LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI

Geoscience Journal, Aug 2020

Daerah penelitian yang termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai, secara administratif berada di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Sembilan belas sampel batubara diambil dari daerah penelitian yang tersebar di Desa Maruwai dan Desa Batu Buah. Sampel tersebut kemudian dianalisis secara makroskopis untuk mengetahui jenis litotipe dan secara mikroskopis untuk mendeterminasi kandungan maseral, bahan mineral, dan reflektansi vitrinit. Selain itu, terhadap sampel tersebut dilakukan pula analisis kimia untuk mengetahui nilai kalori, sulfur total, kadar abu, dan kadar zat terbang. Hasil dari analisis ini digunakan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan peringkat batubara. Batubara di daerah penelitian didominasi oleh litotipe Bright (B) dengan ketebalan berkisar antara 0,4 m hingga 4 m. Secara petrografis, batubara ini tersusun oleh kelompok maseral vitrinit sebesar 90,4 - 99%, inertinit 0 - 3,4%, dan liptinit 0 - 2,8%, serta bahan mineral (1 - 7%). Hasil dari analisis kimia menunjukkan bahwa batubara daerah penelitian memiliki nilai kalori 4843 – 8574 kal/g, kandungan sulfur 0,20 – 0,75 %, kadar zat terbang 10,02 – 37,59 %, dan kadar abu 0,55 – 6,33 %. Berdasarkan diagram GI versus TPI dan diagram GWI versus VI dengan kondisi hidrologi ombrotrophic. Peringkat batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam peringkat sub-bituminous B hingga medium volatile bituminous.Kata kunci: batubara; Formasi Batu Ayau; lingkungan pengendapan; peringkat.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/download/23196/11373

LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI

LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI Deas Marlin1*, Nurdrajat1, Reza Moh. Ganjar1, Nana Suwarna1,2. 1Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, Bandung 2 Badan Geologi, Bandung *Korespondensi: ABSTRAK Daerah penelitian yang termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai, secara administratif berada di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Sembilan belas sampel batubara diambil dari daerah penelitian yang tersebar di Desa Maruwai dan Desa Batu Buah. Sampel tersebut kemudian dianalisis secara makroskopis untuk mengetahui jenis litotipe dan secara mikroskopis untuk mendeterminasi kandungan maseral, bahan mineral, dan reflektansi vitrinit. Selain itu, terhadap sampel tersebut dilakukan pula analisis kimia untuk mengetahui nilai kalori, sulfur total, kadar abu, dan kadar zat terbang. Hasil dari analisis ini digunakan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan peringkat batubara. Batubara di daerah penelitian didominasi oleh litotipe Bright (B) dengan ketebalan berkisar antara 0,4 m hingga 4 m. Secara petrografis, batubara ini tersusun oleh kelompok maseral vitrinit sebesar 90,4 - 99%, inertinit 0 - 3,4%, dan liptinit 0 - 2,8%, serta bahan mineral (1 - 7%). Hasil dari analisis kimia menunjukkan bahwa batubara daerah penelitian memiliki nilai kalori 4843 – 8574 kal/g, kandungan sulfur 0,20 – 0,75 %, kadar zat terbang 10,02 – 37,59 %, dan kadar abu 0,55 – 6,33 %. Berdasarkan diagram GI versus TPI dan diagram GWI versus VI dengan kondisi hidrologi ombrotrophic. Peringkat batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam peringkat sub-bituminous B hingga medium volatile bituminous. Kata kunci: batubara; Formasi Batu Ayau; lingkungan pengendapan; peringkat. ABSTRACT Research area is included into Batu Ayau Formation, located in Kutai Basin, Murung Raya Regency, Central Kalimantan Province. Nineteen coal samples were collected from the Batu Ayau Formation in the research area distributed in Maruwai and Batu Buah Villages. The samples were analyzed by petrographic and chemical analyses. The results of this analysis were used to determine the depositional environment and coal rank. Coal in the study area is dominated by Bright (B) lithotype with thicknesses ranging from 0.4 m to 4 m. Petrographically, this coal is composed of vitrinite (90.4 - 99%), inertinite (0 - 3.4%), liptinite (0 - 2,8%), and mineral matter (1 - 7%). The results of the chemical analysis showed that the coal studied had a calorific value of 4843 - 8574 cal / g, sulfur content of 0.20 – 0.75%, volatile matter 10.02 – 37.59%, and ash content of 0.55 – 6.33%. Based on GI versus TPI and GWI versus VI diagrams, coal of the study area was accumulated in a telmatic zone or more specifically in the wet forest swamp environment within an ombrotrophic hydrological condition. Coal rank in the study area belongs to sub-bituminous B until medium volatile bituminous. Keywords: coal, Batu Ayau Formation, depositional environment, rank 1. PENDAHULUAN Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan yang di dalamnya terdapat formasi pembawa batubara yang bersifat ekonomis. Secara umum, batubara memiliki ciri dan kualitas yang berbeda antara satu 296 tempat dengan tempat lainnya. Prosesproses geologi yang berlangsung pada saat pengendapan batubara dapat menghasilkan batubara dengan peringkat dan kualitas yang bervariasi. Kualitas batubara yang dihasilkan di setiap daerah dapat mencirikan lingkungan pengendapan Lingkungan Pengendapan dan Peringkat Batubara Berdasarkan Analisis Petrografi dan Kimia, Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai (Deas Marlin) beserta kondisi saat pengendapan batubara. Selain itu, lingkungan pengendapan batubara juga dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, dan komposisi dari batubara itu sendiri. Lokasi pengambilan data lapangan pada penelitian ini secara administratif terletak di Desa Batu Buah dan Desa Maruwai, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Sementara itu, kegiatan analisis laboratorium dilakukan di kantor Pusat Survey Geologi dan TEKMIRA Bandung, yang masing-masing meliputi petrografi organik dan analisis proksimat. 2. TINJAUAN PUSTAKA graben) terbentuk sebagai respon dari terjadinya fase ekstensi regional yang kemudian terisi dengan cepat oleh endapan syn-rift pada Eosen Tengah-Eosen Akhir. Pada Miosen Awal, terjadi tektonik inversi yang menyebabkan pengangkatan pada pusat cekungan sehingga cekungan mengalami pendangkalan. Gambar 1. Peta Geologi Regional Lembar Muaratewe, Kalimantan. Geolologi Regional Daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Kutai bagian hulu. Cekungan ini merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang didominasi oleh endapan batuan berumur Tersier. Endapan-endapan batuan pada cekungan ini memperlihatkan fase transgresi yang dimulai pada kala Eosen hingga Oligosen Akhir dan fase regresi yang berlangsung dari Miosen Awal hingga saat ini (Allen dan Chambers, 1998). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Muaratewe (Supriatna dkk., 2009), urutan formasi di daerah penelitian dari tua ke muda adalah Formasi Tanjung, Batupasir Haloq, Formasi Batu Ayau, Formasi Ujoh Bilang, Formasi Karamuan, Batuan Gunungapi Malasan, Anggota Batugamping Penuut, Intrusi Sintang dan Fomasi Warukin. Pembentukan struktur geologi di Cekungan Kutai sangat dipengaruhi oleh adanya spreading di sepanjang Selat Makassar yang menghasilkan sesar-sesar mendatar dengan arah pergerakan baratlauttenggara. Struktur geologi regional yang juga mempengaruhi pembentukan cekungan ini adalah Antiklinorium Samarinda. Pada Eosen Akhir, sejumlah semi-terban (half Batubara Batubara merupakan substansi heterogen yang terdiri atas material organik dan anorganik. Batubara ini terbentuk karena proses pembatubaraan yang mengubah gambut menjadi batubara. Proses pembentukan batubara ini sangat dipengaruhi oleh faktor suhu, tekanan, dan waktu. Pada proses keterbentukannya, terdapat 2 jenis tipe pengendapan batubara. Secara umum, tipe pengendapan batubara terdiri atas autokton dan alokton. Tipe pengendapan autokton merupakan pengendapan yang menyebabkan batubara terbentuk secara insitu akibat gambut yang telah mati terendapkan di suatu tempat dan tidak mengalami transportasi kemudian mengalami proses pembatubaraan di tempat yang sama. Sementara itu, tipe pengendapan alokton merupakan tipe pengendapan dimana gambut yang telah mati di suatu tempat mengalami transportasi dan mengalami proses pembatubaraan di tempat lain. Material organik penyusun batubara adalah maseral. Secara umum, kelompok maseral penyusun batubara terdiri dari 3 kelompok, yaitu kelompok maseral vitrinit, 297 Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 3, No. 4, Agustus 2019: 296 – 302 kelompok maseral liptinit, dan kelompok maseral inertinit. Kelompok maseral vitrinit merupakan kelompok yang berasal dari tumbuhan dengan serat kayu seperti batang, dahan, akar, dan serat daun. Sementara kelompok maseral liptinit merupak (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/download/23196/11373
Article home page: http://jurnal.unpad.ac.id/geoscience/article/view/23196/11373

Reza Moh. Ganjar Nana Suwarna. Deas Marlin Nurdrajat .. LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI, Geoscience Journal, 2020, pp. 296-302,