LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA
BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA,
FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI
Deas Marlin1*, Nurdrajat1, Reza Moh. Ganjar1, Nana Suwarna1,2.
1Fakultas
Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, Bandung
2
Badan Geologi, Bandung
*Korespondensi:
ABSTRAK
Daerah penelitian yang termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai, secara administratif
berada di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Sembilan belas sampel batubara
diambil dari daerah penelitian yang tersebar di Desa Maruwai dan Desa Batu Buah. Sampel tersebut
kemudian dianalisis secara makroskopis untuk mengetahui jenis litotipe dan secara mikroskopis untuk
mendeterminasi kandungan maseral, bahan mineral, dan reflektansi vitrinit. Selain itu, terhadap sampel
tersebut dilakukan pula analisis kimia untuk mengetahui nilai kalori, sulfur total, kadar abu, dan kadar zat
terbang. Hasil dari analisis ini digunakan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan peringkat
batubara. Batubara di daerah penelitian didominasi oleh litotipe Bright (B) dengan ketebalan berkisar
antara 0,4 m hingga 4 m. Secara petrografis, batubara ini tersusun oleh kelompok maseral vitrinit sebesar
90,4 - 99%, inertinit 0 - 3,4%, dan liptinit 0 - 2,8%, serta bahan mineral (1 - 7%). Hasil dari analisis kimia
menunjukkan bahwa batubara daerah penelitian memiliki nilai kalori 4843 – 8574 kal/g, kandungan
sulfur 0,20 – 0,75 %, kadar zat terbang 10,02 – 37,59 %, dan kadar abu 0,55 – 6,33 %. Berdasarkan
diagram GI versus TPI dan diagram GWI versus VI dengan kondisi hidrologi ombrotrophic. Peringkat
batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam peringkat sub-bituminous B hingga medium volatile
bituminous.
Kata kunci: batubara; Formasi Batu Ayau; lingkungan pengendapan; peringkat.
ABSTRACT
Research area is included into Batu Ayau Formation, located in Kutai Basin, Murung Raya Regency,
Central Kalimantan Province. Nineteen coal samples were collected from the Batu Ayau Formation in
the research area distributed in Maruwai and Batu Buah Villages. The samples were analyzed by
petrographic and chemical analyses. The results of this analysis were used to determine the depositional
environment and coal rank. Coal in the study area is dominated by Bright (B) lithotype with thicknesses
ranging from 0.4 m to 4 m. Petrographically, this coal is composed of vitrinite (90.4 - 99%), inertinite (0
- 3.4%), liptinite (0 - 2,8%), and mineral matter (1 - 7%). The results of the chemical analysis showed
that the coal studied had a calorific value of 4843 - 8574 cal / g, sulfur content of 0.20 – 0.75%, volatile
matter 10.02 – 37.59%, and ash content of 0.55 – 6.33%. Based on GI versus TPI and GWI versus VI
diagrams, coal of the study area was accumulated in a telmatic zone or more specifically in the wet forest
swamp environment within an ombrotrophic hydrological condition. Coal rank in the study area belongs
to sub-bituminous B until medium volatile bituminous.
Keywords: coal, Batu Ayau Formation, depositional environment, rank
1. PENDAHULUAN
Cekungan Kutai merupakan salah satu
cekungan yang di dalamnya terdapat
formasi pembawa batubara yang bersifat
ekonomis. Secara umum, batubara memiliki
ciri dan kualitas yang berbeda antara satu
296
tempat dengan tempat lainnya. Prosesproses geologi yang berlangsung pada saat
pengendapan batubara dapat menghasilkan
batubara dengan peringkat dan kualitas
yang bervariasi. Kualitas batubara yang
dihasilkan di setiap daerah dapat
mencirikan
lingkungan
pengendapan
Lingkungan Pengendapan dan Peringkat Batubara Berdasarkan Analisis Petrografi dan Kimia, Formasi Batu Ayau,
Cekungan Kutai
(Deas Marlin)
beserta kondisi saat pengendapan batubara.
