NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Volume 4, Nomor 1, April 2022
P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329
Article History
Submitted:1 April 2022
Accepted: 25 April 2022
Pubslished:30 April 2022
SOCIAL CULTURAL VALUES IN THE POETRY OF THE GOLDEN SICKLE BY D.
ZAWAWI IMRON THE STUDY OF LITERATURE SOCIOLOGI
Patmiyati 1, Arisni Kholifatu Amalia Shofiani 2
1,2Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Hasyim Asy’ari
Coresponding Author:
Abstract
Madura is the identity of an archipelago located at the tip of the island of java inj
which the majority of its inhabitants are the indegenous people of Madura. Madura is one
of the ethnic groups in the archipelago which has a social value order or a phenomenon
in that culture which is converted into a cultural which is converted into a cultural which
is converted into a cultural concept. Madura has distinctive characteristics and can reflect
local regional colors. The golden sickle is a typical Madura weapon which is used as a
symbol of social unrest poured by the writer. So that the golden sickle has a broad
meaning among the Madurese community as a harmonious sickle, an educational sickle, a
brotherly sickle, a piety knife that is motivated by a brotherly sickle in the end, when it is
felt that we live in a society, it is very thick with a sense of brotherhood.
Keywords: Socio-cultural values, golden sickle, sociology of literature studies
NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PUISI CELURIT EMAS KARYA D. ZAWAWI
IMRON KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Abstrak
Madura merupakan identitas suatu kepulauan yang berada diujung pulau jawa
yang didalamnya mayoritas penghuninya merupakan penduduk pribumi masyarakat
Madura. Madura merupakan salah satu etnik di Nusantara yang didalamnya memiliki
tatanan nilai sosial dan fenomena budaya baik secara kualitas ataupun kuantitas.
Tatanan nilai sosial ataupun fenomena pada budaya tersebut terkonvensi menjadi
sebuah konsep budaya Madura memliki ciri yang khas dan dapat memberi cerminan
warna lokal kedaerahan. Celurit emas merupakan senjata khas Madura yang dijadikan
sebagai lambang keresahan sosial yang dituangkan oleh sastrawan tersebut. Sehingga
celurit tersebut memiliki makna yang luas dikalangan masyarakat Madura sebagai
celurit kerukunan, celurit pendidikan, celurit persaudaraan, celurit ketakwaan yang
dilatar belakangi oleh celurit persaudaraan pada akhirnya puisi celurit emas tersebut
apabila dirasakan kita hidup dalam lingkup masyarakat yang sangat kental dengan rasa
persaudaraan.
Kata kunci: Nilai sosial budaya, celurit emas, sosiologi sastra
PENDAHULUAN
Sastra sering dipakai dalam berbagai konteks yang berbeda. Karena itu,
sastra mengisyaratkan bahwa suatu istilah tidak dapat digunakan untuk
menyebut fenomena yang sederhana melainkan sastra merupakan sebuah
istilah yang memiliki arti luas serta dapat melibatkan kegiatan yang berbedabeda. Menurut Aristoteles (Budianto 2003:7) sastra merupakan sebuah karya
yang memiliki fungsi sebagai penyampaian tentang ilmu pengetahuan yang
didalamnya menyajikan suatu kenikmatan unik dan memperkaya wawasan
seseorang tentang kehidupan. Karya sastra merupakan media bagi pengarang
Social Cultural Values ...| 20
Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Volume 4, Nomor 1, April 2022
P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329
Article History
Submitted:1 April 2022
Accepted: 25 April 2022
Pubslished:30 April 2022
untuk menuangkan dan mengungkapkan ide-ide hasil perenungan tentang
makna dan hakikat hidup yang dialami, dirasakan dan disaksikan.
