PERENCANAAN LANSKAP SUNGAI KELAYAN SEBAGAI UPAYA REVITALISASI SUNGAIDI KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN
PERENCANAAN LANSKAP SUNGAI KELAYAN SEBAGAI
UPAYA REVITALISASI SUNGAI DI KOTA BANJARMASIN
KALIMANTAN SELATAN
Landscape Planning for Kelayan
River to Support Revitalization
in Banjarmasin City South
Kalimantan Province
Kukuh Widodo
Departemen Arsitektur Lanskap,
Fakultas Pertanian, IPB
e-mail:
Vera D Damayanti
Departemen Arsitektur Lanskap,
Fakultas Pertanian, IPB
e-mail:
Setia Hadi
Departemen Arsitektur Lanskap,
Fakultas Pertanian, IPB
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Urbanisasi merupakan perkembangan dan pertumbuhan suatu kota
yang melibatkan proses alih fungsi
atau konversi lahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota
akan infrastruktur dan fasilitas yang
dibutuhkan dalam pengembangan
kota. Perubahan penutupan dan
penggunaan lahan yang terjadi
akibat urbanisasi pada suatu kota
merupakan interaksi kompleks dari
faktor-faktor sosial ekonomi, politik,
dan adat budaya yang pada
akhirnya mempengaruhi terjadinya
perubah-an lingkungan secara global
(Meyer dan Turner, 1994; Sherbinin,
2001).
Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan tempat
tinggal, orang cenderung menggunakan ruang yang masih tersisa
termasuk diantaranya di bantaran
ABSRACT
Kelayan River is a small river in Banjarmasin City. Urbanization in the city has
caused the physical development expansion up to the river bank and its impact has
decreased the biophysical quality of the area. The objectives of this study are to identity
landscape potencies and problems in Kelayan River area; to analize biophysical, social,
cultural and economical aspect of Kelayan River which will influence the river
landscape planning based on biophysical aspect to support Kelayan River
revitalization; which able to reflect waterfront city. Method of the study following the
landscape planning process of Simonds (1983) consisted of preparation, collecting
data, analysis, synthesis, and planning. This study uses biophysical approach modified
from Astuti and Fandeli (2009). Biophysical aspects to be considered are rain fall, land
coverage (Land Coverage Index IPL), inundated area, land use (Land Use
Suitability/KPL), vegetation and fauna. In analysis phase, the river is divided to seven
segments based on administrative boundary. Each aspect will be analized
quantitatively using scoring and weighting, as well as spatially. The analysis results
biophysical quality classification i.e. very critical, critical, moderate, and good quality.
The synthesis is directed to improve biophysical condition and to accommodate
proposed land use through rehabilitation and conservation. The good biophysical
quality segment is allocated to non-intensive rehabilitation zone, while the moderate
biophysical quality segment is developed to semi-intensive rehabilitation zone, and the
critical and very critical segments are used for intensive rehabilitation zone and will
be utilized for non-conservation area. Functional river with good quality of
biophysical condition and reflecting waterfront city is the concept in the landscape
plan for this area. The plan divides the area into three zones which are: (1) Nonintensive Rehabilitation Zone (16%), (2) Semi-intensive Rehabilitation Zone (33%),
and Intensive Rehabilitation Zone (51%). The landscape plan is developed to spatial,
circulation, vegetation, and settlement plans.
Keyword: riverscape planning, revitalization, waterfront city
dan badan sungai sebagai tempat
tinggal, perdagangan, perkantoran,
dan sebagainya. Hal tersebut
memberikan dampak negatif terhadap lanskap sungai seperti keseimbangan ekosistem terganggu,
dan menyebabkan fungsi-fungsi
sungai berubah, sebagaimana yang
terjadi pada lanskap sungai di Kota
Banjarmasin.
