KAJIAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN BERBASIS TEKNOLOGI KOMUNIKASI DALAM MEWUJUDKAN REVOLUSI 4.0 DI KABUPATEN KONAWE SELATAN
ISSN: 2775-7145 (Online)
JIPPM (Jurnal Ilmiah Penyuluhan dan
Pengembangan Masyarakat)
2023: 3 (Special Issue): 92 – 102
https://ojs.uho.ac.id/index.php/JIPPM
doi: http://dx.doi.org/10.56189/jippm.v3i0.46322
KAJIAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN BERBASIS TEKNOLOGI KOMUNIKASI DALAM
MEWUJUDKAN REVOLUSI 4.0 DI KABUPATEN KONAWE SELATAN
Liwaul1*, Taufik1, Muhammad Nadzirin Nur1, Indra Lestari1
1 Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia
* Corresponding Author:
To cite this article:
Liwaul, L., Taufik, T., Nur, M. N., & Lestari, I. (2023). Kajian Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Teknologi
Komunikasi dalam Mewujudkan Revolusi 4.0 di Kabupaten Konawe Selatan. JIPPM (Jurnal Ilmiah Penyuluhan
dan Pengembangan Masyarakat), 3 (Special Issue), 92 – 102. http://dx.doi.org/10.56189/jippm.v3i0.46322
Received: 10 Juli 2023; Accepted: 25 Oktober 2023; Published: 28 November 2023
ABSTRACT
Evaluation of the implementation of SPBE in several regional governments in Southeast Sulawesi
Province shows that achievements are not very good. Based on the results of the SPBE evaluation of several
regional governments in Southeast Sulawesi Province, it shows that the South Konawe Regency Government is
in first place with the predicate "Sufficient" and has an index of 2.52. This research aims to determine information
and communication technology-based governance in the South Konawe Regency Government and the factors that
influence it. This research was carried out at the South Konawe Regency Regional Government. In this research,
there are four Regional Apparatus Organizations (OPD) and one Village Government which are designated as
units of analysis. This research uses descriptive research with a qualitative research approach. Data collection
techniques used in this research include: interviews, observation and documentation. The data analysis technique
that researchers use refers to interactive model analysis according to Miles and Huberman which is carried out in
3 flows, namely; carry out data reduction, present data (data display), and draw conclusions. The research results
show that the application of information and communication technology supports the realization of good
governance in the South Konawe Regency Government. This can be seen from the various digital service
application innovations that have been developed which are capable of creating government governance that is
responsive, effective, efficient, and has perceived benefits and impacts. Although it has not yet optimally utilized
the role of ICT in terms of information transparency and public accountability in aspects of regional budget
management performance. The establishment of a vision and goal to become a Smart City has triggered the South
Konawe Regency Government and all Regional Apparatus Organizations (OPD) to be very enthusiastic in
developing and implementing an electronic-based government system (SPBE). The Regent's visionary leadership
towards digital-based governance reform is a determining factor in the success of e-government development in
South Konawe Regency. Leadership with a clear vision and strong commitment to e-government plays an
important role in efforts to provide all the resources needed such as institutions (policies and regulations,
institutional strengthening), human resources, budgets and digital/ICT infrastructure.
Keywords: Governance, Government, Communication Technology, Revolution 4.0.
PENDAHULUAN
Revolusi industri 4.0 telah mentransformasi kehidupan manusia dalam berbagai aspek salah satunya
pada bidang pemerintahan. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi yang kemudian mengubah cara pemerintah dalam mengelola bisnis dan proses
penyelenggaraan pemerintahan (Meijer & Bekkers, 2015). Ketika pemerintah menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi dalam proses pemerintahan maka pada saat itu juga pemerintah bertransformasi menjadi
CONTACT Liwaul
Vol 3. Special Issue. November 2023
Jurnal Ilmiah Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat
93
government (Buffat, 2015). Dengan demikian, e-government merupakan sebuah pendekatan yang diambil
pemerintah untuk memodernisasi sektor publik berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagai dampak dari
revolusi industri 4.0.
Penerapan e-government pada organisasi publik dimulai ketika penggunaan teknologi informasi menuai
sukses di sektor swasta atau biasa dikenal dengan istilah e-commercial. Kesuksesan tersebut kemudian coba
dikembangkan pada sektor publik untuk meningkatkan kinerja organisasi publik (Premkumar et al., 2006; Velcu,
2007). Sehingga saat ini, adopsi teknologi informasi oleh sektor publik terlihat pada berbagai wujud pelayanan
kepada masyarakat dengan menggunakan internet dalam bentuk website.
Meskipun sebenarnya e-government tidak selalu berwujud penggunaan internet dan website, tetapi
mencakup semua pemanfaatan berbagai media elektronik dalam penyelenggaraan pemeritahan. Namun, internet
dan website dalam perkembangannya menjadi media yang lebih populer dibandingkan penggunaan media
lainnya. Kepopuleran internet dan website bahkan seringkali mengaburkan makna e-government itu sendiri,
seolah e-government identik dengan internet dan website (tools), bukan sebagai sebuah sistem pengelolaan relasi
baru yang bersifat timbal balik antara pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Website atau situs web
ini kemudian menjadi menggurita dalam hal ukuran dan jumlah penggunanya (Purbokusumo & Utomo, 2009).
Penerapan e-government diharapkan akan membuat masyarakat dan birokrasi pemerintah mampu
berhubungan secara lebih nyaman, berbiaya murah, dan efektif terutama bagi pemerintah sebagai penyampai
informasi dan pelayanan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan e-government, kualitas pelayanan
pemerintah bisa meningkat (Vassilakis et al., 2004), partisipasi warga dalam aktivitas publik juga meningkat
(Lytras, 2006), kepercayaan masyarakat pada pemerintah meningkat (Abie et al., 2004), dan birokrasi pemerintah
bisa lebih akuntabel (Gonzalez et al., 2007) serta transparan (Iyer et al., 2006). Bahkan pengambilan keputusan
di lingkungan birokrasi publik akan lebih tepat, akurat, dan aman (Holden & Millett, 2005). Meskipun persoalan
sekuritas atau keamanan data dalam e-government banyak dipertanyakan, tetapi penelitian Lai menunjukkan
bahwa berdasarkan sistem ArcIMS, persoalan keamanan dapat diatasi dengan baik (Lai et al., 2006). Lebih
penting lagi, penggunaan e-government akan merubah perilaku aparat dan masyarakat dalam mengelola urusanurusan publik menjadi lebih baik (Premkumar et al., 2006).
Di Indonesia implementasi penerapan teknologi informasi dan komunikasi dimulai ketika pemerintah
menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan egovernment yang kemudian diperkuat dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2018
Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Peraturan-peratura (...truncated)