Proses Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Medan

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, Mar 2024

Children with Special Needs are those with limitations in intellectual, mental, physical, social, or emotional functioning. Individuals with disabilities are at a high risk of experiencing sexual violence due to social isolation, limited sexual education, dependence on others for intimate hygiene, reduced physical defenses, and communication barriers hindering the disclosure of abuse. The implementation of child protection is crucial to ensure that all children are nurtured and raised in a supportive environment that meets their basic rights in terms of physical, psychological, and social needs, enabling them to grow and develop optimally while protecting them from various forms violence. UPTD PPA Kota Medan is one of the organizations providing protection for women and children experiencing violence and discrimination, established by the local government. The aim of this research is to understand the process of handling cases of sexual violence against children with special needs at UPTD PPA Kota Medan. This qualitative descriptive study employs data collection techniques such as in-depth interviews, literature review, and documentation with a triangulation approach. The collected data are qualitatively analyzed by the researcher, and the study concludes with findings drawn from the research results. The research reveals that handling of cases involving children with special needs comprises three stages: the initial stage involving case reporting, case outreach, and case identification; the middle stage involving obtaining informed consent, interviews and screening, as well as victim needs assessment; and the final stage involving the provision of necessary services such as legal assistance, healthcare support, and psychological support.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/download/3045/1509

Proses Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Medan

SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i1.3045 e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359 Vol. 3 No. 1 (Maret 2024) 15-30 Submitted: January 01, 2024 | Accepted: January 13, 2024 | Published: March 25, 2024 Proses Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Medan Annisa Amanda Putri1, Fajar Utama Ritonga2 Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia Email: , 1,2 Abstrak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak dengan keterbatasan secara intelektual, mental, fisik, sosial maupun emosional. Individu penyandang disabilitas berisiko lebih besar mengalami kekerasan seksual karena isolasi sosial, pendidikan seksual yang terbatas, ketergantungan pada orang lain termasuk untuk kebersihan intim, berkurangnya pertahanan fisik, dan hambatan komunikasi yang mencegah pengungkapan pelecehan. Penyelenggaraan perlindungan anak menjadi hal yang sangat penting untuk menjamin agar semua anak dapat diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang suportif yang dapat memenuhi semua hak-hak dasarnya sesuai dengan kebutuhan fisik, psikis maupun sosialnya sehingga dapat tumbuh kembang secara optimal, serta melindungi anak dari berbagai tindak kekerasan. UPTD PPA Kota Medan merupakan salah satu penyelenggara perlindungan bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan dan diskriminasi yang dibentuk oleh pemerintah daerah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses penanganan kasus kekerasan seksual pada anak berkebutuhan khusus di UPTD PPA Kota Medan. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan penggabungan (trianggulasi) dari proses wawancara mendalam, studi pustaka serta dokumentasi. Kemudian data akan dianalisis oleh peneliti secara kualitatif dan diakhiri dengan ditarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh bahwa penanganan kasus pada anak berkebutuhan khusus melalui 3 tahapan kegiatan yaitu, tahap awal yang berisikan pengaduan kasus, penjangkauan kasus, dan identifikasi kasus. Tahap pertengahan berisikan Inform Consent atau persetujuan layanan yang akan diberikan, wawancara & screening, serta assessment kebutuhan korban. Pada tahap akhir yaitu pemberian layanan yang dibutuhkan korban berupa pendampingan bantuan hukum, pendampingan bantuan kesehatan, dan bantuan pendampingan bantuan psikologi. Kata Kunci: Proses, Penanganan Kasus, UPTD PPA Kota Medan, Kekerasan Seksual Pada Anak, Anak Berkebutuhan Khusus Abstract Children with Special Needs are those with limitations in intellectual, mental, physical, social, or emotional functioning. Individuals with disabilities are at a high risk of experiencing sexual violence due to social isolation, limited sexual education, dependence on others for intimate hygiene, reduced physical defenses, and communication barriers hindering the disclosure of abuse. The implementation of child protection is crucial to ensure that all children are nurtured and raised in a supportive environment that meets their basic rights in terms of physical, psychological, and social needs, enabling them to grow and develop optimally while protecting them from various forms violence. UPTD PPA Kota Medan is one of the organizations providing protection for women and children experiencing violence and discrimination, established by the local government. The aim of this research is to understand the process of handling cases of sexual violence against children with special needs at UPTD PPA Kota Medan. This qualitative Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 15 Annisa Amanda Putri1, Fajar Utama Ritonga2 SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 1 (2024) 15 – 30 descriptive study employs data collection techniques such as in-depth interviews, literature review, and documentation with a triangulation approach. The collected data are qualitatively analyzed by the researcher, and the study concludes with findings drawn from the research results. The research reveals that handling of cases involving children with special needs comprises three stages: the initial stage involving case reporting, case outreach, and case identification; the middle stage involving obtaining informed consent, interviews and screening, as well as victim needs assessment; and the final stage involving the provision of necessary services such as legal assistance, healthcare support, and psychological support. Keywords: Process, Case Handling, UPTD PPA Medan City, Sexual Violence Against Children, Children With Special Needs PENDAHULUAN Anak adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan penerus masa depan bangsa. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan jaminan hidup layak, kesempatan berkembang secara fisik, mental, emosional, dan perlindungan dari orangtua, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Namun, saat ini anak-anak menghadapi ancaman dari orang dewasa, teman sebaya, dan kejahatan lainnya. Mereka rentan menjadi korban perdagangan, pelecehan, penyiksaan, dan perlakuan tidak adil. Ketidakberdayaan anak membuat mereka mudah menjadi korban berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Kekerasan seksual terhadap anak melibatkan tindakan oleh orang dewasa atau yang lebih tua untuk memuaskan kebutuhan seksual, termasuk pada anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki keterbatasan intelektual, mental, fisik, sosial, atau emosional. Risiko kekerasan seksual pada ABK tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan anak normal. Individu penyandang disabilitas berisiko lebih besar mengalami kekerasan seksual karena isolasi sosial, pendidikan seksual yang terbatas, ketergantungan pada orang lain termasuk untuk kebersihan intim, berkurangnya pertahanan fisik, dan hambatan komunikasi yang mencegah pengungkapan pelecehan (Barron et al., 2019). Ironisnya, para pelaku kekerasan seksual yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus merupakan orang-orang terdekat mereka seperti tetangga, teman dekat, keluarga atau saudara sendiri. Padahal seharusnya orang-orang terdekat tersebut lah yang melindungi anak berkebutuhan khusus dari tindak kekerasan bukan malah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh World Health Organization (WHO), The United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO), United Nations Children's Fund (UNICEF) menyebutkan separuh dari total populasi anak di dunia atau sekitar satu miliar anak mengalami kekerasan. Ragam bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis, cedera, menjadi disabilitas dan meninggal dunia terjadi ke anak. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa sebanyak 40.150 anak usia 0 sampai 17 tahun meninggal dunia akibat kekerasan secara global. Sebanyak 28.160 anak laki-la (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/download/3045/1509
Article home page: https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/view/3045/1509

Annisa Amanda Putri, Fajar Utama Ritonga. Proses Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Medan, Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2024, pp. 15-30,