TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN
BATOBOH
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Available online at:https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Batoboh
TEATER BONEKA WAYANG SAYUR:
PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI
SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN
LITERASI KESEHATAN
Saaduddin1
Sherli Novalinda2
Fresti Yuliza3
Dede Pramayoza4
Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang
2Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang
Jl. Bahder Johan No. 35, Guguk Malintang, Padangpanjang 27128
3Program Studi Bina Wisata, Akademi Pariwisata Paramitha Bukittinggi
Jl. Veteran No. 79 C, Puhun Tembok, Gulai Bancah, Bukittinggi 26124
, , ,
1,4
ABSTRAK
Pada tahun 2018 Kota Padang Panjang menggelar Festival Mendongeng 24 jam untuk
menyemarakkan “Hari Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang bersama dengan Forum Penggiat
Literasi (FPL) dan Kampung Literasi Gang Aster itu dilakukan dalam rangka menggalakkan
gerakan literasi di Kota Padang Panjang sebagai bagian dari cita-cita menjadi kota literasi
Indonesia dan selanjutnya kota literasi dunia. Salah satu permasalahan yang harus diatasi
adalah menciptakan tontonan dan hiburan bagi para peserta yang tersebar di berbagai
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kota Padangpanjang agar mereka tertarik menerima
literasi melalui media-media yang kreatif, unik dan inovatif. Mencoba menyikapi hal
tersebut Pelaksana Abdimas menciptakan satu bentuk pertunjukan baru bernama Wayang
Sayur. Wayang Sayuradalah jenis Teater boneka baru yang memanfaatkan sayuran sebagai
medium dalam menyampaikan literasi kepada para penonton. Hasil eksperimentasi
kemudian didemonstrasikan secara langsung di hadapan para penonton yakni para peserta
kegiatan. Demonstasi pembuatan bonek sayuran kemudian dilanjutkan dengan pelatihan
singkat kepada para peserta untuk dapat mendorong mereka menciptakan sendiri karakterkarakter Wayang Sayurmereka, sebagai bentuk literasi seni pertunjukan, yakni
pengembangan teater boneka baru di Kota Padang Panjang.
Kata Kunci: Wayang Sayur; teater boneka; pendidikan karakter; literasi kesehatan
Copyright © 2019, Jurnal Batoboh, ISSN 2548-5458 (print), ISSN 2599-1906 (online)
Hal | 161
Jurnal Batoboh, Vol 4 , No 2, Oktober 2019
Saaduddin, Sherli Novalinda, Fresti Yuliza, Dede Pramayoza
PENDAHULUAN
Pada tahun 2018 Kota Padang
Panjang menggelar Festival Mendongeng
24 Jam untuk menyemarakkan “Hari
Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang
diselenggarakan
oleh
Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan (DPK)
Kota Padang Panjang bersama dengan
Forum Penggiat Literasi (FPL) dan
Kampung Literasi Gang Aster itu
dilakukan dalam rangka menggalakkan
gerakan literasi di Kota Padang
Panjang, sebagai bagian dari cita-cita
Kota Padang Panjang menjadi kota
literasi Indonesia dan selanjutnya Kota
Literasi Dunia.
Sebagai bagian dari pelaksanaan
kegiatan Festival Mendongeng 24 Jam
Kota Padang Panjang tersebut, salah
satu permasalahan yang harus diatasi
adalah menciptakan tontonan dan
hiburan bagi para peserta yang tersebar
di berbagai Taman Bacaan Masyarakat
(TBM) di kota Padangpanjang, agar
mereka
tertarik
dan
bersedia
mendapatkan dan menggali literasi
baru,
yaitu
menerima
transfer
pengetahuan atau literasi melalui
media-media yang kreatif, unik dan
inovatif.
Mencoba
menyikapi
hal
tersebut,
Pelaksana
Abdimas
menciptakan satu bentuk pertunjukan
baru, yang dinamakan sebagai Wayang
Sayur. Pertunjukan yang dapat disebut
baru ini memanfaatkan aneka sayuran
sebagai
bahan
baku
untuak
menciptakan boneka, yang digunakan
sebagai medium dalam menyampaikan
literasi kepada para penonton atau
Hal | 162
peserta dari Taman Bacaan Masyarakat
(TBM). Dalam hal ini literasi yang
dimaksud adalah literasi mengenai
pentingnya nilai-nilai yang berkaitan
dengan karakter diri dan juga nilai-nilai
yang berkaitan dengan pola hidup
sehat.
