DETEKSI DINI PENYAKIT BALITA MENGGUNAKAN ALGORITMA SORENSEN BERBOBOT
Deteksi Dini Penyakit Balita Menggunakan Algoritma Sorensen Berbobot
Nur Kharisa Umami 1, Setyawan Wibisono2
Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank, Jl. Tri Lomba Juang No.1, Semarang 50241, Indonesia
Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank, Jl. Tri Lomba Juang No.1, Semarang 50241, Indonesia
INFORMASI ARTIKEL
Sejarah Artikel:
Diterima Redaksi: 20 Juni 2021
Revisi Akhir: 03 Juli 2021
Diterbitkan Online: 10 September 2021
KATA KUNCI
Sistem Pakar
Balita
Case-Based Reasoning
AHP
Sorensen
KORESPONDENSI
A B S T R A C T
There are still many parents who do not have sufficient understanding in terms of toddler
disease. One way to provide education is the availability of a system that can be used for
consultation based on the symptoms of illness experienced by toddlers and the actions
needed to overcome them. The system that will be built is an expert system that can
relatively provide suggestions for solutions to children's health problems using the Case
Based Reasoning (CBR) method. namely an expert system that uses case-based reasoning
methods, namely looking for similarities of a disease compared to a disease that has
existed before. In this study, the CBR method was combined with a weighting process
using the pairwise comparison method which was within the scope of the AHP (Analytic
Hierarchy Process) method. In comparing consultations with old diseases that already
exist in the system, and looking for similarities from the comparison results, the Sorensen
similarity algorithm is used. This study resulted in weights with 3 symptom categories,
namely mild symptoms with a weight of 0.09, moderate symptoms with a weight of 0.24
and severe symptoms with a weight of 0.67 and will recommend several diseases with a
similarity above 0.5 and diseases with a similarity below 0.5 will be entered into the revise
table to find a solution.
E-mail:
1. PENDAHULUAN
Kehadiran seorang anak adalah salah satu dambaan terbesar
dalam kehidupan pernikahan. Orang tua tentu sangat
memperhatikan tumbuh kembang anak sejak kelahirannya,
bahkan sejak dalam kandungan.
Salah satu hal yang sangat diperhatikan adalah pada sisi
kesehatan anak. Salah satu kebahagiaan terbesar orang tua adalah
melihat anak-anaknya dalam keadaan sehat, sedangkan salah satu
kesedihan terbesar orang tua adalah ketika anaknya sakit. Orang
tua akan mengupayakan segala usaha serta mencurahkan tenaga,
pikiran, waktu, biaya dan perasaan untuk kesehatan sang anak.
Kesehatan anak pada saat lahir dan tumbuh kembang anak pada
masa balita adalah salah satu prioritas orang tua. Gangguan
kesehatan pada anak akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan fisik dan mental anak di kemudian hari. Ketika
anak pada masa balita sering mengalami gangguan sakit, maka
sedikit banyak akan menjadikan anak kurang berkembang secara
maksimal. Dalam mengupayakan tumbuh kembang anak dengan
baik, maka orang tua selalu memperhatikan asupan makanan bagi
anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan suplemen berupa
makanan tambahan dan vitamin, agar anak selalu sehat dan
memiliki daya tahan yang kuat. Secara fisik dan mental, balita
lebih rentan dari serangan penyakit. Secara geografis, Indonesia
Nur Kharisa Umami
yang berada di daerah tropis, mempunyai banyak varian mikro
organisme sebagai penyebab munculnya penyakit [1]. Dengan
kondisi demikian, maka peran orang tua sangat dibutuhkan dalam
mengetahui penyakit-penyakit yang sering menyerang anak, serta
mempunyai pengetahuan dasar dalam menanggulangi penyakit
anak pada masa balita.