Sehingga seorang pengarang ingin menyampaikan perasaannya melalui
karya sastranya, seperti yang dituangkan oleh sastrawan Madura D. Zawawi
Imron dalam puisi CE. Madura merupakan identitas suatu kepulauan yang
berada diujung pulau jawa yang didalamnya mayoritas
penghuninya
merupakan penduduk pribumi masyarakat Madura. Madura merupakan
gabungan dalam bahasa “Maddhu ban dara” (madu dan darah). Sehingga pada
kedua kata tersebut memiliki makna antagonis yang disamping itu
menggambarkan sifat kasih sayang pada diri masyarakat Madura. Selain itu, ada
sisi lain yang dimiliki masyarakat Madura yakni sifat arogansinya sehingga
mereka menafsirkan kata “madu” merupakan lambang perilaku mereka yang
sopan, menyenangkan, dan murah hati. Sedangkan kata “darah” merupakan
suatu perumpamaan yang sangat dikaitkan dengan gengsi serta kehormatan
yang sangat dijunjung tinggi. Madura merupakan salah satu etnik di Nusantara
yang didalamnya memiliki tatanan nilai dan fenomena budaya baik secara
kualitas ataupun kuantitas. Tatanan nilai ataupun fenomena pada budaya
tersebut terkonvensi menjadi sebuah konsep budaya Madura memliki ciri yang
khas dan dapat memberi cerminan warna lokal kedaerahan. Dengan demikian,
kekhasan Madura yang terobsesi oleh pengarang dalam cipta sastranya banyak
mewarnai panggung sastra di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya
penelitian nilai budaya pada puisi CE karya D. Zawawi Imron ini diharapkan
dapat memberikan gambaran kekhasan fenomena budaya Madura serta
menjadikan pedoman dalam sebuah pemahaman.
Penelitian yang relevan menjadi salah satu refrensi sebelum
melaksanakan sebuah penelitian tersebut. Sebab dengan menggunakan refrensi
berfungsi dalam memperkaya suatu rujukan serta pengetahuan mengenai teoriteori pada riset sebelumnya yang digunakan untuk mengkaji sebuah penelitian.
Penulis tidak menciptakan judul riset yang sama dengan judul riset terdahulu.
Berikut sebagian riset terdahulu yang terikat dengan riset yang dilakukan
penulis. Ikbar (2021) dalam jurnal ini sama-sama membahas tentang kajian
sosiologi sastra. menunjukkan bahwa perempuan asli suku Madura ini banyak
mengangkat budaya lokalitas masyarakat Madura. Rokat Tase’ merupakan
sebuah selamatan laut dengan berbagai macam sajian. Masyarakat Madura
meyakini bahwa upacara rokat tase’ merupakan sebuah bentuk rasa syukur,
perdamaian nelayan dengan penghuni laut, membawa keberkahan dari
tangkapan ikan yang melimpah, serta tetap menjaga kebiasaan yang telah
dilakukan oleh leluhur terdahulu.
Persamaan dari penelitian Ikbar dengan penelitian yang akan dilakukan
terletak pada persamaan penelitiannya yaitu sosiologi sastra. Sedangkan
perbedaannya penelitian terdahulu melibatkan cerpen sebagai sumber datanya,
sedangkan penelitian yang akan dilakukan melibatkan puisi sebagai sumber
penelitiannya. Naimah Dkk (2020) hasil dari penelitian ini sama-sama meneliti
tentang budaya masyarakat Madura. Celurit merupakan benda tradisional yang
dijadikan simbol harga diri masyarakat Madura. Siapa saja yang berani
menginjak harga dirinya, maka celurit akan ikut berperan di dalamnya. Dengan
demikian, Bagi masyarakat Madura harga diri tidak bisa ditukar atau diobati
kecuali obatnya yaitu nyawa. Dengan membawa celurit, seseorang akan merasa
Social Cultural Values ...| 21
Jurnal DISASTRI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Volume 4, Nomor 1, April 2022
P-ISSN : 2716-4114 | E-ISSN: 2722-3329
Article History
Submitted:1 April 2022
Accepted: 25 April (...truncated)