Selain itu, lingkungan pengendapan
batubara juga dapat mengontrol penyebaran
lateral, ketebalan, dan komposisi dari
batubara itu sendiri.
Lokasi pengambilan data lapangan
pada penelitian ini secara administratif
terletak di Desa Batu Buah dan Desa
Maruwai, Kecamatan Laung Tuhup,
Kabupaten Murung Raya,
Provinsi
Kalimantan Tengah. Sementara itu,
kegiatan analisis laboratorium dilakukan di
kantor Pusat Survey Geologi dan
TEKMIRA Bandung, yang masing-masing
meliputi petrografi organik dan analisis
proksimat.
2. TINJAUAN PUSTAKA
graben) terbentuk sebagai respon dari
terjadinya fase ekstensi regional yang
kemudian terisi dengan cepat oleh endapan
syn-rift pada Eosen Tengah-Eosen Akhir.
Pada Miosen Awal, terjadi tektonik inversi
yang menyebabkan pengangkatan pada
pusat cekungan sehingga cekungan
mengalami pendangkalan.
Gambar 1. Peta Geologi Regional Lembar
Muaratewe, Kalimantan.
Geolologi Regional
Daerah penelitian termasuk ke dalam
Cekungan Kutai bagian hulu. Cekungan ini
merupakan salah satu cekungan di
Indonesia yang didominasi oleh endapan
batuan berumur Tersier. Endapan-endapan
batuan pada cekungan ini memperlihatkan
fase transgresi yang dimulai pada kala
Eosen hingga Oligosen Akhir dan fase
regresi yang berlangsung dari Miosen Awal
hingga saat ini (Allen dan Chambers,
1998).
Berdasarkan Peta Geologi Lembar
Muaratewe (Supriatna dkk., 2009), urutan
formasi di daerah penelitian dari tua ke
muda adalah Formasi Tanjung, Batupasir
Haloq, Formasi Batu Ayau, Formasi Ujoh
Bilang, Formasi Karamuan, Batuan
Gunungapi Malasan, Anggota Batugamping
Penuut, Intrusi Sintang dan Fomasi
Warukin.
Pembentukan struktur geologi di
Cekungan Kutai sangat dipengaruhi oleh
adanya spreading di sepanjang Selat
Makassar yang menghasilkan sesar-sesar
mendatar dengan arah pergerakan baratlauttenggara. Struktur geologi regional yang
juga mempengaruhi pembentukan cekungan
ini adalah Antiklinorium Samarinda. Pada
Eosen Akhir, sejumlah semi-terban (half
Batubara
Batubara
merupakan
substansi
heterogen yang terdiri atas material organik
dan anorganik. Batubara ini terbentuk
karena proses pembatubaraan yang
mengubah gambut menjadi batubara. Proses
pembentukan
batubara
ini
sangat
dipengaruhi oleh faktor suhu, tekanan, dan
waktu.
Pada
proses
keterbentukannya,
terdapat 2 jenis tipe pengendapan batubara.
Secara umum, tipe pengendapan batubara
terdiri atas autokton dan alokton. Tipe
pengendapan
autokton
merupakan
pengendapan yang menyebabkan batubara
terbentuk secara insitu akibat gambut yang
telah mati terendapkan di suatu tempat dan
tidak mengalami transportasi kemudian
mengalami proses pembatubaraan di tempat
yang
sama.
Sementara
itu,
tipe
pengendapan alokton merupakan tipe
pengendapan dimana gambut yang telah
mati di suatu tempat mengalami
transportasi
dan
mengalami
proses
pembatubaraan di tempat lain.
Material organik penyusun batubara
adalah maseral. Secara umum, kelompok
maseral penyusun batubara terdiri dari 3
kelompok, yaitu kelompok maseral vitrinit,
297
Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 3, No. 4, Agustus 2019: 296 – 302
kelompok maseral liptinit, dan kelompok
maseral inertinit. Kelompok maseral vitrinit
merupakan kelompok yang berasal dari
tumbuhan dengan serat kayu seperti batang,
dahan, akar, dan serat daun. Sementara
kelompok maseral liptinit merupak (...truncated)