PERAN RUMAH BUDAYA TEMBI DALAM MELAHIRKAN KOMPONIS MUDA MELALUI AJANG FESTIVAL
Ganang Dwi Asmoro, PERAN RUMAH BUDAYA TEMBI DALAM MELAHIRKAN KOMPONIS MUDA ...
PERAN RUMAH BUDAYA TEMBI DALAM MELAHIRKAN
KOMPONIS MUDA MELALUI AJANG FESTIVAL
Ganang Dwi Asmoro
Abstrak
Artikel dalam tulisan ini untuk mengetahui bagaimana peran Rumah Budaya Tembi
dalam melahirkan komposer-komposer muda. Metode yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang
akan dilakukan dalam penelitian ini dengan melakukan observasi, wawancara dan studi
pustaka. Sumber data ini diperoleh melalui informan, pustaka dan dokumen. Untuk
menganalisis data penelitian ini, dilakukan dengan mereduksi data, penyajian data,
memverifikasi atau penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
Rumah Budaya Tembi berperan terhadap munculnya komposer muda melalui ajang
festival yang diselenggarakan. Festival musik Tembi yang diselenggarakan setahun
sekali ini mampu memberikan wadah bagi para komposer muda untuk mengekspresikan
imajinasinya dengan menghadirkan karya seninya .
Kata kunci : komposer, festival musik, Tembi
Pendahuluan
Dewasa ini komposer menjadi pilihan dan minat dalam berkarir oleh beberapa kalangan anak
muda. Sebutan sebagai komposer memiliki kebanggaan tersendiri bagi para pelakunya. Tidak
seperti jaman dahulu ketika penonton hanya menikmati sajian musik dan musisinya ketika di
atas panggung, saat ini komposer memiliki peran dan kedudukan yang sama pentingnya. Meski
sudah sama posisinya, tidaklah gampang untuk menemukan bakat-bakat komposer muda
terlebih kepada komposer musik kontemporer atau musik gaya baru. Jenis musik tersebut tidak
semua orang bisa menikmatinya ketika karya musik tersebut disuguhkan. Maka dari itu, untuk
mencetak para komposer musik gaya baru yang baik, perlu peran serta dari institusi pendidikan
dan juga komunitas yang sadar akan pentingnya mencetak para komposer.
Dalam lima tahun terakhir ini Rumah Budaya Tembi telah mengambil sikap akan
masalah ini. Dengan menyelenggarakan acara Festival Musik Tembi, mereka menghadirkan
pertunjukan musik dengan tema “Musik Tradisi Baru”. Hal ini dibuat untuk menemukan bakat
– bakat baru para komposer muda di Indonesia, sebab dalam eksekusinya mereka hanya
mengundang komposer muda yang usianya tidak boleh lebih dari 35 tahun untuk menampilkan
karya terbaiknya dalam Musik Tradisi Baru. Dan sejak diselenggarakan oleh Rumah Budaya
Tembi dari lima tahun yang lalu, acara ini sudah banyak menelurkan ataupun mengorbitkan
komposer-komposer muda yang sekarang sudah popular dalam komposisi musik gaya baru.
Festival Musik Tembi sendiri sudah berlangsung lebih dari lima tahun dan sejak
pertama kali diselenggarakan pada 2011, Festival Musik Tembi terus konsisten dalam
23
TATA KELOLA SENI : VOL. I NO. 2 DESEMBER 2015
bermusik dan tidak pernah mengubah tujuan utamanya, yaitu sebagai wadah untuk
memberikan ruang apresiasi bagi musisi dan komposer muda yang ingin berkreasi dalam
bunyi-bunyian nusantara tanpa sekat genre (liputan6.com).
Di dalam pertunjukan festival musik ini, karya musik yang dipertunjukan lebih fokus
kepada karya musik tradisi baru. Komposisi musik yang yang lebih mengedepankan unsur
musik tradisional yang ada di Indonesia dan tentunya karya yang dimainkan adalah yang
orisinil dan belum pernah dipentaskan di tempat lain. Dengan tema musik tradisi baru,
diharapkan festival ini bisa menemukan komposer muda yang berbakat, berkualitas,
berpengetahuan barat yang tidak meninggalkan musik tradisi yang ada di Indonesia.
