Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa

Jurnal Dunia Pendidikan, Jul 2023

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa dan mkemandirian belajar siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan komunikasi matematik siswa. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMA Daarul Istiqlal Medan. Subjek Penelitian kelas X sebanyak 35 orang. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Adapun hasil penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan komunikasi matematik siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan pada siklus I terdapat 27 siswa atau 79,1% nilai terendah siswa yakni 2,33 sedangkan untuk nilai ketuntasan memiliki nilai minimal 2,89. Pada siklus II meningkat menjadi 32 siswa atau 97%. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 17,9%. Sedangkan pre test komunikasi matematik diperoleh 12,5% atau nilai 2,11 dengan 4 siswa yang dinyatakan tuntas. Pada post test diperoleh 97% atau nilai 3,54. Sehingga terjadi peningkatan 85%. Juga meningkatnya kemandirian siswa, yang dapat dilihat pada hasil perolehan pada siklus 1 terdapat persentase terendah 33,1% memiliki dan persentase tertinggi 39%. Pada siklus II diperoleh persentase terendah sebesar 69% dan tertinggi 89,8%. Sehingga terjadi peningkatan untuk kemandirian siswa sebesar 51,11%.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP/article/download/1272/705

Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa

Volume 3 Nomor 3 Juli 2023 JURNAL DUNIA PENDIDIKAN https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP E-ISSN: 2746-8674 Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa Yulia Tiara Tanjung1, Anggi Nur Nisa Tanjung2, Ade Rahman Matondang3 1,2 Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia, Jl. Teladan No.15, Teladan Bar., Kec. Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara 20214 3 Universitas Al Washliyah, Jl. Sisingamangaraja, Harjosari I, Medan Amplas, Medan City, North Sumatra 20217 Email: Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa dan mkemandirian belajar siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan komunikasi matematik siswa. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMA Daarul Istiqlal Medan. Subjek Penelitian kelas X sebanyak 35 orang. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Adapun hasil penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan komunikasi matematik siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan pada siklus I terdapat 27 siswa atau 79,1% nilai terendah siswa yakni 2,33 sedangkan untuk nilai ketuntasan memiliki nilai minimal 2,89. Pada siklus II meningkat menjadi 32 siswa atau 97%. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 17,9%. Sedangkan pre test komunikasi matematik diperoleh 12,5% atau nilai 2,11 dengan 4 siswa yang dinyatakan tuntas. Pada post test diperoleh 97% atau nilai 3,54. Sehingga terjadi peningkatan 85%. Juga meningkatnya kemandirian siswa, yang dapat dilihat pada hasil perolehan pada siklus 1 terdapat persentase terendah 33,1% memiliki dan persentase tertinggi 39%. Pada siklus II diperoleh persentase terendah sebesar 69% dan tertinggi 89,8%. Sehingga terjadi peningkatan untuk kemandirian siswa sebesar 51,11%. Kata Kunci: Konstruktivisme, Komunikasi Matematik, Kemandirian PENDAHULUAN Perkembangan kurikulum dalam dunia pendidikan sekolah menuntut adanya perkembangan pembelajaran matematika karena matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern yang mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan daya pikir manusia. Oleh karena itu, matematika perlu diberikan kepada peserta didik mulai sekolah dasar sampai tingkat lanjutan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Tetapi tidak semua peserta didik menguasainya dengan baik, padahal matematika merupakan ilmu yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Penguasaan peserta didik dalam belajar matematika menjadi lemah, bahkan siswa merasa kesulitan disebabkan oleh dua faktor yakni dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa itu sendiri. Faktor dari 350 Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa Yulia Tiara Tanjung, Anggi Nur Nisa Tanjung, Ade