METODE GAS TRACER UNTUK EVALUASI EFISIENSI VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH
METODE GAS PERUNUT UNTUK EVALUASI EFISIENSI VENTILASI
TAMBANG BAWAH TANAH
A Tracer Gas Method to Evaluate Underground Mine Ventilation Efficiency
Arif Widiatmojo1, *, Nuhindro Priagung Widodo2, Kyuro Sasaki3
Renewable Energy Research Center, National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, AIST,
Japan.
2 Kelompok Keahlian Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi
Bandung, Bandung 40132.
3 Department of Earth Resources Engineering, Faculty of Engineering, Kyushu University, Japan.
1
Artikelmasuk : 27-12-2020 , Artikel diterima : 2021-04-27
ABSTRAK
Kata kunci:
Jaringan ventilasi tambang, gas
perunut,
kebocoran
udara,
simulasi numerik, difusi turbulensi,
peluruhan konsentrasi
Keywords:
Mine ventilation network, tracer
gas, air leakages, numerical
simulation, turbulent diffusion,
concentration decay
Ventilasi tambang bawah tanah mempunyai peran penting untuk memastikan
ketersediaan suplai udara segar untuk pekerja tambang, mesin bakar internal,
melarutkan gas dan partikulat, maupun menjaga suhu dan kelembapan kelembaban
udara. Desain yang tidak benar dapat menyebabkan kebocoran dan resirkulasi
udara, menurunkan efisiensi energi dari sistem ventilasi secara total. Di lain hal,
difusi turbulensi mengendalikan penyebaran gas dan partikulat.
Makalah ini membahas penggunaan gas perunut untuk mengevaluasi efisiensi
sistem ventilasi tambang. Dengan mencocokkan hasil pengukuran lapangan
dengan simulasi numerik, kuantitas suplai udara yang terbuang disebabkan karena
kebocoran dapat dievaluasi. Selain itu, laju pertukaran udara di muka tambang juga
di analisa berdasarkan data peluruhan gas. Sebagai hasil analisa, sekitar 53,5%
udara bersih terbuang langsung melalui kipas utama. Sedangkan, laju pertukaran
udara di salah satu front tambang, adalah sekitar 6,48 kali per jam.
ABSTRACT
The role of underground mine ventilation is critical to ensure an adequate supply of
fresh air for mineworkers and internal combustion engines, to dilute hazardous
gasses and particles, and to maintain the appropriate level of temperature and
humidity. Improper mine ventilation design leads to leakages or recirculation of
airflow, lowering the energy efficiency required for the total ventilation system. On
the other hand, turbulent diffusion controls the spreading of gas and other particles.
This paper discusses the application of tracer gas measurement to evaluate the
efficiency of a mine ventilation system. The history matching of numerical simulation
with the field measurement result is employed to evaluate the air leakages. Besides,
the air exchange rate in a development heading was also evaluated based on the
tracer gas concentration decay. The result indicates 53,5% of the fresh air supply
was inefficiently wasted through direct leakages to the main fan. On the other hand,
the air exchange rate from a development front was evaluated as 6,48h-1.
*Penulis Koresponden:
Doi : https://doi.org/10.36986/impj.v3i1.28
1
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 3, Nomor 1, April 2021 : 1 - 8
PENDAHULUAN
METODE
Ventilasi tambang mempunyai peranan vital dalam
porsesproses penambangan. Secara umum, ventilasi
tambang bawah tanah mempunyai tiga peran utama,
yaitu sebagai kontrol kuantitas, kontrol kualitas dan
kontrol iklim. Dalam aplikasinya, pasokan udara ke
dalam tambang harus mencukupi kebutuhan pekerja
tambang, pembakaran mesin, mampu melarutkan dan
membuang gas-gas berbahaya maupun partikulat
lainnya, serta mengatur temperatur dan kelembapan
kelembaban. Nilai minimum parameter-parameter
tersebut diatur dalam regulasi pada masing-masing
negara.