Artikel tentang komponis muda sebenarnya banyak disinggung oleh Suka Harjana
dalam bukunya Esai dan Kritik musik serta bukunya yang berjudul Musik : Antara Kritik dan
Apresiasi. Dalam artikel yang ditulis di buku itu, Suka Harjana lebih banyak mengungkapkan
tentang Pekan Komponis Muda yang diselenggarakan pada dekade 80 hingga 90-an oleh
Dewan kesenian Jakarta untuk melahirkan para komposer. Saat ini, festival Pekan Komponis
Muda sudah lama tidak terdengar lagi dan hanya sedikit dari institusi atau lembaga swasta yang
tetap konsisten dalam membuat program pertunjukan musik kontemporer, salah satunya adalah
Rumah Budaya Tembi. Lalu apa yang membuat Rumah Budaya Tembi mau untuk melahirkan
para komposer? Bagaimana cara Rumah Budaya Tembi mengakomodasi para komposer muda?
Komposer adalah julukan dari seorang arranger dan penulis lagu yang mengkomposisi
nada-nada menjadi musik. Komposer memiliki kebebasan yang abstrak dalam menciptakan
sebuah karya musik, sebab dialah orang pertama dalam membuat komposi. Banyak dari mereka
yang mampu untuk menulis lagu, namun tidak mampu untuk membuat komposisi musik dari
berbagai instrumen yang dipadukan secara baik. Oleh sebab itu untuk menjadi seorang
komposer tidaklah semudah apa yang kita bayangkan.
Sebab pada setiap kreatif dalam penciptaan komposisi memerlukan berbagai
pendekatan, Pangabean (2006) mengemukakan beberapa pendekatan dalam proses kreatif dari
seorang komposer, diantaranya adalah pendekatan tradisi maupun nontradisi, reinterpretasi
(orientasi untuk menampilkan repertoar yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru) dan yang
terakhir adalah kontemporer (sebuah orientasi melepaskan diri dari kebiasaan yang sudah ada
atau kemungkinan mendapatkan hal yang baru). Seorang komposer akan menggunakan
struktur teori musik dan organologi musik yang komprehensif dalam membuat karya
komposisi, di samping itu seorang komposer juga harus mengetahui ilmu sosiologi, psikologi
dan antropologi.
Disiplin ilmu yang lain itu diperlukan untuk menunjang komposer dalam membuat
komposisi musik, sebab membuat komposisi musik tidak hanya dengan dengan modal
merenung sambil menunggu inspirasi yang datang. Tanpa pengetahuan musik yang memadai
dan keterampilannya dalam mengolah cita rasa musik yang humanis, seorang komponis tidak
akan mampu untuk membuat suatu komposisi musik yang baik.
24
Ganang Dwi Asmoro, PERAN RUMAH BUDAYA TEMBI DALAM MELAHIRKAN KOMPONIS MUDA ...
Gambar 1: Awal mula tulisan notasi musik
Pada awal perkembangan musik di barat, komposer membuat komposisi musik dengan
simbol-simbol tulisan supaya bisa dimainkan oleh para musisi. Simbol-simbol itu berkembang
menjadi notasi musik atau lebih dikenal dengan not balok. Pada abad ke 19 para komposer
menggunakan tulisan tangan dalam membuat komposisi untuk dituliskan ke dalam notasi. Cara
membuat komposisi oleh komposer mulai berubah ketika komputer ditemukan. Terlebih ketika
beberapa software untuk membuat komposisi musik seperti Sibelius, finale dan software musik
lainnya. Dengan perkembangan mekanik dan sistem yang lebih cepat inilah, maka banyak
musisi atau komposer menggunakan computer sebagai tempat bekerja untuk mewujudkan ideide atau kreativitas yang dimilikinya, Widodo (2006).
Program-program musik itu berkembang sesuai jaman hingga muncullah banyak
program musik yang mampu meringankan beban para komposer dalam membuat komposisi.
Keterlibatan komputer dalam proses komposisi musik sebenarnya bukanlah menjadi barang
yang baru. Pada tahun 50an, Max Mathe (...truncated)