Rahman Matondang dalam diri siswa diantaranya yaitu: kemampuan awal, ekonomi, fisik dan psikis. Sedangkan faktor dari luar siswa menurut Amri (2013) diantaranya keluarga, tempat tinggal, kondisi, sekolah, guru, cuaca dan keamanan. Faktor dari dalam dan luar diri siswa sedemikian rupa mempengaruhi motivasi yang diperoleh siswa pada akhir pembelajaran matematika. Abdurrahman menambahkan (2012), tak sedikit orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Hal ini mengakibatkan timbulnya kecenderungan hanya sedikit siswa yang memperoleh nilai memuaskan dan kebanyakan siswa memperoleh nilai yang masih rendah yakni di bawah standar ketuntasan belajar minimum. Siswa cenderung belajar dengan cara dibaca saja dan kurang mengetahui tentang pentingnya matematika dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang, siswa kurang memahami konsep–konsep matematika, kurangnya motivasi dari orang tua, atau bahkan cara guru di kelas saat mengajar monoton, dan kurangnya fasilitas belajar siswa. Selain itu diperoleh gambaran hasil studi PISA tahun 2006 yang memperlihatkan bahwa prestasi anak Indonesia dalam bidang matematika masih berada di bawah skor ratarata internasional. Pencapaian skor matematika anak Indonesia 393 (skor rata-rata internasional = 429). Ranking anak Indonesia dalam bidang matematika berada pada urutan ke-50 dari 57 negara peserta. Gambaran hasil studi PIRLS memperlihatkan bahwa skor prestasi membaca rata-rata siswa Indonesia adalah 407, menduduki posisi ke lima dari urutan bawah, di atas Qatar (353), Kuwait (330), Maroko (323), dan Afrika Selatan (302). Rata-rata prestasi membaca internasional adalah 500 (Tjalla, 2015). Berdasarkan uraian tentang model pembelajaran diatas, maka model pembelajaran yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) berbasis konstruktivisme dimana menurut Lawson (dalam Dahar, 2006) dijelaskan bahwa model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme lebih menitikberatkan adanya orientasi: (1) elisitasi gagasan (2) restrukturisasi penyusunan teori, (3) perkembangan teori, (4) pembentukan teori, (5) aplikasi dan (6) review (membandingkan dengan gagasan sebelumnya. Demikian halnya menurut Prastowo (2014) menyebutkan ada 12 prinsip pokok pembelajaran berbasis konstruktivisme: pertama, mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa; kedua, menggunakan kata dasar; ketiga, menggunakan kognitif; keempat, respon siswa; kelima, menggali pemahaman siswa; keenam, siswa aktif dalam dialog; ketujuh, menimbulkan 351 Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa Yulia Tiara Tanjung, Anggi Nur Nisa Tanjung, Ade Rahman Matondang sikap inkuiri; kedelapan, mengelaborasi; kesembilan, mendorong terjadinya diskusi intens; kesepuluh, member kesempatan siswa berpikir; kesebelas, menciptakan analogi; keduabelas, mengembangkan sikap keingintahuan siswa pada siklus belajar. Untuk mengimplementasikan mengaitkan antara pembelajaran kontekstual, guru dalam pembelajaran materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari dengan melibatkan tujuh komponen utama CTL yakni: constructivisme, inquiri, questioning, learning community, modeling, reflection, authenctic assessment.mbj Interaksi antar siswa agar sesuai dengan diharapkan, dibutuhkan adanya komunikasi dalam pembelajaran matematika. Seperti yang dikemukakan oleh Bansu (Pena, 2003) bahwa: “komunikasi dalam matematik berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berkomunikasi”. Hal tersebut didukung oleh Greenes dan Schulman menyatakan bahwa, melalui komunikasi, siswa dapat menyatakan ide matematika melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskan secara visual dalam tipe yang berbeda. Siswa dapat pula memahami, menafsirkan dan menilai ide yang disajikan serta dapat mengkonstruksi matematika. Berdasarkan wawancara dengan peserta didik, salah satu (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP/article/download/1272/705
Article home page: https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP/article/view/1272/705

Yulia Tiara Tanjung, Anggi Nur Nisa Tanjung, Ade Rahman Matondang. Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Siswa, Jurnal Dunia Pendidikan, 2023, pp. 350-361,