations of the church in Indonesia. It is hoped that by using this methodology or social study, adequate results or descriptions of how the church takes political, ethical and concrete steps in addressing this situation are expected.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/download/35/25

PANCASILA DITEKAN, GEREJA TERTEKAN

Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 2 Nomor 1 (Desember 2020): 1-17 DOI: 10.55076/didache.v2i1.35 PANCASILA DITEKAN, GEREJA TERTEKAN Marthin S. Lumingkewas,1* Youke L. Singal,2 Roce Marsaulina,3 Stenly R. Paparang4 1234 Sekolah Tinggi Teologi Moriah, Tangerang Email: * Abstract From time to time Pancasila has always been the main topic in national issues in Indonesia. Since it was formulated and used as a state ideology that embraces and protects all interests and groups in Indonesia by Bung Karno, Pancasila has never been free from interests. Bung Karno and Suharto used Pancasila as a tool to deomolished Indonesian extrems religious and marxism groups. In the end, those groups gave antipasti against Pancasila and wanted to replace the ideology which was the result of the compromise of the nation's children to be replaced with sharia ideology which only represented certain groups. Even though the Jakarta charter agreement has been finalized, it does not become part of the five principles of Pancasila, but efforts to overthrow Pancasila as the state ideology continue to this day. Pressure on Pancasila; especially the undermining of the first precepts, it turns out to have an impact on the church which has to experience intimidation, threats and violence as the end result of intolerance of religious freedom. The purpose of this study is to provide an overview through social studies how the pressure on Pancasila affects the existence and operations of the church in Indonesia. It is hoped that by using this methodology or social study, adequate results or descriptions of how the church takes political, ethical and concrete steps in addressing this situation are expected. Keywords: pancasila, religious, intolerance Abstrak Dari waktu ke waktu Pancasila selalu menjadi topik utama dalam isu nasional di Indonesia. Semenjak dirumuskan dan dipergunakan sebagai ideologi negara yang merangkul dan mengayomi seluruh kepentingan dan golongan di Indonesia oleh bung Karno, Pancasila ternyata tidak pernah bebas dari kepentingan. Bung Karno dan Soeharto menggunakan Pancasila sebagai alat pukul bagi kelompok kanan dan kiri Indonesia. Pada akhirnya kelompok tertentu memberikan antipasti terhadap Pancasila dan ingin menggantikan ideologi yang merupakan hasil kompromi anak bangsa digantikan dengan ideologi syariah yang hanya mewakili golongan tertentu saja. Walaupun telah final kesepakatan piagam Jakarta tidak menjadi bagian dari lima dasar Pancasila, namun upaya-upaya mendongkel Pancasila sebagai ideologi negara terus bergulir sampai saat ini. Tekanan terhadap Pancasila; khususnya rongrongan terhadap sila pertama, ternyata berimbas terhadap gereja yang harus mengalami intimidasi, ancaman dan kekerasan sebagai hasil akhir dari intoleransi kebebasan beragama. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran melalui kajian sosial bagaimana tekanan terhadap Pancasila berimbas pada eksistensi dan operasional gereja di Indonesia. Diharapkan dengan mempergunakan metodologi atau kajian sosial ini diperoleh hasil atau 1 Pancasila Ditekan…Marthin, Youke, Roce deskripsi memadai bagaimana gereja melakukan langkah-langkah politis, etis dan konkrit dalam menyikapi keadaan ini. Kata kunci: pancasila, religius, intoleransi negara, kita menemukan argumentasi dan PENDAHULUAN Indonesia menyatakan debat panjang antara kaum konservatif dan kemerdekaannya tahun 1945 memiliki