Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras Kabupaten Kulon Progo
Volume 7 Nomor 1, Juni 2021
p 1 - 19
p-ISSN 2442-9589 | e-ISSN 2614-7009
Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras
Kabupaten Kulon Progo
Febra Sianipar
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta;
Jalan Suryodiningratan No. 8, Yogyakarta 55143
E-mail:
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras
Kabupaten Kulon Progo. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab dua
permasalahan yang diajukan: pertama, bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman yang dimiliki oleh Paguyuban Sripanglaras sampai dengan saat ini; dan yang
kedua, bagaimana formulasi strategi pengembangan Paguyuban Sripanglaras. Untuk
membedah permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metodologi penelitian
dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan
analisis SWOT sebagai alat untuk menemukan faktor internal dan faktor eksternal
Paguyuban Sripanglaras. Matriks IE (internal – eksternal) Paguyuban Sripanglaras
berada pada sel I yang menunjukkan tumbuh dan bina, strategi yang digunakan adalah
intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk).
Sedangkan kuadran analisis SWOT Paguyuban Sripanglaras berada pada posisi
pertama yakni ekspansion atau mendukung strategi ofensif. Strategi pengembangan
Paguyuban Sripanglaras yang dihasilkan yakni dengan menggunakan strategi
campuran yang berasal dari strategi SO dan strategi WO.
Kata kunci: formulasi strategi, paguyuban sripanglaras, analisis SWOT
The development strategy of the Sripanglaras Community
in Kulon Progo Regency
ABSTRACT
This research discusses the development strategy of Paguyuban Sripanglaras Kulon
Progo Regency. The purpose of this research is to answer two proposed problems:
first, how are the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of Paguyuban
Sripanglaras to date; and second, how to formulate the development strategy of the
Sripanglaras Association. To dissect these problems, researchers used a research
methodology with qualitative methods with a case study approach. This study uses
SWOT analysis as a tool to find internal and external factors of the Sripanglaras
Association. IE matrix (internal-external) Paguyuban Sripanglaras is in cell I, which
shows growth and development; the strategy used is intensive (market penetration,
market development, and product development). Meanwhile, the SWOT analysis
quadrant of the Sripanglaras Association is in the first position, namely expansion or
supporting the offensive strategy. The resulting Sripanglaras association development
strategy uses a mixed strategy derived from the SO strategy and the WO strategy.
Keywords: strategy formulation, the sripanglaras association, analysis SWOT
1
Febra Sianipar, Strategi Pengembangan Paguyuban Sripanglaras ...
PENDAHULUAN
Paguyuban Sripanglaras merupakan salah satu wadah seni untuk sarana
belajar dan mengembangkan bakat bagi masyarakat Kabupaten Kulon Progo.
Paguyuban Sripanglaras adalah paguyuban yang terbentuk berdasarkan ikatan
darah dan keturunan di mana paguyuban dikelola oleh keluarga. Berdiri sejak tahun
2001 hingga saat ini, dan terletak di Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan
Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Paguyuban Sripanglaras menjadi wadah untuk
berbagai kegiatan kesenian seperti Tari Angguk Putri, Jathilan, Incling Putri,
kelompok ketoprak anak-anak, kelompok musik anak-anak, dan kelompok
membatik. Paguyuban Sripanglaras hingga saat ini mewadahi sekitar seratus enam
puluh lima peserta didik dengan kesenian yang diminati masing-masing siswa.
Sripanglaras dikelola dengan bentuk pengelolaan organisasi nirlaba, artinya
organisasi ini didirikan tidak bertujuan untuk mencari laba. Priharto (2020) dalam
artikelnya menjelaskan bahwa organisasi nirlaba memiliki karakteristik untuk
memberikan layanan kepada anggotanya atau kelompok tertentu atau kepada
masyarakat umum. Organisasi nirlaba menyediakan layanan gratis atau dengan
harga minimum karena tujuan mereka bukanlah untuk mendapatkan keuntungan.
Sripanglaras tidak memiliki sumber pendapatan tetap, di samping itu, Sripanglaras
tidak memiliki donatur atau sponsorship. Dimulai dari pembangunan gedung,
pengadaan peralatan musik, pembelian kostum bagi penari, serta biaya perawatan
gedung dan pembayaran ongkos transportasi pelatih tari dari luar daerah seluruhnya
dipenuhi oleh pemilik paguyuban.
Secara umum, masyarakat berpendapat bahwa organisasi nirlaba sudah
memiliki sumber dana untuk digunakan dalam membiayai kegiatannya. Banyak
organisasi nirlaba hanya memperoleh satu jenis pendapatan saja yaitu melalui
donatur. Hal ini berisiko terjadinya kelumpuhan organisasi apabila dana yang
diperoleh melalui hibah kegiatan telah selesai digunakan. Oleh karena itu, sumber
pendapatan lain organisasi nirlaba dapat dilakukan untuk mendukung
keberlangsungan organisasi dalam menjalankan kegiatannya.
Untuk mencukupi kebutuhan biaya operasional tersebut, Sripanglaras
memperoleh pemasukan melalui kegiatan program dari undangan untuk mengisi
acara pertunjukan dan dari peserta didik di mana setiap anak dikenakan biaya lima
ribu rupiah untuk setiap pertemuan. Akan tetapi, menurut pengelola, pemasukan
melalui mengisi acara pertunjukan sering sekali tidak sesuai dengan biaya yang
harus dikeluarkan, seperti untuk menutupi biaya transportasi, membayar gaji
seluruh pemusik dan penari. Di samping itu, peserta didik tidak akan dikenakan
biaya jika tidak menghadiri pertemuan belajar yang diadakan rutin setiap
minggunya. Tak jarang pengelola Sripanglaras sering mengalami defisit akibat
2
Jurnal Tata Kelola Seni-Vol.7 No.1, Juni 2021 | p-ISSN 2442-9589 | e-ISSN 2614-7009
kurangnya pemasukan. Hal ini tentunya menjadi sumber masalah jika sewaktuwaktu terdapat kebutuhan yang harus dipenuhi namun pemilik paguyuban tidak lagi
mampu membiayai.
Permasalahan menarik lainnya ialah kurangnya jumlah Sumber Daya
Manusia (SDM). Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah tenaga pengajar yang aktif
hingga saat ini. Terdapat tiga orang tenaga pengajar berstatus tetap pada paguyuban,
yakni ayah, ibu, dan anak. Ketiga tenaga pengajar tersebut secara bergantian
mengajarkan seluruh kegiatan seni yang ada pada Paguyuban Sripanglaras. Latihan
yang diadakan seminggu sekali dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas anak-anak
dan kelas remaja. Keterbatasan waktu dan tenaga pengajar dalam pelaksanaan
proses belajar merupakan salah satu kendala yang dihadapi Sripanglaras hingga saat
ini. Dengan jumlah peserta didik yang mencapai seratus enam puluh lima orang,
tenaga pengajar yang terbatas, dan keterbatasan waktu dengan melaksanakan
berbagai jenis kegiatan seni mengakibatkan waktu latihan menjadi tidak efektif.
Struktur organisasi yang terdapat pada Paguyuban Sripanglaras juga belum
berjalan dengan maksimal. Walaupun telah memiliki susunan struktur organisasi,
namun sampai dengan saat ini, paguyuban masih dikelola dengan seadanya. Tak
jarang beberapa anggota harus menjalankan peran yang multifungsi dengan
menempati lebih dari satu divisi. (...truncated)