Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018
Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity)
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia
24-36 Bulan Tahun 2018
Factor Associated with the Incidence of Stunting Toddlers Ages 24-36
Months In 2018
Nurul Aryastuti1, Yuyun Kamsiati2, Dainty Maternity3
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Lampung, Indonesia
Puskesmas Banjar Agung, Lampung Selatan, Indonesia
3
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Lampung, Indonesia
*Korespondensi penulis:
1
2
Penyerahan: 15-05-2020, Perbaikan: 24-07-2020, Diterima: 23-08-2020
ABSTRACT
Stunting is defined as height according to age below the median -2 standard of the child
growth curve of WHO. The stunting number of South Lampung Regency in 2017 reached
30.3%. At the Banjar Agung Public Health Center in 2017, 31 children were stunted. The
study aimed to determine the factors associated with stunting of children aged 24-36
months. This research was quantitative with a cross-sectional approach. Data collection
were used by taking direct measurements and looking at KIA books. The population were
toddlers aged 24-36 months in Banjar Agung Public Health Center South Lampung Regency
in the amount of 474 toddlers. The sample of 362 respondents with proportional random
sampling technique. Data were analyzed using chi-square test and multiple logistic
regression tests. The results showed that the stunting rate of infants aged 24-36 months
was 26%. There was the relationship between the history of chronic energy deficiency in the
mother (p <0.001, OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), maternal height (p <0.001, OR 12.9,
95%CI 3.6-46.9), maternal age at pregnancy (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), LBW
history (p <0.001, OR 14.1, 95%CI 2.9-66.4), history of non-exclusive breastfeeding (p
<0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3) and clean water supplies that do not meet the
requirements (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). The most dominant factor was a history
of chronic energy deficiency in the mother during pregnancy (OR 12.6, 95%CI 3.9-40.8). It
was recommended that Puskesmas treatment stunting toddlers cooperate with cross-sectors
related to making commitments that support the policy of delaying marriage age <20 years,
applying exclusive breastfeeding, improving environmental sanitation and increasing access
to clean water for the community.
Keywords: Stunting, Maternal Factors, exclusive breastfeeding, Clean Water Supply.
ABSTRAK
Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan menurut usia dibawah -2 standar median kurva
pertumbuhan anak WHO (WHO, 2010). Angka stunting Kabupaten Lampung Selatan tahun
2017 mencapai 30,3 %. Di Puskesmas Banjar Agung tahun 2017 didapatkan 31 balita
mengalami stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan
stunting balita usia 24-36 bulan. Penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran langsung dan melihat buku
336
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 3, Juli 2020, hal. 336-345
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity)
KIA. Populasi adalah balita berusia 24-36 bulan di Puskesmas Banjar Agung sejumlah 474
balita, sampel 362 responden dengan teknik proporsional random sampling. Analisa data
univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan
uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan angka stunting balita usia 24-36
bulan sebesar 26%. Ada hubungan antara riwayat kurang energi kronis pada ibu (p <0.001,
OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), tinggi badan ibu (p<0.001, OR 12.9, 95%CI 3.6-46.9), usia ibu
saat hamil (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), riwayat BBLR (p <0.001, OR 14.1, 95%CI
2.9-66.4), riwayat ASI tidak Ekslusif (p <0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3) dan persediaan
air bersih yang tidak memenuhi syarat (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). Faktor paling
dominan adalah riwayat kurang energi kronis pada ibu saat hamil (OR 12.6, 95%CI 3.940.8). Disarankan agar Puskesmas melakukan penanganan terhadap balita stunting,
bekerja sama dengan lintas sektor terkait membuat komitmen yang mendukung kebijakan
penundaan usia perkawinan <20 tahun, penerapan ASI ekslusif, perbaikan sanitasi
lingkungan dan peningkatan akses air bersih bagi masyarakat.
Kata kunci: Stunting, Faktor Maternal, ASI ekslusif, Persediaan Air Bersih.
PENDAHULUAN
Balita pendek adalah balita dengan
status gizi yang berdasarkan panjang
atau tinggi badan menurut umurnya
bila dibandingkan dengan standar
baku WHO-MGRS (Multicentre Growth
Reference Study) tahun 2005, nilai zscorenya kurang dari -2SD dan
dikategorikan sangat pendek jika nilai
z-scorenya
kurang
dari
-3
SD
(Kemenkes RI, 2016). Stunting pada
masa anak-anak berdampak pada
tinggi badan yang pendek dan
penurunan pendapatan saat dewasa,
rendahnya angka masuk sekolah, dan
penurunan berat lahir keturunannya
kelak (Victora et al., 2008). Trihono
dkk (2015) memaparkan analisis
korelasi
data
agregat
tiap
kabupaten/kota hasil Riskesdas 2013
dari indikator IPKM 2013 bahwa
status gizi pendek pada balita dan
anak usia sekolah dipengaruhi oleh
faktor
kesehatan
lingkungan,
pelayanan
kesehatan,
perilaku
penduduk,
kesehatan
reproduksi,
status ekonomi dan status pendidikan.
Kabupaten Lampung Selatan masuk
dalam
kategori
wilayah
dengan
prevalensi pendek
tinggi sebesar
30,3 %. Pendataan awal balita
stunting umur 24-36 bulan di wilayah
kerja
Puskesmas
Banjar
Agung
Kabupaten Lampung Selatan tahun
2017 terdapat 31 balita yang masuk
dalam kategori stunting dan belum
pernah diadakan penelitian faktor –
faktor yang berhubungan dengan
kejadian balita stunting sebelumnya.
Berdasarkan uraian di latar belakang
peneliti tertarik untuk meneliti lebih
jauh
Faktor
yang
berhubungan
dengan kejadian stunting pada balita
usia 24-36 bulan di wilayah kerja
Puskesmas Banjar Agung Kabupaten
Lampung Selatan Tahun 2018.
METODE
Jenis
penelitian yang digunakan
adalah kuantitatif dengan desain cross
sectional. Penelitian dilakukan
di
wilayah kerja Puskesmas Banjar
Agung Kabupaten Lampung Selatan
pada bulan Oktober sampai dengan
November 2018. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh balita 2436 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Banjar Agung yaitu 474 orang. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah
362 orang dengan teknik proportional
337
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 3, Juli 2020, hal. 336-345
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Faktor yang Berhubungan dengan... (Nurul Aryastuti, Yuyun Kamsiati, Dainty Maternity)
random
Sampling.
Variabel
independen
dalam
penelitian
ini
adalah kurang energi kronis pada ibu,
tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil,
riwayat berat badan lahir rendah,
jarak kelahiran, riwayat hipertensi,
riwayat pemberian ASI Ekslusif dan
persediaan
air
bersih.
Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah
stunting pada bali (...truncated)