Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu
i-ISSN: 2597-4033
Vol. 4, No. 2, April 2020
Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan
Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan
Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu
Muhammad Firman Pratama1*, Ildrem Sjafri1, Reza Mohammad Ganjar Gani1,
Yusi Firmansyah1, Nana Suwarna2
1
Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, Bandung
2
Pusat Survei Geologi, Jl Diponegoro 57 Bandung
*Korespondensi:
ABSTRAK
Daerah penelitian, secara administratif terletak di Kecamatan Tambusi, Rambah Samo, Tandun,
dan IV Rokan Koto, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Berdasarkan analisis petrografi
organik, batubara di lokasi penelitian didominasi oleh litotipe Bright dan Bright Banded dengan
kandungan maseral vitrinit berkisar dari 45,2 – 92 %, inertinit 0,6 – 10,7 %, liptinit 0 – 5,6 %,
dan bahan mineral 3,2 – 50,6 %. Peringkat batubara daerah penelitian berkisar dari lignit hingga
bituminus volatil rendah. Selanjutnya, analisis fasies melalui diagram V+L-I-MM menunjukkan
batubara yang diteliti berasal dari fasies F, yang berarti bahwa proses pengendapan batubara
berada pada kondisi basah (anoksik), mengalami banjir dengan tingkatannya moderat hingga
tinggi (besar) secara periodik, sebentar ataupun non periodik (oksik). Kemudian, berdasarkan
analisis hasil ploting pada diagram TFD, menunjukkan batubara terendapkan pada fasies limnic,
limno-telmatic, dan telmatic. Sementara itu, hasil analisis diagram TPI versus GI pun
menunjukkan fasies limnic, limno-telmatic dan telmatic. Terakhir, berdasarkan indeks muka air
tanah dengan menggunakan analisis GWI versus GI menunjukkan bahwa rezim hidrologi
batubara didominasi oleh mesotrophic yang mengarah ke rheotrophic dengan jenis vegetasinya
berupa wet forest swamp dan sisanya dikontrol oleh rezim ombrotrophic dengan jenis vegetasi
berupa bog.
Kata Kunci: batubara, fasies, maseral, petrografi, Rokan Hulu
ABSTRACT
The research area, administratively is located in Tambusi, Rambah Samo, Tandun, and IV
Rokan Koto Sub-Regency, Riau Province, Sumatra. Based on organic petrographic analysis, the
coal is dominated by Bright and Bright Banded lithotypes. Vitrinite maceral content ranges
from 45,2 – 92 %, inertinite 0,6 – 10,7 %, liptinite 0 – 5,6 %, and mineral matter 3,2 – 50,6 %.
Coal rank of the research area ranges from lignite to low volatile bituminous. The analysis
V+L-I-MM diagram the coal studied falls on F Facies area; which means that the environment
of deposition of coal was wet (anoxic) which suddenly flooded with a moderate to high level
flooding periodically or non periodic (oxic). Then, according to analysis of TFD diagram the
coal facies are limnic, limno-telmatic and telmatic. Similar to the TFD diagram, a TPI versus
GI diagram also shows limnic, limno-telmatic, and telmatic facies. Meanwhile, the result of
GWI versus VI diagram indicates the hydrological coal regime is dominated by mesotrophic to
rheotrophic ecosystem with the vegetation type being wet forest swamp and the rest controlled
by the ombrotrophic regime with the vegetation type in the form of bog.
Keywords: coal, facies, maceral, petrography, Rokan Hulu
92
Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 4, No. 1, April 2020: 92-106
1.
PENDAHULUAN
2.
TINJAUAN PUSTAKA
Geologi Regional
Jenis batubara di Indonesia memiliki
karakteristik yang beragam. Karakteristik
tersebut dapat diketahui dengan cara
meneliti
parameter-parameter
pada
batubara seperti: kondisi geologi, ciri
fisik, dan identifikasi kandungan kimia
yang khas pada daerah tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa
sampel batubara yang berasal dari daerah
Rokan Hulu, Provinsi Riau telah diteliti.
