Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, Jun 2024

Mental poverty is a condition where a person feels less with all the assets he has. Basically, poverty is a condition where a person cannot fulfill his life's needs, but a poor mentality does not occur in poor people alone, many people who are well-off have a poor mentality so that someone can justify any means to make himself richer, it could be by theft, corruption or even other things. In the Qur'an people who have a poor mentality are not praiseworthy because it can make people ungrateful for the wealth they have. Therefore in social life this poor mentality is one of the problems that must be corrected so that in community life it will make it more comfortable and can make the heart calmer. The purpose of this article is to find out the extent of this poor mentality as a social problem by using the literature study method or the method of reading, taking and analyzing journals and books, as well as using the interview method or interviewing humans as objects. The final result of this research is that mental poverty is a social problem that is still very minimal in society's care for it, so it needs solutions from internal and external to overcome it.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/download/3256/1606

Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia

SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i2.3256 e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359 Vol. 3 No. 2 (Juni 2024) 130-134 Submitted: March 27, 2024 | Accepted: April 18, 2024 | Published: June 28, 2024 Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia 1,2* Chusnul Khotimah1, Sani Safitri2* Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia Email: , 2* Abstrak Mental miskin adalah kondisi dimana seseorang merasa kurang dengan semua harta yang dimilikinya. Pada dasarnya kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, namun mental miskin tidak terjadi pada orang miskin saja, banyak orang yang berkecukupan yang memiliki mental miskin sehingga bisa saja orang tersebut menghalalkan segala cara agar dirinya semakin kaya, seperti melakukan tindakan pencurian, korupsi atau bahkan hal-hal lainnya. Dalam al-qur’an orang yang memiliki mental miskin adalah hal yang tidak terpuji karena bisa membuat orang tidak bersyukur akan harta yang dimilikinya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial mental miskin menjadi salah satu masalah yang harus diperbaiki sehingga dalam kehidupan bermasyarakat akan membuatnya lebih nyaman dan bisa membuat hati lebih tenang. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui sejauh mana mental miskin ini sebagai masalah sosial dengan menggunakan metode studi literatur atau metode membaca, mengambil serta menganalisis jurnal dan buku, serta menggunakan metode interview atau wawancara pada manusia sebagai objeknya. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu mental miskin adalah sebuah masalah sosial yang masih sangat minim peduli masyarakat atasnya, karenanya perlu solusi dari internal dan eksternal untuk mengatasinya. Kata Kunci: Mental Miskin, Sosial, Kemiskinan, Ekonomi Abstract Mental poverty is a condition where a person feels less with all the assets he has. Basically, poverty is a condition where a person cannot fulfill his life's needs, but a poor mentality does not occur in poor people alone, many people who are well-off have a poor mentality so that someone can justify any means to make himself richer, it could be by theft, corruption or even other things. In the Qur'an people who have a poor mentality are not praiseworthy because it can make people ungrateful for the wealth they have. Therefore in social life this poor mentality is one of the problems that must be corrected so that in community life it will make it more comfortable and can make the heart calmer. The purpose of this article is to find out the extent of this poor mentality as a social problem by using the literature study method or the method of reading, taking and analyzing journals and books, as well as using the interview method or interviewing humans as objects. The final result of this research is that mental poverty is a social problem that is still very minimal in society's care for it, so it needs solutions from internal and external