PENGARUH INDIKATOR MAKROEKONOMI DAN KINERJA KEUANGAN TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
JOURNAL
GEOEKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BALIKPAPAN
P ENGARUH INDIKATO R M AKRO EKO NOM I DAN KINERJA
KEUANGAN TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA
PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Yudhi Hendrawan1, Nadi Hernadi Moorcy2, Agustina Wulandari Santoso3,
Sukimin4
1
Prodi Manajemen Universitas Balikpapan
| 2
3
| 4
ABSTRAK
Pengaruh Indikator Makroekonomi Dan Kinerja Keuangan Terhadap Financial Distress
Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Tujuan
penelitian ini adalah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Inflasi, Suku
Bunga, Nilai Tukar, Current ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover, dan
Return On Assets secara parsial terhadap Financial Distress. Populasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sebanyak 69 perusahaan, dengan menggunakan teknik
purposive sampling dengan kriteria yang ditetapkan penulis. Data yang digunakan
adalah sumber yang telah ada baik data internal maupun data eksternal dan data dapat
diakses melalui internet dan publikasi informasi. Data yang digunakan yaitu Bank
Indonesia dan laporan keuangan perusahaan sektor pertambangan pada tahun 20112020 di Bursa Efek Indonesia. Metode analisis data menggunakan regresi linier
berganda. Hasil Analisis menunjukkan bahwa variabel Inflasi, Suku Bunga, dan Rasio
Leverage (Debt To Equity Ratio) tidak berpengaruh signifikan terhadap Financial
Distress. Nilai Tukar, Rasio Likuiditas (Current Ratio), Rasio Aktivitas (Total Asset
Turnover), dan Rasio Pofitabilitas (Return On Assets) berpengaruh signifikan terhadap
Financial Distress.
Kata Kunci : Makroekonomi; Rasio Keuangan; dan Financial Distress.
ABSTRACT
The Influence of Macroeconomic Indicators and Financial Performance on Financial
Distress in Mining Sector Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange. The
purpose of this study is to determine the effect of Inflation, Interest Rates, Exchange
Rates, Current Ratios, Debt To Equity Ratios, Total Assets Turnover, and Return On
Assets partially on Financial Distress. The population used in this study were 69
companies, using a purposive sampling technique with the criteria set by the author.
The data used are sources that already exist, both internal data and external data, and
the data can be accessed via the internet and information publications. The data used
are Bank Indonesia and the financial statements of mining sector companies in 20112020 on the Indonesia Stock Exchange. The data analysis method used multiple linear
regression. The results of the analysis show that the variables of Inflation, Interest Rate,
and Leverage Ratio (Debt To Equity Ratio) have no significant effect on Financial
Distress. Exchange Rate, Liquidity Ratio (Current Ratio), Activity Ratio (Total Asset
195
Jurnal GeoEkonomi ISSN-Elektronik (e): 2503-4790 | ISSN-Print (p): 2086-1117
Volume 13 Nomor 02 September 2022 | DOI: doi.org/10.36277/geoekonomi.v13i2.207
http://jurnal.fem.uniba-bpn.ac.id/index.php/geoekonomi
JOURNAL
GEOEKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BALIKPAPAN
Turnover), and Profitability Ratio (Return On Assets) have a significant effect on
Financial Distress.
Keyword: Macroeconomics; Financial Ratios; and Financial Distress.
PENDAHULUAN
Perkembangan perekonomian di dunia yang dinamis menuntut sektor industri yang ada
di Indonesia agar selalu berupaya untuk mempertahankan serta meningkatkan
kinerjanya sebagai antisipasi dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Salah satunya
sektor industri pertambangan dimana sektor ini sangat membantu dalam pertumbuhan
perekonomian di Indonesia.
Sektor pertambangan sangat banyak diminati oleh para investor baik dalam negeri
maupun luar negeri, meskipun begitu sektor petambangan berbeda dengan sektor
industri lainnya dimana sektor pertambangan membutuhkan biaya investasi yang sangat
besar, modal yang berjangka panjang, syarat risiko, dan adanya ketidakpastian yang
tinggi terhadap pendanaan pada pertambangan (Maulana, 2017). Sehingga banyaknya
sektor pertambangan yang memasuki pasar modal untuk menunjang permodalan yang
dibutuhkan oleh sektor pertambangan dalam menyerap biaya investasi dan memperkuat
posisi keuangannya dalam persaingannya. Pasar modal dapat dikatakan sebagai sarana
kegiatan berinvestasi bagi perusahaan atau pemerintah dalam hal pendanaan dengan
cara menjual saham ataupun surat-surat berharga lainnya dengan memanfaatkan jasa
perantara dalam kegiatannya (Saputri et al., 2019).
Sektor pertambangan di pasar modal sangat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan
perekonomian Indonesia dengan cara menarik inverstor dipasar modal untuk
memberikan investasinya dengan memberikan laporan keuangan untuk melihat kinerja
perusahaan tersebut. Namun sepanjang tahun 2011 sampai tahun 2020 tercacat di Bursa
Efek Indonesia IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada sektor industri
pertambangan mengalami kenaikan dan penurunan harga saham dalam beberapa tahun
terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dari gambar 1.1 Grafik Perubahan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) Sektor Pertambangan tahun 2011-2020.
50
0
2011
-50
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Grafik 1.1
Perubahan Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) Perusahaan Sektor
Pertambangan Periode Tahun 2011-2020
Sumber: www.idx.co.id dan Data Diolah (2021)
Kenaikan maupun penurunan yang terjadi tentunya ada beberapa faktor yang
mempengaruhi di dalamnya yang tidak hanya masalah kinerja keuangan di dalam
perusahaan tetapi ada faktor lain yang menjadi masalah dalam sektor pertambangan
196
Jurnal GeoEkonomi ISSN-Elektronik (e): 2503-4790 | ISSN-Print (p): 2086-1117
Volume 13 Nomor 02 September 2022 | DOI: doi.org/10.36277/geoekonomi.v13i2.207
http://jurnal.fem.uniba-bpn.ac.id/index.php/geoekonomi
JOURNAL
GEOEKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BALIKPAPAN
yaitu faktor eksternal berupa makro ekonomi dalam suatu negara seperti inflasi, tingkat
suku bunga, dan nilai tukar yang mana menjadi perbincangan beberapa tahun terakhir
dan jika dibiarkan akan mengakibatkan kondisi keuangan menjadi tidak stabil serta
mungkinnya terjadi financial distress pada sektor pertambangan (Rohiman &
Damayanti, 2019).
Financial distress merupakan kesulitan masalah keuangan dalam suatu perusahaan
dimana financial distress menggambarkan kondisi suatu perusahaan yang mengalami
masalah keuangan tetapi tidak sampai terjadi kebangkrutan (Nurhidayah & Rizqiyah,
2018). Financial distress dalam suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui
laporan keuangan. Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan
salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan perusahaan yang sangat berguna untuk mendukung
pengambilan keputusan yang tepat (Kurniawati, 2020).
Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu perusahaan (PSAK No 1, 2017). Sehingga baik dan buruknya kinerja
keuangan perusahaan dapat dilihat dalam laporan keuangan perusahaan (...truncated)