TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN

Batoboh : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, Sep 2019

Pada tahun 2018 Kota Padang Panjang menggelar Festival Mendongeng 24jam untuk menyemarakkan “Hari Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang bersama dengan Forum Penggiat Literasi (FPL) dan Kampung Literasi Gang Aster itu dilakukan dalam rangka menggalakkan gerakan literasi di Kota Padang Panjang sebagai bagian dari cita-cita menjadi kota literasi Indonesia dan selanjutnya kota literasi dunia. Salah satu permasalahan yang harus diatasi adalah menciptakan tontonan dan hiburan bagi para peserta yang tersebar di berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kota Padangpanjang agar mereka tertarik menerima literasi melalui media-media yang kreatif, unik dan inovatif. Mencoba menyikapi hal tersebut Pelaksana Abdimas menciptakan satu bentuk pertunjukan baru bernama Wayang Sayur. Wayang Sayuradalah jenis Teater boneka baru yang memanfaatkan sayuran sebagai medium dalam menyampaikan literasi kepada para penonton. Hasil eksperimentasi kemudian didemonstrasikan secara langsung dihadapan para penonton yakni para peserta kegiatan.Demonstasi pembuatan bonek sayuran kemudian dilanjutkan dengan pelatihan singkat kepada para peserta untuk dapat mendorong mereka menciptakan sendiri karakter-karakter Wayang Sayurmereka, sebagai bentuk literasi seni pertunjukan, yakni pengembangan teater boneka baru di Kota Padang Panjang

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Batoboh/article/download/2500/967

TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN

BATOBOH Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Available online at:https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Batoboh TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN Saaduddin1 Sherli Novalinda2 Fresti Yuliza3 Dede Pramayoza4 Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang 2Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang Jl. Bahder Johan No. 35, Guguk Malintang, Padangpanjang 27128 3Program Studi Bina Wisata, Akademi Pariwisata Paramitha Bukittinggi Jl. Veteran No. 79 C, Puhun Tembok, Gulai Bancah, Bukittinggi 26124 , , , 1,4 ABSTRAK Pada tahun 2018 Kota Padang Panjang menggelar Festival Mendongeng 24 jam untuk menyemarakkan “Hari Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang bersama dengan Forum Penggiat Literasi (FPL) dan Kampung Literasi Gang Aster itu dilakukan dalam rangka menggalakkan gerakan literasi di Kota Padang Panjang sebagai bagian dari cita-cita menjadi kota literasi Indonesia dan selanjutnya kota literasi dunia. Salah satu permasalahan yang harus diatasi adalah menciptakan tontonan dan hiburan bagi para peserta yang tersebar di berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kota Padangpanjang agar mereka tertarik menerima literasi melalui media-media yang kreatif, unik dan inovatif. Mencoba menyikapi hal tersebut Pelaksana Abdimas menciptakan satu bentuk pertunjukan baru bernama Wayang Sayur. Wayang Sayuradalah jenis Teater boneka baru yang memanfaatkan sayuran sebagai medium dalam menyampaikan literasi kepada para penonton. Hasil eksperimentasi kemudian didemonstrasikan secara langsung di hadapan para penonton yakni para peserta kegiatan. Demonstasi pembuatan bonek sayuran kemudian dilanjutkan dengan pelatihan singkat kepada para peserta untuk dapat mendorong mereka menciptakan sendiri karakterkarakter Wayang Sayurmereka, sebagai bentuk literasi seni pertunjukan, yakni pengembangan teater boneka baru di Kota Padang Panjang. Kata Kunci: Wayang Sayur; teater boneka; pendidikan karakter; literasi kesehatan Copyright © 2019, Jurnal Batoboh, ISSN 2548-5458 (print), ISSN 2599-1906 (online) Hal | 161 Jurnal Batoboh, Vol 4 , No 2, Oktober 2019 Saaduddin, Sherli Novalinda, Fresti Yuliza, Dede Pramayoza PENDAHULUAN Pada tahun 2018 Kota Padang Panjang menggelar Festival Mendongeng 24 Jam untuk menyemarakkan “Hari Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang bersama dengan Forum Penggiat Literasi (FPL) dan Kampung Literasi Gang Aster itu dilakukan dalam rangka menggalakkan gerakan literasi di Kota Padang Panjang, sebagai bagian dari cita-cita Kota Padang Panjang menjadi kota literasi Indonesia dan selanjutnya Kota Literasi Dunia. Sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan Festival Mendongeng 24 Jam Kota Padang Panjang tersebut, salah satu permasalahan yang harus diatasi adalah menciptakan tontonan dan hiburan bagi para peserta yang tersebar di berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kota Padangpanjang, agar mereka tertarik dan bersedia mendapatkan dan menggali literasi baru, yaitu menerima transfer pengetahuan atau literasi melalui media-media yang kreatif, unik dan inovatif. Mencoba menyikapi hal tersebut, Pelaksana Abdimas menciptakan satu bentuk pertunjukan baru, yang dinamakan sebagai Wayang Sayur. Pertunjukan yang dapat disebut baru ini memanfaatkan aneka sayuran sebagai bahan baku untuak menciptakan boneka, yang digunakan sebagai medium dalam menyampaikan literasi kepada para penonton atau Hal | 162 peserta dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Dalam hal ini literasi yang dimaksud adalah literasi mengenai pentingnya nilai-nilai yang berkaitan dengan karakter diri dan juga nilai-nilai yang berkaitan dengan pola hidup sehat. Hasil eksperimentasi kemudian didemonstrasikan secara langsung di hadapan para penonton yakni para peserta kegiatan Festival Mendongeng 24 Jam. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan singkat kepada para peserta untuk dapat mendorong mereka menciptakan sendiri karakterkarakter yang dapat digunakan sebagai bahan bercerita dengan menggunakan metode Wayang Sayur yang dikembangkan oleh Saadudin bersama tim Abdimas mandiri ini. Hasil dari penampilan dan pelatihan kepada para peserta yang merupakan para penggiat dan anggota Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Padangpanjang. TBM sendiri pada dasarnya adalah pusat sumber pembelajaran dan sekaligus tempat belajar bagi masyarakat sekitarnya. Selain menyediakan sumber bacaan yang dapat dipinjam dan dibaca di tempat, beragam jenis kegiatan terkait literasi dikembangkan di TBM. Artinya, setiap TBM juga diharapkan dapat berkembang sebagai pusat kreasi dan Copyright © 2019, Jurnal Batoboh, ISSN 2548-5458 (print), ISSN 2599-1906 (online) Jurnal Batoboh, Vol 4 , No 2, Oktober 2019 Saaduddin, Sherli Novalinda, Fresti Yuliza, Dede Pramayoza munculnya ide-ide baru yang ada di masyarakat dalam mengmbangkan dan meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat (M. Misriyani & Mulyono, 2019). Di padangpanjang sendiri, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) telah mendorong berbagai bentuk inovasi dan krasi untuk mengembangkan TBM. Beberapa di antaranya adalah dengan mengembangkan bentuk-bentuk literasi yang menggabungkan antara petualangan dengan kegiatan membaca serupa yang dilakukan oleh TBM Togok Di Kelurahan Ganting Kota Padang Panjang (Rahman & Nelisa, 2018) dan permainan rakyat sekaligus mendorong TBM menjadi pusat pengembangan kegiatan pariwisata di TBM Kubu Gadang Padangpanjang (Putri et al., 2017). Namun sejauh itu, belum dilakukan semacam eksperimentasi yang dapat dikembangkan sebagai bentuk keterampilan dan kapasitas baru di TBM Padangpanjang. Padahal, menyongsong berbagai kegiatan literasi di kota Padangpanjang, serupa kegiatan Festival Mendongeng 24 Jam ini, diperlukan adanya dayak tarik baru, supaya para peserta dan anggota TBM memiliki referensi baru tentang berbagai literasi, dan juga mediaum yang baru dalam membangun literasi. Berangkat dari analisis serupa itu, para pelaksana Pengabdian Pada Masyarakat (Abdimas) merancang program untuk merancang suatu medium pertunjukan baru yang bernama Wayang Sayur yang memanfaatkan potensi yang dekat Hal | 163 dengan masyarakat Padangpanjang itu sendiri. Pengabdian masyarakat dilaksanakan secara mandiri, artinya tanpa dukungan pendanaan dari Lembaga ISI Padangpanjang. Para pelaksana Abdimas sendiri adalah gabungan dari beberapa program studi dan lembaga yang berbeda, yang berkolaborasi untuk melaksanakan kegiatan Abdimas bertajuk Wayang Sayur ini. Program Abdimas dilaksanakan dengan tiga metode yang saling berkaitan, yakni: (1) eksperimentasi, yakni penciptaan media; (2) presentasi, yakni proses pertunjukan; dan (3) diseminasi, yakni proses lokakarya atas hasil yang didapatkan. Eksperimentasi, presentasi dan diseminasi berfokus pada Wayang Sayur, yakni sebuah media visual yang dimainkan untuk mencoba membe (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Batoboh/article/download/2500/967
Article home page: http://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Batoboh/article/view/2500/967

Saaduddin Saaduddin, Sherli Novalinda, Yuliza Fresti, Dede Pramayoza. TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN, Batoboh : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 2019, pp. 161-173,