Uji Efektivitas Antidepresan Kulit Bawang Merah (Allium Cepa L.) Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus Musculus)
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Maret 2024, 10 (6), 398-407
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.10643197
p-ISSN: 2622-8327 e-ISSN: 2089-5364
Accredited by Directorate General of Strengthening for Research and Development
Available online at https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP
Uji Efektivitas Antidepresan Kulit Bawang Merah (Allium Cepa L.)
Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus Musculus)
Gusti Ayu Rai Saputri1 , Annisa Primadiamanti2 , Windi Andrianti3
1,2,3
Program Studi Farmasi Universitas Malahayati Bandar Lampung
Abstract
Depression can be caused by biological factors, psychological factors and social
factors. This study aims to determine the effectiveness of Red Onion Peel Extract
(Allium cepa L.)as an antidepressant in mice.The method used for the antidepressant
test is TST (Tail Suspension Test) to make mice stress and FST (Forced Swim Test)
to see immobility time.The test animals used male mice divided into five treatment
groups given orally.The results showed that K+ (Amitriptiline25mg), K-(Nacmc05%), KU1 (200mg/kgBw), KU2 (250mg/kgBw) and KU3 (300mg/kgBw) had an
antidepressant effect by showing the occurrence of immobility time. The result of One
Way ANOVA immobility time test is a value of 0.003 which states that shallot skin
can affect the immobility time of mice. It can be concluded Giving variant doses of
shallot skin extract (Allium cepa L.) gives the effect of immobility time on male white
mice (Mus musculus) with the most effective dose as an antidepressant is a dose of
300 mg / kgBB.
Keywords: Onion peel extract, TST (Tail Suspension Test), FST (Forced Swim Test),
immobility time.
Received: 04 Desember 2023
Revised: 08 Januari 2024
Accepted: 01 Februari 2024
(*) Corresponding Author:
How to Cite: Saputri, G. A. R., Primadiamanti, A., & Andrianti, W. (2024). Uji Efektivitas Antidepresan Kulit
Bawang
Merah
(Allium
Cepa
L.)
Terhadap
Mencit
Putih
Jantan
(Mus
Musculus).
https://doi.org/10.5281/zenodo.10643197.
PENDAHULUAN
World Health Organization (WHO) menyatakan gangguan mental terdiri dari
berbagai masalah dan berbagai gejala yang dialami setiap individu yang menderita
gangguan mental. Pada umumnya ditandai dengan beberapa gangguan abnormal pada
pikiran, emosi, perilaku, dan berhubungan pada orang lain contoh penyakitnya adalah
skizofren, gangguan perkembangan termasuk autisme, cacat intelektual, dan gangguan
karena penyalahgunaan obat narkoba, gangguan afektif bipolar, demensia, cacat
intelektual dan depresi.
Depresi dapat disebabkan oleh faktor biologis, faktor psikologis dan faktor sosial
lingkungan seperti Kehilangan pasangan, kehilangan pekerjaan, setelah bencana atau
situasi sehari-hari. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun
2020 depresi akan menempati peringkat ke-2 dalam global beban penyakit dan
diperkirakan menjadi penyebab kematian kedua setelah penyakit kardiovaskular. WHO
memiliki angka kejadian lebih dari 800.000 orang bunuh diri setiap tahun masalah
gangguan mental menurut World Health Organization (WHO) sering terjadi pada masa
kanak-kanak dan awal remaja. Depresi dan kecemasan merupakan penyebab terbesar dari
beban penyakit dan kecacatan yang dialami oleh remaja. Kasus depresi dan kecemasan
diIndonesia meningkat.
