ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR MAHASISWA SAHABAT DIFABEL DI SURAKARTA
JOTE Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022 Halaman 200-212
JOURNAL ON TEACHER EDUCATION
Research & Learning in Faculty of Education
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA SAHABAT DIFABEL DI SURAKARTA
Hery Setiyatna1, Muhammad Julijanto2, Susilo Surahman3
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini1, Hukum Ekonomi Syariah2,3
UIN Raden Mas Said Surakarta
Email : .id1, .id2,
.id3
Abstrak
Sahabat difabel adalah mahasiswa yang secara sukarela menjadi teman
dekat mahasiswa penyandang disabilitas dalam membantu proses
perkuliahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa yang berstatus sahabat
difabel. Penelitian dilakukan di UIN Raden Mas Said Surakarta. Penelitian
ini merupakan penelitiaan deskriptif kuantitatif menggunakan regresi linier
berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menjadi sahabat difabel
mempunyai andil terhadap prestasi belajar sebesar 79%. Terdapat 5
(lima) variabel yang berpengaruh terhadap prestasi belajar sahabat
disabilitas, yaitu: motivasi; kesadaran diri; lingkungan; komunikasi; dan
kedekatan prestasi belajar ini mencakup variabel motivasi; kesadaran diri;
lingkungan; komunikasi; dan kedekatan.
Kata Kunci: Prestasi belajar, mahasiswa, sahabat difabel
Abstract
Friends with disabilities are students who volunteer to become close
friends of students with disabilities in helping the lecture process. This
research aims to find out the factors that affect students' learning
achievement who are friends with disabilities. The research was
conducted at UIN Raden Mas Said Surakarta. This study is a quantitative
descriptive research using multiple linear regressions. The results showed
that being a friend of disability contributes to learning achievement by
79%. There are 5 (five) variables affect the learning achievement of friends
with disabilities: motivation, self-awareness; environment; communication;
and proximity to learning to restation, including motivational variables; selfawareness; environment; communication; and closeness.
Keywords: Learning achievements, students, friends with disabilities
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022| 200
PENDAHULUAN
Status sebagai mahasiswa pada dasarnya berada pada rentang usia
dewasa dini, dimana secara psikologis seseorang pada tingkat itu dituntut untuk
dapat mandiri serta mampu memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu
tanggung jawab yang harus ia penuhi sebagai mahasiswa adalah mampu
mengembangkan
potensi
diri
sebagai
bekal
tahap
selanjutnya
melalui
keberhasilan dalam menyelesaiakan studi. Prestasi belajar menjadi salah satu
faktor yang berperan dalam hal itu.
Anggraeni dan Murni menyebut bahwa lingkungan kampus merupakan
media mahasiswa dalam mengeksplorasi kemampuan kognitifnya sejalan
dengan tuntutan prestasi belajar (Anggraeni & Murni, 2017). Marina dan Yendra
dalam penelitiannya menekankan pentingnya kesehatan mental mahasiswa
dalam menjalani perkuliahan, khususnya dalam mengejar prestasi belajar yang
diharapkan (Anna Marina & Yendra, 2021). Indriana
bahkan menyebut arti
penting organisasi di sebuah lembaga pendidikan dalam memberikan layanan
pengembangan diri (Indriana et al., 2016).
Suwena
mengingatkan
arti
penting
organisasi
dalam
mendukung
peningkatan kompetensi mahasiswa yang dapat berimbas pada peningkatan
prestasi belajar (Suwena & Meitriana, 2018). Melalui pemanfaatan pengetahuan
soft skill diharapkan mahasiswa secara umum mampu berinteraksi terkait bakat
dan minat serta belajar berkomunikasi sebagai bekal berkehidupan sosial.