religius, atau antara kaum sekuler dan UUD 1945 sebagai dasar konstitusi dari Islam yang dicatat sejarah. keberagaman yang mempersatukan dengan hasilnya, Pancasila yang kita kenal saat ini Pancasila yang menjadi ideology bangsa. merupakan hasil kompromi antara kedua Lima golongan yang berbeda di atas. Pancasila dasar Pancasila yang yang terkandung merupakan dalam pilar-pilr yang menjadi instrument Sebagai penting dalam menyatakan azas kepercayaan kepada memberikan ruang bagi agama untuk Tuhan, kemanusiaaan, rasa nasionalisme, berkembang, sekaligus sebagai alat untuk kerukunan bersama dan keadilan. Sila menciptakan kesatuan dan persatuan dari pertama yang menyatakan “ketuhanan beragam suku dan kultur yang telah hadir yang maha esa” merupakan pengakuan sejak Nusantara tercipta – dan menjadi terhadap semua agama yang ada di batu Indonesia; keadilan dalam masyarakat Indonesia. pengakuan terhadap kepercayaan apapun yang dianut oleh pengukur bagi segala torehan Dalam perjalanan sejarahnya, kita setiap individu di bumi nusantara. melihat Pancasila yang menjadi aspirasi bagi Pancasila telah mengalami beragam ujian dan tantangan yang pada kesatuan Indonesia merupakan tolak ukur akhirnya kesatuan atau keberadaan sosial seseorang sekaligus implementasi berkabut dalam dalam masyarakat kaitannya dengan orang lain; menciptakaan pemahaman Indonesia dikarenakan khusunya bagaimana mereka hidup dan penafsiran atas sila-sila yang terkandung saling berinteraksi satu dengan lainnya. didalamnya Sebagai masyarakat, kepentingan pribadi dan golongan. Dalam lepas sejarah kepemimpinan Sukarno, Pancasila pengikat sosial Pancasila tidak pernah penolakan dan penerimaan dari sepanjang digunakan sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Dalam pengesahan sejarah Pancasila penyusunan sebagai dibalut oleh sebagai alat beragam untuk membungkam dan menekan segala bentuk dan aktivitas Islam yang dalam pemandangan dasar Sukarno 2 ekstrem dan berbahaya. Sedangkan dalam era Orde Baru yang disebut penelitian. Dalam konteks ilmiah, dipimpin Pancasila penelitian haruslah memenuhi berbagai dipergunakan sebagai alat untuk mencari ketetentuan atau prosedur akedmik. Dalam dukungan serta mengembangkan Islam – penelitian ini penulis mempergunakan sekaligus menjadi doktrin dalam menekan metodologi penelitian kelompok dipandang pendekatan utama untuk berbahaya. Sejarah juga mencatat ideologi keterkaitan antara Pancasila negara ini dipergunakan sebagai alat untuk pluralism beragama membatasi; bahkan melarang aktifitas dan khususnya mempelajari beroperasinya fenomena sosial yang terjadi di dalam Soeharto, Islam yang bentuk agama lain di sosial sebagai membahas di dengan Indonesa; gejala Indonesia. Dari gambaran ini kita melihat masyarakat. Analisis ideologi bangsa Indonesia yang terekam memberikan penjabaran dalam Pancasila – yang berfungsi sebagai penelitian alat pembentuk identitas dari kelompok fenomena sosial tekanan yang dialami atau bangsa; atau sebagai alat persatuan Pancasila dan kesatuan Manusia Indonesia dari keberagaman atau pluralitas beragama di beragam etnis dan agama; sekaligus Indonesia. ini deskriptif atau detil berupaya dalam kaitannya yang dalam menjawab dengan sebagai tameng solidaritas; ternyata tidak Metode yang dipakai dalam penelitian terlihat dalam perkembangan sejarahnya di ini adalah metode kualitatif; yaitu metode Indonesia. yang Semua pembatasan dan melakukan (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/download/35/25
Article home page: https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/35/25

Lumingkewas Marthin Steven, Singal Youke L., Roce Marsaulina, Paparang Stenly R.. PANCASILA DITEKAN, GEREJA TERTEKAN, Didache : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2020, pp. 1-17,