Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo

JURNAL TATA KELOLA SENI, May 2021

Penelitian ini membahas tentang strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab dua permasalahan yang diajukan: pertama, bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki oleh Paguyuban Sripanglaras sampai dengan saat ini; dan yang kedua, bagaimana formulasi strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras. Untuk membedah permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metodologi penelitian dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT sebagai alat untuk menemukan faktor internal dan faktor eksternal Paguyuban Sripanglaras. Matriks IE (internal – eksternal) Paguyuban Sripanglaras berada pada sel I yang menunjukkan tumbuh dan bina, strategi yang digunakan adalah intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk). Sedangkan kuadran analisis SWOT Paguyuban Sripanglaras berada pada posisi pertama yakni ekspansion atau mendukung strategi ofensif. Strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras yang dihasilkan yakni dengan menggunakan strategi campuran yang berasal dari strategi SO dan strategi WO. The development strategy of the Sripanglaras Community in Kulon Progo RegencyABSTRACTThis research discusses the development strategy of Paguyuban Sripanglaras Kulon Progo Regency. The purpose of this research is to answer two proposed problems: first, how are the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of Paguyuban Sripanglaras to date; and second, how to formulate the development strategy of the Sripanglaras Association. To dissect these problems, researchers used a research methodology with qualitative methods with a case study approach. This study uses SWOT analysis as a tool to find internal and external factors of the Sripanglaras Association. IE matrix (internal-external) Paguyuban Sripanglaras is in cell I, which shows growth and development; the strategy used is intensive (market penetration, market development, and product development). Meanwhile, the SWOT analysis quadrant of the Sripanglaras Association is in the first position, namely expansion or supporting the offensive strategy. The resulting Sripanglaras association development strategy uses a mixed strategy derived from the SO strategy and the WO strategy.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/5351/2155

Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo

Volume 7 Nomor 1, Juni 2021 p 1 - 19 p-ISSN 2442-9589 | e-ISSN 2614-7009 Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo Febra Sianipar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta; Jalan Suryodiningratan No. 8, Yogyakarta 55143 E-mail: ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab dua permasalahan yang diajukan: pertama, bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki oleh Paguyuban Sripanglaras sampai dengan saat ini; dan yang kedua, bagaimana formulasi strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras. Untuk membedah permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metodologi penelitian dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT sebagai alat untuk menemukan faktor internal dan faktor eksternal Paguyuban Sripanglaras. Matriks IE (internal – eksternal) Paguyuban Sripanglaras berada pada sel I yang menunjukkan tumbuh dan bina, strategi yang digunakan adalah intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk). Sedangkan kuadran analisis SWOT Paguyuban Sripanglaras berada pada posisi pertama yakni ekspansion atau mendukung strategi ofensif. Strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras yang dihasilkan yakni dengan menggunakan strategi campuran yang berasal dari strategi SO dan strategi WO. Kata kunci: formulasi strategi, paguyuban sripanglaras, analisis SWOT The development strategy of the Sripanglaras Community in Kulon Progo Regency ABSTRACT This research discusses the development strategy of Paguyuban Sripanglaras Kulon Progo Regency. The purpose of this research is to answer two proposed problems: first, how are the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of Paguyuban Sripanglaras to date; and second, how to formulate the development strategy of the Sripanglaras Association. To dissect these problems, researchers used a research methodology with qualitative methods with a case study approach. This study uses SWOT analysis as a tool to find internal and external factors of the Sripanglaras Association. IE matrix (internal-external) Paguyuban Sripanglaras is in cell I, which shows growth and development; the strategy used is intensive (market penetration, market development, and product development). Meanwhile, the SWOT analysis quadrant of the Sripanglaras Association is in the first position, namely expansion or supporting the offensive strategy. The resulting Sripanglaras association development strategy uses a mixed strategy derived from the SO strategy and the WO strategy. Keywords: strategy formulation, the sripanglaras association, analysis SWOT 1 Febra Sianipar, Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras ... PENDAHULUAN Paguyuban Sripanglaras merupakan salah satu wadah seni untuk sarana belajar dan mengembangkan bakat bagi masyarakat Kabupaten Kulon Progo. Paguyuban Sripanglaras adalah paguyuban yang terbentuk berdasarkan ikatan darah dan keturunan di mana paguyuban dikelola oleh keluarga. Berdiri sejak tahun 2001 hingga saat ini, dan terletak di Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Paguyuban Sripanglaras menjadi wadah untuk berbagai kegiatan kesenian seperti Tari Angguk Putri, Jathilan, Incling Putri, kelompok ketoprak anak-anak, kelompok musik anak-anak, dan kelompok membatik. Paguyuban Sripanglaras hingga saat ini mewadahi sekitar seratus enam puluh lima peserta didik dengan kesenian yang diminati masing-masing siswa. Sripanglaras dikelola dengan bentuk pengelolaan organisasi nirlaba, artinya organisasi ini didirikan tidak bertujuan untuk mencari laba. Priharto (2020) dalam artikelnya menjelaskan bahwa organisasi nirlaba memiliki karakteristik untuk memberikan layanan kepada anggotanya atau kelompok tertentu atau kepada masyarakat umum. Organisasi nirlaba menyediakan layanan gratis atau dengan harga minimum karena tujuan mereka bukanlah untuk mendapatkan keuntungan. Sripanglaras tidak memiliki sumber pendapatan tetap, di samping itu, Sripanglaras tidak memiliki donatur atau sponsorship. Dimulai dari pembangunan gedung, pengadaan peralatan musik, pembelian kostum bagi penari, serta biaya perawatan gedung dan pembayaran ongkos transportasi pelatih tari dari luar daerah seluruhnya dipenuhi oleh pemilik paguyuban. Secara umum, masyarakat berpendapat bahwa organisasi nirlaba sudah memiliki sumber dana untuk digunakan dalam membiayai kegiatannya. Banyak organisasi nirlaba hanya memperoleh satu jenis pendapatan saja yaitu melalui donatur. Hal ini berisiko terjadinya kelumpuhan organisasi apabila dana yang diperoleh melalui hibah kegiatan telah selesai digunakan. Oleh karena itu, sumber pendapatan lain organisasi nirlaba dapat dilakukan untuk mendukung keberlangsungan organisasi dalam menjalankan kegiatannya. Untuk mencukupi kebutuhan biaya operasional tersebut, Sripanglaras memperoleh pemasukan melalui kegiatan program dari undangan untuk mengisi acara pertunjukan dan dari peserta didik di mana setiap anak dikenakan biaya lima ribu rupiah untuk setiap pertemuan. Akan tetapi, menurut pengelola, pemasukan melalui mengisi acara pertunjukan sering sekali tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan, seperti untuk menutupi biaya transportasi, membayar gaji seluruh pemusik dan penari. Di samping itu, peserta didik tidak akan dikenakan biaya jika tidak menghadiri pertemuan belajar yang diadakan rutin setiap minggunya. Tak jarang pengelola Sripanglaras sering mengalami defisit akibat 2 Jurnal Tata Kelola Seni-Vol.7 No.1, Juni 2021 | p-ISSN 2442-9589 | e-ISSN 2614-7009 kurangnya pemasukan. Hal ini tentunya menjadi sumber masalah jika sewaktuwaktu terdapat kebutuhan yang harus dipenuhi namun pemilik paguyuban tidak lagi mampu membiayai. Permasalahan menarik lainnya ialah kurangnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM). Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah tenaga pengajar yang aktif hingga saat ini. Terdapat tiga orang tenaga pengajar berstatus tetap pada paguyuban, yakni ayah, ibu, dan anak. Ketiga tenaga pengajar tersebut secara bergantian mengajarkan seluruh kegiatan seni yang ada pada Paguyuban Sripanglaras. Latihan yang diadakan seminggu sekali dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas anak-anak dan kelas remaja. Keterbatasan waktu dan tenaga pengajar dalam pelaksanaan proses belajar merupakan salah satu kendala yang dihadapi Sripanglaras hingga saat ini. Dengan jumlah peserta didik yang mencapai seratus enam puluh lima orang, tenaga pengajar yang terbatas, dan keterbatasan waktu dengan melaksanakan berbagai jenis kegiatan seni mengakibatkan waktu latihan menjadi tidak efektif. Struktur organisasi yang terdapat pada Paguyuban Sripanglaras juga belum berjalan dengan maksimal. Walaupun telah memiliki susunan struktur organisasi, namun sampai dengan saat ini, paguyuban masih dikelola dengan seadanya. Tak jarang beberapa anggota harus menjalankan peran yang multifungsi dengan menempati lebih dari satu divisi. (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/5351/2155
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/view/5351/2155

Febra Sianipar. Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo, JURNAL TATA KELOLA SENI, 2021, pp. 1-19,