NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Jurnal Disastri: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jul 2022

Madura merupakan identitas suatu kepulauan yang berada diujung pulau jawa yang didalamnya mayoritas penghuninya merupakan penduduk pribumi masyarakat Madura. Madura merupakan salah satu etnik di Nusantara yang didalamnya memiliki tatanan nilai sosial dan fenomena budaya baik secara kualitas ataupun kuantitas. Tatanan nilai sosial ataupun fenomena pada budaya tersebut terkonvensi menjadi sebuah konsep budaya Madura memliki ciri yang khas dan dapat memberi cerminan warna lokal kedaerahan. Celurit emas merupakan senjata khas Madura yang dijadikan sebagai lambang keresahan sosial yang dituangkan oleh sastrawan tersebut. Sehingga celurit tersebut memiliki makna yang luas dikalangan masyarakat Madura sebagai celurit kerukunan, celurit pendidikan, celurit persaudaraan, celurit ketakwaan yang dilatar belakangi oleh celurit persaudaraan pada akhirnya puisi celurit emas tersebut apabila dirasakan kita hidup dalam lingkup masyarakat yang sangat kental dengan rasa persaudaraan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/disastri/article/download/2633/1562

NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Volume 4, Nomor 1, April 2022 P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329 Article History Submitted:1 April 2022 Accepted: 25 April 2022 Pubslished:30 April 2022 SOCIAL CULTURAL VALUES IN THE POETRY OF THE GOLDEN SICKLE BY D. ZAWAWI IMRON THE STUDY OF LITERATURE SOCIOLOGI Patmiyati 1, Arisni Kholifatu Amalia Shofiani 2 1,2Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Hasyim Asy’ari Coresponding Author: Abstract Madura is the identity of an archipelago located at the tip of the island of java inj which the majority of its inhabitants are the indegenous people of Madura. Madura is one of the ethnic groups in the archipelago which has a social value order or a phenomenon in that culture which is converted into a cultural which is converted into a cultural which is converted into a cultural concept. Madura has distinctive characteristics and can reflect local regional colors. The golden sickle is a typical Madura weapon which is used as a symbol of social unrest poured by the writer. So that the golden sickle has a broad meaning among the Madurese community as a harmonious sickle, an educational sickle, a brotherly sickle, a piety knife that is motivated by a brotherly sickle in the end, when it is felt that we live in a society, it is very thick with a sense of brotherhood. Keywords: Socio-cultural values, golden sickle, sociology of literature studies NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Abstrak Madura merupakan identitas suatu kepulauan yang berada diujung pulau jawa yang didalamnya mayoritas penghuninya merupakan penduduk pribumi masyarakat Madura. Madura merupakan salah satu etnik di Nusantara yang didalamnya memiliki tatanan nilai sosial dan fenomena budaya baik secara kualitas ataupun kuantitas. Tatanan nilai sosial ataupun fenomena pada budaya tersebut terkonvensi menjadi sebuah konsep budaya Madura memliki ciri yang khas dan dapat memberi cerminan warna lokal kedaerahan. Celurit emas merupakan senjata khas Madura yang dijadikan sebagai lambang keresahan sosial yang dituangkan oleh sastrawan tersebut. Sehingga celurit tersebut memiliki makna yang luas dikalangan masyarakat Madura sebagai celurit kerukunan, celurit pendidikan, celurit persaudaraan, celurit ketakwaan yang dilatar belakangi oleh celurit persaudaraan pada akhirnya puisi celurit emas tersebut apabila dirasakan kita hidup dalam lingkup masyarakat yang sangat kental dengan rasa persaudaraan. Kata kunci: Nilai sosial budaya, celurit emas, sosiologi sastra PENDAHULUAN Sastra sering dipakai dalam berbagai konteks yang berbeda. Karena itu, sastra mengisyaratkan bahwa suatu istilah tidak dapat digunakan untuk menyebut fenomena yang sederhana melainkan sastra merupakan sebuah istilah yang memiliki arti luas serta dapat melibatkan kegiatan yang berbedabeda. Menurut Aristoteles (Budianto 2003:7) sastra merupakan sebuah karya yang memiliki fungsi sebagai penyampaian tentang ilmu pengetahuan yang didalamnya menyajikan suatu kenikmatan unik dan memperkaya wawasan seseorang tentang kehidupan. Karya sastra merupakan media bagi pengarang Social Cultural Values ...