Malay Language in Politeness Ternate
KESANTUNAN DALAM BAHASA MELAYU TERNATE
POLITENESS IN TERNATE MALAY LANGUAGE
Fida Febriningsih dan Mujahid Taha
Kantor Bahasa Maluku Utara
Jalan Raya Pertamina, Jambula, Pulau Ternate, Kota Ternate
Pos-el: ;
Ponsel: 081355019689
Abstrak
Kesantunan berbahasa yang seharusnya menjadi hal penting dalam berkomunikasi saat ini seakan
diabaikan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia tapi juga bahasa
daerah. Bahasa Melayu Ternate (BMT) adalah salah satu bahasa yang dituturkan hampir di
seluruh wilayah Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan
berbahasa dalam bahasa Melayu Ternate, khususnya menjelaskan tentang prinsip kesantunan dan
bentuk tuturan berdasarkan skala pengukur kesantunan. Penelitian ini menggunakan metode
deskripsi dengan tiga tahapan, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap
penyajian hasil analisis data. Hasil penelitian menemukan wujud prinsip kesantunan penutur
dibagi menjadi maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim
kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian, sedangkan bentuk tuturan
berdasarkan skala pengukur kesantunan berbahasa dibagi menjadi skala pilihan (optionality
scale), skala kerugian dan keuntungan (cost-benefit scale), skala ketidaklangsungan (indirectness
scale), skala keotoritasan (authority scale), dan skala jarak sosial (social distance)
Kata kunci: kesantunan berbahasa, prinsip kesantunan, skala kesantunan, bahasa Melayu Ternate
Abstract
Nowadays, language politeness seems to be ignored in communication. It happens not only in
Indonesia language usage, but also in vernicular usage. Ternate Malay Language is one of
languages that spoken in North Maluku. This study aims to describe the language politeness in
Ternate Malay Language, and to explain specifically about the principle of politeness and speech
form based on a politeness measurement scale. This study uses a description method with three
stages, namely the stage of providing data, data analysis, and presenting the results of data
analysis. The results of the study found that the principle of speech politeness was divided into
tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, dan
simpathy maxim, while the forms of speech based on language politeness measuring scale was
divided into optionality scale, loss and profit (cost-benefit scale), non-sustainability (indirectness
scale), authority scale (authority scale), and social distance scale (social distance).
Keywords: politeness, the principle of politeness, scale of politeness, Ternate Malay Language
Gramatika, Volume VI, Nomor 2, Juli—Desember 2018
160
160
1. Pendahuluan
Bahasa sangat erat kaitannya dengan
kehidupan manusia. Selama manusia masih
bernapas, maka bahasa itu ikut hidup
bersamanya. Dalam menjalani kehidupan,
manusia tentu tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidup sendiri. Manusia saling
membutuhkan satu sama lain. Dalam proses
itulah, peran bahasa sangat penting sebagai
alat komunikasi. Bahasa sebagai alat untuk
menyampaikan ide, gagasan, dan pikiran,
dalam berinteraksi itulah yang menjadikan
bahasa tidak dapat dipisahkan dari diri
manusia maupun lingkungan (masyarakat) di
sekitarnya.
Dalam
berinteraksi
dan
berkomunikasi di masyarakat, bahasa erat
kaitannya dengan nilai-nilai atau norma yang
berlaku di masyarakat tersebut. Pelestarian
budaya kesantunan berbahasa sangat penting
bagi anak-anak atau generasi penerus bangsa.
Nilai-nilai santun dalam berbahasa, khususnya
bahasa daerah (bahasa ibu) ini dapat diajarkan
melalui komunikasi dan interaksi baik secara
langsung atau tidak dalam keluarga maupun
lingkungan.
Kesantunan berbahasa adalah bentuk
moral atau cerminan diri dan karakter
seseorang. Melalui tata bahasa dalam tuturan,
kita akan mampu menilai apakah seseorang
(penutur dan mitra tutur) memiliki kesantunan
dan menaati norma adat atau tidak.
