Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa
Volume 3 Nomor 3 Juli 2023
JURNAL DUNIA PENDIDIKAN
https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP
E-ISSN: 2746-8674
Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan
Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa
Yulia Tiara Tanjung1, Anggi Nur Nisa Tanjung2, Ade Rahman Matondang3
1,2 Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia, Jl. Teladan No.15, Teladan Bar.,
Kec. Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara 20214
3 Universitas Al Washliyah, Jl. Sisingamangaraja, Harjosari I, Medan Amplas, Medan
City, North Sumatra 20217
Email:
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa dan
mkemandirian belajar siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan komunikasi matematik siswa.
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMA Daarul
Istiqlal Medan. Subjek Penelitian kelas X sebanyak 35 orang. Penelitian ini terdiri dari dua siklus
yaitu siklus I dan siklus II. Adapun hasil penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan
komunikasi matematik siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan pada siklus I terdapat 27
siswa atau 79,1% nilai terendah siswa yakni 2,33 sedangkan untuk nilai ketuntasan memiliki nilai
minimal 2,89. Pada siklus II meningkat menjadi 32 siswa atau 97%. Sehingga terjadi peningkatan
sebesar 17,9%. Sedangkan pre test komunikasi matematik diperoleh 12,5% atau nilai 2,11 dengan
4 siswa yang dinyatakan tuntas. Pada post test diperoleh 97% atau nilai 3,54. Sehingga terjadi
peningkatan 85%. Juga meningkatnya kemandirian siswa, yang dapat dilihat pada hasil perolehan
pada siklus 1 terdapat persentase terendah 33,1% memiliki dan persentase tertinggi 39%. Pada
siklus II diperoleh persentase terendah sebesar 69% dan tertinggi 89,8%. Sehingga terjadi
peningkatan untuk kemandirian siswa sebesar 51,11%.
Kata Kunci: Konstruktivisme, Komunikasi Matematik, Kemandirian
PENDAHULUAN
Perkembangan kurikulum dalam dunia pendidikan sekolah menuntut adanya
perkembangan pembelajaran matematika karena matematika merupakan ilmu universal
yang mendasari perkembangan teknologi modern yang mempunyai peranan penting dalam
berbagai disiplin ilmu dan daya pikir manusia. Oleh karena itu, matematika perlu diberikan
kepada peserta didik mulai sekolah dasar
sampai tingkat lanjutan untuk membekali
peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif.
Tetapi tidak semua peserta didik menguasainya dengan baik, padahal matematika
merupakan ilmu yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Penguasaan peserta didik
dalam belajar matematika menjadi lemah, bahkan siswa merasa kesulitan disebabkan oleh
dua faktor yakni dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa itu sendiri. Faktor dari
350
Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan
Kemandirian Siswa
Yulia Tiara Tanjung, Anggi Nur Nisa Tanjung, Ade Rahman Matondang
dalam diri siswa diantaranya yaitu: kemampuan awal, ekonomi, fisik dan psikis. Sedangkan
faktor dari luar siswa menurut Amri (2013) diantaranya keluarga, tempat tinggal,
kondisi, sekolah, guru, cuaca dan
keamanan. Faktor dari dalam dan luar diri siswa
sedemikian rupa mempengaruhi motivasi yang diperoleh siswa pada akhir pembelajaran
matematika. Abdurrahman menambahkan (2012), tak sedikit orang yang memandang
matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Hal ini mengakibatkan timbulnya
kecenderungan hanya sedikit siswa yang memperoleh nilai memuaskan dan kebanyakan
siswa memperoleh nilai yang masih rendah yakni di bawah standar ketuntasan belajar
minimum. Siswa cenderung belajar dengan cara dibaca saja dan kurang mengetahui
tentang pentingnya matematika dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang, siswa
kurang memahami konsep–konsep matematika, kurangnya motivasi dari orang tua, atau
bahkan cara guru di kelas saat mengajar monoton, dan kurangnya fasilitas belajar siswa.
Selain itu diperoleh gambaran hasil studi PISA tahun 2006 yang memperlihatkan bahwa
prestasi anak Indonesia dalam bidang matematika masih berada di bawah skor ratarata internasional. Pencapaian skor matematika anak Indonesia 393 (skor rata-rata
internasional = 429). Ranking anak Indonesia dalam bidang matematika berada pada
urutan ke-50 dari 57 negara peserta. Gambaran hasil studi PIRLS memperlihatkan bahwa
skor prestasi membaca rata-rata siswa Indonesia adalah 407, menduduki posisi ke lima
dari urutan bawah, di atas Qatar (353), Kuwait (330), Maroko (323), dan Afrika Selatan
(302). Rata-rata prestasi membaca internasional adalah 500 (Tjalla, 2015).
Berdasarkan
uraian
tentang
model
pembelajaran
diatas, maka model
pembelajaran yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran
Contextual Teaching And Learning (CTL) berbasis konstruktivisme dimana menurut
Lawson (dalam Dahar, 2006)
dijelaskan bahwa model pembelajaran yang berbasis
konstruktivisme lebih menitikberatkan adanya orientasi: (1) elisitasi gagasan (2)
restrukturisasi penyusunan teori, (3) perkembangan teori, (4) pembentukan teori, (5)
aplikasi dan (6) review (membandingkan dengan gagasan sebelumnya. Demikian halnya
menurut Prastowo (2014) menyebutkan ada 12 prinsip pokok pembelajaran berbasis
konstruktivisme: pertama, mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa; kedua,
menggunakan kata dasar; ketiga, menggunakan kognitif; keempat, respon siswa; kelima,
menggali pemahaman siswa; keenam, siswa aktif dalam dialog; ketujuh, menimbulkan
351
Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan
Kemandirian Siswa
Yulia Tiara Tanjung, Anggi Nur Nisa Tanjung, Ade Rahman Matondang
sikap inkuiri; kedelapan, mengelaborasi; kesembilan, mendorong terjadinya diskusi intens;
kesepuluh, member kesempatan siswa berpikir; kesebelas, menciptakan analogi;
keduabelas, mengembangkan sikap keingintahuan siswa pada siklus belajar.
Untuk mengimplementasikan
mengaitkan
antara
pembelajaran
kontekstual, guru dalam pembelajaran
materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilki dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari dengan melibatkan tujuh komponen
utama CTL yakni: constructivisme, inquiri, questioning, learning community, modeling,
reflection, authenctic assessment.mbj
Interaksi antar siswa agar sesuai dengan diharapkan, dibutuhkan adanya
komunikasi dalam pembelajaran matematika. Seperti yang dikemukakan oleh Bansu
(Pena, 2003) bahwa: “komunikasi dalam matematik berkaitan dengan kemampuan dan
keterampilan siswa dalam berkomunikasi”. Hal tersebut didukung oleh Greenes dan
Schulman
menyatakan bahwa, melalui
komunikasi, siswa dapat menyatakan
ide
matematika melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskan secara visual dalam
tipe yang berbeda. Siswa dapat pula memahami, menafsirkan dan menilai
ide yang
disajikan serta dapat mengkonstruksi matematika.
Berdasarkan wawancara dengan peserta didik, salah satu (...truncated)