PESAN DAKWAH DALAM KIRAB BUDAYA MALAM 1 SURO KRATON KASUNANAN SURAKARTA
PESAN DAKWAH DALAM KIRAB BUDAYA MALAM 1 SURO
KRATON KASUNANAN SURAKARTA
Akhmad Anwar Dani
Program Studi Manajemen Dakwah IAIN Surakarta
(E-mail: )
Siti Chotijah
Program Studi Manajemen Dakwah IAIN Surakarta
(E-mail: )
Abstract
The interaction of Islam and local culture resulted in acculturation of a
sustainable culture in the community. This cultural acculturation product carries
both the implied and explicit messages. This article tries to describe da'wah
messages that are in the Kirab Malam 1 Suro Kraton Surakarta culture. By using
descriptive qualitative methods it was found that the elements of Islam contained
in the Heritage Kirab include symbols or symbols on equipment, offerings and
prayers used in the Heritage Kirab process. This is what is called the missionary
message.
Keywords: Da'wah Message, Cultural Da'wah, Culture Kirab 1 Suro, Surakarta
Sunanate
Abstrak
Interaksi Islam dan budaya lokal menghasilkan akulturasi budaya yang
lestari di tengah masyarakat. Produk akulturasi budaya tersebut membawa pesanpesan dakwah baik yang tersirat maupun tersurat. Artikel ini mencoba
mendeskripsikan pesan-pesan dakwah yang ada pada budaya Kirab Malam 1 Suro
Kraton Kasunanan Surakarta. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif
ditemukan bahwa unsur-unsur Islam yang terkandung dalam Kirab Pusaka di
antaranya adalah symbol atau perlambang pada peralatan, sesaji dan doa yang
digunakan dalam proses Kirab Pusaka. Hal inilah yang disebut dengan pesan
dakwah.
Kata Kunci : Pesan Dakwah, Dakwah Kultural, Kirab Budaya 1 Suro, Kasunanan
Surakarta
60
Pesan Dakwah Dalam Kirab Budaya… (Akhmad Anwar Dani dan Siti Chotijah) 61
A. Pendahuluan
Islam memiliki nilai yang universal dan absolut sepanjang zaman. Namun
demikian Islam sebagai dogma tidak kaku dalam menghadapi zaman dan
perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes,
ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam budaya,
adat kebiasaan atau tradisi.
Islam merespon budaya lokal, adat/tradisi di manapun dan kapanpun, dan
membuka diri untuk menerima budaya lokal, adat/tradisi sepanjang budaya lokal,
adat/tradisi tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash Al-Quran dan AsSunnah. Bahkan Islam mampu mentransformasi nilai-nilai yang dimilikinya ke
dalam berbagai budaya yang bersinggungan dengannya, mengakulturasi budaya
lokal menjadi lebih baik dan bermakna.1
Salah satu tradisi budaya yang dipengaruhi Islam adalah kirab pusaka
keraton yang diadakan setiap malam 1 Suro atau 1 Muharam. Peringatan tahun
baru Jawa atau 1 Suro merupakan penanda pergantian tahun menurut penanggalan
Jawa.Tanggal 1 Suro diperingati tepat dengan 1 Muharram atau Asyuro. Sebutan
Asyuro dari bahasa Arab dalam dialek masyarakat Jawa berubah jadi Suro.
Kirab pusaka Keraton Solo yang diselenggarakan setiap malam 1 Suro
merupakan tradisi Jawa yang sudah mengalami proses akulturasi dengan
kebudayaan Islam. Dalam istilah kebudayaan, akulturasi merupakan proses
pertukaran benda-benda budaya, adat istiadat, dan kepercayaan yang dihasilkan
dari
kontak
antara
bangsa-bangsa
yang
berbeda-beda
latar
belakang
kehidupannya.2
Sebagai budaya yang mengalami akulturasi dengan agama Islam, upacara
ritual tahunan kirab pusaka Keraton Solo 1 Suro tidak lepas dari pengaruh budaya
Islam. Artinya, ada nilai-nilai Islam yang masuk di dalamnya. Hal ini
sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaludin bahwa, tradisi yang sudah berakar
ada di pulau Jawa mengandung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat
1. Masykurotus Syarifah, “Budaya Dan Kearifan Dakwah,” al-Balagh : Jurnal
Dakwah dan Komunikasi 1, no. 1 (June 8, 2016): 23, accessed December 12, 2017,
http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/index.php/al-balagh/article/view/43.
2. Syah, “Akulturasi Islam Dan Budaya Lokal Kajian Historis Sejarah Dakwah
Islam Di Wilayah Rejang.”
62 HIKMAH, Volume 13 Nomor 1, Juni 2019, h. 60-74
dengan agama yang dianut oleh masyarakat atau pribadi-pribadi pemeluk agama
tersebut3.
Sebagian besar masyarakat Jawa telah memiliki suatu agama secara
formal, namun dalam kehidupan masih nampak adanya suatu sistem kepercayaan
yang masih kuat dalam kehidupan religinya, seperti kepercayaan terhadap adanya
dewa, makhluk halus, atau leluhur. Semenjak manusia sadar akan keberadaannya
di dunia, sejak saat itu pula ia mulai memikirkan akan tujuan hidupnya,
kebenaran, kebaikan, dan Tuhannya 4.
Masyarakat Jawa yang menganut Islam Kejawen dalam melakukan
berbagai aktivitas sehari-hari juga dipengaruhi oleh keyakinan, konsep-konsep,
pandangan-pandangan, nilai-nilai budaya, dan norma-norma yang kebanyakan
berada di alam pikirannya. Menyadari kenyataan seperti itu, maka orang Jawa
terutama dari kelompak kejawen tidak suka memperdebatkan pendiriannya atau
keyakinannya tentang Tuhan. Mereka tidak pernah menganggap bahwa
kepercayaan dan keyakinan sendiri adalah yang paling benar dan yang lain salah.
Sikap batin yang seperti inilah yang merupakan lahan subur untuk tumbuhnya
toleransi yang amat besar baik di bidang kehidupan beragama maupun di bidangbidang yang lain5.
Sebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling
mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol
yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung
nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan
sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi
keduanya perlu dibedakan.
Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (perennial) dan tidak
mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif
dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai
agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan
mendapat tempat.
3 Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998).
4 Koentjaranigrat, Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia (Jakarta: Djambatan,
1999).
5 Ibid.
Pesan Dakwah Dalam Kirab Budaya… (Akhmad Anwar Dani dan Siti Chotijah) 63
Dakwah merupakan upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan
ketertarikan pada apa yang diserukan, yakni Islam. Oleh karena itu, dakwah tidak
hanya terbatas pada aktivitas lisan semata tetapi mencakup seluruh aktivitas
manusia dan perbuatan yang ditunjukkan dalam rangka menumbuhkan
kecenderungan dan ketertarikan pada lisan-lisan. Selain itu, Tuti Alawiyah dalam
tulisannya mengatakan bahwa dakwah adalah seruan atau ajakan keinsyafan atau
usaha mengubah situasi ke situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap
pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha
peningkatan pemahaman keagamaan saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih
luas. Apabila pada sekarang ini, harus lebih efektif menuju kepada pelaksanaan
ajaran Islam secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan 6.
Akulturasi budaya lokal dan ajaran Islam telah menjadi kajian sejak lama
di Indonesia. Tidak hanya di jawa, namun juga di berbagai wilayah nusantara.
Diantaranya akulturasi budaya yang terja (...truncated)