Kesantunan bahasa tidak hanya terlihat dari
tuturan seseorang tapi dapat juga kita lihat dari
perilaku atau tindakannya. Jika dengan gerak
tubuh , kita dapat melihat dari cara sesorang
berdiri, menggerakkan badan/anggota tubuh
sambil berbicara dapat mecerminkan karakter
tertentu, maka kesantunan berbahasa dapat
dilihat dari setiap pilihan kata dan cara
menuturkannya. Saat ini, kesantunan sudah
jarang ditemukan. Kebanyakan yang terjadi di
masyarakat
adalah
ketika
penutur
menghadappi
lawan
tutur
(mitra
tutur),seringkali
menyebabkan
ketersinggungan atau mengabaikan prinsip
kesantunan.
Bahasa Melayu Ternate merupakan salah
satu bahasa yang terdapat di provinsi Maluku
Utara. Bahasa Melayu Ternate (selanjutnya
disingkat BMT) ini dituturkan hampir di setiap
wilayah Maluku Utara. BMT menjadi bahasa
kedua dan lingua franca bagi hampir semua
etnik di Maluku Utara (Mulae:119).
Kebutuhan dan keharusan perjumpaan lintas
etnik karena kebutuhan ekonomi, mobilitas
sosial dan pendidikan semakin menempatkan
dan menetapkan BMT sebagai pemersatu
lintas etnik di Maluku Utara. BMT juga
berperan sebagai bahasa kedua di semua ranah
kehidupan. Penelitian ini adalah salah satu
upaya untuk mendokumentasikan atau
memberikan informasi tentang adanya budaya
santun berbahasa pada tindak tutur masyarakat
di daerah khususnya yang terdapat pada
bahasa Melayu Ternate dari generasi ke
generasi. Masalah yang dikaji meliputi (1)
Bagaimana
wujud
prinsip
kesantunan
berbahasa dalam BMT? dan (2) bagaimana
bentuk tuturan berdasarkan skala pengukur
kesantunan berbahasa dalam BMT?
Pragmatik merupakan studi tentang
makna yang disampaikan oleh penutur
(penulis) dan ditafsirkan oleh petutur
(pendengar). Akibatnya, studi ini lebih banyak
berhubungan dengan analisis tentang apa yang
dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya
daripada makna dari kata atau frasa yang
digunakan dalam tuturan itu sendiri (Yule,
2014). Berdasarkan pendapat ahli tersebut
dapat di simpulkan bahwa pragmatik adalah
ilmu yang mengkaji tentang makna tuturan
dalam hubungannya dengan situasi tutur.
Leech (1993:206-207) menjelaskan teori
kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan
(politeness principles), yang dijabarkan
menjadi maksim (ketentuan, ajaran). Keenam
maksim itu adalah (1) maksim kearifan (tact
maxim),
(2)
maksim
kedermawanan
(generosity maxim), (3) maksim pujian
(approbation maxim), (4) maksim kerendahan
hati (modesty maxim), (5) maksim kesepakatan
(agreement maxim), dan (6) maksim simpati
(simpathy maxim), dengan penjabaran sebagai
berikut.
a) Maksim kebijaksanaan menggariskan
bahwa setiap peserta pertuturan harus
meminimalkan kerugian orang lain, atau
memaksimalkan keuntungan bagi orang
lain.
Fida Febriningsih dan Mujahid Taha, Kesantunan dalam Bahasa Melayu Ternate
161
161
b) Maksim penerimaan menghendaki setiap
peserta pertuturan untuk memaksimalkan
keuntungan diri sendiri.
c) Maksim kemurahan menuntut setiap
peserta pertuturan untuk memaksimalkan
rasa hormat kepada orang lain dan
meminimalkan rasa tidak hormat kepada
orang lain.
d) Maksim kerendahan hati menuntut setiap
peserta pertuturan untuk mema (...truncated)