Analisis Pendekatan Matematika Realistik Berbasis Etnomatematika Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-10
ISSN: 2808-0866
Analisis Pendekatan Matematika Realistik Berbasis
Etnomatematika Terhadap Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswa
Priya Dasini
1
Program Studi Pendidikan Matematika, 2Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan komunikasi
matematis siswa kelas VII Smp Negeri 43 Medan dengan pendekatan pembelajaran
matematika realistic yang diinovasikan dengan etnomatematika. Penelitian ini bersifat
penelitian kuantitatif dan Populasinya adalah seluruh kelas VII, dimana untuk kelas VII-1
sebagai kelas eksperimen dan untuk kelas VII-2 sebagai kelas control yang masingmasing sampel terdiri dari 25 orang. Dari hasil analisis data pre test kelas eksperimen
masih tergolong rendah dengan memiliki nilai rata-rata sebesar 52, 8 dan untuk kelas
control memiliki nilai rata-rata sebesar 34,4. Hasil analisis data post test untuk kelas
eksperimen memiliki peningkatan yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 81,6 dan
untuk kelas post test memperoleh nilai rata-rata sebesar 53,2. Serta memperoleh nilai
π₯ 2 βππ‘π’ππ = 3,864 dan π₯ 2 π‘ππππ = 5,991. Maka, dapat dikatakan bahwa semua kelompok
sampel berasal dari populasi yang homogen. Dari hasil penjelasan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa
dengan pendekatan pembelajaran matematika realistic bernuansa etnomatematika.
Kata Kunci: Pendekatan Matematika Realistik, Kemampuan Komunikasi Matematis
Siswa
1
Jurnal Homepage: http://jurnalmahasiswa.umsu.ac.id/index.php/jimedu
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-10
ISSN: 2808-0866
1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan upaya dalam mewujudkan taraf hidup untuk lebih
maju yang dilakukan karena kesadaran dan sistematis. Dapat disingkat, bahwa
defenisi Pendidikan ialah proses dalam pembelajaran untuk para peserta didik
agar dapat dimengerti, dipahami, dan akan memjadikan manusia kebih tanggap
dalam berpikir. Pendidikan merupakan sebuah cara dalam mengubah perilaku
individu maupun responden banyak sebagai pendewasaan dengan pengajaran
dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik (Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional, 2002). Pendidikan dapat disimpulkan ialah segalanya.
Pendidikan di Indonesia sangat berguna untuk membuat sumber daya manusia
yang berkedudukan. Menerapkan pendidikan yang berkedudukan maka akan
mewujudkan SDM yang berkedudukan pula. Pendidikan akan mengalami
pergeseran jika diamati dari cara pencapaian tujuan, ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) yang berkembang. Ini akan memberikan nilai positif dalam
pendidikan berkualitas dan terintegritas dengan era yang berkembang.
Pendidikan dapat mendukung penyusunan di masa depan. Pada Undangundang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1
menyatakan bahwa : Pendidikan ialah usaha sadar dan terencana guna
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik
aktif dalam pengembangan potensi guna memiliki kekuasaan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut undang-undang tersebut, ada hal yang wajib untuk pembaharuan pada
ranah pendidikan seperti dikatakan oleh tenaga pengajar. Tenaga pendidik harus
mampu mengarahkan peserta didik untuk mengimplentasikan pengetahuannya.
Dalam mencapai tujuan tersebut maka tenaga pengajar harus mampu membuat
perencanaan dalam mengelola pendidikan yang baik.
Matematika ialah bidang studi sangat krusial tetapi sangat dibenci oleh
murid, tetapi juga ada beberapa siswa yang menggemari mata pelajaran ini.
Susah dan sulit adalah anggapan seseresponden dalam memahami matematika.
Secara luas, matematika diartikan sebagai ilmu dalam mempelajari dan
memahami pola dari struktur, perubahan dan ruang. Matematika disebut ilmu
bilangan dan angka kalau kita melihat defenisinya secara informal. Pendapat lain
menyatakan matematika bekal awal dalam memahami ilmu lainnya. Menurut
James (dalam Sariningsih dan Purwasih, 2017) matematika ialah ilmu dasar
mengenai logika yang terbagi dalam 3 (tiga) bidang yaitu : aljabar, analisis, dan
geometri. Matematika pelajaran wajib dinilai memiliki peran dalam mewujudkan
kualitas murid, dengan mempelajari matematika maka siswa dituntut berpikir dan
menelaah secara logis, sistematis dalam memecahkan masalah. Tentunya ini
membutuhkan kemampuan komunikasi dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Kemampuan siswa dalam berkomunikasi merupakan keharusan yang
dimiliki setiap siswa. Tanpa adanya komunikasi, maka proes pembelajaran akan
terhambat.
Karena tujuan utama dalam pembelajaran matematika ialah
kemampuan komunikasi dan menjadi kemampuan dasar pada saat proses
belajar matematika. Kemampuan komunikasi ialah kemampuan individu dalam
penyampaian atau mengirim pesan yang dapat dipahami oleh penerima pesan.
Masih banyak kita jumpai di kalangan siswa bahwa kemampuan komunikasinya
itu tidak baik atau rendah yang artinya mereka takut untuk menyampaikan ideide yang akan dikemukakan di depan teman-teman lainnya.
2
Jurnal Homepage: http://jurnalmahasiswa.umsu.ac.id/index.php/jimedu
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-10
ISSN: 2808-0866
Adapun penyebab- penyebab terjadinya kemampuan komunikasi yang
rendah diantaranya adalah : (1)Materi yang diberikan tidak di terangkan langsung
oleh guru. Apalagi pada saat situasi pandemi sekarang hampir rata- rata siswa
mengalami kelemahan dalam hal kemampuan komunikasi. (2)Rata- rata
kemampuan cara berpikir anak berbeda- beda . jadi, sebagai tenaga pengajar
harus mampu menguasai kemampuan siswa-siswa nya , agar tidak terjadi
kesalahan dalam menilai. (3)Rasa ketidakpedulian dengan apa yang
disampaikan oleh guru atau biasa sering kita bilang dengan sebutan pemalas..
Ini yang sangat sulit untuk diberikan solusi. Karena didalam hati mereka itu
hanya ada kata βGAME dan GAME β tidak ada kata β BElAJARβ dalam hati
mereka. Hampir kita ketahui, bahwa ada sebagian siswa yang belum paham
bagaimana cara memecahkan suatu masalah dengan menggunakan bahasa
matematik yang benar dan tepat. Bahkan mereka juga belum mempunyai
keahlian dalam berkomunikasi, contohnnya : cara penggunaan istilah-istilah
matematika, simbol-simbol dalam matematika, atau tanda-tanda matematika
dalam menjelaskan konsep-konsep, operasi dan proses. Selain itu, juga cara
sistematika penulisannya kurang tepat. Siswa juga kurang pemahaman terhadap
mengaitkan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata, kesulitan dalam
pemanfaatan data atau menginformasi pada soal yang diberikan sehingga
membuat mereka kesulitan untuk menuju ke langkah yang selanjutnya dan akan
terhambat untuk materi yang akan diberikan selanjutnya. Dalam memahami
konsep matematika, tenaga pengajar harus mendorong siswanya dalam
menjawab pertanyaan dengan menyertakan alasan relevan untuk memberikan
argument (...truncated)