Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta

JURNAL TATA KELOLA SENI, Jun 2018

Abstrak Jurnal ilmiah ini menganalisis manajemen risiko dalam tradisi kirab pusaka Malam 1 Suro di Keraton Surakarta, Jawa Tengah. Tradisi ini memiliki nilai-nilai keunggulan yang sesuai dengan Pancasila serta memiliki relasi dengan alam. Tetapi, tradisi ini juga rentan terhadap ancaman bencana fisik maupun nonfisik, sehingga membutuhkan manajemen risiko yang baik untuk mengatasi masalah ini. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan studi pustaka. Strategi manajemen risiko terkait dengan pengelolaan dan pelestarian bisa melibatkan banyak pihak. Respons berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menanggulangi risiko tersebut. Selain itu, ada potensi yang ditemukan untuk mengembangkan manajemen tradisi ini dan berdampak untuk ekonomi yang berkelanjutan. Abstract This scientific journal analyzes the risk management in Malam 1 Suro heritage procession in Surakarta Palace, Central Java. This tradition has values of excellence that are in accordance with Pancasila values and it has relations with nature. However, this tradition is also vulnerable to the threat of physical and non-physical disasters so it requires good risk management to overcome this problem. The author uses qualitative methods with making interviews and literature. Risk management strategies related to management and preservation can involve many divisions. The response of various divisions is needed in overcoming these risks. In addition, there is a potentiality which is found in developing the management of this tradition and it has an impact on a sustainable economy.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/3079/1247

Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta

Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Yohana Maya Lalita Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta Abstrak Jurnal ilmiah ini menganalisis manajemen risiko dalam tradisi kirab pusaka Malam 1 Suro di Keraton Surakarta, Jawa Tengah. Tradisi ini memiliki nilai-nilai keunggulan yang sesuai dengan Pancasila serta memiliki relasi dengan alam. Tetapi, tradisi ini juga rentan terhadap ancaman bencana fisik maupun nonfisik, sehingga membutuhkan manajemen risiko yang baik untuk mengatasi masalah ini. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan studi pustaka. Strategi manajemen risiko terkait dengan pengelolaan dan pelestarian bisa melibatkan banyak pihak. Respons berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menanggulangi risiko tersebut. Selain itu, ada potensi yang ditemukan untuk mengembangkan manajemen tradisi ini dan berdampak untuk ekonomi yang berkelanjutan. Kata kunci: manajemen risiko, tradisi, budaya Abstract This scientific journal analyzes the risk management in Malam 1 Suro heritage procession in Surakarta Palace, Central Java. This tradition has values of excellence that are in accordance with Pancasila values and it has relations with nature. However, this tradition is also vulnerable to the threat of physical and non-physical disasters so it requires good risk management to overcome this problem. The author uses qualitative methods with making interviews and literature. Risk management strategies related to management and preservation can involve many divisions. The response of various divisions is needed in overcoming these risks. In addition, there is a potentiality which is found in developing the management of this tradition and it has an impact on a sustainable economy. Keywords: risk management, tradition, culture PENDAHULUAN Warisan budaya tak benda atau yang biasa juga disebut intangible cultural heritage, berarti praktik, representasi, ungkapan, pengetahuan, keterampilan - serta instrumen, benda, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya - bahwa masyarakat, kelompok dan, dalam beberapa kasus, individu mengakui sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Menurut Konvensi Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda tahun 2003, warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage-ICH) - atau warisan hidup adalah sumber utama keragaman budaya umat manusia dan pemeliharaannya merupakan jaminan untuk melanjutkan kreativitas. “Sementara warisan budaya global berkaitan dengan perlindungan warisan budaya yang dibuat manusia, nyata, dan fisik, perhatian 8 Yohana Maya Lalita. Manajemen Risiko Tradisi ... utama dari ICH adalah unsur-unsur nonfisik seperti roh, kesenian, dan kreativitas yang ada sebagai bentuk ekspresi artistik atau budaya. Hal ini dapat dilihat untuk dirinya sendiri memiliki nilai estetik, nilai teknis, dan nilai artistik, tetapi juga sangat mudah menghilang di bawah pengaruh pemikiran modern karena mereka adalah kenangan di tingkat spiritual.” (Yue Zhang, Mingqing Han, and Weiwei Chen, 2018, p. 2) Dengan memelihara warisan budaya tak benda ini maka akan melestarikan alam semesta dan kehidupan di dalamnya. Hal ini penting sebagai usaha untuk mengukir sejarah bagi masa depan. Selain itu, dengan dilestarikannya warisan budaya ini, maka setiap negara akan memiliki identitasnya masing-masing. Keberagaman akan terus berlangsung dan toleransi akan tetap dipertahankan. Warisan budaya tak benda ini, yang ditransmisikan dari generasi ke generasi, terus diciptakan oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam dan sejarah, dan memberi mereka rasa identitas dan kontinuitas, sehingga meningkatkan rasa hormat terhadap keragaman budaya dan kreativitas manusia. Untuk tujuan konvensi ini, pertimbangan hanya diberikan untuk warisan budaya tak benda seperti yang sesuai dengan instrumen hak asasi manusia internasional yang ada, serta dengan persyaratan saling menghormati di antara masyarakat, kelompok dan individu, dan pengembangan berkelanjutan. Semua warisan budaya, apakah itu artefak, monumen, situs arkeologi, tempattempat suci, lanskap budaya, ruang alam, ekspresi berwujud atau spesies yang terancam dalam ekosistem unik mereka, satu adalah, untuk derajat yang berbeda dan dengan cara yang berbeda, rentan terhadap risiko yang diciptakan oleh manusia dan alam. Risiko tersebut termasuk perubahan lingkungan dan iklim, serta yang timbul dari konflik, vandalisme, penjarahan, atau penelantaran. Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro layak dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda meskipun belum ada pengakuan secara resmi dari pihak UNESCO maupun dari lembaga negara. Alasannya adalah karena tradisi tersebut mengandung nilai-nilai asli yang universal dan berelasi dengan alam. Maka pelestarian dan keberlanjutannya penting untuk dilaksanakan semua pihak. Pelestarian dan keberlangsungan suatu tradisi sangat terkait dengan manajemen risiko, dalam hal ini khususnya bidang tradisi, ritual, dan kebudayaan. Risiko ancaman fisik dan nonfisik pada tradisi ini masih kurang diperhatikan. Terlihat dari adanya dua kasus yang terjadi pada bulan November 2014 lalu, ada berita terkait matinya seekor kerbau bule keturunan Kiai Slamet milik Keraton Kasunanan Surakarta akibat tertusuk tombak di bagian perut dan kaki. Kemudian melihat ke belakang, pada 2011, kandang kerbau bule Kiai Slamet milik keraton juga dipasangi bom menjelang peringatan Malam 1 Suro. Motif pelaku penusukan dan pemasang bom tersebut tidak ditemukan dalam pencarian di internet. Namun apapun yang mendasari kedua kasus di atas, tetap merupakan ancaman bencana nonfisik bagi pusaka di Keraton Surakarta, khususnya tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro. Maka identifikasi risiko ancaman bencana fisik maupun nonfisik beserta manajemen risikonya menjadi penting. Termasuk di dalamnya ada upaya menggali potensi pendukung tradisi tersebut untuk mengembangkan keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar. 9 Jurnal Tata Kelola Seni-Vol. 4 No. 1 Juni 2018 p-ISSN 2442-9589, e-ISSN 2614-7009 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk memahami masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mendalam, data disajikan dalam bentuk verbal bukan dalam bentuk angka. Pendekatan ini digunakan penulis dikarenakan subjek kajian penelitian ini adalah manajemen risiko tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta yang bisa diuraikan dalam bentuk narasi. Dalam mengungkap semua fenomena dan makna secara alamiah tersebut, penulis menggunakan metode deskriptif. Dalam hal ini penulis akan mendeskripsikan tentang kondisi objektif manajemen risiko tradisi Kirab Budaya Malam 1 Suro Keraton Surakarta. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif evaluatif. Penelitian deskriptif memiliki beberapa hal yang dapat dideskripsikan pada hasil penelitian, yakni menggambarkan, menjelaskan, menganalisis, ataupun mengevaluasi hasil k (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/3079/1247
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/view/3079/1247

Lalita Yohana Maya. Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta, JURNAL TATA KELOLA SENI, 2018, pp. 8-18,