Salah satu sungai di Kota Banjarmasin yang mengalami kondisi
penurunan kualitasnya yaitu Kawasan Sungai Kelayan. Fungsi utama
kawasan tersebut menurut RDTRK
Kecamatan Banjarmasin Selatan
Tahun 2008 adalah sebagai kawasan
komersial dan permukiman. Kondisi
kawasan telah mengalami penurunan vitalitas maupun kualitas secara
fisik dan fungsi. Di sepanjang
sempadan sungai ini masyarakat
membangun pemukiman serta penggunaan lahan lainnya di atas ban-
taran sungai yang dianggapnya sebagai daerah bebas. Hal ini semakin
mendorong pertumbuhan bangunan
liar di bantaran sungai di Sungai
Kelayan, yang berakibat pada kerusakan ekosistem Sungai Kelayan.
Berdasarkan kondisi tersebut, permasalahan ruang kota dan lingkungan pada kawasan ini memerlukan penanganan yang baik. Pemerintah Kota Banjarmasin telah berupaya untuk menangani masalah
kerusakan lingkungan khususnya
pada bantaran sungai melalui program revitalisasi sungai dan pencanangan waterfront city. Dalam rangka
revitalisasi sungai, salah satu aspek
yang perlu diperbaiki yaitu kualitas
biofisik lingkungan sungai, yang
mana hal tersebut dapat dicapai
melalui penataan lanskap kawasan
sungai melalui pendekatan aspek
biofisik. Oleh karena itu, perencanaan lanskap Sungai Kelayan perlu
JURNAL LANSKAP INDONESIA | VOL 4 NO 1 2012
15
WIDODO, HADI, DAN DAMAYANTI
dilakukan untuk mendukung upaya
revitalisasi sungai di Kota Banjarmasin agar dapat mengembalikan fungsi ekologi sungai dan dapat mendukung terciptanya waterfront city di
perkotaan.
Tujuan
Studi ini bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi permasalahan
dan potensi lanskap yang ada di
kawasan Sungai Kelayan.
2. Menganalisis kondisi biofisik,
sosial, dan budaya serta ekonomi
Sungai Kelayan yang berpengaruh terhadap proses perencanaan lanskap sungai berbasis
pendekatan biofisik sebagai upaya revitalisasi Sungai Kelayan.
3. Membuat suatu rencana lanskap
sungai berbasis pendekatan biofisik yang dapat mencirikan
waterfront city.
studi sebagai langkah awal,
pengumpulan informasi awal
mengenai lokasi studi, melakukan persiapan administrasi
guna mengurus perijinan survey
lapang.
2. Pengumpulan data: meliputi data
biofisik mengenai kondisi tapak,
aspek sosial, ekonomi, budaya
dan data pendukung lain yang
mempengaruhi
proses
perencanaan
lanskap
kawasan
Sungai Kelayan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu survey
lapang dan studi pustaka.
3. Analisis dan Sintesis: Data dan
informasi yang didapat dianalisis
secara deskriptif kuantitatif dan
dalam bentuk spasial. Analisis
dilakukan persegmen, dimana
Peta Kota
dasar dalam pembagian segmen
adalah batas administratif kelurahan.
Kelurahan Kelayan Barat, Kelayan Luar,
Kelayan Tengah, Kelayan Dalam,
Kelayan Timur, Tanjung Pagar Dan
Murung Raya adalah kelurahankelurahan yang dilalui dan menggunakan Sungai Kelayan sebagai
batas wilayah administratif. Sehingga akan terdapat 7 segmen yang
akan dijadikan unit dalam analisis.
Ilustrasi dari pembagian segmen di
tapak dapat dilihat pada Gambar 2
dan Tabel 1 menunjukkan batas
segmen dan luasan masing-masing
segmen.
Analisis aspek biofisik dilakukan
untuk mengetahui kondisi kualitas
biofisik sungai. Parameter aspek
biofisik yang dianalisis meliputi
Peta Kec. Banjarmasin
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu Studi
Studi ini berlokasi di Kawasan
Sungai Kelayan di Kota Banjarmasin,
Provinsi Kalimantan Selatan (Gam (...truncated)