Gejala penyakit yang dianggap relatif ringan dan seringkali
menyerang balita di Indonesia adalah deman, suhu badan
meningkat, diare, sembelit, batuk dan pilek. Kondisi penyakit
pada balita seringkali dipengaruhi interaksi balita dengan orang
dewasa di sekitarnya yang membawa gejala penyakit, kemudian
menularkannya pada balita. Menghadapi kondisi balita yang
sedang sakit, maka dibutuhkan pengetahuan dasar orang tua
dalam mengantisipasi hal tersebut. Kondisi orang tua balita di
Indonesia relatif beragam dalam hal pengetahuan terhadap
gangguan penyakit balita.
Masih banyak orang tua yang belum memiliki pemahaman yang
cukup dalam hal penyakit balita. Untuk itu orang tua perlu
diberikan pemahaman tentang karakteristik penyakit-penyakit
yang biasanya menyerang balita. Perlu juga diberikan edukasi
langkah-langkah antisipasi berdasarkan pengetahuan dari tenaga
medis yang berkompeten terhadap penyakit balita.
Dengan kondisi di Indonesia yang jumlah tenaga medisnya relatif
kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka seringkali
Deteksi Dini Penyakit Balita
JURNAL ILMIAH INFORMATIKA - VOL. 09 NO. 02 (2021) | ISSN (Print) 2337-8379
konsultasi medis adalah hal yang jarang dilakukan dalam
mengawasi kesehatan balita. Anak balita ketika sakit langsung
dibawa ke tenaga medis, karena hanya berharap anaknya segera
mendapatkan pertolongan medis, padahal seringkali banyak hal
yang harus dapat dilakukan oleh orang tua terhadap balita yang
sedang sakit, sebelum membawa anak kepada tenaga medis.
Salah satu cara untuk memberikan edukasi tentang identifikasi
penyakit balita serta tindakan antisipasi adalah dengan suatu
sistem yang dapat digunakan untuk konsultasi berdasarkan
gejala-gejala penyakit yang dialami balita serta tindakan yang
diperlukan untuk mengatasinya. Sistem tersebut adalah sistem
pakar tentang penyakit balita yang dibuat berdasarkan kepakaran
seorang pakar kesehatan balita. Sistem yang akan dibangun
adalah sistem pakar yang dapat relatif memberikan saran solusi
terhadap permasalahan kesehatan balita.
Sistem pakar adalah sistem yang menggunakan komputer sebagai
alat bantu dalam menyimpan pengetahuan seorang pakar,
kemudian sistem dapat mengadopsi pengetahuan pakar tersebut.
Hasil adopsi dapat digunakan sebagai salah satu dukungan dalam
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kepakarannya [2].
Sistem pakar ini akan dibangun dengan metode CBR (Case Based
Reasoning) yaitu sistem pakar yang pola identifikasinya
menggunakan metode penalaran berbasis kasus, yaitu mencari
kemiripan suatu penyakit yang dikonsultasikan dibandingkan
dengan penyakit yang telah ada sebelumnya [3]. Dalam penelitian
ini metode CBR dilakukan penggabungan proses dengan
pembobotan yang menggunakan metode pairwise comparison
yang berada dalam lingkup metode AHP (Analytic Hierarchy
Process). Dalam membandingkan konsultasi dengan penyakit
lama yang telah ada pada sistem, serta mencari kemiripan dari
hasil perbandingan maka digunakan algoritma similaritas
Sorensen.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
| ISSN (Online) 2615-1049
Implementasi CBR juga dapat digunakan dalam melakukan
deteksi dini kondisi gizi seorang anak. Kondisi gizi dapat
diketahui dari kondisi-kondisi atribut yang dimiliki seorang anak,
kemudian dibandingkan dengan tingkatan status gizi yang
menjadi standar dalam penentuan kondisi gizi secara umum.
Akurasi diagnosa memperoleh nilai lebih dari 90% [7].
Terapi yang diperlukan pada tindakan lanjutan setelah diagnosa (...truncated)