| 20 Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Volume 4, Nomor 1, April 2022 P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329 Article History Submitted:1 April 2022 Accepted: 25 April 2022 Pubslished:30 April 2022 untuk menuangkan dan mengungkapkan ide-ide hasil perenungan tentang makna dan hakikat hidup yang dialami, dirasakan dan disaksikan. Sehingga seorang pengarang ingin menyampaikan perasaannya melalui karya sastranya, seperti yang dituangkan oleh sastrawan Madura D. Zawawi Imron dalam puisi CE. Madura merupakan identitas suatu kepulauan yang berada diujung pulau jawa yang didalamnya mayoritas penghuninya merupakan penduduk pribumi masyarakat Madura. Madura merupakan gabungan dalam bahasa “Maddhu ban dara” (madu dan darah). Sehingga pada kedua kata tersebut memiliki makna antagonis yang disamping itu menggambarkan sifat kasih sayang pada diri masyarakat Madura. Selain itu, ada sisi lain yang dimiliki masyarakat Madura yakni sifat arogansinya sehingga mereka menafsirkan kata “madu” merupakan lambang perilaku mereka yang sopan, menyenangkan, dan murah hati. Sedangkan kata “darah” merupakan suatu perumpamaan yang sangat dikaitkan dengan gengsi serta kehormatan yang sangat dijunjung tinggi. Madura merupakan salah satu etnik di Nusantara yang didalamnya memiliki tatanan nilai dan fenomena budaya baik secara kualitas ataupun kuantitas. Tatanan nilai ataupun fenomena pada budaya tersebut terkonvensi menjadi sebuah konsep budaya Madura memliki ciri yang khas dan dapat memberi cerminan warna lokal kedaerahan. Dengan demikian, kekhasan Madura yang terobsesi oleh pengarang dalam cipta sastranya banyak mewarnai panggung sastra di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian nilai budaya pada puisi CE karya D. Zawawi Imron ini diharapkan dapat memberikan gambaran kekhasan fenomena budaya Madura serta menjadikan pedoman dalam sebuah pemahaman. Penelitian yang relevan menjadi salah satu refrensi sebelum melaksanakan sebuah penelitian tersebut. Sebab dengan menggunakan refrensi berfungsi dalam memperkaya suatu rujukan serta pengetahuan mengenai teoriteori pada riset sebelumnya yang digunakan untuk mengkaji sebuah penelitian. Penulis tidak menciptakan judul riset yang sama dengan judul riset terdahulu. Berikut sebagian riset terdahulu yang terikat dengan riset yang dilakukan penulis. Ikbar (2021) dalam jurnal ini sama-sama membahas tentang kajian sosiologi sastra. menunjukkan bahwa perempuan asli suku Madura ini banyak mengangkat budaya lokalitas masyarakat Madura. Rokat Tase’ merupakan sebuah selamatan laut dengan berbagai macam sajian. Masyarakat Madura meyakini bahwa upacara rokat tase’ merupakan sebuah bentuk rasa syukur, perdamaian nelayan dengan penghuni laut, membawa keberkahan dari tangkapan ikan yang melimpah, serta tetap menjaga kebiasaan yang telah dilakukan oleh leluhur terdahulu. Persamaan dari penelitian Ikbar dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada persamaan penelitiannya yaitu sosiologi sastra. Sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu melibatkan cerpen sebagai sumber datanya, sedangkan penelitian yang akan dilakukan melibatkan puisi sebagai sumber penelitiannya. Naimah Dkk (2020) hasil dari penelitian ini sama-sama meneliti tentang budaya masyarakat Madura. Celurit merupakan benda tradisional yang dijadikan simbol harga diri masyarakat Madura. Siapa saja yang berani menginjak harga dirinya, maka celurit akan ikut berperan di dalamnya. Dengan demikian, Bagi masyarakat Madura harga diri tidak bisa ditukar atau diobati kecuali obatnya yaitu nyawa. Dengan membawa celurit, seseorang akan merasa Social Cultural Values ...| 21 Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Volume 4, Nomor 1, April 2022 P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329 Article History Submitted:1 April 2022 Accepted: 25 April (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/disastri/article/download/2633/1562
Article home page: https://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/disastri/article/view/2633/1562

mia Patmiyati. NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA, Jurnal Disastri: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2022, pp. 20-25,