Malay Language in Politeness Ternate

Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, Dec 2018

Nowadays, language politeness seems to be ignored in communication. It happens not only in Indonesia language usage, but also in vernicular usage. Ternate Malay Language is one of languages that spoken in North Maluku. This study aims to describe the language politeness in Ternate Malay Language, and to explain specifically about the principle of politeness and speech form based on a politeness measurement scale. This study uses a description method with three stages, namely the stage of providing data, data analysis, and presenting the results of data analysis. The results of the study found that the principle of speech politeness was divided into tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, dan simpathy maxim, while the forms of speech based on language politeness measuring scale was divided into optionality scale, loss and profit (cost-benefit scale), non-sustainability (indirectness scale), authority scale (authority scale), and social distance scale (social distance).

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://gramatika.kemdikbud.go.id/index.php/gramatika/article/download/156/111

Malay Language in Politeness Ternate

KESANTUNAN DALAM BAHASA MELAYU TERNATE POLITENESS IN TERNATE MALAY LANGUAGE Fida Febriningsih dan Mujahid Taha Kantor Bahasa Maluku Utara Jalan Raya Pertamina, Jambula, Pulau Ternate, Kota Ternate Pos-el: ; Ponsel: 081355019689 Abstrak Kesantunan berbahasa yang seharusnya menjadi hal penting dalam berkomunikasi saat ini seakan diabaikan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia tapi juga bahasa daerah. Bahasa Melayu Ternate (BMT) adalah salah satu bahasa yang dituturkan hampir di seluruh wilayah Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa dalam bahasa Melayu Ternate, khususnya menjelaskan tentang prinsip kesantunan dan bentuk tuturan berdasarkan skala pengukur kesantunan. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan tiga tahapan, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Hasil penelitian menemukan wujud prinsip kesantunan penutur dibagi menjadi maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian, sedangkan bentuk tuturan berdasarkan skala pengukur kesantunan berbahasa dibagi menjadi skala pilihan (optionality scale), skala kerugian dan keuntungan (cost-benefit scale), skala ketidaklangsungan (indirectness scale), skala keotoritasan (authority scale), dan skala jarak sosial (social distance) Kata kunci: kesantunan berbahasa, prinsip kesantunan, skala kesantunan, bahasa Melayu Ternate Abstract Nowadays, language politeness seems to be ignored in communication. It happens not only in Indonesia language usage, but also in vernicular usage. Ternate Malay Language is one of languages that spoken in North Maluku. This study aims to describe the language politeness in Ternate Malay Language, and to explain specifically about the principle of politeness and speech form based on a politeness measurement scale. This study uses a description method with three stages, namely the stage of providing data, data analysis, and presenting the results of data analysis. The results of the study found that the principle of speech politeness was divided into tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, dan simpathy maxim, while the forms of speech based on language politeness measuring scale was divided into optionality scale, loss and profit (cost-benefit scale), non-sustainability (indirectness scale), authority scale (authority scale), and social distance scale (social distance). Keywords: politeness, the principle of politeness, scale of politeness, Ternate Malay Language Gramatika, Volume VI, Nomor 2, Juli—Desember 2018 160 160 1. Pendahuluan Bahasa sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Selama manusia masih bernapas, maka bahasa itu ikut hidup bersamanya. Dalam menjalani kehidupan, manusia tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Dalam proses itulah, peran bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pikiran, dalam berinteraksi itulah yang menjadikan bahasa tidak dapat dipisahkan dari diri manusia maupun lingkungan (masyarakat) di sekitarnya. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi di masyarakat, bahasa erat kaitannya dengan nilai-nilai atau norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Pelestarian budaya kesantunan berbahasa sangat penting bagi anak-anak atau generasi penerus bangsa. Nilai-nilai santun dalam berbahasa, khususnya bahasa daerah (bahasa ibu) ini dapat diajarkan melalui komunikasi dan interaksi baik secara langsung atau tidak dalam keluarga maupun lingkungan. Kesantunan berbahasa adalah bentuk moral atau cerminan diri dan karakter seseorang. Melalui tata bahasa dalam tuturan, kita akan mampu menilai apakah seseorang (penutur dan mitra tutur) memiliki kesantunan dan menaati norma adat atau tidak. Kesantunan bahasa tidak hanya terlihat dari tuturan seseorang tapi dapat juga kita lihat dari perilaku atau tindakannya. Jika dengan gerak tubuh , kita dapat melihat dari cara sesorang berdiri, menggerakkan badan/anggota tubuh sambil berbicara dapat mecerminkan karakter tertentu, maka kesantunan berbahasa dapat dilihat dari setiap pilihan kata dan cara menuturkannya. Saat ini, kesantunan sudah jarang ditemukan. Kebanyakan yang terjadi di masyarakat adalah ketika penutur menghadappi lawan tutur (mitra tutur),seringkali menyebabkan ketersinggungan atau mengabaikan prinsip kesantunan. Bahasa Melayu Ternate merupakan salah satu bahasa yang terdapat di provinsi Maluku Utara. Bahasa Melayu Ternate (selanjutnya disingkat BMT) ini dituturkan hampir di setiap wilayah Maluku Utara. BMT menjadi bahasa kedua dan lingua franca bagi hampir semua etnik di Maluku Utara (Mulae:119). Kebutuhan dan keharusan perjumpaan lintas etnik karena kebutuhan ekonomi, mobilitas sosial dan pendidikan semakin menempatkan dan menetapkan BMT sebagai pemersatu lintas etnik di Maluku Utara. BMT juga berperan sebagai bahasa kedua di semua ranah kehidupan. Penelitian ini adalah salah satu upaya untuk mendokumentasikan atau memberikan informasi tentang adanya budaya santun berbahasa pada tindak tutur masyarakat di daerah khususnya yang terdapat pada bahasa Melayu Ternate dari generasi ke generasi. Masalah yang dikaji meliputi (1) Bagaimana wujud prinsip kesantunan berbahasa dalam BMT? dan (2) bagaimana bentuk tuturan berdasarkan skala pengukur kesantunan berbahasa dalam BMT? Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh petutur (pendengar). Akibatnya, studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada makna dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri (Yule, 2014). Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat di simpulkan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mengkaji tentang makna tuturan dalam hubungannya dengan situasi tutur. Leech (1993:206-207) menjelaskan teori kesantunan berdasarkan prinsip kesantunan (politeness principles), yang dijabarkan menjadi maksim (ketentuan, ajaran). Keenam maksim itu adalah (1) maksim kearifan (tact maxim), (2) maksim kedermawanan (generosity maxim), (3) maksim pujian (approbation maxim), (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim), (5) maksim kesepakatan (agreement maxim), dan (6) maksim simpati (simpathy maxim), dengan penjabaran sebagai berikut. a) Maksim kebijaksanaan menggariskan bahwa setiap peserta pertuturan harus meminimalkan kerugian orang lain, atau memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Fida Febriningsih dan Mujahid Taha, Kesantunan dalam Bahasa Melayu Ternate 161 161 b) Maksim penerimaan menghendaki setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan keuntungan diri sendiri. c) Maksim kemurahan menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. d) Maksim kerendahan hati menuntut setiap peserta pertuturan untuk mema (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://gramatika.kemdikbud.go.id/index.php/gramatika/article/download/156/111
Article home page: http://gramatika.kemdikbud.go.id/index.php/gramatika/article/view/156/111

Fida Febriningsih, Taha Mujahid. Malay Language in Politeness Ternate, Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, 2018, pp. 160--168,