PENGARUH FAKTOR EKONOMI, SOSIAL EKONOMI DAN IKLIM TERHADAP BENCANA ALAM DI INDONESIA
EcoGen
Volume 1, Nomor 3, 5 September 2018
|539
PENGARUH FAKTOR EKONOMI, SOSIAL EKONOMI DAN IKLIM TERHADAP BENCANA ALAM
DI INDONESIA
Surya Irmayani, Zul Azhar, Melti Roza Adry
Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri padang
Email:
Abstrak: This purpose of the research are to the analyse the Economic Growth, Education Participation Rate,
Urban Population, Population Density, Number of Rainfall in terms of Damage Natural Disasters in Indonesia.
This type of research is associative descriptive research. This study is based on data 2015 obtained from
institutions and related institution. Methods that being used are Ordinary Least Square (OLS). The estimation
results show that Economic Growth has a significant negative effect the Damage Natural Disasters in Indonesia,
Education Participation Rate has a not significant effect the Damage Natural Disasters in Indonesia, Urban
Population has a significant positive effect the Damage Natural Disasters in Indonesia, Population Density has
a not significant effect the Damage Natural Disasters in Indonesia, Number of rainfall has a not significant
effect the Damage Natural Disasters in Indonesia.
Keywords: Economic Growth, Education Participation Rate, Urban Population, Population Density, Number of
Rainfall
PENDAHULUAN
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak
psikologis (Lilik, Yunus, Muhammd, & Narwawi, 2011). Dampak negatif yang ditimbulkan akibat terjadinya
bencana alam adalah terganggunya laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah pasca bencana alam. Bencana alam
menyebabkan terjadinya penyusutan kapasitas produksi dalam skala besar yang berdampak pada kerugian
finansial.
Bencana alam tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga kerusakan dan kerugian ekonomi yang
akhirnya memerosotkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Peristiwa bencana alam yang membawa
kerusakan fisik dan korban jiwa dapat berakibat pada penurunan cost perekonomian wilayah namun tidak hanya
membawa dampak negatif tetapi juga dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang baru di wilayah tersebut.
Menurut UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan PP No. 21 tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, yang bertujuan untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaan
penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan
perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko, dan dampak bencana. Salah satu upaya yang dapat
dilaksanakan untuk tujuan tersebut diatas adalah dengan melakukan pengurangan risiko bencana dan pemaduan
pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan.
Fungsi atau peranan lingkungan menjadi merosot disebabkan karena sifat atau ciri yang melekat pada
lingkungan itu sendiri sehingga menyebabkan manusia mengeksploitasinya secara berlebihan melebihi daya
dukung lingkungan tersebut. Beberapa ciri atau sifat yang menonjol dan melekat pada lingkungan adalah adanya
ciri atau sifat sebagai barang publik, adanya sifat atau ciri sebagai barang milik bersama (common property) dan
adanya ciri atau sifat eksternalitas (Azhar, 2018).
Melalui kegiatan ekonomi, sumber daya alam di eksploitasi untuk menghasilkan barang dan jasa.
Meningkatnya kesejahteraan ekonomi yang diikuti oleh meningkatnya permintaan atas jumlah dan kualitas
barang dan jasa, maka akan meningkatkan pula permintaan akan Sumber Daya Alam. Ketika eksploitasi sumber
daya tersebut meningkat terus menerus serta diikuti usaha lain untuk melestarikannya, daya dukung alam
(suplai lingkungan) akan menjadi berkurang seperti berkurangnya jumlah, jenis dan kualitas sumber daya dari
waktu ke waktu. Bahkan, pada saat yang sama keadaan itu akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas
lingkungan (Yakin, 2015:125).
Pengaruh Faktor Ekonomi, Sosial Ekonomi Dan Iklim Terhadap Bencana Alam di Indonesia
EcoGen
Volume 1, Nomor 3, 5 September 2018
|540
Pada penelitian mengenai kerugian bencana alam diantaranya adalah Songwathana (2018) menyatakan
bahwa GDP perkapita, partisipasi pendidikan, penduduk perkotaan memiliki dampak signifikan pada jumlah
kerusakan dari bencana alam. Koefesien estimasi PDB per kapita adalah positif dan signifikan secara statistik.
Koefesien estimasi pada partisipasi pendidikan adalah negatif dan signifikan secara statistik, sedangkan
koefesien estimasi populasi perkotaan adalah positif. Pada penelitian (Toya dan Skidmore, 2007) menyatakan
bahwa ketika pendapatan naik jumlah kematian, cedera dan tunawisma berkurang, dan negara yang lebih
demokratis mengalami kerugian manusia lebih sedikit daripada negara yang kurang demokratis.
Pada penelitian (Hoffman dan Muttarak, 2017) menyatakan bahwa filipina memiliki hasil yang tidak
signifikan dan negatif terhadap kerugian bencana alam. Hal ini dikarenakan pendidikan tidak memainkan
peranan penting karena siapapun yang terkena dampak bencana memiliki kesempatan untuk belajar risiko
bencana alam. Penelitian (Schumacher dan Strobl, 2011) menyatakan negara-negara yang bahaya bencana
rendah cenderung meningkatnya kerugian bencana alam dan pembangunan ekonomi juga akan menurun. Pada
saat yang sama negara-negara yang menghadapi bahaya bencana tinggi cenderung mengalami penurunan
kerugian dan meningkatnya pembangunan.
Pada penelitian (Johansson, 2015) menyatakan bahwa jumlah curah hujan tidak berpengaruh terhadap
jumlah kerugian bencana alam untuk 14 hujan ekstrem pada tahun 2000-2012 selama 48 jam. Dimana daerah
dengan curah hujan yang estrem tidak selalu terjadi kerusakan paling parah dan tindakan tenggap darurat
bencana untuk menangani kerugian yang ditimbulkan dari bencana alam berupa penyelamatan secara nasional.
Penelitian (Marin dan Modica, 2017) menyatakan bahwa semua indikator sosio-ekonomi (paparan langsung dan
tidak langsung) berkorelasi positif terhadap bencana alam.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2015) menyatakan terdapat 1.582 kejadian
bencana di Indonesia pada tahun 2015 dengan 240 korban tewas, 1,18 juta jiwa pengungsi, 24.365 unit rumah
yang rusak dan 484 fasilitas umum yang rusak. Lebih dari 95% merupakan bencana hidrometeorologi. Puting
beliung, longsor dan banjir paling dominan. Longsor Sukabumi, Jawa Barat tanggal 28 Maret 2015
menyebabkan 11 rumah rusak berat. Gempa bumi Sorong, Papua Barat 6,8 Skala Richter menyebabkan 1.661
rumah rusak berat, 1.247 rumah rusak sedang, 2.860 rumah rusak ringan, dan 27 fasilitas umum rusak. Gempa
Bumi Alor, Nusa Tenggara Timur pada 4 November 2015 berkekuatan 6,2 Skala Richter menyebabkan 579
rumah rusak berat, 382 rumah rusak sedang, 1.114 rumah rusak ringan, dan 47 fasilitas umum rusak. Gempa
Halmahera Barat berkekuatan 5,2 SR Maluku Utara menyebabkan 145 rumah rusak berat, 273 rumah rusak
sedang dan 1.175 rumah rusak ringan. Longso (...truncated)