Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018

Oct 2020

Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan menurut usia dibawah -2 standar median kurva pertumbuhan anak WHO (WHO, 2010). Angka stunting Kabupaten Lampung Selatan tahun 2017 mencapai 30,3 %. Di Puskesmas Banjar Agung tahun 2017 didapatkan 31 balita mengalami stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan stunting balita usia 24-36 bulan. Penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran langsung dan melihat buku KIA. Populasi adalah balita berusia 24-36 bulan di Puskesmas Banjar Agung sejumlah 474 balita, sampel 362 responden dengan teknik proporsional random sampling. Analisa data univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan angka stunting balita usia 24-36 bulan sebesar 26%. Ada hubungan antara riwayat kurang energi kronis pada ibu (p <0.001, OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), tinggi badan ibu (p<0.001, OR 12.9, 95%CI 3.6-46.9), usia ibu saat hamil (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), riwayat BBLR (p <0.001, OR 14.1, 95%CI 2.9-66.4), riwayat ASI tidak Ekslusif (p <0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3) dan persediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). Faktor paling dominan adalah riwayat kurang energi kronis pada ibu saat hamil (OR 12.6, 95%CI 3.9-40.8). Disarankan agar Puskesmas melakukan penanganan terhadap balita stunting, bekerja sama dengan lintas sektor terkait membuat komitmen yang mendukung kebijakan penundaan usia perkawinan <20 tahun, penerapan ASI ekslusif, perbaikan sanitasi lingkungan dan peningkatan akses air bersih bagi masyarakat.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/article/download/1850/pdf

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018

Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity) Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018 Factor Associated with the Incidence of Stunting Toddlers Ages 24-36 Months In 2018 Nurul Aryastuti1, Yuyun Kamsiati2, Dainty Maternity3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Lampung, Indonesia Puskesmas Banjar Agung, Lampung Selatan, Indonesia 3 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Lampung, Indonesia *Korespondensi penulis: 1 2 Penyerahan: 15-05-2020, Perbaikan: 24-07-2020, Diterima: 23-08-2020 ABSTRACT Stunting is defined as height according to age below the median -2 standard of the child growth curve of WHO. The stunting number of South Lampung Regency in 2017 reached 30.3%. At the Banjar Agung Public Health Center in 2017, 31 children were stunted. The study aimed to determine the factors associated with stunting of children aged 24-36 months. This research was quantitative with a cross-sectional approach. Data collection were used by taking direct measurements and looking at KIA books. The population were toddlers aged 24-36 months in Banjar Agung Public Health Center South Lampung Regency in the amount of 474 toddlers. The sample of 362 respondents with proportional random sampling technique. Data were analyzed using chi-square test and multiple logistic regression tests. The results showed that the stunting rate of infants aged 24-36 months was 26%. There was the relationship between the history of chronic energy deficiency in the mother (p <0.001, OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), maternal height (p <0.001, OR 12.9, 95%CI 3.6-46.9), maternal age at pregnancy (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), LBW history (p <0.001, OR 14.1, 95%CI 2.9-66.4), history of non-exclusive breastfeeding (p <0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3) and clean water supplies that do not meet the requirements (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). The most dominant factor was a history of chronic energy deficiency in the mother during pregnancy (OR 12.6, 95%CI 3.9-40.8). It was recommended that Puskesmas treatment stunting toddlers cooperate with cross-sectors related to making commitments that support the policy of delaying marriage age <20 years, applying exclusive breastfeeding, improving environmental sanitation and increasing access to clean water for the community. Keywords: Stunting, Maternal Factors, exclusive breastfeeding, Clean Water Supply. ABSTRAK Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan menurut usia dibawah -2 standar median kurva pertumbuhan anak WHO (WHO, 2010). Angka stunting Kabupaten Lampung Selatan tahun 2017 mencapai 30,3 %. Di Puskesmas Banjar Agung tahun 2017 didapatkan 31 balita mengalami stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan stunting balita usia 24-36 bulan. Penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran langsung dan melihat buku 336 Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 3, Juli 2020, hal. 336-345 ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online) http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity) KIA. Populasi adalah balita berusia 24-36 bulan di Puskesmas Banjar Agung sejumlah 474 balita, sampel 362 responden dengan teknik proporsional random sampling. Analisa data univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan angka stunting balita usia 24-36 bulan sebesar 26%. Ada hubungan antara riwayat kurang energi kronis pada ibu (p <0.001, OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), tinggi badan ibu (p<0.001, OR 12.9, 95%CI 3.6-46.9), usia ibu saat hamil (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), riwayat BBLR (p <0.001, OR 14.1, 95%CI 2.9-66.4), riwayat ASI tidak Ekslusif (p <0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3) dan persediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). Faktor paling dominan adalah riwayat kurang energi kronis pada ibu saat hamil (OR 12.6, 95%CI 3.940.8). Disarankan agar Puskesmas melakukan penanganan terhadap balita stunting, bekerja sama dengan lintas sektor terkait membuat komitmen yang mendukung kebijakan penundaan usia perkawinan <20 tahun, penerapan ASI ekslusif, perbaikan sanitasi lingkungan dan peningkatan akses air bersih bagi masyarakat. Kata kunci: Stunting, Faktor Maternal, ASI ekslusif, Persediaan Air Bersih. PENDAHULUAN Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai zscorenya kurang dari -2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3 SD (Kemenkes RI, 2016). Stunting pada masa anak-anak berdampak pada tinggi badan yang pendek dan penurunan pendapatan saat dewasa, rendahnya angka masuk sekolah, dan penurunan berat lahir keturunannya kelak (Victora et al., 2008). Trihono dkk (2015) memaparkan analisis korelasi data agregat tiap kabupaten/kota hasil Riskesdas 2013 dari indikator IPKM 2013 bahwa status gizi pendek pada balita dan anak usia sekolah dipengaruhi oleh faktor kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku penduduk, kesehatan reproduksi, status ekonomi dan status pendidikan. Kabupaten Lampung Selatan masuk dalam kategori wilayah dengan prevalensi pendek tinggi sebesar 30,3 %. Pendataan awal balita stunting umur 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Banjar Agung Kabupaten Lampung Selatan tahun 2017 terdapat 31 balita yang masuk dalam kategori stunting dan belum pernah diadakan penelitian faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian balita stunting sebelumnya. Berdasarkan uraian di latar belakang peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Banjar Agung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2018. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Banjar Agung Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Oktober sampai dengan November 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita 2436 bulan di wilayah kerja Puskesmas Banjar Agung yaitu 474 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 362 orang dengan teknik proportional 337 Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 3, Juli 2020, hal. 336-345 ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online) http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity) random Sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kurang energi kronis pada ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, riwayat berat badan lahir rendah, jarak kelahiran, riwayat hipertensi, riwayat pemberian ASI Ekslusif dan persediaan air bersih. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah stunting pada bali (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/article/download/1850/pdf
Article home page: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/article/view/1850/pdf

Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018, 2020, pp. 336-345,