Hasil eksperimentasi kemudian
didemonstrasikan secara langsung di
hadapan para penonton yakni para
peserta kegiatan Festival Mendongeng 24
Jam. Kegiatan kemudian dilanjutkan
dengan pelatihan singkat kepada para
peserta untuk dapat mendorong
mereka menciptakan sendiri karakterkarakter yang dapat digunakan sebagai
bahan bercerita dengan menggunakan
metode
Wayang
Sayur
yang
dikembangkan oleh Saadudin bersama
tim Abdimas mandiri ini.
Hasil dari penampilan dan
pelatihan kepada para peserta yang
merupakan para penggiat dan anggota
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di
Kota Padangpanjang. TBM sendiri pada
dasarnya
adalah
pusat
sumber
pembelajaran dan sekaligus tempat
belajar bagi masyarakat sekitarnya.
Selain menyediakan sumber bacaan
yang dapat dipinjam dan dibaca di
tempat, beragam jenis kegiatan terkait
literasi dikembangkan di TBM. Artinya,
setiap TBM juga diharapkan dapat
berkembang sebagai pusat kreasi dan
Copyright © 2019, Jurnal Batoboh, ISSN 2548-5458 (print), ISSN 2599-1906 (online)
Jurnal Batoboh, Vol 4 , No 2, Oktober 2019
Saaduddin, Sherli Novalinda, Fresti Yuliza, Dede Pramayoza
munculnya ide-ide baru yang ada di
masyarakat dalam mengmbangkan dan
meningkatkan minat baca dan literasi
masyarakat (M. Misriyani & Mulyono,
2019).
Di padangpanjang sendiri, Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan (DPK)
telah mendorong berbagai bentuk
inovasi
dan
krasi
untuk
mengembangkan TBM. Beberapa di
antaranya
adalah
dengan
mengembangkan bentuk-bentuk literasi
yang
menggabungkan
antara
petualangan dengan kegiatan membaca
serupa yang dilakukan oleh TBM
Togok Di Kelurahan Ganting Kota
Padang Panjang (Rahman & Nelisa,
2018) dan permainan rakyat sekaligus
mendorong TBM menjadi pusat
pengembangan kegiatan pariwisata di
TBM Kubu Gadang Padangpanjang
(Putri et al., 2017).
Namun sejauh itu, belum
dilakukan semacam eksperimentasi
yang dapat dikembangkan sebagai
bentuk keterampilan dan kapasitas
baru di TBM Padangpanjang. Padahal,
menyongsong berbagai kegiatan literasi
di
kota
Padangpanjang,
serupa
kegiatan Festival Mendongeng 24 Jam ini,
diperlukan adanya dayak tarik baru,
supaya para peserta dan anggota TBM
memiliki referensi baru tentang
berbagai literasi, dan juga mediaum
yang baru dalam membangun literasi.
Berangkat dari analisis serupa
itu, para pelaksana Pengabdian Pada
Masyarakat (Abdimas) merancang
program untuk merancang suatu
medium pertunjukan baru yang
bernama
Wayang
Sayur
yang
memanfaatkan potensi yang dekat Hal | 163
dengan masyarakat Padangpanjang itu
sendiri.
Pengabdian
masyarakat
dilaksanakan secara mandiri, artinya
tanpa dukungan pendanaan dari
Lembaga ISI Padangpanjang. Para
pelaksana Abdimas sendiri adalah
gabungan dari beberapa program studi
dan lembaga yang berbeda, yang
berkolaborasi untuk melaksanakan
kegiatan Abdimas bertajuk Wayang
Sayur ini.
Program Abdimas dilaksanakan
dengan tiga metode yang saling
berkaitan, yakni: (1) eksperimentasi,
yakni penciptaan media; (2) presentasi,
yakni proses pertunjukan; dan (3)
diseminasi, yakni proses lokakarya atas
hasil yang didapatkan. Eksperimentasi,
presentasi dan diseminasi berfokus
pada Wayang Sayur, yakni sebuah
media visual yang dimainkan untuk
mencoba membe (...truncated)