to overcome it. Keywords: Mental Poverty, Social, Poverty, Economic PENDAHULUAN Negara Indonesia saat ini memiliki banyak sekali pengangguran akibat kurangnya lapangan pekerjaan, sumber daya manusia yang rendah akibat tidak mendapatkan pendidikan, serta faktor internal seseorang yang malas dalam melakukan hal positif dalam hidupnya. Lalu Indonesia saat ini juga banyak terjadi korupsi di kalanagan para pejabat, hal ini disebabkan karena kurangnya rasa bersyukur dan adanya mental miskin pada manusia. (Oktafiani, 2015) Mental miskin ini adalah kondisi dimana seseorang selalu cemas akan harta yang dimilikinya, dan umumnya orang yang punya mental miskin ini selalu merasa kurang akan apa yang dimilikinya selama masa hidupnya. Belum lagi dengan maraknya perkembangan teknologi yang membuat semua orang bisa Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0) 130 Chusnul Khotimah1, Sani Safitri2 SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 2 (2024) 130 – 134 mengakses apapun yang ada di dunia, hal ini akan semakin membuat seseorang yang punya mental miskin semakin menjadi-jadi karena selalu adanya pembatasan pada dirinya agar bisa mengikat dirinya untuk menggunakan hartanya sedikit mungkin atau bahkan terkadang membatasi dan merugikan dirinya sendiri. Mental miskin ini memang pada dasarnya terjadi pada masyarakat bawah atau masyarakat miskin, tapi banyak juga orang-orang yang berkecukupan memiliki mental miskin karena mental miskin ini berkaitan erat dengan kepribadian seseorang. Banyaknya standar kesejahteraan seseorang yang berbeda-beda menyebabkan seseorang cenderung melakukan hal sebaik mungkin untuk mensejahterakan dirinya walaupun terkadang hal tersebut bisa saja merugikan dirinya sendiri. Kebijakan pemerintah juga bisa menjadi penyebab seseorang memiliki mental miskin, seperti bantuan langsung tunai atau BLT yang membuat seseorang ingin mendapatkannya walaupun kehidupannya berkecukupan. Itu adalah penyebab kenapa bantuan pemerintah sering kali turun tidak sesuai dengan sasaran utamanya. Dalam penelitian yang dilakukan di UGM (Universitas Gajah Mada), Dr. Hempri Suyatna, S.Sos.,M.Si kepala Pusat Kajian Pembangunan Sosial (SODEC) departeman Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan fisifol UGM mengatakan bahwa mental miskin yang dimiliki seseorang sering kali menyebabkan bantuan pemerintah salah sasaran. Data yang diberikan oleh Hempri ini berdasarkan data ASN yang terindetifikasi menerima bantuan pemerintah. Hempri juga mengatakan “Jika mereka sadar bahwa ini bukan hak mereka, seharusnya segera dikembalikan. Bentuk-bentuk mentalitas miskin ini yang harus dibenahi agar program bansos juga tepat sasaran”. Mentalitas miskin ini memiliki beberapa ciri-ciri yang mudah untuk dikenali oleh orang lain, seperti semua hal ini serba instan atau cepat, tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya atau suka membuang waktu ke hal yang tidak berguna, selanjutnya orang yang memiliki mental miskin ini sering kali meremehkan orang lain dan merasa dia yang paling baik, selain meremehkan orang lain mentalitas miskin ini memilki ciri sering menghindari masalah yang dihadapinya ditambah dengan sifat pelitnya yang mendominasi sifat seorang yang memiliki mentalitas miskin tersebut. Lalu selanjutnya kenapa bisa mental miskin ini bisa menjadi masalah sosial? Hal ini bisa menjadi salah satu masalah sosial karena mental miskin ini sampai saat ini terus terjadi dan belum teratasi sampai saat ini, para masyarakat beranggapan bahwa mental miskin ini adalah hal lumrah bagi manusia, padahal hal tersebut merupakan penyimpangan sosial karena mentalnya terganggu. Dampak dari meminimalisirkan mental miskin ini akan membuat kemiskinan di Indonesia ini mengecil atau berkurang. hal ini bisa saja terjadi karena dalam kemiskinan mental seseorang yang rentan akan menyebabkan dirinya berada di zona yang sama karena beranggapan bahwa dirinya tidak akan bisa menjadi masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu perlun (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/download/3256/1606
Article home page: https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora/article/view/3256/1606

Chusnul Khotimah, Sani Safitri. Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia, Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2024, pp. 130-134,