Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu

Geoscience Journal, Aug 2020

Daerah penelitian, secara administratif terletak di Kecamatan Tambusi, Rambah Samo, Tandun,dan IV Rokan Koto, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Berdasarkan analisis petrografiorganik, batubara di lokasi penelitian didominasi oleh litotipe Bright dan Bright Banded dengankandungan maseral vitrinit berkisar dari 45,2 – 92 %, inertinit 0,6 – 10,7 %, liptinit 0 – 5,6 %,dan bahan mineral 3,2 – 50,6 %. Peringkat batubara daerah penelitian berkisar dari lignit hingga bituminus volatil rendah. Selanjutnya, analisis fasies melalui diagram V+L-I-MM menunjukkan batubara yang diteliti berasal dari fasies F, yang berarti bahwa proses pengendapan batubara berada pada kondisi basah (anoksik), mengalami banjir dengan tingkatannya moderat hingga tinggi (besar) secara periodik, sebentar ataupun non periodik (oksik). Kemudian, berdasarkan analisis hasil ploting pada diagram TFD, menunjukkan batubara terendapkan pada fasies limnic, limno-telmatic, dan telmatic. Sementara itu, hasil analisis diagram TPI versus GI pun menunjukkan fasies limnic, limno-telmatic dan telmatic. Terakhir, berdasarkan indeks muka air tanah dengan menggunakan analisis GWI versus GI menunjukkan bahwa rezim hidrologi batubara didominasi oleh mesotrophic yang mengarah ke rheotrophic dengan jenis vegetasinya berupa wet forest swamp dan sisanya dikontrol oleh rezim ombrotrophic dengan jenis vegetasi berupa bog.Kata Kunci: batubara, fasies, maseral, petrografi, Rokan Hulu

