Metode Pendidikan Tauhid di Pesantren
JOTE Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023 Halaman 283-292
JOURNAL ON TEACHER EDUCATION
Research & Learning in Faculty of Education
ISSN: 2686-1895 (Printed); 2686-1798 (Online)
Metode Pendidikan Tauhid di Pesantren
Tuharso
Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Bakti Negara (IBN) Tegal
e-mail:
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis metode pendidikan tauhid Syaikh
Ahmad Rifa’i. untuk menganalisis metode pendidikan tauhid di pesantren Insap
dan untuk merumuskan metode pendidikan tauhid di pesantren. Jenis penelitian
ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan orientasi utama
mendapatkan informasi tentang Metode pendidikan tauhid Syaikh Ahmad Rifa’i.
Sumber data diperoleh dari kitab-kitab karangan Syaikh Ahmad Rifa’i. Teknik
analisis data bersifat deskriptif dengan tiga langkah kegiatan, yaitu: reduksi data
(data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode pendidikan Syaikh
Ahmad Rifa’i adalah penerapkan metode pendidikan tauhid melalui empat tahap.
Tahapan pertama disebut Mubtadi (permulaan), tahapan kedua disebut
Mutawasith (pertengahan), tahapan ketiga disebut Muntaha (penghabisan) dan
tahapan keempat yang disebut Amaliyah (pengamalan) dengan pembelajaran
menggunakan metode nadzom.
Kata Kunci:
Metode, Pendidikan Tauhid, Pesantren.
Abstract
The type of this research is library research with the main orientation being to
obtain information about the Tawheed Syaikh Ahmad Rifa’i education
Method. Sources of data obtained from books written by Syaikh Ahmad Rifa'i. Data
analysis techniques are descriptive with three steps of activities, namely: data
reduction, data display, and conclusion drawing. Based on the results of the study
it can be concluded that the method of Syaikh Ahmad Rifa'i's education
is: applying the monotheistic education method through four stages. The first stage
is called mubtadi (beginning), the second stage is called mutawasith (middle), the
third stage is called muntaha (the end) and the fourth stage is
called amaliyah (practice) with learning using the nadzom method.
Keywords:
Method, Tauhid Education, Pesantren.
PENDAHULUAN
Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di nusantara yang
eksistensinya masih tetap bertahan hingga sekarang di tengah-tengah kontestasi
dengan pendidikan modern yang berkiblat pada dunia pendidikan model Barat
yang di bawa oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak abad ke-19 M dengan
diberlakukannya politik etis. Keberadaan pesantren yang tetap bertahan di tengah
arus modernisasi yang sangat kuat saat ini, menunjukkan bahwa pondok
pesantren memiliki nilai-nilai luhur dan bersifat membumi serta memiliki fleksibilitas
tinggi seperti sopan santun, penghargaan dan penghormatan terhadap guru/kiai
Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 283
dan keluarganya, penghargaan terhadap keilmuan seseorang, penghargaan
terhadap hasil karya ulama-ulama terdahulu, yang tetap dipegang teguh oleh
sebagian masyarakat kita (Darban, 2017).
Pesantren sebagai salah satu sub sistem pendidikan nasional
yang indigenous Indonesia, mempunyai keunggulan dan karakteristik khusus
dalam pengaplikasian pendidikan karakter santri. Hal itu dikarenakan: pertama,
adanya jiwa dan falsafah. Kedua, terwujudnya integralitas dalam jiwa, nilai, sistem
dan standar operasional pelaksanaan. Ketiga, terciptanya tripusat pendidikan yang
terpadu. Dan Keempat, totalitas pendidikan. Karakter pesantren yang demikian itu
menjadikan pesantren dapat dipandang sebagai institusi yang efektif dalam
pembangunan akhlak. Disinilah pesantren mengambil peran untuk menanggulangi
persoalan-persoalan tersebut khususnya krisis moral yang sedang melanda,
karena pendidikan pesantren merupakan pendidikan yang terkenal dengan
pendidikan agama dan seharusnya mampu untuk mencetak generasi-generasi
berkarakter yang sarat dengan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, pondok pesantren diharapkan mampu mencetak manusia
muslim sebagai penyuluh atau pelopor pembangunan yang takwa, cakap, berbudi
luhur untuk bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan dan
keselamatan bangsa serta mampu menempatkan dirinya dalam mata rantai
keseluruhan sistem pendidikan nasional, baik pendidikan formal maupun non
formal dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Dalam konteks kekinian,
pesantren masih tetap relevan dan menjanjikan untuk menjadi garda depan dalam
mengawal kelangsungan bangsa yang terancam oleh krisis moral, krisis identitas
dan krisis kepribadian
Dalam proses pendidikan, metode mempunyai kedudukan yang sangat
penting untuk mencapai tujuan. Bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer
ilmu pengetahuan kepada peserta didik dianggap lebih penting disbanding dengan
materi sendiri. Sebuah kaidah mengatakan bahwa “At-Thariqatu ahammu minal
maddah”, yang mengandung arti bahwa “metode itu lebih penting daripada materi”.
Artinya bahwa metode pendidikan dan pengajaran memiliki pengaruh yang sangat
penting dalam proses kegiatan belajar mengajar daripada materi yang diajarkan.
Maka seorang pendidik harus menguasai berbagai macam metode pendidikan dan
pengajaran dalam menyampaikan materi yang diajarkan. Karena dengan metode
yang bervariasi proses belajar mengajar akan menjadi menarik dan
menyenangkan dan tujuan pembelajaran pun akan tercapai. Adalah sebuah
realita, bahwa cara penyampaian yang komunikatif jauh lebih efektif dan di senangi
oleh peserta didik walaupun materi yang disampaikan sesungguhnya kurang
menarik. Sebaliknya, materi yang cukup baik, karena disampaikan dengan cara
yang kurang menarik maka materi itu sendiri menjadi kurang dapat dicerna oleh
peserta didik. Oleh karena itu penerapan metode yang tepat sangat
mempengaruhi pencapaian keberhasilan, sementara metode yang tidak tepat
akan beakibat terhadap pemakaian waktu yang tidak efesien.
METODE
Penelitian ini memusatkan pada penelitian kepustakaan (library research),
yaitu penelitian yang menggunakan data kualitatif, yakni penelitian yang diajukan
Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 284
pada ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan yang ditelusuri dari data sejarah serta
buku-buku (Suharsini, 2012). Sedangkan menurut Noeng Muhadjir bahwa
penelitian kepustakaan adalah penelitian yang data-datanya didapatkan dari studi
pustaka atau literatur dalam hal terkait dengan permasalahan penelitian, kemudian
dianalisis secara teoritis filosofis lalu diangkat relevansi kontektualitasnya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
pendekatan kualitatif. (Arikunto, 2015) Pendekatan kualitatif digunakan dalam
memahami dan menggambarkan apa yang terjadi pada (dipahami dan
digambarkan oleh) subyek penelitian. Penelitian ini bersifak deskriptif analitik,
dimana masalah sekaligus merupakan fokus penelitian. Sebagaimana
digambarkan Bogdan dan Biklen bahwa karakteristik pendekatan kualitatif di
antaranya bahwa sumber langsung datanya adalah setting alamiah di mana
peneliti merupakan instrumen kunci (key instrument) penelitian (Nasution (...truncated)