AKOMODASI PONDOK PESANTREN TERHADAP KURIKULUM NASIONAL
Firman 1, Prita Indriawati2
JURNAL Edueco
Universitas Balikpapan
AKOMODASI PONDOK PESANTREN TERHADAP
KURIKULUM NASIONAL
Firman1, Prita Indriawati2
Universitas Balikpapan1, Universitas Balikpapan2
pos-el: .id1, .id2
ABSTRAK
Penelitiian ini mengkaji tentang akomodasi pondok pesantren terhadap kurikulum
Nasional di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif yaitu proses penelitian dengan melakukan pengkajian terhadap fenomena,
serta kejadian, dalam kehidupan santri. Pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
pondok pesantren mengakomodasi kurikulum nasional dalam proses pendidikan. Penelitian
dilakukan dengan mengambil tempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Metode
pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti
menggunakan instrumen berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara. Hasil penelitian
menujukkan bahwa pondok pesantren mengakomodasi kurikulum nasional dengan
mengelompokkan tiga jenis mata pelajaran yaitu kelompok A berisi tentang pengetahuan yang
bersumber dari DPP Hidayatullah dengan tetap mengacu pada kurikulum Nasional, Kelompok
B materi kurikulum tetap dari pusat yang dilengkapi dengan muatan lokal, kelompok C yaitu
ilmu kepesantrenan. Proses pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan di tiga tempat yaitu Asrama
mengajarkan tentang Life skill, di Madrasah pengetahuan umum dan agama, dan di Masjid ilmu
diniyah, sehingga biasa di sebut Pembelajaran integral. Pelaksanaan akomodasi kurikulum
menghadapi beberapa kendala yaitu dari (1) keterbatasan pembinaan dari pemerintah terkait
penerapan kurikulum karena perubahan regulasi, (2) kurangnya modalitas guru untuk mengikuti
adanya perubahan kurikulum, (3) keterbatasan pendampingan dari orangtua santri yang
menyerahkan sepenuhnya urusan anaknya ke pondok.
Kata kunci: Akomodasi, Pesantren, Kurikulum Nasional.
ABSTRACT
This study examines the accommodation of National Curriculum at Hidayatullah
Islamic Boarding School in Balikpapan. This research used descriptive qualitative, by
conducting an assessment of phenomena, as well as events, in the lives of students. The main
problem in this study is how Islamic boarding schools accommodate the National Curriculum in
the educational process.. The data collection used observation techniques, interviews, and
documentation. Researchers used instruments in the form of observation guidelines and
interview guidelines. The results of the study show that Islamic boarding schools accommodate
the national curriculum by grouping three types of subjects, group A contains knowledge
sourced from DPP Hidayatullah while still referring to the National curriculum, group B fixed
curriculum materials from the center equipped with local content, group C contains science
boarding school. The process of implementing learning is carried out in three places, namely
Dormitories to learn about life skills, in adrasah of general and religious knowledge, and in
mosques of diniyah science, so it is commonly called integral learning. The implementation of
curriculum accommodation faces several obstacles, namely (1) limited support from the
government regarding changing curruculum, (2) lack of teacher modalities to follow curriculum
changes, (3) limited assistance from parents of students who completely surrender their
children's affairs to the boarding school.
Keywords: Accomodation, Boarding School, National Curriculum.
Jurnal Edueco Vol 4 No 2 Desember 2021
116
Firman 1, Prita Indriawati2
1. PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan inti pendidikan
sehingga muatan kurikulum harus sesuai
kebutuhan masyarakat pengguna. Muatan
kurikulum diberikan kepada peserta didik
yang didukung kemampuan sumber daya
manusia handal mampu mentransfer isi
kurikulum yaitu seorang guru. Guru dalam
menyampaikan isi kurikulum kepada peserta
didik
menguasai
kompetensi,
baik
kompetensi
pedagogik,
sosial,
dan
kompetensi
individu.
Penguasaan
kompetensi guru meningkatkan kualitas
pendidikan,
sehingga
bukan
hanya
kurikulum yang baik, tetapi dukungan dari
guru sebagai transformator pengetahuan.
Pandangan tentang kurikulum menimbulkan
diskursus apakah kurikulum itu hanya
bermakna Course Out Line atau GBPP, atau
mencakup seluruh pengalaman yang
diberikan kepada anak dalam proses
pendidikan oleh guru. Jadi kurikulum
menjadi pedoman proses pembelajaran
mentransfer pengetahuan kepada peserta
didik. Kemudian dari pengetahuan tersebut
lahir pengalaman bagi siswa yang disebut
pengalaman belajar.
Jadi pangkal awal kurikulum untuk
menawarkan rancangan tentang rencana
yang diberikan pengetahuan. Oleh karena itu,
penyusunan kurikulum harus menyesuaikan
kebutuhan stakeholder pengguna luaran
pendidikan, sehingga keterlibatan berbagai
pihak proses penyusunan kurikulum.
Keterlibatan semua komponen menjadi
sebuah keharusan agar lahir kurikulum ideal.
Dengan begitu, dapat memberikan tanggung
jawab, bimbingan terhadap pendidikan
bukan hanya guru melainkan sekolah di
dalamnya ada kepala sekolah, karyawan, dan
termasuk instansi lain di luar sekolah.
Walaupun guru menjadi garda terdepan,
tetapi untuk mencapai tujuan pendidikan
Jurnal Edueco Vol 4 No 2 Desember 2021
JURNAL Edueco
Universitas Balikpapan
melibatkan semua pihak yang terkait
kelangsungan pendidikan.
Sehubungan dengan pondok pesantren,
maka pondok pesantren melakukan
penyesuaian dengan kurikulum yang
bersumber dari pemerintah. Sumber
kurikulum dari pemerintah dari Kementerian
Pendidikan dan Kementerian Agama. Untuk
mengimbangi ilmu pengetahuan agama dan
pengetahuan umum, maka pondok pesantren
berusaha mengakomodasi kurikulum dari
pemerintah yang dipadukan dengan
kurikulum pondok. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi menghendaki
pondok pesantren harus berbenah diri dengan
memadukan kurikulum sehingga santri
memperoleh pengetahuan agama dan
pengetahuan umum. Hasil penelitian (A.
Sulaiman, 2017) secara filosofis integrasi
kurikulum madrasah ke dalam kurikulum
pesantren didorong oleh pemikiran pengasuh
yang memandang pendidikan harus
mencakup semua aspek kehidupan dan nondikotomik sedangkan secara sosiologis
adalah integrasi kurikulum madrasah ke
dalam kurikulum pesantren merupakan hasil
dari dialektika-dinamis dan dinamikadialektis pesantren dengan zaman
Islam bukan hanya berbicara doktrin,
teologi, dan ritual belaka, melainkan Islam
adalah
ilmu
pengetahuan
sehingga
ditemukan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis
berbicara tentang ilmu pengetahuan. Agar
terjadi kolerlasi nilai keagamaan dan ilmu
pengetahuan, maka dilakukan integrasi
kurikulum yaitu kurikulum pondok dan
kurikulum nasional yang berisi pengetahuan
umum dan teknologi.
Selanjutnya (Burga et al., 2019)
dalam penelitian menyebutkan bahwa
pondok pesantren DDI Mangkoso
melaksanakan pendidikan secara klasikal
membuka pendidikan mulai dari tingkat
MI sampai perguruan tinggi. Atas
117
Firman 1, Prita Indriawati2
kebijakan pondok membuat santri
antusias mengembangkan kajian bukan
hanya
materi
keislaman
tetapi
mengembangkan t (...truncated)