Indriani dalam penelitiannya menekankan pentingnya pengembangan
materi untuk penyandang disabilitas (Indriani & Marlina, 2020). Selain itu layanan
aksesibilitas diperlukan sebagai dasar pertimbangan pemberian nilai kepada
penyandang disabilitas sesuai dengan hambatan yang dialami. Hal ini oleh
(Sodiqin, 2021) dikarenakan dalam realitasnya kaum disabilitas berpotensi
mengalami diskriminasi melalui pembatasan, hambatan, kesulitan, serta
pengurangan hak. Selain itu terbatasnya akses informasi dan komunikasi
dikarenakan
keterbatasannya
sebagai
penyandang
disabilitas
dapat
berpengaruh pada konsisi sosial dan ekonominya (Setyaningsih & Gutama,
2016).
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022| 201
Shaleh menggarisbawahi dalam berbagai layanan, penyandang disabilitas
mendapat kesulitan dalam mengakses, salah satunya adalah layanan pendidikan
(Shaleh,
2018).
Kebutuhan
yang
berbeda
dari
penyandang
disabilitas
memerlukan perhatian mulai dari lingkungan terdekat. Aksesibilitas pada
lingkungan fisik, sosial, ekonomi, budaya, kesehatan, pendidikan, informasi, dan
komunikasi diperlukan sebagai upaya dalam membangun potensi disabilitas
sebagai individu yang sama dalam jaminan hak asasi manusia (Pawestri, 2017).
Pentingnya hak atas pendidikan bagi kaum disabilitas merupakan salah
satu bahasan utama dalam pemenuhan hak asasi manusia. Pendidikan sebagai
kunci pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas memerlukan
komitmen yang tinggi khususnya dari pemerintah dalam menyusun regulasi,
mengingat salah satu tujuan utama Negara Indonesia adalah mencerdaskan
kehidupan bangsa (Michael, 2020). Dikatakan pula dalam implementasinya di
Perguruan Tinggi masih terdapat mahasiswa disabilitas yang mempunyai
kendala dalam perkuliahannya dengan berbagai faktor, termasuk availability;
accessesbility; acceptability; dan adaptability.
Selain itu masih terdapat permasalahan terkait kesetaraan peluang bagi
kaum disabilitas dalam memperoleh pendidikan yang dapat berakibat pada
kesenjangan keterampilan. Jaminan yang diberikan pemerintah melalui regulasi
tidak serta merta secara langsung berimbas pada berbagai unsur pendidikan,
termasuk didalamnya sarana pendidikan. Untuk itulah permasalahan fasilitasi
pendidikan bagi disabilitas juga merupakan urgensi dunia Pendidikan (Widjaja et
al., 2020).
Dari
sinilah
memberikan
waktu
kemudian
dan
muncul
tenaganya
mahasiswa
dalam
yang
membantu
secara
kaum
sukarela
disabilitas
mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Mahasiswa yang kemudian dikenal
dengan istilah “Sahabat Difabel” ini mendampingi dan membantu dalam aktivitas
belajar, bahkan menjadi teman dekat yang bersedia mengantar dan memfasilitasi
disabilitas dalam menempuh serta memperjuangkan hak-haknya dalam ranah
pendidikan. Nalim menyebut motivasi berprestasi diperlukan sebagai sarana
dalam mencapai sesuatu (Nalim & Pramesti, 2020). Hal ini dilakukan melalui
aktivitas yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar (Muhsam &
Saputra, 2022). Sahabat difabel muncul sebagai salah satu solusi problematika
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022| 202
pendidikan disabilitas, dimana ia berangkat dari sisi kemanusiaan sekaligus
kualitas sumber daya manusia.
Berhubungan dengan kaum disabilitas dapat dikategorikan sebagai
pekerjaan sosial dimana didalamnya terdapat tanggung jawab serta komitmen
dalam layanan dan intervensi searah dengan sisi kemanusiaan dan keilmuan
(Apsari & Mulyana, 2018). Pekerja sosial berperan dalam mengembalikan fungsi
so (...truncated)