Sampel-sampel yang dipakai dalam
penelitian ini berasal dari eksplorasi yang
pernah dilakukan di daerah ini pada tahun
2002 oleh Pusat Survei Geologi. Data
yang diperoleh dari hasil eksplorasi
tersebut berupa hasil analisis petrografi
organik berupa reflektansi vitrinit, hasil
analisis proksimat, ultimat, ketebalan, dan
litotipe.
Secara fisiografi, daerah penelitian terdiri
atas dua fisiografi utama yaitu Lajur
Barisan bagian Timur dan Kaki Barisan
bagian Timur, berada di tepi paling barat
Cekungan
Sumatra
Tengah
dan
kemungkinan sub-cekungan tersendiri
(Gambar 1). Stratigrafi regional daerah
penelitian ini diurutkan mulai dari tua ke
mudanya adalah sebagai berikut: Batuan
Dasar, Formasi Teluk Kido, Formasi
Sihapas, Formasi Telisa, Formasi Petani,
serta endapan paling atas yaitu Formasi
Minas (yang ekivalen dengan endapan
aluvium) (Gambar 2a) (Rock dkk., 1983).
Persebaran wilayah yang mengandung
batubara terlihat dengan simbol C pada
Peta Geologi Lembar Lubuksikaping
(Gambar 2b).
Studi batubara terbaru dari daerah
penelitian ini pernah dilakukan oleh
Wisesa
(2018)
berupa
“Analisis
Lingkungan Pengendapan dan Distribusi
Secara Stratigrafi Batubara Formasi
Sihapas, Cekungan Sumatra Tengah”.
Dalam hal ini penulis tersebut tidak
membahas
kondisi
lingkungan
pengendapan berdasarkan maseral. Oleh
karena itu, maka dalam penelitian ini
lingkungan pengendapan berdasarkan
maseral yang merupakan hal utama yang
dibahas.
Lokasi penelitian berada di Kabupaten
Rokan Hulu, Provinsi Riau yang meliputi
Kecamatan Tambusi, Rambah Samo,
Tandun, Rokan IV Koto.
93
Lokasi Penelitian
Gambar 1. Fisiografi daerah penelitian.
Kondisi lingkungan pengendapan, kematangan, dan klasifikasi batubara berdasarkan
data petrografi dan geokimia organik, Lapangan Rokan Hulu (M. Firman Pratama)
(a)
(b)
Gambar 2. (a) Stratigrafi regional, (b) Peta geologi regional (Rock dkk., 1983).
Landasan Teori
Batubara
merupakan
bahan-bahan
organik, batuan sedimen yang mudah
terbakar secara komposisi tersusun atas
karbon sebagai bahan utamanya, terbentuk
dari kompaksi dan pengerasan dari
tumbuhan sisa (Schopf, 1960). Untuk
mengidentifikasi batubara lebih jauh lagi,
tidak cukup dengan kenampakkan
makroskopis maka perlu diidentifikasi
secara mikroskopis. Sehingga, studi ini
dapat mengetahui kondisi lingkungan
pengendapan batubara pada dahulunya.
Adapun
bahan
mikroskopis
yang
diidentifikasi pada batubara, yaitu berupa
maseral. Maseral merupakan bahan-bahan
mikroskopik sisa yang berasal dari bahanbahan organik (kebanyakan dibawa dari
tumbuh-tumbuhan), yang membentuk
batubara. Sisa-sisa tumbuhan ini yang
telah melewati modifikasi baik sebelum,
sedang dan setelah terendapkan dan bisa
digunakan tidak hanya untuk melacak
asal-usulnya tetapi juga, untuk mengetahui
jalan pembentukannya batubara tersebut
(Grady dkk., 1993). Secara umum maseral
dibagi dalam tiga kelompok yaitu vitrinit,
liptinit (exinit), dan inertinit.
94
Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 4, No. 1, April 2020: 92-106
Seiring
proses
pembatubaraan
ketersediaan maseral dan bahan mineral
dipengaruhi oleh kondisi geologi, iklim,
vegetasi, dan rezim hidrologi (Diessel,
1992, Bustin dkk., 1983; Calder dkk.,
1993).
Lingkungan pengendapan batubara dapat
dianalisis dengan melakukan identifikasi
keterdapatan komposisi maseral di dalam
batubara. Menurut Diessel (1982), untuk
mengetahui lingkungan penge (...truncated)