Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora)
https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora
DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i2.3256
e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359
Vol. 3 No. 2 (Juni 2024) 130-134
Submitted: March 27, 2024 | Accepted: April 18, 2024 | Published: June 28, 2024
Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia
1,2*
Chusnul Khotimah1, Sani Safitri2*
Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan, Universitas Sriwijaya, Palembang,
Indonesia
Email: , 2*
Abstrak
Mental miskin adalah kondisi dimana seseorang merasa kurang dengan semua harta yang dimilikinya. Pada
dasarnya kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, namun
mental miskin tidak terjadi pada orang miskin saja, banyak orang yang berkecukupan yang memiliki mental
miskin sehingga bisa saja orang tersebut menghalalkan segala cara agar dirinya semakin kaya, seperti
melakukan tindakan pencurian, korupsi atau bahkan hal-hal lainnya. Dalam al-qur’an orang yang memiliki
mental miskin adalah hal yang tidak terpuji karena bisa membuat orang tidak bersyukur akan harta yang
dimilikinya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial mental miskin menjadi salah satu masalah yang harus
diperbaiki sehingga dalam kehidupan bermasyarakat akan membuatnya lebih nyaman dan bisa membuat
hati lebih tenang. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui sejauh mana mental miskin ini sebagai
masalah sosial dengan menggunakan metode studi literatur atau metode membaca, mengambil serta
menganalisis jurnal dan buku, serta menggunakan metode interview atau wawancara pada manusia sebagai
objeknya. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu mental miskin adalah sebuah masalah sosial yang masih
sangat minim peduli masyarakat atasnya, karenanya perlu solusi dari internal dan eksternal untuk
mengatasinya.
Kata Kunci: Mental Miskin, Sosial, Kemiskinan, Ekonomi
Abstract
Mental poverty is a condition where a person feels less with all the assets he has. Basically, poverty is a
condition where a person cannot fulfill his life's needs, but a poor mentality does not occur in poor people
alone, many people who are well-off have a poor mentality so that someone can justify any means to make
himself richer, it could be by theft, corruption or even other things. In the Qur'an people who have a poor
mentality are not praiseworthy because it can make people ungrateful for the wealth they have. Therefore
in social life this poor mentality is one of the problems that must be corrected so that in community life it
will make it more comfortable and can make the heart calmer. The purpose of this article is to find out the
extent of this poor mentality as a social problem by using the literature study method or the method of
reading, taking and analyzing journals and books, as well as using the interview method or interviewing
humans as objects. The final result of this research is that mental poverty is a social problem that is still
very minimal in society's care for it, so it needs solutions from internal and external to overcome it.
Keywords: Mental Poverty, Social, Poverty, Economic
PENDAHULUAN
Negara Indonesia saat ini memiliki banyak sekali pengangguran akibat kurangnya lapangan
pekerjaan, sumber daya manusia yang rendah akibat tidak mendapatkan pendidikan, serta faktor internal
seseorang yang malas dalam melakukan hal positif dalam hidupnya. Lalu Indonesia saat ini juga banyak
terjadi korupsi di kalanagan para pejabat, hal ini disebabkan karena kurangnya rasa bersyukur dan adanya
mental miskin pada manusia. (Oktafiani, 2015)
Mental miskin ini adalah kondisi dimana seseorang selalu cemas akan harta yang dimilikinya, dan
umumnya orang yang punya mental miskin ini selalu merasa kurang akan apa yang dimilikinya selama
masa hidupnya. Belum lagi dengan maraknya perkembangan teknologi yang membuat semua orang bisa
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
130
Chusnul Khotimah1, Sani Safitri2
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 2 (2024) 130 – 134
mengakses apapun yang ada di dunia, hal ini akan semakin membuat seseorang yang punya mental miskin
semakin menjadi-jadi karena selalu adanya pembatasan pada dirinya agar bisa mengikat dirinya untuk
menggunakan hartanya sedikit mungkin atau bahkan terkadang membatasi dan merugikan dirinya sendiri.
Mental miskin ini memang pada dasarnya terjadi pada masyarakat bawah atau masyarakat miskin, tapi
banyak juga orang-orang yang berkecukupan memiliki mental miskin karena mental miskin ini berkaitan
erat dengan kepribadian seseorang. Banyaknya standar kesejahteraan seseorang yang berbeda-beda
menyebabkan seseorang cenderung melakukan hal sebaik mungkin untuk mensejahterakan dirinya
walaupun terkadang hal tersebut bisa saja merugikan dirinya sendiri. Kebijakan pemerintah juga bisa
menjadi penyebab seseorang memiliki mental miskin, seperti bantuan langsung tunai atau BLT yang
membuat seseorang ingin mendapatkannya walaupun kehidupannya berkecukupan. Itu adalah penyebab
kenapa bantuan pemerintah sering kali turun tidak sesuai dengan sasaran utamanya.
Dalam penelitian yang dilakukan di UGM (Universitas Gajah Mada), Dr. Hempri Suyatna, S.Sos.,M.Si
kepala Pusat Kajian Pembangunan Sosial (SODEC) departeman Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan
fisifol UGM mengatakan bahwa mental miskin yang dimiliki seseorang sering kali menyebabkan bantuan
pemerintah salah sasaran. Data yang diberikan oleh Hempri ini berdasarkan data ASN yang terindetifikasi
menerima bantuan pemerintah. Hempri juga mengatakan “Jika mereka sadar bahwa ini bukan hak mereka,
seharusnya segera dikembalikan. Bentuk-bentuk mentalitas miskin ini yang harus dibenahi agar program
bansos juga tepat sasaran”.
Mentalitas miskin ini memiliki beberapa ciri-ciri yang mudah untuk dikenali oleh orang lain, seperti semua
hal ini serba instan atau cepat, tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya atau suka membuang waktu ke
hal yang tidak berguna, selanjutnya orang yang memiliki mental miskin ini sering kali meremehkan orang
lain dan merasa dia yang paling baik, selain meremehkan orang lain mentalitas miskin ini memilki ciri
sering menghindari masalah yang dihadapinya ditambah dengan sifat pelitnya yang mendominasi sifat
seorang yang memiliki mentalitas miskin tersebut.
Lalu selanjutnya kenapa bisa mental miskin ini bisa menjadi masalah sosial? Hal ini bisa menjadi salah satu
masalah sosial karena mental miskin ini sampai saat ini terus terjadi dan belum teratasi sampai saat ini, para
masyarakat beranggapan bahwa mental miskin ini adalah hal lumrah bagi manusia, padahal hal tersebut
merupakan penyimpangan sosial karena mentalnya terganggu. Dampak dari meminimalisirkan mental
miskin ini akan membuat kemiskinan di Indonesia ini mengecil atau berkurang. hal ini bisa saja terjadi
karena dalam kemiskinan mental seseorang yang rentan akan menyebabkan dirinya berada di zona yang
sama karena beranggapan bahwa dirinya tidak akan bisa menjadi masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu perlun (...truncated)