Untuk mengalirkan udara di dalam tambang,
diperlukan main fan (kipas utama) yang dipasang di
mulut tambang untuk menciptakan perbedaan tekanan
dengan udara luar, sehingga aliran udara dapat terjadi.
Dalam hal ini, terowongan tambang yang saling
terhubung sedemikian rupa menciptakan resistance
(tahanan). Proses penambangan yang dinamis
ataupun perencanaan sistem ventilasi yang kurang
tepat dapat menyebabkan kebocoran udara. Hal ini
disebabkan karena udara selalu mencari jalur melalui
terowongan dengan tahanan terkecil. Sering kali jalur
ini tidak efektif karena tidak melewati area-area
dimana pasokan udara lebih dibutuhkan untuk
operasional tambang. Dari penelitian sebelumnya,
diperkirakan kebutuhan energi untuk ventilasi
tambang mencapai 50% dari total konsumsi dan
sekitar 20-40% dari total biaya energi untuk
penambangan (Demirel, 2018).
Metode pengukuran gas tracer (perunut) dapat
diterapkan untuk mengetahui adanya kebocoran
udara. Pada umumnya hasil pengukuran gas perunut
berupa kurva distribusi konsentrasi terhadap waktu.
Selain untuk mengetahui kebocoran udara, hasil
pengukuran perunut gas juga mempunyai informasi
tentang difusi turbulensi yang dialami selama
perjalanan. Nilai difusi turbulensi ini, menurut
beberapa penelitian sebelumnya merupakan fungsi
dari beberapa parameter seperti bilangan Reynolds,
diameter terowongan, dan persentase rongga pada
dinding terowongan (Arpa, Widiatmojo, Widodo, &
Sasaki, 2008; Widiatmojo et al., 2015; Widiatmojo,
Sasaki, Widodo, & Sugai, 2013; Widiatmojo, Sasaki,
Widodo, Sugai, et al., 2013; Widodo, Sasaki, &
Gautama, 2008).
Makalah ini mendiskusikan hasil pengukuran gas
perunut yang dilakukan di tambang emas bawah
tanah Cibaliung, PT. Cibaliung Sumberdaya. Melalui
hasil pengukuran gas perunut, analisa dilakukan
terhadap jalur kebocoran udara dan laju pertukaran
udara di salah satu development heading.
Konsep pengukuran gas perunut
Dilihat dari tujuannya, pengukuran gas perunut, dapat
dibagi menjadi tiga, yaitu dilution (dilusi), decay
(peluruhan) dan recirculation (resirkulasi). Pengukuran
gas perunut untuk dilusi dilakukan dengan
melepaskan gas tertentu pada suatu posisi tertentu di
hulu dan mengukur perubahan konsentrasi di suatu
posisi tertentu di hilir menggunakan sensor atau
monitor gas. Untuk mengetahui resirkulasi pada suatu
posisi, pelepasan dan pengukuran konsentrasi
dilakukan pada titik yang sama. Sedangkan
peluruhan, dapat digunakan untuk mengetahui laju
pergantian udara pada ruangan tertutup, sebagai
contoh, development heading. Makalah ini akan
memfokuskan pembahasan pada dilusi gas dan
peluruhan.
Pada dasarnya, semua gas yang bersifat inert, tidak
beracun dan tidak terdapat dalam konsentrasi tinggi
secara natural, bisa dipakai sebagai gas perunut
Salah satu gas yang umum dipakai adalah SF6 (Sulfur
hexafluoride). Gas ini mempunyai massa jenis 6,12
gram/Liter atau 5 kali lebih berat dari udara pada
tekanan udara 1 atmosfir.
Pelepasan gas dapat dilakukan dengan dua metode
utama, yaitu pelepasan instan atau sesaat dan
pelepasan kontinu. Pelepasan instan dilakukan
dengan melepaskan sejumlah gas perunut dengan
berat dan volume yang diketahui, secara sesaat.
Gambar 1 menunjukkan persiapan dan pelaksanaan
pengukuran gas perunut, dimulai dengan pengisian
gas ke dalam balon, pengukuran dimensi dan berat
balon yang telah terisi gas, pelepasan gas (...truncated)