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/download/29083/13857

Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu

i-ISSN: 2597-4033 Vol. 4, No. 2, April 2020 Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu Muhammad Firman Pratama1*, Ildrem Sjafri1, Reza Mohammad Ganjar Gani1, Yusi Firmansyah1, Nana Suwarna2 1 Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, Bandung 2 Pusat Survei Geologi, Jl Diponegoro 57 Bandung *Korespondensi: ABSTRAK Daerah penelitian, secara administratif terletak di Kecamatan Tambusi, Rambah Samo, Tandun, dan IV Rokan Koto, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Berdasarkan analisis petrografi organik, batubara di lokasi penelitian didominasi oleh litotipe Bright dan Bright Banded dengan kandungan maseral vitrinit berkisar dari 45,2 – 92 %, inertinit 0,6 – 10,7 %, liptinit 0 – 5,6 %, dan bahan mineral 3,2 – 50,6 %. Peringkat batubara daerah penelitian berkisar dari lignit hingga bituminus volatil rendah. Selanjutnya, analisis fasies melalui diagram V+L-I-MM menunjukkan batubara yang diteliti berasal dari fasies F, yang berarti bahwa proses pengendapan batubara berada pada kondisi basah (anoksik), mengalami banjir dengan tingkatannya moderat hingga tinggi (besar) secara periodik, sebentar ataupun non periodik (oksik). Kemudian, berdasarkan analisis hasil ploting pada diagram TFD, menunjukkan batubara terendapkan pada fasies limnic, limno-telmatic, dan telmatic. Sementara itu, hasil analisis diagram TPI versus GI pun menunjukkan fasies limnic, limno-telmatic dan telmatic. Terakhir, berdasarkan indeks muka air tanah dengan menggunakan analisis GWI versus GI menunjukkan bahwa rezim hidrologi batubara didominasi oleh mesotrophic yang mengarah ke rheotrophic dengan jenis vegetasinya berupa wet forest swamp dan sisanya dikontrol oleh rezim ombrotrophic dengan jenis vegetasi berupa bog. Kata Kunci: batubara, fasies, maseral, petrografi, Rokan Hulu ABSTRACT The research area, administratively is located in Tambusi, Rambah Samo, Tandun, and IV Rokan Koto Sub-Regency, Riau Province, Sumatra. Based on organic petrographic analysis, the coal is dominated by Bright and Bright Banded lithotypes. Vitrinite maceral content ranges from 45,2 – 92 %, inertinite 0,6 – 10,7 %, liptinite 0 – 5,6 %, and mineral matter 3,2 – 50,6 %. Coal rank of the research area ranges from lignite to low volatile bituminous. The analysis V+L-I-MM diagram the coal studied falls on F Facies area; which means that the environment of deposition of coal was wet (anoxic) which suddenly flooded with a moderate to high level flooding periodically or non periodic (oxic). Then, according to analysis of TFD diagram the coal facies are limnic, limno-telmatic and telmatic. Similar to the TFD diagram, a TPI versus GI diagram also shows limnic, limno-telmatic, and telmatic facies. Meanwhile, the result of GWI versus VI diagram indicates the hydrological coal regime is dominated by mesotrophic to rheotrophic ecosystem with the vegetation type being wet forest swamp and the rest controlled by the ombrotrophic regime with the vegetation type in the form of bog. Keywords: coal, facies, maceral, petrography, Rokan Hulu 92 Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 4, No. 1, April 2020: 92-106 1. PENDAHULUAN 2. TINJAUAN PUSTAKA Geologi Regional Jenis batubara di Indonesia memiliki karakteristik yang beragam. Karakteristik tersebut dapat diketahui dengan cara meneliti parameter-parameter pada batubara seperti: kondisi geologi, ciri fisik, dan identifikasi kandungan kimia yang khas pada daerah tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa sampel batubara yang berasal dari daerah Rokan Hulu, Provinsi Riau telah diteliti. Sampel-sampel yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari eksplorasi yang pernah dilakukan di daerah ini pada tahun 2002 oleh Pusat Survei Geologi. Data yang diperoleh dari hasil eksplorasi tersebut berupa hasil analisis petrografi organik berupa reflektansi vitrinit, hasil analisis proksimat, ultimat, ketebalan, dan litotipe. Secara fisiografi, daerah penelitian terdiri atas dua fisiografi utama yaitu Lajur Barisan bagian Timur dan Kaki Barisan bagian Timur, berada di tepi paling barat Cekungan Sumatra Tengah dan kemungkinan sub-cekungan tersendiri (Gambar 1). Stratigrafi regional daerah penelitian ini diurutkan mulai dari tua ke mudanya adalah sebagai berikut: Batuan Dasar, Formasi Teluk Kido, Formasi Sihapas, Formasi Telisa, Formasi Petani, serta endapan paling atas yaitu Formasi Minas (yang ekivalen dengan endapan aluvium) (Gambar 2a) (Rock dkk., 1983). Persebaran wilayah yang mengandung batubara terlihat dengan simbol C pada Peta Geologi Lembar Lubuksikaping (Gambar 2b). Studi batubara terbaru dari daerah penelitian ini pernah dilakukan oleh Wisesa (2018) berupa “Analisis Lingkungan Pengendapan dan Distribusi Secara Stratigrafi Batubara Formasi Sihapas, Cekungan Sumatra Tengah”. Dalam hal ini penulis tersebut tidak membahas kondisi lingkungan pengendapan berdasarkan maseral. Oleh karena itu, maka dalam penelitian ini lingkungan pengendapan berdasarkan maseral yang merupakan hal utama yang dibahas. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau yang meliputi Kecamatan Tambusi, Rambah Samo, Tandun, Rokan IV Koto. 93 Lokasi Penelitian Gambar 1. Fisiografi daerah penelitian. Kondisi lingkungan pengendapan, kematangan, dan klasifikasi batubara berdasarkan data petrografi dan geokimia organik, Lapangan Rokan Hulu (M. Firman Pratama) (a) (b) Gambar 2. (a) Stratigrafi regional, (b) Peta geologi regional (Rock dkk., 1983). Landasan Teori Batubara merupakan bahan-bahan organik, batuan sedimen yang mudah terbakar secara komposisi tersusun atas karbon sebagai bahan utamanya, terbentuk dari kompaksi dan pengerasan dari tumbuhan sisa (Schopf, 1960). Untuk mengidentifikasi batubara lebih jauh lagi, tidak cukup dengan kenampakkan makroskopis maka perlu diidentifikasi secara mikroskopis. Sehingga, studi ini dapat mengetahui kondisi lingkungan pengendapan batubara pada dahulunya. Adapun bahan mikroskopis yang diidentifikasi pada batubara, yaitu berupa maseral. Maseral merupakan bahan-bahan mikroskopik sisa yang berasal dari bahanbahan organik (kebanyakan dibawa dari tumbuh-tumbuhan), yang membentuk batubara. Sisa-sisa tumbuhan ini yang telah melewati modifikasi baik sebelum, sedang dan setelah terendapkan dan bisa digunakan tidak hanya untuk melacak asal-usulnya tetapi juga, untuk mengetahui jalan pembentukannya batubara tersebut (Grady dkk., 1993). Secara umum maseral dibagi dalam tiga kelompok yaitu vitrinit, liptinit (exinit), dan inertinit. 94 Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 4, No. 1, April 2020: 92-106 Seiring proses pembatubaraan ketersediaan maseral dan bahan mineral dipengaruhi oleh kondisi geologi, iklim, vegetasi, dan rezim hidrologi (Diessel, 1992, Bustin dkk., 1983; Calder dkk., 1993). Lingkungan pengendapan batubara dapat dianalisis dengan melakukan identifikasi keterdapatan komposisi maseral di dalam batubara. Menurut Diessel (1982), untuk mengetahui lingkungan penge (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/download/29083/13857
Article home page: http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/view/29083/13857

Reza Mohammad Ganjar Gani Yusi Firmansyah Nana Suwarna Muhammad Firman Pratama Ildrem Sjafri .. Kondisi Lingkungan Pengendapan, Kematangan, Dan Klasifikasi Batubara Berdasarkan Data Petrografi Dan Geokimia Organik, Lapangan Rokan Hulu, Geoscience Journal, 2020, pp. 92-106,