Berdasarkan survei tahun 2020 yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis
Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) kecemasan dialami oleh 63% responden dan 66%
responden mengalami depresi 80% responden memiliki gejala stress pasca trauma
psikologis berkaitan dengan pristiwa tidak menyenangkan terkait covid-19. Berkaitan
398
Saputri, G. A. R., Primadiamanti, A., & Andrianti, W. / Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 10(6), 398-407
dengan pandemik covid-19, sekolah, kampus, dan berbagai instansi menerapkan work
from home, dan berbagai macam program dari rumah yang diterapkan kemungkinan
besar mempengaruhi keadaan psikologis individu maupun kelompok sosial, perasaan
jenuh, cemas, stress bahkan depresi akan muncul kemungkinan besar akibat dari kegiatan
yang dilakukan secara daring ini (Lempang, 2021). Data tersebut menunjukan bahwa
negara Indonesia belum dapat menyelsaikan masalah gangguan mental secara tepat.
Wanita dua kali lebih mungkin menderita depresi dibandingkan pria, diduga karena
perbedaan hormonal, efek persalinan, dan perbedaan stressor psikososial. Depresi dapat
diobati atau diobati dengan antidepresan. Hanya 9% orang yang mendapatkan
pengobatan, dan 91% sisanya tidak mendapatkan pengobatan.
Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati depresi dengan
menghalangi reabsorpsi serotonin dan norepinefrin di ujung saraf otak, yang
memperpanjang ketersediaan neurotransmiter. Tingkat neurotransmiter, terutama
norepinefrin dan serotonin, di otak berdampak besar pada depresi dan gangguan sistem
saraf pusat. Amitriptilin atau amitriptyline adalah obat antidepresan trisiklik yang
digunakan untuk mengobati masalah kejiwaan seperti perubahan suasana hati secara
drastis dan depresi. Obat ini dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi kecemasan
dan ketegangan, membantu tidur lebih nyenyak, dan membantu tubuh lebih berenergi.
Fungsi lain dari amitriptilin adalah untuk mengobati penyakit syaraf. Obat antidepresan
ini dapat memperbaiki gejala yang diderita hanya saja terdapat beberapa efek samping
yang dapat muncul seperti retensi urin, konstipasi, penglihatan kabur, takikardia, mulut
kering, hipotensi ortostatik, mual dan muntah (Dipiro et al., 2015).
Penggunaan obat antidepresan seperti selective serotonin reupatake (SSRIs),
antidepresan trisiklik (TCAs) dan Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) memiliki efek
samping dan dapat menimbulkan ketergantungan. Hampir 30% tidak memiliki efek
memberikan respon terhadap terapi obat dan 70% pasien gagal mencapai kesembuhan
total. Efek samping Penggunaan obat sintetik antidepresan yaitu ketergantungan karena
obat antidepresan yang beredar dimasyarakat termasuk golongan obat psikotropika. Maka
diperlukan obat antidepresan yang aman digunakan (Lisnawati, 2017). Mayoritas
masyarat Indonesia menggunakan tanaman dan bahan alam sebagai bahan pengobatan
dikarenakan penggunaan bahan alam dinilai lebih aman, dan mudah ditemukan disekitar
masyarakat.
Bawang merah mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid. bawang
merah mengandung jumlah yang tinggi flavonoid terutama quersetin. Memiliki beragam
efek pada pencegahan penyakit kronis terkait stress oksidatif seperti penyakit jantung
istemik dan diabetes. Hasil penelitian dari Sakakibara et al (2008) terhadap tikus
menggunakan model tingkah laku kemurungan tikus melalui ujian paksaan berenang
tikus diberikan serbuk bawang merah sebanyak 50 mg/kg berat badan selama 14 hari.
Hasil penelitian tersebut mendapati pengurangan signifikan terhadap tingkah laku
didalam ujian paksaan berenang tanpa mengubah ketidak fungsian motorik. Hasil ini
dikaitkan dengan sebagain quersetin yang terdapat pada kulit bawang merah sebagai
antidepresan/antimurung yang baik. Penelitian dari efek bawang merah kaya akan
quersetin yang dapat di (...truncated)